Sabtu, 19 September 2009

Idul Fitri, Berpaling kepada Kaum Miskin


Sabtu, 19 September 2009 | 02:33 WIB

Oleh Paulinus Yan Olla

Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, Vatikan dalam tujuh butir pesan mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri.

Selain itu, Vatikan juga mengajak umat Islam dan Kristiani di seluruh dunia untuk berjuang mengatasi kemiskinan (Pontifical Council for Inter-religious Dialogue, Message for the End of Ramadan, 11 September 2009).

Dalam rangka perayaan sebuah pesta, ajakan itu terasa janggal, tetapi ia menjadi rambu peringatan bagi umat beragama. Pesan tersiratnya, hari sepenting Idul Fitri hendaknya tidak disempitkan maknanya sebatas berbagai perayaan superfisial sehingga akan hilang pengaruhnya pada kehidupan ketika pesta berakhir.

Tindakan membersihkan para pengemis dan menghukum mereka yang membantu orang miskin di jalan-jalan di kota Jakarta pada bulan Ramadhan, yang mendapat pemberitaan internasional, patut menjadi bahan permenungan dan evaluasi etis (The New York Times, 5/9). Di mana pun kaum miskin selalu menjadi gangguan. Kemiskinan menjadi gugatan bagi penguasa yang mengklaim kesuksesan program pemerintahannya. Ia mempertanyakan pula kedalaman solidaritas kaum humanis.

Kemiskinan

Bagi umat beragama, wajah orang miskin menantang dan mengundang jawaban iman. Kemiskinan sejatinya menampilkan tidak hanya soal sosial-politis atau sekadar masalah ketertiban umum, tetapi menyentuh martabat manusia yang ternoda.

”Ia merendahkan martabatnya dan tidak jarang menjadi penyebab keterasingan, kemarahan, bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam,” lanjut pesan Ramadhan Vatikan.

Ketika agama-agama dituduh menjadi sumber lahirnya kekerasan dan terorisme, ajakan untuk berpaling kepada kaum miskin menyodorkan babak baru relasi Kristen dan Islam ke tingkat yang lebih dalam (pesan no 7). Dialog kedua agama diarahkan dan ditingkatkan kualitasnya untuk menanggapi aneka masalah kemanusiaan (kemiskinan) yang paling mendesak dan kini membelenggu dunia.

Arah ini sejalan pemikiran filsuf-pembaru Muslim, Muhammad Iqbal (1877-1938), yang yakin, Al Quran adalah kitab yang mengutamakan perbuatan daripada gagasan. Menurut dia, perbuatanlah yang membentuk esensi dan bobot manusia (Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam). Dalam kerangka pemikiran demikian, kualitas keimanan kaum beragama harus ditampakkan dan diuji dalam perbuatan yang memihak mereka yang miskin, terabaikan.

Kemiskinan menjadi tantangan keagamaan karena perhatian terhadap kaum miskin ada pada jantung ajaran agama-agama. Perhatian, bela rasa, dan bantuan tanpa pamrih terhadap kaum miskin menjadi bukti hidup kasih Allah, sebab itulah yang menjadi kehendak-Nya.

Bila diyakini, bumi dan isinya untuk semua orang, maka di sana ada tuntutan etis, tidak seorang pun boleh dibiarkan tanpa bantuan dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup layak sebagai manusia. Oleh negara, kaum miskin hendaknya tidak hanya dilihat sebagai beban, tetapi sebagai sumber kekayaan.

Pengentasan orang miskin perlu menghindarkan berbagai kebijakan yang hanya menjadikan kaum miskin sebagai obyek. Begitupun makanan dan minuman jangan hanya dilihat sebagai kebutuhan dasar, tetapi terutama sebagai ”hak-hak dasar manusia” (Benediktus XVI, Lettera all’onorevole Silvio Berlusconi, in occasione del G-8, 1/7, 2009).

Indonesia

Di Indonesia, kemiskinan tahun 2009 berkisar 15,42 persen. Artinya, ada 34,96 juta orang Indonesia hidup melarat dan perlu pemberdayaan (Kompas, 6/4). Situasi ini harus diubah dengan memerhatikan suara-suara yang nyaring mengingatkan, menghadapi krisis ekonomi global diperlukan sistem ekonomi baru. Kebaruannya terletak dalam tuntutan agar ekonomi tidak dijalankan hanya berdasar hukum ekonomis. Krisis ekonomi global menunjukkan, ekonomi memerlukan prinsip-prinsip etis karena ia sendiri tidak mampu menjawab aneka masalah etis yang dimunculkannya.

Dialog keagamaan untuk mengentaskan orang miskin jelas sebuah agenda yang muncul dari keyakinan bahwa kemiskinan merupakan tantangan keagamaan dan etis. Tantangan untuk berpaling kepada kaum miskin pada hari Idul Fitri kiranya perlu membangkitkan kaum beragama tekad membebaskan kaum miskin dari perbudakan atas kemanusiaannya.

Sumbangan kaum beragama dalam mengatasi kemiskinan bersumber kekayaan nilai-nilai etis. Agama-agama diharapkan menjalin solidaritas global, misalnya dengan penerapan ”kode etik bersama” yang norma-normanya menghormati martabat manusia yang terluka oleh kemiskinan. Kaum beragama dipanggil merintis jalan etis agar tercipta kondisi sosial-kultural dan politis yang memungkinkan kaum miskin bertanggung jawab kepada diri sendiri.

Jalan itu masih panjang karena di negeri ini masih diperlukan hukum yang prokeadilan, politisi yang tidak mudah tergiur korupsi, dan masih dinantikan pejabat-negarawan yang tidak mengkhianati kaum miskin karena putusan-putusannya berlandaskan nilai-nilai etis prorakyat. Selamat Idul Fitri.

Paulinus Yan Olla MSF Rohaniwan; Lulusan Program Doktoral Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma; Bekerja dalam Dewan Kongregasi MSF di Roma, Italia

Tidak ada komentar: