Jumat, 24 Juli 2009

Perilaku Keberagaman di Indonesia


Oleh M Ridwan Lubis
(Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

Paling tidak ada dua prestasi yang akan diperoleh manusia manakala mereka memiliki etos keberagamaan. Pertama, agama melahirkan etos kerja yang dinamis, kreatif, dan inovatif. Berbeda halnya dengan pandangan pesimisme tentang keberagamaan. Beragama menjadikan diri mereka meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik Allah, dan sepenuhnya dianugerahkan kepada manusia untuk mengelolanya, agar menjadikan kehidupan mereka menjadi lebih baik. Perilaku malas dan menjadi manusia yang menggantungkan nasibnya pada orang lain adalah bukan bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, ketentuan tentang nasib dan takdir Allah diyakini adalah merupakan ilmu Allah, yang tidak bisa diukur oleh manusia. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk pasrah saja karena telah ada takdir.

Takdir Allah tidak akan diketahui oleh manusia sebelum ketentuan Allah itu telah terjadi. Pemahaman tentang takdir yang demikianlah yang telah menjadi faktor utama umat Islam pada masa kejayaan Islam, telah berhasil membangun kehidupan yang disebut dengan peradaban Islam. Umat yang memiliki etos kerja yang demikian pada masa lalu meyakini dengan jelas bahwa berkarya untuk kepentingan umat manusia adalah ibadah. Dalam kaitan itulah, umat Islam pada masa lalu menghasilkan berbagai hasil penemuan ilmiah yang sampai sekarang masih terus dikenang oleh dunia sains, sebagaimana dengan laporan suplemen surat kabar Republika yang diberi judul Islamic Digest . Oleh karena itu, tidak benar pandangan kaum orientalis yang memiliki pandangan skeptis terhadap Islam dengan mengatakan, kepercayaan terhadap Islam menjadi sumber kemunduran umat Islam karena sejarah telah membuktikan ketika umat Islam berpegang kepada ajarannya, mereka berhasil menorehkan peradaban yang belum ada taranya sampai sekarang.

Kedua, keberagamaan yang benar akan mendorong umat Islam membangun semangat ukhuwah islamiyah di kalangan internal Muslim, solidaritas ukhuwah wathoniah di kalangan saudara sebangsa, dan solidaritas ukhuwah basyariyah dalam pergaulan antarbangsa di dunia. Solidaritas persaudaraan sesama Muslim menjadi begitu penting, disebabkan Islam telah terfragmentasi ke dalam berbagai mazhab, baik dalam ilmu kalam, fikih, dan tasawuf. Dan, untuk kasus Indonesia sekalipun umat Islam rata-rata beraliran Sunni, akan tetapi memiliki komunitas yang berbeda, seperti pengelompokan yang dilakukan kalangan sosiolog, yaitu muslim tradisional dan modernis, dan sebutan yang lebih khusus di Sumatra, yaitu kaum tua dan kaum muda.

Titik temu di dalam Islam sangat banyak, akibat dari adanya kesepakatan tentang garis-garis pokok yang bersifat absolut dan universal, yang menjadi acuan keislaman. Kerangka acuan pokok yang telah menjadi kesepakatan umat Islam, antara lain rukun iman, rukun Islam, kesatuan kiblat, Alquran Al Karim, Hadis Shahih, halal dan haram, persaudaraan sesama Muslim. Fragmentasi Islam ke dalam berbagai aliran, bahkan organisasi tentunya tidak bisa dihalangi. Oleh karena itu, bagian dari kebebasan manusia mengekspresikan hasil pemahaman, penghayatan, dan pengamalannya terhadap ajaran Islam.

Fakta teoretis menunjukkan bahwa prestasi peradaban itu dihasilkan umat Islam, bukan tidak melalui perjuangan. Masyarakat arab sebelumnya adalah masyarakat yang miskin peradaban, bahkan mereka tidak mengenal sistem pemerintahan kecuali kepemimpinan yang dikendalikan oleh kepala-kepala suku. Rasulullah yang memperkenalkan kepada mereka sistem pemerintahan, yang merupakan cikal bakal bentuk negara konfederasi. Eksistensi kepala kabilah tetap dipelihara, namun Rasulullah membentuk sistem kepemimpinan puncak yang mengatasi seluruh kepala kabilah. Itulah embrio negara kebangsaan modern yang diperkenalkan Nabi Muhammad ribuan tahun yang lalu.

Berubahnya Semenanjung Arabia menjadi pusaran dari masyarakat kosmopolitan sebagai konsekuensi Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam, tiba-tiba mereka dihadapkan kepada tantangan besar untuk melebarkan sayap Islam keluar dari Semenanjung Arabia. Tantangan ini dapat mereka selesaikan dengan dilandasi oleh keteguhan sikap, untuk menyiarkan Islam. Dari sudut pandangan sederhana kecil, kemungkinan Islam dapat menyebar ketiga benua yang dikenal waktu itu: Asia, Afrika, dan sebagian Eropa dalam rentang waktu yang belum mencapai satu abad. Tentulah ada faktor lain, kenapa Islam dapat tersebar dalam waktu yang amat singkat dibandingkan agama alain yang sudah ratusan, bahkan ribuan tahun tidak terlalu jauh bergerak dari negeri asal usulnya.

Pertama, penyiaran Islam tidak didasari oleh motivasi yang berwawasan keduniaan untuk mencari materi, akan tetapi oleh karena tekad mencari keridhaan Allah. Hal ini tentunya merupakan bukti kebenaran janji Allah bahwa ''Hai orang-orang yang beriman jikalau kamu menolong (agama) Allah, pastilah Allah akan menolong kamu dan menetapkan pendirian kamu.'' (QS Muhammad [47]). Posisi Mekkah sebagai titik sumbu yang menghubungkan arus perdagangan komoditas antara timur dan barat, menjadi keunggulan dalam membantu kemudahan membangun komunikasi tentang datangnya agama baru.

Kedatangan Islam dengan ide-ide baru, membentuk opini tentang kedatangan agama baru sebagai kekuatan pembebas yang dirindukan manusia. Sebab, terlalu manusia menderita perilaku eksploitatif yang dilakukan para penguasa feodal, yang mengatasnamakan agama. Kedua, agama baru, yaitu Islam tidak sebagaimana agama-agama sebelumnya yang kehilangan elemen vitalnya, akibat ditundukkan kepada kepentingan manusia. Islam datang dengan membawa pesan sosial, yaitu kekuatan pembebasan yang memerdekakan manusia dari perbuatan eksploitatif, dengan mengatasnamakan agama.

Padahal, semestinya ajaran agama adalah berperan menolong manusia dari berbagai perilaku sosial yang eksploitatif itu. Sikap eksploitatif itu, antara lain, ditunjukkan kalangan pemuka agama yang menjadikan agama sebagai alat untuk merampas hak dan kemerdekaan orang lain ( religio feodalism ). Atas dasar itu, Islam datang dengan membawa wajah baru agama yang membebaskan manusia dari perilaku perbudakan, diskriminasi manusia karena perbedaan jenis kelamin, ras, maupun kelas-kelas sosial lainnya. Akibatnya, manusia di seputar Semenanjung Arabia berlomba-loma menerima agama baru, yang membebaskan mereka dari cengkeraman kelaliman penguasa Persia dan Romawi.

Ketiga, Islam tidak hanya datang dengan modal ajaran dalam bentuk pengayaan kerohanian ( spritual enrichment ), tetapi kehadirannya membawa model baru agama, yaitu mengintegrasikan antara nilai agama dan kehidupan demikian juga mengakomodasi berbagai perilaku dan tradisi sosial, sebagai bagian dari sarana penyiaran Islam. Tentunya masyarakat yang dihargai tradisinya atas nama Islam, dengan sendirinya akan menimbulkan sikap yang responsif terhadap agama baru.

Agama yang baru bukan saja menawarkan ajaran yang sama sekali baru dibanding dengan agama-agama sebelumnya, melainkan yang lebih penting lagi bahwa agama yang datang belakang tidak dipahami sebagai pendatang, namun dipahami masyarakat sebagai milik mereka yang hilang, sebagaimana dinyatakan Rasul dalam sebuah hadisnya, ilmu itu adalah barang hilang dari orang beriman. Oleh karena itu, sama sekali mereka tidak mengalami ketegangan psikologis dengan menerima agama yang baru.

Keempat, Islam datang tidak hanya membawa pesan-pesan moral, tetapi juga konsep nyata tentang rekonstruksi kehidupan yang ideal dan mensinergikan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi. Coba bandingkan dengan ajaran sebelumnya bahwa kehidupan duniawi dipahami sebagai perilaku kotor, yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan manusia. Pandangan yang memisahkan antara dunia akhirat, di samping terdapat kesulitan juga bertentangan dengan kenyataan bahwa manusia masih berada di alam dunia. Islam datang dengan memperkenalkan konsep baru bahwa dunia adalah jembatan menuju ke alam akhirat, yang kemudian ditegaskan oleh Alquran: ''Dan carilah pada apa yang telah dinugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.'' (QS Al Qasas [28]: 77).

Kelima, seorang Muslim dalam melakukan penyiaran Islam memulai dengan pendekatan Alquran, yaitu membangun kesadaran pada manusia tentang arah kehidupan yang benar dengan jalan membangun dialog, untuk memacu potensi rasionalitas manusia dalam menerima sebuah kebenaran. Karena, kekuatan sebuah ajaran terletak pada penggunaan potensi akal dengan sempurna. Sehingga, ajaran yang datang diendapkan oleh akal dan diterima sebagai fakta kebenaran. Kebenaran yang dibangun di atas rasionalitas, memiliki kekuatan internal yang sukar untuk berubah, sekalipun ada ancaman dan kesulitan fisik yang dihadapi. Hal ini tergambar pada kesungguhan mereka pada masa kejayaan Islam, kesungguhan mereka untuk mencari kebenaran sebuah informasi sekalipun berjalan selama berbulan-bulan. Karena, seorang Muslim tentulah menyadari bahwa di balik sebuah kesulitan, Allah telah menjanjikan akan datangnya kemudahan yang tidak terkira-kira (QS Al Syarh [94]:5-6). Dengan melalui pendekatan yang dialogis itu, diimbangi dengan pola penyampaian ajaran secara berangsur-angsur ( al tadrij fi al dakwah ), memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengendapkan ingatan terhadap ajaran yang disampaikan.

Terakhir, tentunya cepatnya penyebaran Islam sampai ke Nusantara, yang menjadi faktor dominan adalah kemampuan para mubalig, menjadikan diri mereka sebagai masyarakat model yang Islami dalam mengimplementasikan nilai-nilai keislaman. Sehingga, masyarakat melihat bahwa apa yang mereka sampaikan sudah terlebih dahulu mereka laksanakan, dalam kehidupan pribadi maupun keluarganya. Sekarang ini, perkembangan Islam mengalami perlambatan, bahkan umat Islam seakan memilih posisi defensif terhadap isu-isu global maupun berbagai kesalahpahaman orang lain terhadap Islam.

Hal ini tidak terlepas dari kekurangberhasilan perilaku sebagian umat yang menyatakan diri sebagai Muslim, namun belum terpancar keluhuran nilai-nilai Islam kepribadiannya. Dari yang semula umat Islam sebagai produsen ilmu pengetahuan, berubah menjadi konsumen sains. Sikap proaktif terhadap perubahan kemudian menjadi reaktif terhadap hal-hal yang baru. Hal ini semua berpangkal dari adanya semacam kegamangan umat Islam menangkap Islam pada pemikiran yang rasional-substantif. Sehingga, terkadang rekan sendiri justru yang dijadikan sebagai saingan karena perbedaan simbol. Hal ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi umat Islam, kebetulan sekarang bertepatan dengan suasana peringatan Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW dan sekaligus menjelang bulan Ramadhan.

Tidak ada komentar: