<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891</id><updated>2012-02-17T02:09:07.487+07:00</updated><title type='text'>Islam Berkemajuan 2009</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>131</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-2972916885902646836</id><published>2010-01-15T07:34:00.001+05:00</published><updated>2010-01-15T07:34:42.938+05:00</updated><title type='text'>Senja Kala Sekularisme</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Jumat, 15 Januari 2010 | 02:58 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;KOMARUDDIN HIDAYAT&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Anda tidak perlu Tuhan untuk berperang. You don’t need God for a war, demikian John Micklethwait, pemimpin redaksi majalah The Economist, bersama Adrian Wooldridge seorang kolumnis, dalam karyanya God is Back. Buku setebal 405 halaman ini menyajikan fakta sosial seputar kebangkitan keyakinan agama yang meramaikan panggung politik global di awal abad ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika Anda naik pesawat terbang dan mendarat di Bandar Udara Nashville, Tennessee, Amerika Serikat, Anda akan disambut tulisan selamat datang: Music City, USA. Menurut Micklethwait, mestinya ditambah lagi dengan papan nama: Faith City, atau Jesus City, bahkan lebih mengena: Southern Baptist City, mengingat di kota ini terdapat sedikitnya 700 gereja, 65 persen penduduknya mengaku religius. Nashville juga dikenal sebagai kota produsen buku-buku dan kaset keagamaan yang diekspor ke seluruh dunia. Banyak penyanyi papan atas melakukan rekaman lagu-lagu keagamaan di kota ini, sebut saja Hank Williams, Johnny Cash, atau Carrie Underwood.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penggemar lagu-lagu gereja tak akan sulit mencari kaset semisal Jesus Remembered Me, Jesus Dies for Me, How Can You Refuse Him Now?, I Talk to Jesus Everyday, dan lainnya. Suasana batin ini jauh berbeda dengan akhir abad ke-19 ketika seluruh universitas papan atas AS menggusur ke pinggir posisi agama. Now God is returning to intellectual life, tulisnya. Dulu orang belajar agama dianggap aneh atau semacam hobi bagi sekelompok orang, tetapi sekarang belajar agama merupakan hal yang lumrah, bahkan suatu kebutuhan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rapuhnya institusi keluarga dan berkembangnya demoralisasi sosial telah ikut mendorong pertumbuhan agama yang sangat mengesankan. Dikatakan, Islam and Pentecostalism today occupy a ”social &lt;line&gt;&lt;/line&gt;space” analogous to early twentieth century socialism. Marx has reemerged in the guise of radical imams and Pentecostal preachers.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Pisau bermata dua&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Janji-janji surga dunia ideologi besar marxisme dan kapitalisme yang tidak kunjung tiba telah ikut mendorong agama untuk tampil kembali. Ada kerinduan dan harapan masyarakat modern terhadap agama. Namun, agama yang berkembang dalam masyarakat yang kian mengglobal ini tampil semakin warna-warni, beragam paham dan keyakinan. Keragaman agama ini sekaligus juga potensial menimbulkan konflik. Oleh karena itu, kehadiran kembali agama ini dalam waktu yang sama juga menimbulkan ketakutan, dikhawatirkan akan semakin mengintensifkan konflik dan perang atas nama Tuhan. Ketakutan ini cukup beralasan mengingat perang atas nama Tuhan memang memiliki sejarah panjang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konflik agama bisa dibedakan menjadi dua, yaitu konflik internal antarsekte dan konflik eksternal, yaitu melawan agama lain. Konflik antara Protestan dan Katolik dan antara Sunni dan Syiah, misalnya, telah menelan korban ribuan nyawa dan menyisakan luka di antara mereka. Dalam ranah global, dua agama yang selalu menyimpan konflik adalah antara Kristen dan Islam. Agama Yahudi terbatas hanya untuk keturunan Israel, Hindu lebih berpusat pada rakyat India, Tao dan Konghucu untuk orang-orang China Daratan dan perantauan, dan Shinto lebih banyak bagi masyarakat Jepang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, konflik internal antarsekte juga sangat fenomenal. Di kawasan Timur Tengah, terutama Irak dan Lebanon, konflik berdarah-darah antara kelompok Sunni dan Syiah diperkirakan masih akan berlanjut terus. Contoh ini bisa ditambah dengan menyajikan kasus Ahmadiyah di Indonesia yang dihujat dan diserang oleh mayoritas Sunni. Bukanlah mustahil, kalau suatu saat Syiah membesar sangat mungkin akan muncul konflik seperti di Irak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, meskipun gerakan agama kembali bangkit, masih ada pertanyaan besar, apa jaminannya bahwa kebangkitan agama akan memberikan kehidupan lebih baik di masa depan? Di sini muncul keraguan di balik God is Back. Tanpa melibatkan Tuhan saja berbagai peperangan yang sadis dan brutal terjadi di mana-mana. Terlebih lagi jika emosi agama ikut hadir menambah amunisi peperangan. Micklethwait mengatakan, kebangkitan agama akan melipatgandakan jumlah orang yang siap untuk saling berbunuhan dengan alasan agama. Konfrontasi antara nuklir Iran di satu pihak dan Israel serta &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Amerika di pihak lain pasti akan menggema ke seluruh dunia dan orang pun akan segera menafsirkan sebagai perseteruan agama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perseteruan antara India dan Pakistan soal Kashmir pasti akan melibatkan emosi keagamaan meskipun pada dasarnya merupakan persengketaan wilayah. Belum lagi di Filipina dan Indonesia, hubungan antara minoritas dan mayoritas Islam-Kristen juga selalu menyimpan bara konflik. Namun, tanpa melibatkan Tuhan dan agama sesungguhnya manusia telah mengukir sejarah konflik berdarah-darah dan berkesinambungan. Abad dua puluh adalah abad paling sekuler dan sekaligus paling berdarah-darah. Apa yang disebut ”the Godless religions of Nazism and Communism” telah membunuh puluhan juta manusia. Begitu juga pembantaian di Kamboja, Kongo, dan Rwanda, kesemuanya sama sekali tidak melibatkan nama Tuhan. Lalu terorisme yang terjadi di Sri Lanka dan Eropa juga bersifat sekuler.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan kata lain, akar terorisme tidak selalu dimotivasi oleh agama. Bahkan, dalam berbagai kasus agama dijadikan jubah dan penambah amunisi, padahal akarnya bisa jadi adanya dominasi mayoritas terhadap minoritas atau kekuatan asing yang akan menguasai atau menjarah wilayah bangsa lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Politik identitas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah maraknya gelombang demokratisasi di berbagai belahan dunia, salah satu konsekuensi yang kurang diperhitungkan sebelumnya adalah munculnya gerakan politik identitas. Proses demokratisasi yang tidak disertai penegakan hukum, partsipasi pendidikan dan kesejahteraan sosial yang merata, maka politik identitas untuk memperjuangkan kelompok etnis dan agama akan semakin menguat. Fenomena ini mesti dicermati dan diantisipasi di Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agenda kelompok berdasarkan kepentingan etnis, daerah, agama, dan parpol mendapatkan ruang manuver secara leluasa dengan dalih hak asasi dan demokrasi. Indonesia sebagai negara bangsa yang masih amat muda, sementara korupsi masih akut, lalu pemerintah yang tengah berkuasa sangat diwarnai politik balas budi dan perkoncoan, sangat rawan untuk menghadapi menguatnya politik identitas yang jika kebablasan akan memperlemah demokrasi dan kohesi bangsa. Terlebih lagi jika ideologi transnasional yang tidak setia pada semangat kemerdekaan RI dan Pancasila ikut bermain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi, tanpa melibatkan Tuhan saja potensi konflik antardaerah dan etnis cukup rawan. Dan itu sudah terjadi. Terlebih lagi jika memperoleh amunisi tambahan berupa ketidakadilan ekonomi dan pendidikan serta sentimen agama, maka proses demokratisasi yang kita perjuangkan akan digerogoti oleh konflik antarkelompok kepentingan yang tidak rasional. Slogan Bhinneka Tungal Ika, keragaman dalam kesatuan, beralih menjadi perseteruan dalam keragaman yang tidak kunjung reda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;em&gt;Komaruddin Hidayat Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-2972916885902646836?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/2972916885902646836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=2972916885902646836' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2972916885902646836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2972916885902646836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2010/01/senja-kala-sekularisme.html' title='Senja Kala Sekularisme'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1644376950564200668</id><published>2010-01-09T05:13:00.000+05:00</published><updated>2010-01-09T05:14:13.340+05:00</updated><title type='text'>Spirit Perlawanan dan Perubahan Sikap</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Sabtu, 9 Januari 2010 | 02:46 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;&lt;keyword&gt;&lt;/keyword&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keagamaan &lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Sepekan silam jemaah haji kelompok terbang terakhir tiba di Indonesia. Sebagai perjalanan ibadah, sekitar 207.000 anggota jemaah Indonesia pada musim haji 2009 atau 1430 Hijriah ini diharapkan bisa menyemai nilai-nilai haji seperti solidaritas, kesetaraan, perdamaian, kasih sayang, perjuangan, serta perubahan sikap dan perilaku yang lebih baik. Hal-hal itu terasa sangat dibutuhkan ketika bangsa ini terus-menerus diguncang prahara kegamangan moral. &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Subhan SD&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai dimensi ritual personal, ibadah haji telah melahirkan pengalaman rohani yang luar biasa bagi seorang Muslim. Namun, dimensi sosiologis-politis haji juga begitu kuat dan telah melahirkan transformasi intelektual yang menimbulkan spirit baru di kalangan komunitas Muslim. Bahkan, haji menjadi motor penggerak perubahan sikap dan perilaku, yang dalam catatan sejarah mampu menjadi motor pergerakan sosial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Haji merupakan forum pertemuan umat Islam sedunia. Berbagai bangsa menyatu dalam lautan tawaf mengelilingi Kabah, beriringan dalam rombongan sai antara Safa dan Marwah, melebur dalam wukuf di Arafah, hingga bergandengan bersama dalam melawan ”kejahatan” di Jamarat Mina. Pertemuan umat Islam sedunia itu, dengan membawa kultur dan pengetahuan masing-masing, telah memberikan warna baru dalam pergaulan sesama Muslim. Bukan hanya dalam pemahaman kebudayaan yang multiras, tetapi juga ideologi secara politis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan haji telah melahirkan ikatan solidaritas yang lekat di dunia Islam dan kebangsaan, yang menggairahkan spirit keagungan Islam yang rahmatan lil alamin. Kekuatan haji secara ideologis-politis sangat kental saat perjalanan haji mulai diminati pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Haji menjadi semacam media baru perlawanan terhadap kolonialisme Barat (Eropa) yang menganeksasi negara-negara di Asia dan Afrika. Bahkan, perlawanan berlatar agama (Islam) yang dipimpin para haji bisa dikatakan menjadi prolog yang mendahului pergerakan nasional (kebangsaan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam kisah-kisah klasik sejarah pergerakan rakyat di Indonesia, peran kaum haji atau kaum putih menjadi pemompa semangat perlawanan dalam menentang kolonialisme sangatlah jelas. Kaum elite agama, khususnya para haji, telah melahirkan etos perlawanan dengan semangat kebangkitan agama (revivalisme). Sejarawan Sartono Kartodirdjo menyebutnya sebagai gerakan religio-politik. Pola perlawanan itu juga tumbuh subur dalam bingkai gerakan tarekat yang memperkuat radikalisasi agama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu kisah yang sangat fenomenal adalah peran dominan haji sebagai penggerak dalam perlawanan sosial di Banten (1888), selain gerakan-gerakan sosial lainnya semisal peristiwa Cikande, Banten (1845), gerakan Haji Rifangi/Rifai di Jawa Tengah, atau skala lebih kecil perlawanan Haji Entong Gendut di Condet, Jakarta (1916), hingga merintis pergerakan nasional pada awal abad ke-20.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perang Diponegoro (1825-1830) juga tak lepas dari peran Kiai Maja yang menjadi pemimpin spiritual penyuntik semangat perang agama. Bahkan tak perlu dipertanyakan lagi soal peran ulama dalam Perang Aceh (1873-1904) dalam mengobarkan perjuangan di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Perang Aceh merupakan perang tersulit yang ditumpas penguasa kolonial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saking takutnya penguasa kolonial hingga muncul ketakutan terhadap para haji (haji fobia). Bahkan, bukan hanya gerakan mereka yang ditakuti, simbol-simbol haji juga menjadi momok bagi penguasa kolonial. Misalnya saja, pascaperlawanan petani di Banten, Residen Banten meminta pemerintah kolonial agar memerhatikan pakaian haji. Memang, pengenaan pakaian haji sebagai simbol mereka yang telah pergi ke Mekkah menunaikan rukun Islam kelima makin tersebar luas di Banten. Kebiasaan pemakaian simbol itu dinilai potensi berbahaya karena mereka yang berpakaian haji sangat dihormati di kalangan masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Komunikasi luas &lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Muslim, Mekkah merupakan pusat kosmis. Bukan hanya menjadi titik sentral beribadah dan kiblat bersujud, tetapi juga menjadi pusat ilmu pengetahuan. Haji telah mengukuhkan sistem komunikasi yang luas di dunia Islam. Tidak hanya tukar informasi dari belahan Islam di dunia lainnya, tetapi juga pertemuan gagasan-gagasan baru. Isu-isu pan-Islamisme menjadi sesuatu yang terbuka diterima kaum haji dari Indonesia. Kebangkitan pan-Islamisme semakin menguat ketika Barat terus melakukan penaklukan terhadap bangsa-bangsa di Asia dan Afrika.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengalaman sosiologis haji memungkinkan terjadinya pertukaran informasi, budaya, kultur, ilmu pengetahuan sesama Muslim dan seluruh penjuru dunia. Bahkan, di Mekkah, justru jemaah haji Indonesia bisa bertemu dan berkomunikasi di antara penduduk Nusantara seperti dari Jawa, Padang, Palembang, Banten, Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara. Saat itulah para haji bisa mengetahui apa yang terjadi di wilayah lain di Nusantara. Snouck Hurgronje, penasihat masalah pribumi pemerintah kolonial Belanda yang pernah bermukim di Mekkah (1884-1885), menceritakan, para haji dari seluruh Nusantara kala itu justru membicarakan perlawanan rakyat Aceh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak mengherankan, bila Snouck Hurgronje menyatakan, Mekkah merupakan tempat persemaian fanatisme keagamaan. Bagi sosok penting dalam penaklukan Islam di Indonesia itu, para haji ditanamkan rasa permusuhan terhadap penguasa kolonial di Tanah Air mereka. Bagi Belanda, hal itu amat membahayakan terlebih lagi jumlah haji Indonesia kian meningkat setiap tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, jumlah jemaah Indonesia sekitar 20 persen dari total jemaah. Pada 1915-1919, Belanda melarang perjalanan haji setelah Sultan Turki memproklamasikan seruan jihad. Namun, setelah diperbolehkan kembali pada 1920, jumlahnya meningkat hingga 40 persen. Orang Indonesia di Mekkah juga terbanyak di kalangan orang asing. Mereka dikenal sebagai ”orang Jawah”, sekaligus untuk menyebut orang Asia Tenggara. Sejak 1860, bahasa Melayu merupakan bahasa kedua di Mekkah setelah bahasa Arab. Di Mekkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda 1928, bahasa Melayu menjadi perekat di antara orang Nusantara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Perubahan sikap&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak mengherankan, mereka yang pulang berhaji dipastikan diawasi penguasa kolonial. Langkahnya selalu dikuntit, bahkan sampai di desa-desa. Bahkan dalam perjalanan di kapal laut hingga aktivitas di Tanah Suci pun dimonitor. Penguasa kolonial berdalih, pengawasan itu untuk melindungi haji dari tindakan kriminal seperti penipuan hingga penyakit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun karantina yang dibangun di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta, yang disebutkan sebagai pengawasan kesehatan menyusul wabah kolera di Mekkah, hal tersebut tak bisa menyembunyikan maksud-maksud politis di balik kebijakan karantina itu. Sistem karantina justru memudahkan pengawasan terhadap para haji.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun demikian, perjalanan rohani yang sudah pasti mampu mengalahkan keinginan duniawi ini tak membuat orang-orang Islam surut untuk pergi haji. Peringatan dari pemerintah kolonial, intaian petugas intelijen, lama dan beratnya kondisi perjalanan, atau mahalnya ongkos naik haji tak melemahkan semangat untuk berangkat ke Tanah Suci. Tidak heran, setiap tahun justru keberangkatan orang yang hendak berhaji semakin bertambah. Apalagi saat haji akbar (saat wukuf pada hari Jumat), jumlah mereka lebih banyak lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ratusan tahun silam spirit haji telah memberikan corak dan warna bagi perjalanan bangsa. Spirit haji seperti itu tampaknya sangat dibutuhkan saat ini ketika bangsa kita terus terpuruk dalam karut-marut persoalan yang nyaris tak terselesaikan, saat korupsi terus merajalela, saat tuding-menuding menjadi pemandangan lumrah, dan saat moral dan etika diabaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bangsa ini semestinya bisa memetik spirit haji untuk membangun terus silaturahim, memupuk kebersamaan dan kesetaraan, menggalang solidaritas, bukan justru saling cerca dan nyaman dalam kemunafikan. Perubahan sikap itu sangatlah krusial bila kita ingin bangsa ini maju.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1644376950564200668?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1644376950564200668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1644376950564200668' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1644376950564200668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1644376950564200668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2010/01/spirit-perlawanan-dan-perubahan-sikap.html' title='Spirit Perlawanan dan Perubahan Sikap'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5319647366822433219</id><published>2010-01-03T05:43:00.000+05:00</published><updated>2010-01-03T05:44:02.546+05:00</updated><title type='text'>Kepergian Seorang Nahdliyin</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;   &lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh&lt;/strong&gt; Masdar F Mas'udi (Ketua PBNU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalilahi Wainnailaihi Rojiun. Kabar itu sangat menyentak kita semua. Pesan berantai yang langsung menyebar ke segala penjuru menyebutkan, KH Abdurrahman Wahid, telah meninggal dunia, meninggalkan kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, kita kehilangan dengan tokoh yang mungkin tak tergantikan dari berbagai seginya. Abdurrahman Wahid atau sering kali disapa Gus Dur memiliki kelebihan dan keistimewaan, baik secara keilmuan, keulamaan, politik, gerakan kemanusiaannya, baik dalam negeri maupun di luar negeri antara sesama Islam atau umat agama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur terpilih sebagai kepala negara juga tak terduga dan membuat saya berpikir bahwa kira-kira 90 persen, pemilihan Gus Dur menjadi presiden adalah intervensi dari 'atas'. Bayangkan saja, waktu itu beliau punya partai yang hanya mempunyai 11 persen suara, tetapi tiba-tiba bisa terpilih menjadi presiden. Ini semua karena takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ulama, beliau tidak tergantikan karena beliau sangat lengkap, multidimensi yang beliau miliki dan kemampuannya jauh di atas rata-rata. Beliau juga orang yang mudah disalahpahami, karena banyak hal yang mungkin memang beliau pada satu pihak begitu terbuka, tetapi dalam hal tertentu banyak hal yang beliau ucapkan, tapi tidak bisa dipahami secara harfiyah. Itulah yang membuat begitu banyak orang salah paham, bahkan orang yang ada di dekatnya barangkali juga tidak bisa memahami sepenuhnya apa yang beliau katakan, beliau lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling penting soal demokrasi bagi negeri ini, beliau tokoh demokrasi, terutama ketika mendirikan Forum Demokrasi menjelang berakhirnya rezim Orde Baru. Dan, itulah yang membuat salah satu kekuatan yang mempercepat proses tumbangnya rezim otoriter kepada reformasi sekarang ini. Artinya, ada jejak dan jasa yang luar biasa dari beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, tidak ada orang yang berani berbeda dengan Pak Harto dengan segala kekuasaannya, tapi Gus Dur dengan keberaniannya hampir tidak ada yang ditakutinya menggalang kekuatan &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt; untuk mendorong dan mendesak akan perubahan, dan beliau berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari segi pimpinan ulama dan pimpinan NU peran beliau sangat penting. Karena, pada 1984 ketika NU menegaskan kembali kepada jati dirinya mendasar sebagai organisasi sosial keagamaan beliaulah yang memegang kendalinya, memegang pimpinannya, dan bukan hanya diserahkan kepemimpinan untuk mengembalikan kepada khitahnya, tetapi juga untuk sejak langkah-langkah awal untuk menyiapkan reformasi di dalam tubuh NU sendiri bersama dengan beberapa orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga yang telah mengantarkan NU menjadi kekuatan  &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt; yang berskala nasional sebagai pengimbang kekuasaan yang waktu itu tak terimbangi oleh siapa pun. Dan, NU betul-betul dikenal, dihormati, direspek oleh banyak pihak, terutama, baik dari dalam maupun luar negeri dan sejak saat itu NU melejit dari sesuatu yang tidak pernah dibicarakan orang, tidak pernah dilirik orang, menjadi bahkan objek studi berbagai  &lt;em&gt;scolar&lt;/em&gt; baik dalam dan luar negeri pada masa kepemimpinan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, muncul begitu banyak kajian dan penerbitan buku dalam maupun luar negeri yang mengupas tentang peranan NU sebagai satu kekuatan Islam moderat, dan juga sebagai satu kekuatan  &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt; sebagai kekuatan untuk mendorong demokratisasi di tengah-tengah kehidupan bangsa yang ditekan terus-menerus secara ofensif oleh rezim Orde Baru waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tokoh Perdamaian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tokoh perdamaian, almarhum mendapatkan penghargaan perdamaian Magsaysay. Dan, memang pada saat beliau menjadi presiden dan juga mengambil langkah politik yang sangat berani, yaitu mendesak supaya keputusan MPR No 25 tentang PKI juga tentang Kong Hu Cu diakui sebagai agama yang resmi diakui oleh negara sebagaimana agama-agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, selama ini agama Kong Hu Cu berada pada posisi  underdog karena dikaitkan dengan etnis tertentu dan juga ideologi tertentu. Tapi, kemudian dengan keputusan politik Gus Dur, Kong Hu Cu, sebagai kelompok minoritas keagamaan hidup sejajar dengan kelompok agama lain. Padahal, beliau dari pemimpin Islam yang pada umumnya agak curiga terhadap kelompok-kelompok yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tokoh Intelektual&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama, karena kemampuan keilmuan beliau, kemampuan analisis beliau yang sangat kritis, juga tentu saja karena karya-karya pemikirannya yang juga menggertak kebekuan dan mendorong perubahan. Saya kira itu yang menjadi pertanda kuat bahwa beliau memang seorang intelektual sejati. Beliau bukan hanya berpikir untuk mendeskripsikan kenyataan, tetapi sekaligus di dalam deskripsi keilmiahannya beliau menginspirasikan perubahan yang mendasar untuk kehidupan keagamaan dan keumatan serta kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir kita berhutang budi begitu besar kepada cita-cita beliau. Dan, itu adalah harusnya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan cita-cita terbaik dari beliau, baik dalam kehidupan keagamaan, khususnya warga NU dan umat Islam pada umumnya dan juga bangsa. Itu menjadi tanggung jawab nahdliyin ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, kita semua merasa berhutang budi kepada beliau, terutama nahdliyin. Nah, ini saya kira tantangan NU ke depan, amanat NU ke depan, apakah cita-cita beliau justru akan diwujudkan lebih dahulu oleh pihak lain atau kita. Dan, seharusnya kita, nahdliyin, yang menjadi pelopor untuk mewujudkan cita-cita beliau. Jika tidak, berarti kita sebenarnya kehilangan ketokohan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi yang beliau lakukan memang menerobos tradisi komunikasi para elite NU sebelumnya. Yang sudah mentradisi biasanya elite NU datang kalau diundang. Beliau sering kali datang ke pesantren, kiai-kiai, datang menemui umat di dalam berbagai acara yang terbatas maupun terbuka atas inisiatif sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya kira ini yang harus digarisbawahi betul. Jadi, datang bukan sebagai undangan, sebagai orang yang dipanggil atau di- &lt;em&gt;tanggap&lt;/em&gt; (bahasa jawa), beliau memang memiliki dorongan dari dalam untuk silaturahim mendekatkan hati dan pikiran dengan umatnya, atas inisiatif dan kemauan kuat dari beliau sendiri. Termasuk, ketika beliau menjadi kepala negara. Tidak ada kepala negara yang begitu lebih banyak waktunya berada di luar istana.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5319647366822433219?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5319647366822433219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5319647366822433219' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5319647366822433219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5319647366822433219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2010/01/kepergian-seorang-nahdliyin.html' title='Kepergian Seorang Nahdliyin'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-203317987121326082</id><published>2010-01-03T05:42:00.001+05:00</published><updated>2010-01-03T05:42:55.059+05:00</updated><title type='text'>Gus Dur dan Islam</title><content type='html'>&lt;h1&gt;  &lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh:&lt;/strong&gt; Ma'mun Murod Al-Barbasy (Ketua PP Pemuda Muhammadiyah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Innalillahi wa inna ilahi roji'un&lt;/em&gt; . Tokoh besar dan bapak bangsa dengan beragam predikat, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), telah berpulang ke rahmatullah pada 30 Desember 2009. Siapa pun yang mengenal Gus Dur secara dekat, baik dalam artian fisik maupun dekat, karena gagasan pemikirannya dipastikan paling merasa kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur adalah sosok pemikir Islam  &lt;em&gt;genuine&lt;/em&gt; Indonesia. Gus Dur merupakan sosok pemikir Muslim yang lebih menggambarkan wajah Islam Indonesia yang sesungguhnya: akulturatif, moderat, dan toleran. Pemikiran Gus Dur berbeda dengan pemikiran mereka yang mencoba menampilkan wajah 'Islam skripturalis' yang serba  &lt;em&gt;rigid&lt;/em&gt; dan berbeda juga dengan mereka yang mencoba menampilkan wajah Indonesia yang sekuleristik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pendekatan serba fikih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya kebanyakan pemikir dari kalangan pesantren yang mendasarkan pemikiran pada pendekatan fikih, Gus Dur juga dikenal sebagai pemikir yang dalam menyikapi perkembangan selalu mendasarkan pada pendekatan fikih. Dampak pendekatannya yang serba fikih menjadikan tampilan pemikiran Gus Dur selalu tidak 'hitam-putih'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengingat banyaknya sumber yang dijadikan sebagai rujukan pemikiran. Dalam tradisi NU, yang menjadi sumber hukum bukan sekadar Alquran dan hadis, melainkan juga ijmak dan qiyas. Dalam hal sikap dan pemikiran politiknya, Gus Dur juga selalu berusaha mengambil jalan tengah ( &lt;em&gt;tawassuth&lt;/em&gt; ). Gus Dur tidak mau terjebak dan mengambil jalan ekstrem ( &lt;em&gt;tatharuf&lt;/em&gt; ) atau mengambil jalan paling lunak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Asas tunggal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika rezim Orde Baru bermaksud menetapkan Pancasila sebagai asas tunggal, NU melalui Munas Alim Ulama 1983 di Situbondo dan diperkuat oleh keputusan Muktamar NU ke-27 1984 di tempat yang sama menerima asas tunggal. Motor penerimaan asas tunggal ini tidak lain adalah Gus Dur dan KH Achmad Siddiq. Keduanya dipilih melalui mekanisme  &lt;strong&gt;ahlul halli wal aqdhi&lt;/strong&gt; sebagai ketua Tanfidziyah dan rais Am Syuriah PBNU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding ormas lainnya, NU adalah ormas pertama yang menerima asas tunggal. Alasannya bukan didasarkan pada 'strategi perjuangan politik' dalam artian yang abstrak, melainkan keabsahannya di mata fikih. NU juga memberi batasan yang jelas antara 'wilayah kekuasaan agama' dan 'wilayah kekuasaan negara'. Gus Dur menyatakan bahwa antara agama dan negara mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal yang tidak sama, katakanlah dalam melaksanakan wawasan Islam, itu menjadi tanggung jawab umat Islam, tanpa harus membebani negara. Negara diminta hanya untuk mengayomi hal-hal yang terkait dengan  &lt;em&gt;maslahatil ammah&lt;/em&gt; , tanpa membedakan suku, agama, bahasa, dan warna kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar ini, tidak heran kalau NU dengan mudah menerima asas tunggal. Menurut Gus Dur, kehidupan yang diasastunggali Pancasila merupakan wewenang negara. Tapi, ada juga kehidupan yang tidak berada di bawah wewenang negara, yaitu akidah (iman). Sementara itu, ormas lain sangat kesulitan beradaptasi dengan keinginan pemerintah ini. Hal ini karena mereka tidak mampu mendudukkan antara keimanan dan ideologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga menganggap bahwa soal Pancasila itu berada di luar masalah agama karena Pancasila hanya diterima sebagai ideologi tanpa dikaitkan dengan alasan keagamaan. Ini juga, menurut Gus Dur, tidak benar karena berarti mereka mempunyai kesetiaan ganda: setia pada Pancasila dan pada agama. Dalam pandangan Gus Dur, kalau kita setia pada Islam, juga harus setia pada negara. Sebab, negara merupakan bagian dari kegiatan masyarakat yang dibuat bersama dengan orang lain. Sementara itu, akidah merupakan milik kita sendiri. Jadi, ada perbedaan, tetapi tetap dalam satu kaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Relasi agama dan negara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Komitmen dan pembelaan yang begitu total terhadap Pancasila menjadikan Gus Dur sebagai salah satu dari sedikit cendekiawan Muslim yang menolak setiap upaya menjadikan Islam sebagai dasar negara. Penolakan ini tentu bukan tanpa alasan. Paling tidak, ada dua alasan mendasar, yaitu selain Pancasila dipandang sebagai bentuk 'kompromi politik' final, juga Islam sendiri, menurut Gus Dur, tidak mempunyai konsep tentang negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Alquran misalnya, tidak terdapat kata  &lt;em&gt;al-daulah&lt;/em&gt; . Pengertian kenegaraan hanya menggunakan istilah  &lt;em&gt;baldah&lt;/em&gt; . Jadi, di sini, Islam tidak mempunyai konsep yang definitif. Dalam persoalan yang paling pokok terkait suksesi kekuasaan, Islam juga tidak cukup konsisten. Terkadang, memakai  &lt;em&gt;istikhlaf, bay'ah&lt;/em&gt; , atau  &lt;em&gt;ahlul halli wal aqdhi&lt;/em&gt; . Padahal, suksesi kekuasaan adalah persoalan cukup  &lt;em&gt;urgent&lt;/em&gt; dalam masalah kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adanya bentuk yang baku tentang negara, menurut Gus Dur, telah membuat perubahan historis atas bangunan negara yang ada menjadi tak terelakkan. Dengan kata lain, kesepakatan akan bentuk negara tidak dilandaskan pada  &lt;em&gt;dalil naql (nash)&lt;/em&gt; , melainkan pada kebutuhan masyarakat. Inilah yang membuat hanya sedikit sekali Islam berbicara tentang bentuk negara dan proses suksesi kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski menolak negara Islam, bukan berarti Gus Dur tak menghendaki terciptanya 'masyarakat Islami' (lebih pada  &lt;em&gt;value&lt;/em&gt; ). Gus Dur berbeda pendapat dengan mereka yang ingin membina 'masyarakat Islam'. Sebab, itu merupakan pengkhianatan terhadap konstitusi karena ia akan menempatkan non-Muslim sebagai masyarakat kelas dua. Tapi, sebuah masyarakat Indonesia yang di dalamnya terdapat umat Islam yang tumbuh kuat dan berfungsi akan dianggap lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pembela minoritas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur juga dikenal sebagai pembela kelompok minoritas. Tidak saja dalam hal keagamaan, tapi juga minoritas dalam politik. Dalam kasus  &lt;em&gt;Monitor&lt;/em&gt; 1990 yang dinilai melecehkan Muhammad SAW, Gus Dur justru tampil membela dan mengecam keras pemberedelan  &lt;em&gt;Tabloid Monitor&lt;/em&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, itu sama artinya memberikan otoritas dan membenarkan perilaku otoriter pemerintah dalam melakukan pemberedelan. Pembelaan Gus Dur bukan lantaran tidak marah atas  &lt;em&gt;polling Monitor&lt;/em&gt; , namun karena sikap umat Islam yang terkesan mau main hakim sendiri, termasuk menuntut pencabutan SIUPP yang sama sekali tidak demokratis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai politik sapu bersih pemerintah dalam peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI, 27 Juli 1996, suara-suara kritis yang tadinya begitu keras hilang seketika. Masyarakat juga dibuat ketakutan luar biasa. Dalam suasana yang mencekam ini, Gus Dur tampil dengan mendirikan posko pengaduan bagi mereka yang merasa kehilangan keluarganya serta mengalami kerugian fisik ataupun harta benda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelaannya terhadap keluarga Kong Hu Chu dalam persidangan di PTUN Surabaya, yang kebetulan perkawinannya tidak diakui pemerintah, lantaran mereka bersikukuh beragama Kong Hu Chu setidaknya menjadi bukti lain dari kepedulian Gus Dur terhadap kelompok minoritas. Pembelaan Gus Dur juga diberikan kepada kelompok minoritas lainnya yang hak-hak politik dan keagamaannya dikebiri oleh negara dan sebagian umat Islam, seperti pembelaannya terhadap Dar al-Arqam, Syiah, dan Ahmadiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sekelumit gagasan-gagasan besar Gus Dur yang selama ini diperjuangkan secara konsisten hingga akhir hayatnya. Hasilnya, di saat Gus Dur masih hidup pun sudah mulai bisa dirasakan. Gagasan-gagasannya telah merasuk di sebagian besar generasi muda NU dan dalam batas tertentu juga telah merasuk di lingkup angkatan muda Muhammadiyah. Seiring wafatnya Gus Dur, harapannya adalah tentu gagasan-gagasan Gus Dur akan semakin membumi. Amin dan semoga.&lt;/p&gt; (-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-203317987121326082?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/203317987121326082/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=203317987121326082' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/203317987121326082'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/203317987121326082'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2010/01/gus-dur-dan-islam.html' title='Gus Dur dan Islam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-4334342912788165585</id><published>2010-01-03T05:41:00.001+05:00</published><updated>2010-01-03T05:41:53.549+05:00</updated><title type='text'>Zikir Berjamaah pada Malam Tahun Baru</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/h1&gt; &lt;h1&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh:&lt;/strong&gt; Nurman Kholis&lt;br /&gt;(Staf Puslitbang Lektur Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Depag)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa tahun terakhir ini, harian &lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt; secara rutin menyelenggarakan acara zikir nasional untuk menyambut tahun baru masehi yang diadakan pada malam hari setelah salat Isya. Acara ini selalu dipandu oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham dan bertempat di Masjid At-Tin Taman Mini Indonesia Indah (TMII).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara zikir berjamaah menjelang tahun baru masehi tersebut menjadi salah satu warna tersendiri dalam menggambarkan kiprah kaum Muslim di Indonesia dari masa ke masa. Sebab, sejak awal penyebaran Islam ke bumi nusantara ini tidak lepas dari ijtihad para ulama. Mereka mempertahankan tradisi-tradisi lokal yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW, namun substansi tradisi tersebut diarahkan kepada upaya untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa umat Islam. Hal ini sebagaimana dilakukan ulama terdahulu yang mengganti pembacaan mantra-mantra dengan zikir kepada Allah melalui pengucapan kalimat tahlil  &lt;em&gt;La Ilaha Illallah&lt;/em&gt; sebanyak-banyaknya. Biasanya, pembacaan zikir tersebut digemakan dalam peringatan 1, 3, dan 40 hari setelah kematian sehingga acara peringatan itu disebut tahlilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain mengganti pembacaan mantra dengan zikir, para ulama juga mengganti maksud penyajian makanan. Bila berabad-abad sebelumnya penyajian makanan dimasudkan sebagai sesajen untuk para arwah, itu pun diubah sebagai jamuan bagi para tamu yang datang. Selain menggemanya kalimat  &lt;em&gt;La Ilaha Illallah&lt;/em&gt; dalam peringatan kematian, acara tersebut menjadi ajang yang dapat mempererat silaturahim di antara sesama umat Islam. Berkat silaturahim yang erat ini, lambat laun Indonesia yang terletak sekian kilometer dari Arab menjadi kawasan yang mayoritas penduduknya memeluk Islam dan dapat disatukan dalam satu wilayah meskipun terdiri atas berbagai suku, bahasa, pulau, dan perbedaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;strong&gt;&gt;Kesamaan ide&lt;&lt;/strong&gt;B&gt;&lt;br /&gt;Menurut KH M Sufyan Raji Abdullah dalam buku  &lt;em&gt;Bid'ahkah Tahlilan dan Selamatan Kematian?&lt;/em&gt; , ritual acara setelah kematian telah ada sebelum Islam, sekitar 5.000 tahunan Sebelum Masehi. Pada mulanya, kegiatan itu dilakukan oleh para penyembah dewa 'Yang' untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa keluarga yang telah wafat. Dalam upacara ini, berisi persembahan sesaji untuk sang dewa pada malam ke-1, ke-3, ke-7, ke-9, ke-15, ke-40, ke-100, ke-1000 hari, ke-1, dan ke-3 tahun dari kematian. Peringatan kematian ini kemudian mengalami sinkretisasi dengan agama Hindu dan Buddha yang ditambah dengan pembacaan mantra-mantra tertentu dari kedua agama ini. Dalam kitab  &lt;em&gt;I'anatut Thalibin Juz II&lt;/em&gt; hlm 145-146, dinyatakan cara penyampaian rasa dukacita dengan cara penghidangan makanan tertentu dan berkumpul dalam ritual kematian tersebut dan acara ritual kematian pada malam ke-40 yang seperti itu (jahiliyah) adalah haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga menambahkan bahwa acara peringatan kematian yang diperbolehkan oleh syariat Islam adalah acara yang diisi dengan membaca Alquran, shalawat, zikir, dan sebagainya. Ia pun mengutip hadis dari Ashim bin Kulaib dari ayahnya dan salah seorang sahabat Anshar yang bercerita, ''Kami keluar bersama Nabi SAW untuk mengantar jenazah salah seorang di antara penduduk yang wafat. Setelah pulang, kami diundang oleh istri yang berduka untuk datang ke rumahnya. Kemudian, ia menghidangkan makanan. Rasulullah SAW pun mengambil makanan yang dihidangkan tersebut dan beliau memakannya. Kemudian, para sahabat dan para undangan juga ikut memakan makanan tersebut.'' (HR Ahmad yang dikutip dari kitab  &lt;em&gt;Hasyiyah ala Maraqi al-Falah&lt;/em&gt; karya Ahmad ibn Isma'il at-Thanthawy, Juz I, hlm 409, cet Maktabah al-Bab al-Halaby, Mesir, 1318).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadis tersebut menunjukkan bolehnya mengadakan acara zikir dan doa bersama untuk mayat dan menghidangkan makanan yang bukan diperuntukkan sebagai sesaji seperti yang berlaku di kalangan jahiliyah. Sebab, jika peringatan kematian itu diharamkan, tentu beliau tidak akan hadir dan ikut makan dalam acara tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ide penyelenggaraan zikir berjamaah pada malam pergantian tahun masehi memiliki kesamaan dengan ide dalam penyelenggaraan zikir berjamaah pada acara tahlilan. Ide yang mendasari tahlilan adalah penggantian tradisi yang tidak Islami, seperti pembacaan mantra-mantra dan pemberian sesajen untuk para arwah pada acara peringatan 3, 7, dan 100 hari setelah kematian diganti dengan pembacaan kalimat tahlil, pembacaan Alquran, dan salawat serta makanan yang tersaji dimaksudkan untuk para tamu. Sedangkan, ide yang mendasari zikir berjamaah pada malam tahun baru masehi adalah penggantian acara peniupan terompet, penyalaan petasan, dan perbuatan sia-sia lainnya dengan zikir yang beberapa bacaannya juga terdapat dalam acara tahlilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana acara tahlilan yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya di nusantara, tentunya acara zikir berjamaah pada malam tahun baru masehi juga ada yang pro dan kontra. Karena itu, supaya umat Islam tidak menghabiskan energi dalam perdebatan yang tidak pernah kunjung selesai, para penganjur acara zikir berjamaah pada malam tahun baru masehi perlu juga menjelaskan bahwa acara tersebut hanya merupakan suatu tradisi sebagaimana tahlilan. Ia bukan bagian dari syariah sebab tidak pernah dicontohkan, diperintahkan, dan juga tidak pernah dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Kedua tradisi tersebut mubah yang berarti tidak wajib dan tidak pula haram untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;b&gt; (-)      &lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-4334342912788165585?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/4334342912788165585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=4334342912788165585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4334342912788165585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4334342912788165585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2010/01/zikir-berjamaah-pada-malam-tahun-baru.html' title='Zikir Berjamaah pada Malam Tahun Baru'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1455673713811860108</id><published>2009-12-31T13:21:00.000+05:00</published><updated>2009-12-31T13:22:26.841+05:00</updated><title type='text'>Wacana Islam Liberal di Timur Tengah</title><content type='html'>&lt;h5 class="author"&gt;Oleh Redaksi&lt;/h5&gt; &lt;div class="article_content"&gt;   &lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;Mengapa tema ini menarik untuk diangkat adalah pertama karena selama ini publik Indonesia, dan saya kira secara umum masyarakat dunia, melihat wacana Timur Tengah selalu dari pemberitaan media. Dan sebagaimana kita tahu, media cendrung menampilkan hal-hal yang nyaris tidak adil terhadap kenyataan yang sesungguhnya berlangsung. Jadi, Timur Tengah selalu ditampilkan dengan citra-citra yang fundamentalistik dan teroristik saja. Padahal dalam kenyataannya di wilayah itu sering terjadi ketegangan, terjadi dialektika, dan banyak sekali arus-arus pemikiran yang sangat beragam, dari yang sangat liberal, sampai yang fundamentalis atau puritan. Jadi diskusi ini adalah sebagai upaya untuk menampilkan wajah Timur Tengah yang lain yang diabaikan oleh media. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p&gt;&lt;i&gt;Bertempat di Teater Utan kayu, diskusi bertajuk &lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/wacana-islam-liberal-di-timur-tengah/page.php?page=article&amp;amp;id=27"&gt;Wacana Islam Liberal di Timur Tengah&lt;/a&gt; ini dihadiri oleh kaum muda dan aktivis Islam yang datang dari berbagai kalangan. Diskusi ini diselenggarakan pada hari Rabu, 21 Februari 2001, dan merupakan diskusi pertama dalam serial program Islam Liberal yang kemudian menjadi proyek Jaringan Islam Liberal (JIL). Di antara peserta yang hadir adalah Goenawan Muhammad, Hamid basyaib, Ihsan Ali-Fauzi, dan Trisno SS.&lt;/i&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Ahmad Sahal&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mengapa tema ini menarik untuk diangkat adalah pertama karena selama ini publik Indonesia, dan saya kira secara umum masyarakat dunia, melihat wacana Timur Tengah selalu dari pemberitaan media. Dan sebagaimana kita tahu, media cendrung menampilkan hal-hal yang nyaris tidak adil terhadap kenyataan yang sesungguhnya berlangsung. Jadi, Timur Tengah selalu ditampilkan dengan citra-citra yang fundamentalistik dan teroristik saja. Padahal dalam kenyataannya di wilayah itu sering terjadi ketegangan, terjadi dialektika, dan banyak sekali arus-arus pemikiran yang sangat beragam, dari yang sangat liberal, sampai yang fundamentalis atau puritan. Jadi diskusi ini adalah sebagai upaya untuk menampilkan wajah Timur Tengah yang lain yang diabaikan oleh media. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian yang kedua diskusi ini penting karena dalam konteks Indonesia, pembicaraan tentang Islam liberal sebenarnya sudah kita kenal cukup lama, dan kalau kita membaca tulisan-tulisan Nurcholis Madjid atau Abdurrahman Wahid atau kalangan yang oleh William Liddle disebut sebagai kalangan substansialis, maka kita akan menemukan beberapa ciri-ciri Islam liberal, suatu istilah yang diungkapkan oeh Kurzman. Namun perkembangan dua tahun terakhir ini, kita melihat kecenderungan yang menarik di Indonesia bahwa wacana Islam liberal bukan hanya beragam, tapi juga mengalami banyak tantangan. Beragam dalam artian bahwa bisa tampil dalam sosok yang berbeda-beda dan bertentangan satu sama lain. Dan juga mendapat banyak tantangan dengan munculnya misalnya pengerasan identitas Islam di Indonesia. Nah kalau kita membicarakan Islam liberal di Timur Tengah, maka saya kira kita bisa mengambilnya sebagai bandingan dengan apa yang terjadi di negara kita.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nah, saudara Luthfi ini pernah belajar di Yordania dan Malaysia, pernah menjadi wartawan Ummat, dan sekarang mengajar filsafat dan pemikiran Islam di Universitas Paramadina. Saya persilahkan saudara Luthfi untuk memberikan presentasinya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Luthfi Assyaukanie&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Assalamu’alaikum dan Selamat malam. Pertama saya mau mengucapkan terima kasih kepada saudara Sahal dan penyelenggara yang memungkinkan kita sama-sama sharing idea dalam diskusi ini. Sebagaimana dikatakan Sahal tadi bahwa tema Islam liberal sangat menarik. Ada satu hal lagi yang saya kira perlu saya sebutkan di sini, yaitu, Timur Tengah mempunyai kaitan yang sangat erat dengan kita karena ternyata Timur Tengah bukan hanya mengekspor agama ke sini, tetapi juga penafsiran-penafsiran dan pemahaman keagamaan.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam konteks ini saya melihat bahwa berbicara tentang Islam liberal di Timur Tengah menjadi penting karena selama ini, Islam yang diproduksi dalam media dan buku-buku Barat menampilkan Islam dengan wajah yang seram, sehingga fakta tentang gerakan Islam, atau kebangkitan Islam, menjadi tertupi. Padahal kalau kita berbicara tentang pembaruan dan kebangkitan, sebenarnya yang mempelopori adalah gerakan yang kita sebut sebagai Islam liberal. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nah, sebelum saya memasuki diskusi yang lebih mendalam, saya ingin membahas sedikit tentang istilah Islam liberal. Istlah Islam liberal sebenarnya merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Charles Kurzman yang menulis buku Liberal Islam a Source Book. Sebenarnya buku ini adalah kumpulan artikel. Kurzman menganggap ada sejumlah intelektual Muslim yang merepresentasikan Islam yang liberal. Di antara intelektual Arab ada nama Ali Abdurraziq, Mahmud Toha, dan Ahmad Na’im. Buku ini terbit tahun 1998. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebelum buku Kurzman, ada buku lain yang juga berbicara tentang Islam liberal yaitu Islamic Liberalism yang ditulis Leonard Binder. Meskipun tidak spesifik berbicara tentang Islam Liberal, Binder memetakan aliran-aliran pemikiran yang dia kategorikan sebagai liberal. Ada buku lain yang ditulis oleh Albert Hourani, sebuah buku klasik, yaitu Arabic Thought in the Liberal Age. Dia merujuk masa-masa kebangkitan Arab pada awal-awal abad ke-19 atau akhir abad ke-18 sebagai masa-masa yang liberal. Jadi kalau kita melihat perkembangan tersebut dapat dilihat bahwa istilah Islam liberal tidak dimulai dari Kurzman. Istilah tersebut sudah dimulai oleh Hournai pada tahun 1960-an.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya cukup terkejut ketika membuka buku A.A.A. Fyzee, seorang intelektual Pakistan, yakni Islam in Transition. Dalam karya itu Fyzee bukan hanya menggunakan istilah “Islam liberal,” tapi juga “Islam Protestan” yang menurut dia jika dalam agama Kristen ada kelompok protestan, maka dalam Islam juga ada golongan protestan yang berani memprotes kemapanan dan menghadirkan penafsiran yang lain dari “Islam yang katolik.” Saya sendiri menganggap bahwa istilah tidak terlalu penting.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Perlu digaris bawahi di sini bahwa istilah liberal harus dibedakan dari istilah liberalisme di Barat, karena nanti akan ada hubungannya dengan klasifikasi yang saya buat. Islam liberal dalam wacana pemikiran Islam itu disebut kiri dan di Barat, liberal itu kanan, yakni liberalisme dan sosialisme. Dan dalam paper saya, saya menggunakan istilah kiri dan kanan untuk memudahkan pembedaan antara gerakan Islam yang progresif, inklusif, dan lebih dekat kepada modern dengan Islam yang tradisional atau konservatif. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Berbicara tentang Islam liberal artinya kita sedang berbicara tentang wajah Islam yang banyak. Harus kita akui bahwa sangat sulit berbicara tentang satu Islam. Menurut Aziz Azmeh, tidak ada satu Islam. Karena Islam selalu tampil dengan wajahnya yang beragam. Pemikir Suriah itu menulis buku yang judulnya menurut saya unik. Yakni Islam and Modernities dalam bentuk jamak. Apa yang disebut Islam dengan hurup I besar sesungguhnya tidak ada secara realita. Yang ada adalah Islam Sunni, Islam Syi’ah, Islam NU, dan lain-lain. Karena itu, sah saja kalau kita juga bicara tentang Islam liberal. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Soal Timur Tengah, ada satu image bahwa Timur Tengah lebih kental dengan Islam Tradisional atau Islam Fundamentalis. Padahal kalau kita menelusuri sejarah kebangkitan Islam di kawasan itu, pembaruan dipelopori oleh tokoh Islam liberal. Saya ingin mengambil contoh. Kalau kita berbicara tentang Arab, maka yang paling penting adalah berbicara tentang Mesir, karena Mesir merupakan pusat kebangkitan di dunia Arab. Meskipun di Tunisia ada Muhammad al-Sanusi, pendiri gerakan Sanusiyyah, tetapi yang berkaitan dengan wacana kemodernan baru muncul pada figur Rif’at Tahtawi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya ingin memulai dari Tahtawi untuk menggambarkan gerakan Islam liberal yang sekarang kita lihat di dunia Arab. Tahtawi ini sebenarnya sebelumnya merupakan seorang tradisional sebelum dikirim oleh Muhammad Ali, yang saat itu menjadi kepala negara Mesir, ke Sorbonne, Prancis. Dia adalah delegasi pertama dari negara muslim yang dikirim ke Barat. Saya kira tradisi pengiriman Muslim ke barat itu mengikuti tradisi Tahtawi. Waktu pertama dikirim Tahtawi bukan dikirim untuk belajar tapi untuk mengimami Shalat. Dan sekarang ini ia dikenal sebagai bapak kebangkitan pemikiran Arab modern. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ketika kembali ke Mesir, ia dipercaya memimpin satu percetakan yang disebut percetakan atau Mathbaah Bulaq. Mathba’ah Bulag adalah percetakan yang didirikan oleh Napoleon Bonaparte ketika ia sampai di Mesir pada tahun 1798. Dan percetakan itu kemudian dipimpin oleh Tahtawi. Salah satu proyek Tahtawi adalah menerjemahkan buku-buku Prancis dan menerbitkan buku-buku yang ia anggap mencerahkan. Buku pertama yang dicetak lewat percetakan modern adalah Mukadimah Ibn Khaldun yang diedit sendiri oleh Tahtawi. Dia juga menerjemahkan salah satu karya Montesquieu. Dia sendiri menerjemahkan sekitar dua puluhan buku berbahasa Perancis ke dalam bahasa Arab. ia menulis beberapa buku penting, di antaranya Talkhis al-Ibris, buku tentang masyarakat Paris. Buku ini kemudian menjadi rujukan kaum modern di dunia Arab. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebenarnya, buku itu hanya menjelaskan kehidupan Paris: bagaimana ia melihat anak-anak di Paris, bagaimana mereka sekolah, bagaimana ibu-ibu mereka berada di kafe, daln lain-lain. Hal-hal inilah yang ia sorot yang justru menggugah para pembaca di Mesir. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebenarnya kalau kita berbicara tentang Islam liberal, bukan hanya tentang tokoh yang berpemikiran terbuka dan modern. Saya ingin mengatakan bahwa tokoh seperti Muhammad bin Abdul Wahab pun, yang kita kenal sebagai pendiri madzhab Wahabi, mempunyai jasa dalam gerakan Islam liberal. Misalnya dalam hal purifikasi atas hal-hal yang berbau mitos, khurafat dan lain-lain. Bahkan apa yang disebut gerakan modernis di Indonesia, itu sebenarnya mengikuti Muhammad Abdul Wahab. Dari sini saya melihat bahwa tokoh sekonservatif Abdul Wahab pun mempunyai kontribusi dalam gerakan Islam liberal di Timur Tengah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Gerakan Islam liberal di Timur Tengah mencapai signifikansinya dalam diri Muhammad Abduh. Saya melihat Abduh merupakan tokoh sentral dalam gerakan pemikiran di dunia Arab. Kalau saya membandingkan dengan sejarah pemikiran Barat, mungkin Abduh posisinya sama seperti Hegel. Hegel ditafsirkan oleh pengikutnya sehingga memunculkan Hegelian Kiri dan Hegelian Kanan. Abduh, oleh para pengikutnya dipandangan secara berbeda. Di satu sisi, orang melihatnay sebagai seorang modernis, dan di sisi lain dipandang sebagai tokoh tradisionalis. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mereka, seperti murid-muridnya Hegel, membuat dua kelompok besar, yaitu Abduh Kanan dan Abduh Kiri. Murid Abduh dari Jalur Rasyid Ridha, murid yang paling taat kepada Abduh, kemudian membentuk kelompok kanan. Di antara murid Rasyid Ridha adalah Hasan Al-Banna dan Sayyid Qutb. Kalau kita lihat dari jalur Rasyid Ridha, pemikiran Abduh menjadi sangat konservatif, dan semakin hari semakin ke kanan. Perhatikanlah Hasan al-Banna yang mendirikan gerakan Ihwanul Muslimin dan berpuncak di Sayyid Qutb. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sementara dari jalur modernis atau Abduh Kiri, dikenal nama-nama seperti Qassim Amin dan Ali Abd Raziq. Para intelektual inilah yang kemudian memunculkan wacana Isalm dan kemodernan. Kita tahu bahwa Qassim Amin adalah seorang feminis Arab pertama. Dia menulis buku Mar’ah Jadidah juga menulis buku Tahrirul Mar’ah. Ia melihat salah satu masalah besar di dunia Arab adalah adanya diskriminasi terhadap perempuan. Ia melihat bahwa sumber persoalan sosial berasal dari keluarga. Karena mengeluarkan gagasan-gagasan yang tidak populer, Amin kemudian diasingkan oleh komunitas al-Azhar. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Begitu juga Ali Abdurraziq. Kita tahu bahwa Abdurraziq adalah penggagas gagasan bahwa Islam tidak pernah memerintahkan umatnya membangun satu sistem politik tertentu. Pada tahun 1925, ia menulis sebuah buku kontroversial yang kemudian menjadi klasik. Yakni, al-Islam wa Ushul al-Hukm. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ali Abdurraziq pernah belajar di Oxford. Dan kebanyakan intelektual Arab modern belajar di Barat. Saya tidak tahu apakah itu yang kemudian menyebabkan mereka menjadi modernis dan liberal atau ada faktor lain. Sampai sekarang ini kalau kita berbicara tentang intelektual Arab yang modernis dan liberal, kebanyakan adalah lulusan Barat dan hanya segelintir saja yang lulusan dari Arab sendiri. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kalau kita berbicara tentang Islam liberal kontemporer di dunia Arab, kita berbicara tentang tokoh-tokoh seperti Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun, Abid Jabiri dan lain-lain, maka ini adalah penerus dari pandangan-pandangan Abduh kiri. Saya ingin mengambil contoh bahwa nasib yang dialami oleh intelektual liberal, baik sejak zaman Tahtawi sampai sekarang, bernasib sama, ketika berhadapan dengan otoritas agama, masyarakat, dan kekuasaan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kasus terakhir yang sangat tragis adalah kasus Abu Zayd. Ini adalah kasus yang mungkin memporak-porandakan harapan kaum liberal di dunia Arab khususnya, karena setelah 200 masa kebangkitan, institusi agama masih saja melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. Padahal di Vatikan, mereka sudah tidak peduli dengan pencapaian-pencapaian intelektual di Barat. Abu Zayd kemudian disidangkan dan dihukum sebagai kafir dan dia harus diceraikan dari istrinya. Ia kemudian mengungsi ke Belanda dan mengajar di sana. Keslahan Abu Zayd adalah ia menganggap bahwa bahasa Arab, sebagai Bahasa Al-Qur’an, adalah bahasa historis, sehingga kita juga dapat memahaminya secara historis. Menurut saya ini adalah pandangan yang biasa-biasa saja. Dan merupakan isu dalam ulumul Qur’an. Isu yang sebenarnya sudah pernah dibahas oleh Jalaluddin Assuyuti. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya ingin mengambil contoh asbabunnuzul. Asbabunnuzul artinya sebab-sebab turunnya al-Qur’an. Ini adalah salah satu konsep penting dalam ulumul Qur’an. Menurut saya ini sangat historis sekali. Misalnya begini: ada sebuah ayat Yasalunaka ‘anil khamr (mereka bertanya tentang khamr). Artinya apa, ada satu sahabat nabi yang komplain kepada nabi bahwa para sahabat mabuk, bagaimana mereka mau shalat. Itu Islam sudah berjalan lama, sudah di Madinah, sudah berjalan sepuluh tahun lebih. Mereka bertanya, dan nabi nggak bisa jawab dan berkata tunggu besok saya jawab. Ini artinya apa, nabi menunggu wahyu. Dan ada cerita bahwa wahyu itu nggak datang-datang. Kemudian turun ayat lain yang menegur Nabi: katakanlah insyaallah kalau mau membuat janji. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang ingin saya katakan adalah bahwa asbabunnuzul itu historis sekali. Bahwa penggalan-penggalan al-Qur’an itu dibangun dari konstruksi kesejarahan yang sangat kuat. Bayangkan kalau saat itu tidak ada orang yang bertanya tentang khamr, maka sampai sekarang kita nggak punya ayat tentang khamr. Ini adalah salah satu indikasi bahwa Qur’an tumbuh dan berkembang bersama sejarah. Dan menurut Abu Zayd, itu bisa diinterpretasikan secara historis. Bahasa Qur’an adalah bahasa sejarah, dan bahkan secara kontekstual, konteksnya adalah konteks sejarah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Contoh historis lainnya adalah kasus Muhammad Mahmud Toha, gurunya Ahmad Na’im di Sudan. Ini lebih tragis lagi nasibnya dari Abu Zayd. Ia sampai dihukum mati oleh pemerintah Sudan karena pendapatnya tentang Qur’an juga. Ia berpendapat lagi-lagi tentang isu ulumul Qur’an. Ia mengatakan bahwa ayat-ayat Qur’an terbagi menjadi ayat-ayat Makiyyah dan Madaniyyah. Ini sesuatu yang populer, dan kemudian dikembangkan olehnya bahwa ayat-ayat Makiyyah itu lebih solid dan universal, sementara ayat-ayat Madaniyah itu kontekstual dan sangat berkaitan dengan konteks masyarakat Arab waktu itu.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Karena itu, menurut dia, ayat-ayat Madinah sangat bisa diinterpretasikan, dan kalau perlu ayat-ayat yang tidak kontektual dengan masa kini tidak perlu digunakan lagi. Pendapat inilah yang kemudian membawa Mahmud Toha dieksekusi hingga mati. Saya kira ini ada kaitannya dengan apa yang nanti saya sampaikan pada bagian akhir bahwa ini mungkin merupakan kegagalan dari gerakan Islam liberal secara umum. Padahal pada abad pertengahan isu-isu semacam ini merupakan isu-isu yang biasa saja dan tidak menjadi persoalan, namun ketika dibaca dengan kacamata modern, hal itu menjadi isu kontroversial. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebenarnya banyak intelektual Arab modern yang mengalami nasib buruk seperti itu. Contoh lainnya adalah Naguib Mahfoudz, pemenang Nobel bidang sastra. Ia pernah ditikam waktu mengendarai mobil oleh seorang tukang cukur. Setelah tukang cukur itu ditangkap dan diinterogasi, ia mengaku waktu shalat jum’at ia mendengar bahwa Naguib Mahfoudz adalah seorang kafir dan darahnya halal!. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya akan sampai pada bagian terakhir presentasi saya. Saya melihat ada kemunduran dari gerakan liberalisme Islam di Timur Tengah. Mengapa? Karena gerakan ini sudah berjalan dua ratus tahun lebih dan tidak ada kemajuan yang berarti. Kalau kita kembali ke masa silam, ketika Islam berada pada masa-masa penterjemahan pada abad ke-2 dan ke-3 H, periode ini tak berlangsung lama. Karena masa-masa penerjemahan buku tak berlangsung lama, karena setelah itu muncul ulama-ulama dan filosof-filosof besar. Artinya ada kemajuan yang sangat cepat dan signifikan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Madrasatullughah, atau sekolah bahasa yang didirikan oleh Tahtawi sudah berusia dua ratus tahun, tapi tidak melahirkan pemikir-pemikir sekaliber intelektual Arab masa silam. Seharusnya setelah penerjemahan adalah ibda’ atau kreasi. Setelah menterjemah adalah menulis. Tapi kalau sekarang, orang-orang Arab itu menerjemah terus, nggak pernah nulis. Saya kira sampai di sini dulu presentasi saya. Terima kasih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Ahmad Sahal&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Terimakasih Luthfi. Sebenarnya banyak hal yang bisa dibaca dalam paper yang menarik dan tidak dipresentasikan. Ada beberapa hal yang saya kira menarik untuk didiskusikan, misalnya tentang kenapa gagal, kalau itu memang disebut sebagai kegagalan. Apakah memang antara pembaruan Islam dengan masyarakatnya atau dengan rezim yang berkuasa selalu tidak kompatibel. Kenapa gerakan Islam pada akhirnya menjadi elitis. Seperti yang terjadi di Indonesia, gerakan pembaruan Islam menjadi semacam preaching the converted atau mendakwahi yang sudah beriman. Apakah gerakan kebangkitan Islam juga mengalami hal seperti itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Hamid Basyaib&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mungkin atau tidak, filosofi atau body of knowledge ditarik lebih jauh lagi. Anda menyebut Tahtawai, menurut saya, mungkin bisa ditarik lebih jauh. Misalnya sampai ke khalifah Umar yang begitu berani menafsirkan ayat-ayat Qur’an. Dia terang-terangan menentang bunyi tekstual Qur’an. Misalnya waktu membagi ghanimah (pampasan perang). Qur’an menyebut 1/5 buat rasul… dan seterusnya…Dia bilang nggak, buat kalian tidak ada. Terus dijawab lho ini kan bunyi teksnya begini, ia jawab itu kan dulu. Sekarang tidak usah dibagi. Kalau kita menduduki suatu tempat, nggak usah dibagi sama prajurit. Mengapa? Karena nanti kalian berperang demi harta. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya kira Umar yang paling kreatif, terlepas dia dibenci oleh orang Syi’ah. Barangkali bahkan sampai ke nabi Muhammad sendiri. Awal-awal di madinah itu kan dia sangat kreatif dan lentur dalam menyikapi sistem atau apa yang berlaku secara sosial-kultural di Madinah. Buku Karen Amstrong menurut saya itu luar biasa. Misalnya ia menyebut bahwa nabi pada awalnya tidak pernah berpikir bahwa agama Islam yang ia bawa adalah untuk keperluan seluruh umat manusia. Nggak ada itu di kepala dia, cuma sebagian kecil masyarakat Arab, bukan untuk seluruh dunia. Dan itu berkembang kemudian berdasarkan evolusi pemikirannya. Barangkali juga Abu Zar Ghifari.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya kira kelompok Mu’tazilah juga liberal sekali. Misalnya, seorang tokohnya bilang bahwa agama itu pada dasarnya nggak perlu, kalau manusia itu menggunakan akalnya secara benar dan secara maksimum. Manusia itu mampu membedakan mana baik, mana buruk, mana yang bermanfaat, mana yang mudarat, dan sebagainya. Semata-mata berdasarkan akal. Karena itu agama hanya berfungsi komplementer. Cuma karena umumnya manusia memang bodoh, maka harus dibantu oleh apa yang disebut wahyu. Jadi saya kira perlu dicari dasar-dasarnya jauh ke belakang dan jangan hanya dibatasi pada Tahthawi yang baru kemarin sore. Dari awal-awal abad itu luar biasa pemikiran Islam liberal itu. Nah, bahwa Islam liberal ini memang macet, saya kira betul dan kita semua adalah korbannya. Kita ini kan ngomong-ngomong begini di antara kita sendiri. Seperti Gito Rollies minta jangan pernah berurusan dengan narkotik di pesantren yang memang nggak pernah berurusan dengan sabu-sabu. Saya kira memang macet. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Nurcholis Madjid saya kira juga sudah capek dalam soal ini. Anda lihat beberapa tahun terakhir, discourse dia kan politik karena too hard to handle ide-ide teologis yang diserang begitu keras. Saya kira dia merasa wah nggak produktif juga. Akhirnya dia ngomong demokrasi, politik. Saya kira dia juga sudah capek. Makanya, saya kira perlu dibikin gerakan-gerakan baru. Nah saya usulkan program pertama kaum Islam liberal itu adalah meluncurkan gagasan sekularisasi total. Jadi mungkin, kita ngomong di mail list itu lebih maju dari Nurcholis tahun 1970-an. Barangkali kita sekarang sudah punya dasar-dasarnya yang lebih kokoh khususnya di dalam politik ya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya dari dulu berpendapat bahwa sangat berbahaya ulama berpolitik. Akhirnya rakyat kehilangan ulama karena dia menjadi DPR, dan akhirnya dia juga menjadi politisi biasa, dan yang lebih berbahaya adalah jika ia masuk politik artinya dia memakai dua legitimasi. Pertama legitimasi material, berdasarkan pemilu dan sebagainya itu. Yang kedua legitimasi spiritual. Nah, yang namanya kekuasaan itu, satu legitimasi saja sudah cukup untuk korup. Ini mengerikan sekali kalau dia pegang dua-duanya, siapa yang berani. Mengkritik dia bilang melawan Qur’an, melawan Tuhan. Itu terjadi di Eropa, dalam Katolik. Itu terjadi di dunia Islam, dinasti-dinasti yang semua atas nama Tuhan. Itu terjadi di Iran sampai sekarang.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi kita nggak perlu mengulangi itu. Politik biarkan saja sekuler. Bahwa ada nilai-nilai relijius, biarkan saja itu mengalir secara etis dan bukannya secara formal. Misalnya kalau saya berpolitik, saya orang Islam, saya akan berdasar pada nilai-nilai yang saya pegang. Tapi semua kan harus diobjektifasi ketika masuk parlemen, eksekutif dan sebagainya. Kalau dikit-dikit bawa ayat bisa merinding kita. Begitu saja, terima kasih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Edo&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertanyaan saya, dibatasi dari Abduh saja, saya ingin tahu bahwa pemikiran Abduh itu kan harus ada referensinya, dan dalam Islam referensinya yang paling tinggi adalah Qur’an dan Hadis. Nah, wacana Abduh itu bisa ditarik dari hal-hal yang mananya, karena kan sangat luas. Kadang saya berpikir bahwa Tuhan saja liberal, orang setan saja boleh hidup dan boleh menggoda manusia. Padahal kan dia sudah tahu bahwa setan itu pasti merusak. Dan setahu saya Nabi tidak pernah membunuh orang, padahal dia berapa kali mau dibunuh. Dan dia kan nggak pernah menyuruh menghukum mati dalam konteks damai bukan perang. Karena itu saya berpikir Nabi juga liberal. Oke, terima kasih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Luthfi Assyaukanie&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang pertama komentar dari Hamid. Saya kira benar, orang seperti Fazlur Rahman mengatakan bahwa Islam itu modern. Karena itu, akan redundan kalau kita bilang Islam dan modernitas. Islam sendiri adalah sesuatu yang modern. Ketika Nabi menyampaikan risalahnya, nabi adalah seorang modernis. Modern itu cirinya kan kekinian, sesuatu yang bisa applicable. Saya melihat bahwa dalam diri nabi pun ada pernik-pernik liberal. Saudara Edo tadi malah mengatakan bahwa Tuhan saja liberal. Kalau begitu, Islam liberal naungannya kuat sekali karena otoritasnya Tuhan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam sejarah pemikiran Islam pun begitu. Seperti yang disebutkan Hamid tadi, Mu’tazilah. Ada yang disebut tradisi heresy dalam Islam, sesuatu yang biasa. Dan itu adalah benih-benih liberalisme dalam Islam. Bagaimana kasus Abu Bakar Arrazi, misalnya, yang menganggap bahwa yang abadi bukan hanya Tuhan. Ini adalah persoalan filsafat dan dia terpengaruh oleh filsafat Yunani, yang kemudian para ahli teologi yang mempunyai paradigma sendiri menuduh Abu Bakar Arrazi sebagai kafir. Mu’tazilah sendiri juga begitu kan. Mu’tazilah adalah orang-orang rasional, liberal. Ketika berkuasa sebetulnya orang Mu’tazilah itu bermasalah.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi bukan hanya orang fundamentalis atau tradisional. Kalau sudah berkuasa, Mu’tazilah itu luar biasa. Satu-satunya lembaga “inkuisisi” dalam sejarah Islam itu terjadi ketika Mu’tazilah berkuasa. Ketika Islam liberal berkuasa terjadi inkuisisi. Ketika tradisional berkuasa tidak terjadi. Ini problemnya. Saya tidak mau menyebut itu inkuisisi. Masa apa yang disebut mihnah atau yang disebut ujian yang didapati oleh intelektual Muslim itu terjadi pada masa Mu’tazilah berkuasa pada masa Ma’mun. Di situ terjadi pemeriksaan terhadap Imam Syafi’I, terhadap Ahmad bin Hanbal, pendiri mazhab Hanbali, dan Ahmad bin Hanbal ini adalah orang yang paling menderita dalam masa kekuasaan Mu’tazilah. Jadi saya kira, benih-benih Islam liberal itu bisa ditarik pada Islam itu sendiri, bahwa Islam itu adalah agama liberal, agama yang membebaskan.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Karena itu saya sebutkan orang seperti Muhammad bin Abdul Wahab yang sebetulnya kita memandang sebagai tokoh konservatif juga mempunyai peran. Minimal kontribusi dia dalam persoalan-persoalan teologis. Bagaimana ketika melarang orang pergi ke kuburan misalnya. Jadi sedikit banyak tokoh-tokoh konservatif atau siapa saja yang mempunyai pemikiran yang bisa dikembangkan dalam Islam liberal, itu bisa kita katakan sebagai benih-benih Islam liberal. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tentang pertanyaan kedua, secara umum saya melihat Abduh sebagai seorang modernis. Saya melihat peran dia ketika menjabat sebagai Mufti Agung Mesir misalnya. Bagaimana dia yang seorang mufti, yang seharusnya lebih dekat menyuarakan kekuasaan penguasa Mesir, atau ulama Al-Azhar di sekelilingnya. Harusnya seperti itu. Tapi fatwa-fatwa dia banyak sekali yang sangat berani. Tiga fatwanya yang sampai sekarang tidak diungkit-ungkit lagi oleh Al-Azhar adalah pertama soal pakaian tradisional. Ia membuat fatwa bahwa orang Muslim ketika berada di Eropa atau di negara non-Muslim boleh mengganti pakaiannya. Oleh para pengikutnya, bukan hanya untuk para lelaki saja, tapi juga perempuan, boleh kalau berada di negara diluar Islam pakaian tradisional dilepas. Itu isu yang kontroversial. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang kedua adalah soal bunga bank. Kita tahu bahwa Abduh lima tahun tinggal di Eropa. Dia tahu betul bahwa bank ini bermanfaat. Karena itu dia memberikan fatwa bahwa bunga bank itu bukan riba.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang terakhir adalah soal sembelihan binatang. Itu sebenarnya legitimate, dalam Qur’an sendiri pun dikatakan bahwa sembelihan orang-orang ahlul-kitab itu boleh dimakan oleh orang Muslim. Tapi konteksnya sekarang, saya membaca buletin Jum’at, tidak ada ahlul-kitab, judul besarnya adalah itu. Buat Abduh, Kristen dan Yahudi tetap ahlul-kitab dan sembelihan mereka bisa kita makan.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tiga fatwa ini menurut saya yang menjadikan Abduh lebih sebagai seorang modernis dari pada seorang tradisionalis. Padahal ketika ia mengeluarkan fatwa ini ia masih menjabat sebagai mufti agung. Ini yang membuat saya mengaggap bahwa Abduh lebih modernis ketimbang tradisionalis. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Trisno SS&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya termasuk ahlul-kitab yang hampir punah. Menarik sekali di bagian kesimpulan, dan ini mengingatkan saya pada sebuah cerita. Hanya memang polanya agak berbeda. Tapi mungkin ini sebagai bandingan saja. STT Jakarta itu sudah dari tahun 1960-an dicap sebagai sekolah liberal, protestan liberal. Di situlah pendekatan-pendekatan kritisisme yang radikal atau yang kritis seperti proyek demitologisasi dan sebagainya, dikembangkan sehingga memunculkan studi-studi biblikal yang luar biasa di sekitar tahun 1960-an. Dan mereka mendidik para pendeta yang tersebar di seluruh Indonesia.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tetapi sekarang, belum lama ini saya diskusi panjang lebar dengan rektor STT, terdapat kesan bahwa ketika seorang pendeta masuk dalam jema’atnya, dalam umatnya, memimpin satu gereja, tiba-tiba semua liberalisme itu hilang. Lalu dia kembali lagi pada rutinitas kehidupan. Jadi ia hanya mengikuti apa kata jema’atlah kira-kira. Ia tunduk pada jema’at, dan makin lama kecenderungannya makin konservatif. Makin kekanan dan bukannya meneruskan proyek liberal ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Akhirnya, setelah beberapa dekade berlalu, sekarang ini STT itu ya semacam tokoh-tokoh liberal yang anda sebut tadi dan jema’atnya adalah semacam Al-Azharnya. Bahkan cap liberal yang dikenakan pada mereka membuat pendeta-pendeta lulusan STT yang sekarang sulit diterima oleh jema’ah karena dituduh liberal. Misalnya mereka mengajarkan bahwa inkarnasi bahwa Jesus itu anak dari roh kudus itu adalah cerita mitologis yang mengisahkan proses keberimanan pada masa itu. Klaim-klaim semacam itu merupakan kisah yang biasa di STT, namun ketika sampai pada umat ceritanya menjadi berbeda.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang menarik adalah, ini bandingan saja, kalau di Islam misalnya ada proses saringan melalui inkuisisi Al-Azhar, misalnya, di Protestantisme tidak ada inkuisisi itu. Ternyata bukan cuma kekuasaan saja yang mampu menginkuisisi. Ketika ia masuk dalam umat, atau orang-orang yang beriman, terjadi proses inkuisisi yang lain. Hidden inquisition kira-kira demikian. Jadi bukan hanya kekuasaan dalam artian politik atau agama. Umat itu mampu menjadi inkuisisi tersendiri. Apa yang terjadi dalam misalnya the Jesus Seminar tidak bisa diterima oleh umat. Mereka mengatakan bahwa itulah bid’ah, kafir. Bedanya kalau dalam protestan kafir itu tidak berarti darahnya halal. Tapi proses itu terjadi, sehingga ada dinamika di kalangan umat yang membuat orang tidak bisa menembus itu. Ini cerita bandingan saja untuk mas Luthfi, terima kasih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Jamal&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertama saya ingin mengomentari dulu bahwa yang ditulis oleh Luthfi ini lebih semacam peta dan bukan wacana. Peta gerakan Islam liberal di Timur Tengah, wacananya tidak saya temukan secara mendalam. Saya sepakat dengan Hamid tentang tonggak awal Islam kritis itu bukan hanya dari Umar bin Khatab tapi dari Rasulullah. Karena sejauh yang saya ketahui dan pahami, penghargaan terhadap perbedaan pendapat itu inheren dalam Islam. Inilah mengapa Qur’an dituliskan dalam bahasa-bahasa yang ambigu, bahasa yang multi-interpretasi. Sehingga apakah laki-laki dan perempuan jika bersentuhan setelah wudlu batal atau tidak itu berasal dari ayat yang sama. Hanya perbedaan gramatikal yang sangat rumit dalam bahasa Arab.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian misalnya suatu ketika Nabi Muhammad mengutus tentara dan berpesan bahwa jangan sholat asar kecuali di Thaif. Kemudian belum sampai di Thaif menjelang waktu magrib, sebagian berpendapat bahwa kita menurut pendapat Nabi, biar waktu sudah magrib kita sholat di Thaif. Tapi yang lain bilang bahwa ini sudah masuk waktu, kita ikut Nabi atau ikut Qur’an. Nah itu ketika diadukan kepada Nabi, dua-duanya dibenarkan karena berdasar pada argumentasi yang jelas. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi saya kira keliru bahwa Islam liberal dimulai pada awal abad ke-19. Nah saya mau mengaitkannya dengan tarik-menarik antara gerakan Islam liberal dengan gerakan konservatif dalam dua terminologi yang dirumuskan oleh mas Luthfi sendiri. Pertama, Luthfi menulis bahwa gerakan Islam liberal itu berakar dari motivasi dua hal: pertama resistensi terhadap kolonialisme, dalam hal ini Inggris, yang banyak menguasai dunia Arab pada masa itu pasca Turki Usmani. Kemudian secara internal ada upaya untuk menghancurkan belenggu-belenggu yang membodohkan umat. Nah saya ingin mengikuti alur logika ini saja. Karena itu, saya pernah bilang di sini juga, bahwa kecenderungan umat Islam itu retrospektif. Jadi mereka sangat mengagungkan ulama-ulama terdahulu dan dengan berat hati menginkuisisi pemikir-pemikir yang muncul pada masanya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Padahal bisa jadi, pendapat masa lalu, seperti yang Luthfi bilang sendiri, pendapat yang diungkapkan Abduh lebih revolusioner dibanding apa yang diungkapkan oleh Hasan Hanafi dalam aspek-aspek yang paling fundamental. Nah kenapa tidak dilakukan itu, karena ada tradisi, yang tidak tertulis, bahwa kaum Muslim tradisional punya penghargaan yang sangat tinggi kepada pendahulu yang disebut assabikun, sebagai mata rantai khazanah pemikiran Islam. Jadi itu yang dibilang oleh Gus Dur sebagai Islam bawah tanah. Jadi kata Gus Dur Islam NU itu bukan hanya Islam atas tanah saja namun juga Islam kuburan. Jadi kita bukan hanya sekarang ini tapi juga merupakan mata rantai dari sesuatu yang telah terbenam dalam tanah secara fisik.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya mencoba memberi sedikit perimbanganlah. Hari ini wacana liberal kelihatannya lagi berbicara. Saya mau mencoba mengempati Islam tradisional, ketika mereka meresistensi pemikiran yang menurut mereka sangat radikal. Ada hal-hal yang menyinggung ulama-ulama pada masa inkuisisi itu, misalnya statement Nasr Hamid Abu Zayd ketika ia menuduh terhadap subjektifitas Arabic dari Imam Syafi’I, ketika ia mengatakan bahwa Arab adalah uberalles. Dalam basic fikihnya Imam Syafi’I selalu mendahulukan Arab dibanding yang lain karena landasan pemikirannya bahwa Arablah sumber utama Islam. Nah, itu dirasakan oleh ulama-ulama sebagai personal attack terhadap Imam Syafi’I dan bukan terhadap pemikirannya. Mereka begitu mengagungkan Imam Syafi’I yang menurut mereka belum ada replikanya sampai sekarang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian hal lain yang patut menjadi persoalan adalah, saya waktu kuliah, saya kebetulan kuliah di fakultas Syari’ah, ada pelajaran yang terkesan dipaksakan, yaitu assalib ghasul fikri, yakni metode perang pemikiran. Di situ disebutkan pemikiran ulama Timur Tengah yang menyerang para pembaru yang disebutkan dalam makalah ini. Bagaimana penulis itu mencoba menguraikan benang merah antara gerakan kebangkitan Islam dengan kolonialisme Inggris untuk melakukan sekulerisasi di kalangan Islam dengan melemahkan aspek yang paling fundamental, yaitu aspek keagamaannya. Karena dari review dari kalangan orientalis masa lalu, saya kira, diperoleh gambaran bahwa umat Islam tidak bisa dilemahkan secara fisik, tapi harus dilemahkan secara kultur dan cara berpikirnya.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pada saat yang bersamaan muncul pemikir-pemikir yang kritis semacam ini, kemudian ditarik benang merahnya. Saya sendiri tidak sepakat. Seperti misalnya Ahmad Khan di India, yang dengan kampusnya di kaitkan dengan Inggris. Kemudian juga termasuk Sayyid Kutb, karena tidak ada yang mengungkapkan bahwa Sayyid Kutb sebelum menjadi fundamentalis dulu adalah seorang komunis. Jadi apa yang menjadi perubahan-perubahan itu, itu yang saya catat. Kemudian, satu hal yang saya kritisi juga adalah bahwa ada kecenderungan pendapat, seperti yang saudara sebutkan, misalnya kecenderungan Cak Nur untuk menyekolahkan mahasiswa ke Barat supaya berpikir secara liberal. Ternyata, fundamentalis justru lahir dari Barat. Kita lihat bagaimana alumni-alumni Leiden cara berpikirnya sangat literal sekali. Berbeda dengan Hasan Hanafi yang justru lahir dari Mesir sendiri. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian pembedaan antara kiri-dan kanan dalam muridnya Abduh. Antara Abudrrasyid dengan Rasyid Ridha. Rsyid Ridha juga sangat liberal dalam karangannya ketika dia bicara bahwa konsep tentang setan dan malaikat dalam Qur’an itu sebenarnya hanya metaforik. Setan adalah sebuah potensi jahat dalam diri manusia, sedangkan malaikat adalah potensi baik. Dan banyak hal, misalnya apakah sorga dan neraka itu ada atau tidak. Itu saya kira penafsiran-penafsiran yang sangat berani. Termasuk statement Ridha bahwa ahlul-kitab itu bukan cuma Yahudi dan Nasrani, tapi juga Sinto, Budha, Hindu, berdasarkan ayat Qur’an bahwa setiap umat punya nabi. Oke itu dulu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Mufti&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya punya dua pertanyaan. Pertama saya mau bertanya sejauh mana wacana liberalisme inheren dalam masyarakat Arab sendiri. Karena bagi saya pergulatan pemikiran itu sebenarnya merupakan hal yang biasa, dan juga berkaitan dengan jatuh bangunnya peradaban, tumbuh berkembangnya masyarakat. Kedua, beberapa tokoh yang anda sebutkan tadi itu proses inkuisisinya menurut saya tidak semata-mata dilihat dari sisi pemikiran. Contoh yang anda ungkapkan misalnya tentang Muhammad Toha. Itu kalau kita lihat sebenarnya merupakan pertentangan politik antara kubu Muhammad Taha dengan Hasan Thurabi. Antara yang pro-negara Islam dengan yang anti. Nah kebetulan yang pro-negara Islam didukung oleh militer, sementara yang anti hanya berbasis masyarakat.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi persoalannya adalah bahwa orang-orang yang kontra ini adalah ideolog-ideolog. Sama saja dulu ketika periode Mu’tazilah berkuasa, itu yang disiksa kan ideolognya mazhab Hanbali, Syafi’I dan sebagainya. Jadi sebenarnya lebih ke ancaman-ancaman politik saja. Kemudian, yang terakhir, soal pemetaan di kalangan masyarakat Arab sendiri. Saya lihat pemetaan di Timur Tengah ini juga buram. Misalnya, Sayyid Qutb dibilang sebagai perwakilan cendekiawan liberal. Tapi ketika ia menulis tafsir Qur’an itu sebenarnya tidak berbeda dengan tulisan Ibn Katsir yang seribu tahun sebelum dia. Atau misalnya beberapa tokoh yang lain justru mereka yang dibesarkan oleh pendiri-pendiri Wahabi, oleh Rasyid Ridha, justru pemikirannya tetap konservatif dan terikat pada mazhab serta tidak ada hal-hal baru yang ditawarkan. Termasuk juga dalam pergulatan pemikiran di dunia Arab yang kerap kali disebut dengan gazwul fikri itu sebenarnya merupakan pertarungan antara Arab yang ingin bertahan dengan pemikiran yang jenuinnya dengan Barat. Jadi bukan pemikiran jenuin yang berasal dari Arab. tapi sebenarnya antara pemikiran Arab dengan impor dari Barat. Terimakasih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Luthfi Assyaukanie&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya mulai dari Trisno yang sebetulnya menambahkan bagaimana persoalan inkuisisi dan lain-lainnya dalam agama protestan. Tapi ada satu hal yang menurut saya patut kita perhatikan bahwa adanya lembaga inkuisisi itu sebenarnya di satu sisi adalah untuk meredam kemarahan massa. Misalkan seperti kasus Abu Zayd, setelah dia di masyarakat jiwanya terancam, kalau dia dipersidangan dinyatakan bersalah maka ia dihukum. Tapi saya kira itu juga untuk meredam kemarahan massa, dalam kasus yang menyangkut Al-Azhar. Tapi secara umum kalau di dalam sejarah Islam baru Mu’tazilah yang mirip inkuisisi gereja. Tapi sebenarnya juga bukan inkuisisi, karena banyak orang yang tidak setuju. Dalam Islam itu ada istilah Mihnah. Mihnah ini kemudian disalah terjemahkan menjadi inkuisisi. Mihnah itu artinya ujian atau cobaan dan bisa bersifat institusional dan bersifat individual, dalam pengertian bahwa dalam masa Mu’tazilah itu di-institusionalisasikan. Pada kasus Hallaj, itu disebut sebagai mihnah al-Hallaj. Itu oleh masyarakat. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian untuk saudara Jamal, kalau sekarang saya tidak membuat wacana, memang pada dasarnya saya lebih tertarik membuat peta dari pada wacana karena wacana itu terlalu luas dan ketika menulis paper ini saya berpikir bahwa kadang-kadang kita masih buta. Dan tiba-tiba muncul satu isu di Timur Tengah, seperti kasus Abu Zayd, fenomena Hasan Hanafi, Arkoun, nah, yang terpikir dalam benak saya waktu itu adalah bagaimana memetakan fenomena-fenomena Islam liberal ini dalam konteks pemikiran Arab secara keseluruhan. Kalau keberatannya adalah mengapa saya mulai dari Tahtawi karena yang saya fokuskan adalah pemikiran Arab modern. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian tadi juga menyebutkan bahwa Nabi sebenarnya sangat pluralis. Misalnya Nabi melemparkan statement yang sangat multi-interpretasi. Saya melihat bahwa fiqh, dalam tradisi Islam, sebenarnya merupakan kumpulan undang-undang yang kemudian menjadi rujukan hukum bagi umat Islam. Saya melihat bahwa fiqh adalah disiplin ilmu yang paling demokratis, pluralistik, bahkan dalam fiqh itu ada adagium yang mengatakan aksaruminqoulain, selalu lebih dari dua pendapat. Di fiqh itu mazhab saja ada empat. Kalau ada satu pendapat, pasti ada pendapat kedua. Bahkan ada sebuah hadis, yang dikutip oleh Arkoun, dan ia sangat senang sekali mengutip hadis ini, layafqahurrajulu hattayarolqur’ana wujuhan katsiratan, tidak faqih seseorang jika belum melihat al-Qur’an itu dari sisi yang banyak atau dari banyak wajah. Saya kira benar kalau dikatakan bahwa Islam secara inheren itu sangat pluralistik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian soal Rasyid Ridha. Apakah ia dapat disebut tradisionalis atau konservatif. Tafsir-tafsir yang anda sebutkan tadi adalah tafsir Abduh bukan tafsir Ridha. Al-Manar, itu kan sering disebut sebagai tafsirnya Ridha. Padahal itu adalah tafsirnya Abduh. Karena itu pengkaji tafsir itu sering mengatakan bahwa dari surat al-Baqarah sampai ¾ atau Ali Imran atau berapa saya lupa, itu sangat liberal penafsirannya. Tapi seterusnya itu sangat konservatif. Karena ke sananya yang buat adalah Ridha. Ayat-ayat yang ahlulkitab, yang lain-lain, itu adalah penafsiran Abduh. Kalau baca al-Manar itu jelas sekali perbedaannya. Karena sebelum selesai menafsirkan Abduh sudah meninggal. Saya tetap mengatakan bahwa Ridha sangat konservatif dalam hal ini. Berbeda dengan gurunya, Abduh. Termasuk dalam gagasan tentang khalifah, misalnya, Ridha lebih fundamentalis. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertanyaan saudara Mufti saya kira penting. Orang sering bertanya-tanya bahwa kalau dalam wacana liberalisme begitu intensif didiskusikan di Arab, itu sebenarnya bagaimana fakta sosiologisnya. Kenyataan sosiologisnya itu seperti apa. Saya kira seperti kita di sini, orang Arab itu, di luar Arab Saudi saya kira, itu cara berpakaian dan bergaulnya sudah modern dan sampai tingkat tertentu sangat westernized, khususnya di daerah Syam, di daerah Syiria, Lebanon, dan Mesir. Dan kata teman saya di Maroko, Maroko itu sudah kayak di TUK, kalau bertemu saling cium-ciuman. Kalau di Jordan belum sampai taraf itu. Tapi kalau summer itu saya paling senang ke kampus, karena jarang yang pakai BH. Kehidupannya saya kira biasa-biasa saja. Lain halnya dengan di Saudi. Kemarin ada UU yang sangat aneh. Jadi para sopir, termasuk TKI, itu kalau tugas harus bawa istrinya di sampingnya. Itu peraturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah Saudi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Goenawan Mohammad&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ada satu hal yang ingin saya tanyakan lagi, yang dikemukakan Trisno, pengalaman di kalangan Kristen Protestan di Indonesia, bahwa ketika ajaran dan pemikiran yang liberal itu dikemukakan ke jema’at itu reaksinya justru tidak diterima dan kembali mengurangi dorongan ke arah liberalisasi. Sebenarnya menarik, kenapa itu terjadi. Barangkali tinjauan sosiologis dapat menjawab. Saya kira dalam buku Binder saya ingat dikatakan bahwa selama banyak massa miskin di negara-negara Arab, itu liberal Islam tidak tumbuh. Mengapa kemiskinan dan kekonservatifan itu bersanding. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang kedua, setiap agama itu mulai dengan semangat yang membebaskan. Mula-mula kan merelatifkan hukum-hukum. Tapi ketika menjadi organisasi kemudian menjadi konservatif sehingga timbul inkuisisi. Tapi ada juga satu unsur yang lain, mungkin kecemasan. Saya kira di kalangan massa Islam, di banyak negara, kecemasan itu begitu kuat, sehingga mungkin perlu pegangan yang kuat. Juga kecemasan akan inkuisisi di Spanyol ketika orang kristen baru saja mengalahkan orang Islam.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Karena mungkin menarik, seperti yang sekarang timbul, bagaimana Islam yang tumbuh di kalangan orang Islam Eropa yang hidupnya enak, dan melihat bahwa negeri sekuler bisa menyelamatkan mereka. Jangan lupa juga bahwa kebebasan berpikir yang terjamin itu ada di Eropa. Maka kalangan Islam di Timur Tengah kebanyakan juga ke Eropa. Sekarang tumbuh, saya dengar, penafsiran Islam di Eropa yang tersendiri. Ini karena banyak orang Islam di Eropa. Saya dengar orang Islam terbesar ke dua ada di Perancis. Bahkan di Belanda ada seorang intelektual Islam keturunan Turki yang menjadi anggota Partai Kristen Demokrat.  Apakah karena perbedaan sosiologis tersebut akan memudahkan atau menyulitkan Islam liberal di masa depan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Eki&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya ingin bertanya, tidakkah anda pikir Islam itu merupakan salah satu agama yang justru kurang membebaskan kalau dilihat dari, misalnya, Qur’an dan Hadis sebagai referensi tertinggi, kalau di banding misalnya dengan Bible, Torah atau kitab-kitab lain, Qur’an itu yang paling banyak aturan. Kita harus bikin studi tentang hal itu. Jadi klaim bahwa Islam sejak institusinya yang pertama adalah liberal, barangkali lebih pada cita-cita kita saja yang melihat bahwa Islam seharusnya liberal.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Apalagi kalau dilihat kenyataan sekarang, negara-negara di mana orang Islam adalah mayoritas merupakan negara yang secara struktur politik sangat mengikat. Sejauh mana sebenarnya perlawanan gerakan Islam liberal, di luar urusan teologi, di tingkat praksis. Apakah ada ulama yang memperjuangkan hak pilih perempuan misalnya di Kuwait. Apakah ada gerakan yang nyata dari kalangan Islam liberal terhadap gerakan-gerakan pembebasan yang remeh-temeh. Misalnya dalam hal hak pilih, jilbab dan sebagainya. Kalau mau kita list, sebenarnya apa saja produk liberal Islam dalam kerangka praksis. Atau apakah hanya dalam pemikiran saja. Menurut anda bagaimana menyebut orang di Indonesia itu Islam liberal. Apakah kalau ia tidak berjilbab itu disebut liberal, atau yang lain yang bisa kita indentifikasi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Cecep&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya ingin bertanya tentang kaitan Islam liberal dengan moralitas atau etika sosial. Pertanyaan saya muncul dari dua hal. Pertama, saya ingin mengoreksi romantisasi bang Luthfi yang merujuk pada Hasan Hanafi yang mengatakan bahwa penerjemahan Islam lampau dari Helenisme ke Islam itu telah menghasilkan kreasi, sementara sekarang itu sama sekali tidak menghasilkan kreasi. Saya kira satu hal yang terlupakan yaitu bahwa Islam liberal dulu itu tidak sampai menghasilkan suatu masyarakat atau sistem politik yang betul-betul liberal dan sekular total.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Contohnya itu al-Ma’mun dan Harus Rasyid yang sangat suka dengan sastra, filsafat dan sebagainya, itu kok masih mau menginkuisisi yang nota-bene mengatasnamakan aliran Mu’tazilah yang liberal. Seolah-olah tidak ada korelasi antara Islam liberal lampau dengan sekularisasi total. Masih ada celah buat Islam liberal waktu itu untuk membuat inkuisisi atas nama agama yang mungkin dalam pakem fundamentalis itu sama saja dengan akidah. Saya kok malah melihat, jangan-jangan karena kata CakNur sebenarnya sistem politik Islam itu bisa benar-benar diterapkan hanya dalam beberapa tahun saja. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sejak Mu’awiyah, itu sistem politik Islam sampai sekarang tidak bisa diterapkan. Jadi kesimpulan saya, Islam liberal hasil Helenisme itu nggak betul-betul liberal dan semu karena politiknya masih berbentuk dinasti dan totaliter. Jadi pertanyaan saya adalah kaitan Islam liberal dengan etika publik itu kayak apa. Dalam hal ini saya ingin mengajukan dua contoh Nabi. Kenapa waktu memutuskan ingin perang itu Nabi musyawarah dan tidak bawa-bawa wahyu. Saya juga agak kaget waktu membaca makalah Cak Nur tentang perang Uhud. Ternyata sebenarnya Nabi menginginkan posisi Islam itu bukan di bukit Uhud, tapi di Madinah. Cuma karena nabi kalah suara, akhirnya dia ngikutin mayoritas suara. Nah, apa kaitan Islam liberal dengan moralitas publik. Dalam hal ini saya ingin bertanya juga tentang Islam liberal di Indonesia. terutama nasib Islam liberal di Indonesia. Kalau Hasan Hanafi bilang bahwa yang mengaborsi Islam liberal itu orang fundamentalis, saya melihat di Indonesia ini yang meruntuhkannya itu juga tokoh liberal juga, yakni Gus Dur. Kenapa, kaitannya itu dengan etika publik tadi. Gimana Islam liberal mau laku dijual di Indonesia kalau Gus Dur yang dikatakan wali liberal itu “kebersihannya” kurang. Menurut saya nasib Islam liberal ini lebih unik lagi. Ternyata yang membuat moralitasnya runtuh itu kaum liberal sendiri. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pertanyaan kedua berkaitan dengan peta. Karena saya juga banyak bersinggungan dengan produk Timur Tengah juga. Menurut saya akan menarik kalau Islam liberal dipetakan berdasarkan disiplin ilmu, mengingat ada berbagai disipli ilmu dalam Islam. Saya dulu perah menyangka bahwa wajah Islam yang betul-betul liberal itu ada di tasawuf yang menghasilkan wihdatul adyan, atau dalam bahasa Schuon transendental unity.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya agak kaget juga waktu membaca Esack tentang Qur’an dan liberalisme yang mengatakan bahwa dalam tradisi tafsir itu menghasilkan kesimpulan bahwa agama itu sama. Mungkin kita bisa menginventarisir berapa disiplin ilmu Islam yang menghasilkan formula Islam liberal dan mana yang paling sesuai untuk disosialisasikan. Karena menurut saya kelemahan Islam liberal adalah tidak mau masuk dalam dakwah recehan. Lihat perbedaan mencolok antara khotbah di Iran dengan di Indonesia, sangat berbeda. Kalau di Indonesia, khatib itu sudah sangat bangga dengan hanya bisa mengutip dua ayat atau tiga hadis meskipun sebenarnya tidak tahu persoalan umat. Di Iran saya lihat dalam khotbah benar-benar mengulas masalah umat terlepas dari masalah sekularisasinya yang mungkin tidak total. Demikian terima kasih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Juanda&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya ingin menempatkan garis embarkasi tentang liberal Islam. Apakah Islam liberal adalah sebuah dekonstruksi syari’ah kemudian direkonstruksi, atau hanya bertarung dalam dimensi politik saja. Problemnya adalah adanya dekadensi di kalangan Islam yang tidak menghasilkan perlawanan terhadap rezim dan itu kita lihat di Timur Tengah. Nah, Hasan Hanafi berusaha menerjemahkan hal itu dalam apresiasi keberagamaannya sehingga dia berusaha melawan Gamal Abdul Nasser. Dari sini saya ingin melihat apakah itu garis embarkasi liberal Islam. Misalnya, Muhammad Abdul Wahab, saat ini mungkin saya katakan konservatif, tapi ketika ia melahirkan purifikasi Islam ia adalah seorang liberalis. Jadi apa itu garis embarkasi Islam liberal. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Luthfi Assyaukanie&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya akan mulai dari Mas Goen yang mempertanyakan kaitan antara kesejahteraan dengan tingkat konservatisme. Saya melihat bahwa di Arab, negara-negara miskin itu justru tempatnya Islam liberal dan negara-negara kaya, atau istilahnya Fuad Zakaria disebut petro-Islam, tidak tumbuh sama sekali tradisi Islam liberal di sana. Atau negara bukan teluk yang agak sejahtera, seperti Libia, juga tidak muncul Islam liberal. Bahkan tidak ada pemikiran sama sekali selain buku hijau yang ditulis oleh Qaddafi. Jadi saya mempertanyakan argumen Binder itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang kedua, berkaitan juga dengan Mas Goen, yaitu jangan-jangan Islam itu bukan agama yang membebaskan. Saya kira itu erat kaitannya dengan konsep kita tentang liberalisme. Mungkin kita tidak harus melihat liberalisme Islam masa lalu dengan perpektif liberal Islam sekarang. Dengan kata lain saya ingin mengatakan bahwa kita harus memilah-milah setiap periodisasi Islam. Saya jadi teringan Michel Foucault yang membagi sejarah Barat ke dalam tiga periode yakni klasik, medieval, dan modern. Menurut dia kalau mau melihat secara jernih itu harus melihat secara epistemik, jadi sistem berpikirnya itu kayak apa. Kita harus melihat liberalisme Islam itu seperti itu.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Jadi apa yang disebut liberal pada masa Nabi tentu saja bukan liberalisme seperti yang kita pahami sekarang. Karena itu dalam paper saya, dengan hati-hati saya bilang bahwa kita pertama harus membedakan dengan liberalisme Barat. Juga termasuk liberalisme modern. Jadi mungkin ada gerakan-gerakan yang liberal, atau gerakan-gerakan yang membebaskan pada masa Nabi, dan sahabat, itu mempunyai cirikhasnya sendiri. Mempunyai epistemnya sendiri dan berbeda dengan epistem yang kita yakini. Tapi saya menganggap bahwa itu juga bisa dianggap sebagai liberalisme. Dan kembali ke pertanyaan semula, apakah Islam itu liberal dari perspektif ini saya melihat bahwa Islam itu liberal. Meskipun nuansa liberalismenya berbeda dengan apa yang kita pahami tentang liberalisme sekarang ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kemudian soal Mu’tazilah dan lain-lain. Saya kira, itu pun harus dilihat dalam kerangka paradigmatik. Saya senang menggunakan ini karena ini dapat digunakan dalam banyak hal. Misalnya, saya cukup terkejut ketika membaca Aristoteles. Kenapa dia masih mengakui perbudakan. Tidak ada jalan lain kecuali membacanya secara paradigmatik. Bahwa dalam masa Aristoteles, perbudakan adalah sesuatu yang inheren dalam masyarakat. Karena itu mengapa Ma’mun, Mu’tazilah dan lain-lain masih bersikap konvensional dalam hal politk atau etika publik. Saya kira, itu ada kaitannya dengan sistem berpikir dia waktu itu. Kalau dibaca dengan perspektif sekarang, maka jelas ada keterputusan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya ingin menggunakan istilah yang sering digunakan Arkoun, yakni apa yang disebut “yang tidak terpikirkan” atau unthinkable atau unthought. Setiap masyarakat itu mempunyai sistem berpikirnya sendiri-sendiri. Dan satu masyarakat berbeda dengan masyarakat yang lain. Kalau pakai paradigma Thomas Kuhn, itu disebut incommensurablility, tidak bisa dikomunikasikan antara satu paradigma dengan paradigma yang lain. Saya melihat bahwa paradigma medieval, atau paradigma pertengahan dalam Islam, itu banyak sekali hal-hal yang tidak dipikirkan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tentang bunga bank, saya kira sama dengan yang ada di kita. Ada yang membolehkan dan ada yang menentang, ada yang subhat dan ada yang nggak mau tahu. Jadi saya kira penerapannya di massa itu tidak jauh berbeda dengan kita. Pada kasus doktrinal selalu ada kelompok-kelompok yang berbeda. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ada satu obrolan saya dengan Ulil Abshar-Abdalla minggu lalu. Bagaimana nasib Islam liberal di Indonesia. Kata Ulil gagal total. Karena itu, saya bersama Mas Goen dan kawan-kawan mempunyai proyek mensosialisasikan Islam liberal lewat medium yang dibaca oleh orang banyak. Jangan hanya terbatas, misalnya, hanya pada orang-orang Pondok Indah atau elit saja. Tapi harus disosialisasikan. Dan ini memang kerja berat dan melibatkan banyak pihak.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kalau kita melihat yang sudah dilakukan oleh Cak Nur, dengan penghargaan terhadap dia, tapi kita lihat tiba-tiba saja ada seorang kiai yang menghalalkan darah orang, di saat usaha cak Nur yang sudah cukup lama merasionalisasikan Islam dan mengkampanyekan Islam liberal, tapi kok ujungnya anti-klimaks. Jadi kesimpulan saya, tidak hanya di Indonesia, di dunia Arab pun yang wacananya cukup beragam, saya nilai juga gagal. Dan saya kira kasus Abu Zayd itu bukan kasus terakhir. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang terakhir bagaimana melihat Islam liberal dari disiplin ilmu. Kalau kita amati disiplin-disiplin yang ada dalam Islam, para filosof itu biasanya mengklasifikasi ilmu menjadi yang aqliyah dan naqliyah, yang rasional dan ilmu-ilmu agama. Seperti ilmu filsafat, ilmu kalam, tasawuf itu masuk dalam ilmu-ilmu rasional. bahkan mereka mengistilahkannya dengan ilmu-ilmu awwaliyah, ilmu-ilmu transfer dari Yunani. Saya melihat ilmu-ilmu yang rasional ini, khususnya filsafat, teologi dan tasawuf, itu adalah ilmu-ilmu yang sangat terbuka dengan persoalan-persoalan liberalisme. Kita melihat bahwa di satu sisi kalam itu bersifat ketuhanan, tapi di sisi lain ia memunculkan persoalan-persoalan ilmiah. Teori atom itu paling maju di dalam Islam yaitu pengembangan dari teori atomnya Demokritos, sebelum kemudian ditulis ulang oleh Leibnitz, yakni monade, dan itu sebenarnya pengembangan dari atomnya Asy’ari. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Disiplin Islam seperti ushul fiqh pun itu saya melihatnya sangat rasional. bahkan Mustafa Abdurrazik menulis buku yang berjudul Madkhal ilal falsafah Islamiyah, pendahuluan terhadap filsafat Islam. Menurut dia, logikanya Islam seharusnya bukan logika Aristoteles, tapi ushul fiqh karena dalam ushul fiqh itu diterangkan selain logikanya Aristoteles juga persoalan-persoalan yang sangat logis. Dan saya melihat perkembangan ushul fiqh selanjutnya, oleh muridnya Mustafa yaitu Ali Syami Nassyar itu menemukan banyak hal baru dalam ushul fiqh yakni metode yang seharusnya diberi perhatian lebih banyak oleh umat Islam. Misalnya begini, mengapa dalam fiqh itu qiyas menjadi sangat penting. Dan qiyas inilah yang menjadi dasar-dasar semua ushul fiqh. Pun pengharaman terhadap bir, itu berdasarkan analogi atau qiyas, dan tidak ada dalam Qur’an, Hadis dan Ijma’. Itu berdasarkan hukum yang ke-empat. Karena itu kalau berdasarkan hukum itu istimbat-nya lemah. Saya ingin mengatakan bahwa ushul fiqh itu juga harus dikonsiderasikan sebagai disiplin ilmu yang rasional dan dapat dikembangkan terus. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;b&gt;Ahmad Sahal&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dari pembicaraan yang saya kira belum tuntas ini saya kira menarik untuk usul terhadap tuan rumah (TUK), untuk membikin diskusi lain tentang Islam liberal di Indonesia. Seberapa jauh, misalnya, sumbangan yang diberikan dan mahdharat yang ditimbulkan oleh Gus Dur terhadap Islam liberal. Terus misalnya menguatnya identitas Islam di kalangan Islam kota yang sebenarnya bertentangan dengan Islam tradisional yang mempunyai problem lain, misalnya komunalisme dan lain-lain. Dengan ini diskusi saya tutup, dan terimakasih pada Luthfi Assyaukanie. Assalamu’alaikum. &lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1455673713811860108?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1455673713811860108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1455673713811860108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1455673713811860108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1455673713811860108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/12/wacana-islam-liberal-di-timur-tengah.html' title='Wacana Islam Liberal di Timur Tengah'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-9046771756064444567</id><published>2009-12-31T13:17:00.000+05:00</published><updated>2009-12-31T13:18:05.812+05:00</updated><title type='text'>Membaca Teks Alquran secara Kasual</title><content type='html'>&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;\&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;h5 class="author"&gt;Oleh Malja Abrar&lt;/h5&gt; &lt;div class="article_content"&gt;   &lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;Dalam metafor al-Ghazali, Alquran adalah bagaikan lautan yang terdapat banyak mutiara di dalamnya. Ada sebagian orang yang hanya berada di tepi pantai, sebagian lagi berada dalam radius ratusan meter dari garis pantai, sebagian kecil masuk jauh ke bagian tengah lautan, dan hanya beberapa yang dengan nyali kuat menyelam ke dalam lautan dan berhasil memungut mutiara-mutiara di dasarnya. &lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;p&gt;Umat Islam umumnya berkeberatan jika kitab suci mereka, yaitu Alquran, diperlakukan sebagai “teks biasa” sebagaimana teks-teks yang lain. Umat Islam mainstream, misalnya, merasa keberatan jika piranti baca semacam hermeneutika digunakan dalam studi ilmiah Alquran. Dikhawatirkan, dipakainya piranti baca semacam hermeneutika tersebut akan berujung pada desakralisasi terhadap Alquran. Keberatan semacam ini sangat bisa dipahami, namun al-Suyuthi sungguh telah memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam hal bagaimana melihat dan mendekati Alquran. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Inilah salah satu tema penting yang dikupas dalam buku terbaru Jaringan Islam Liberal, &lt;i&gt;Metodologi Studi Alquran.  &lt;/i&gt;Bertempat di Gedung Teater Utan Kayu, Jakarta, Senin (30/11/2009) Jaringan Islam Liberal (JIL) menyelenggarakan acara bedah buku sekaligus menandai peluncuran buku terbitan kerja sama JIL dan Gramedia Pustaka Utama (GPU) tersebut, dengan menghadirkan tiga orang narasumber sekaligus: Dawam Rahardjo, Nasaruddin Umar, dan Ulil Abshar Abdalla. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Al-Suyuthi, seorang sarjana Islam klasik yang hidup di Mesir (1445-1505), dalam sebuah &lt;i&gt;compendium&lt;/i&gt;-nya, &lt;i&gt;al-Itqân fî `Ulûm al-Qur’ân, &lt;/i&gt;telah memberikan contoh yang baik sekali bagaimana seharusnya umat Islam melihat teks suci Alquran. Dalam karyanya tersebut, al-Suyuthi dengan rileks sekali “mengiris-iris” (dari kosakata Inggris &lt;i&gt;to analyze&lt;/i&gt;) Alquran yang oleh kebanyakan umat Islam dianggap sebagai teks sakral dan mengkajinya secara ilmiah adalah perkara tabu dan dirasa mengganggu kesadaran teologis mereka. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam diskusi yang dihadiri oleh ratusan audiens dari berbagai latar belakang beragam tersebut, Ulil, sapaan akrab salah satu kandidat Ketua Umum PBNU ini, memberikan contoh dengan mengutip salah satu fasal yang cukup panjang mengenai aspek-aspek gramatikal Alquran (i’rab) dalam kitab &lt;i&gt;al-Itqan &lt;/i&gt;karya al-Suyuthi. Dalam fasal tersebut, al-Suyuthi mengulas tentang beberapa “insiden linguistik” dalam Alquran. Jika mengacu pada standar garamatik Bahasa Arab yang ada, setidaknya ada tiga kesalahan atau penyelewengan gramatik (lahn) dalam Alquran sebagaimana yang dilaporkan oleh sahabat Urwah ibn al-Zubair: ayat 20:63, 4:162, dan 5:69 (al-Itqân, Dar el Fikr, Vol. I, hal. 183). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam salah satu varian qira’at atau bacaan Alquran yang juga valid, ketiga ayat tadi dibaca demikian: &lt;i&gt;inna hâdzâni lasâhirâni (20:63), wa al-muqîmîna al-shalât wa al-mu’tûna al-zakât (4:162), inna al-ladzîna âmanû wa al-ladzîna hâdû wa al-shâbi’ûna (5:69). &lt;/i&gt;Jika kita pakai standar tata Bahasa Arab baku, ketiga ayat tadi seharusnya dibaca demikian: &lt;i&gt;inna hâdzaini &lt;/i&gt;(bukan &lt;i&gt;inna hâdzâni, &lt;/i&gt;meskipun memang ada varian bacaan lain yang membaca in bukan &lt;i&gt;inna&lt;/i&gt;), wa &lt;i&gt;al-mu’tîna &lt;/i&gt;(bukan  &lt;i&gt;wa al-mu’tûna &lt;/i&gt;), dan &lt;i&gt;wa al-shâbi’îna &lt;/i&gt;(bukan  &lt;i&gt;wa al-shâbi’ûna &lt;/i&gt;).  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tentu bukan hanya soal-soal yang berkaitan dengan aspek gramatik yang diungkap oleh al-Suyuthi dalam karyanya &lt;i&gt;al-Itqan &lt;/i&gt;ini. Banyak hal ia ulas dalam karyanya tersebut dalam rangka melakukan studi ilmiah terhadap Alquran, sebagaimana studi ilmiah yang dilakukan oleh para orientalis sekarang ini terhadap Alquran. Al-Suyuthi meletakkan Alquran sebagai teks “historis”, sehingga memungkinkannya untuk melakukan studi ilmiah terhadap “kejanggalan-kejanggalan” yang ada didalamnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Seandainya laporan-laporan seperti ini disampaikan oleh seorang sarjana Islam lain yang tidak se-otoritatif al-Suyuthi, tentu akan mengundang kemarahan umat Islam. Tapi al-Suyuthi menyampaikannya dengan rileks sekali, dengan cara memperlakukan teks Alquran sebagai “teks normal” sebagaimana teks-teks yang lain.  “Semangat inilah yang dibawakan dan hendak ditawarkan oleh buku terbaru Jaringan Islam Liberal yang berjudul &lt;i&gt;Metodologi Studi Alquran  &lt;/i&gt;ini,” tandas Ulil, kandidat doktor di Harvard University ini, sembari mempromosikan buku yang dibedah pada diskusi malam itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dengan meminjam sebuah metafor yang sangat ia sukai dari salah satu karya al-Ghazali,  &lt;i&gt;Jawâhir al- Qurân,  &lt;/i&gt;Ulil menyatakan bahwa buku  &lt;i&gt;Metodologi Studi Alquran  &lt;/i&gt;ini laksana mutiara (jauhar) di tengah kemandekan studi Alquran di Indonesia, sebab buku ini menawarkan suatu penglihatan dan pendekatan terhadap Alquran dengan cara yang tidak konvensional. Dalam metafor al-Ghazali, Alquran adalah bagaikan lautan yang terdapat banyak mutiara di dalamnya. Ada sebagian orang yang hanya berada di tepi pantai, sebagian lagi berada dalam radius ratusan meter dari garis pantai, sebagian kecil masuk jauh ke bagian tengah lautan, dan hanya beberapa yang dengan nyali kuat menyelam ke dalam lautan dan berhasil memungut mutiara-mutiara di dasarnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Semangat pendekatan inkonvensional ini penting, sebab kalau kita lihat studi ilmiah terhadap Alquran di dunia Islam sendiri, kurang atau bahkan tidak berkembang sama sekali. Semua buku tentang Ulûm al-Qurân yang ditulis oleh para sarjana Alquran modern, sebut saja misalnya Manna’ Khalil al-Qatthan, Shubhi al-Shalih, Abdul Wahhab Khallaf, Wahbah Zuhaili, Yusuf Qardlawi, hampir semuanya adalah repetisi atau pengulangan saja dari kitab al-Itqan yang ditulis oleh Imam al-Suyuthi.  Tidak kita temukan perkembangan yang signifikan terhadap metodologi studi Alquran dalam karya-karya mereka. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Studi ilmiah Alquran  yang cukup  &lt;i&gt;challenging, &lt;/i&gt; menantang justru datang dari para orientalis. Karena itu, menurut Ulil, bentuk studi ilmiah Alquran yang paling ideal adalah menggabungkan studi Alquran yang berkembang dalam tradisi Islam dengan studi Alquran yang dikembangkan oleh para orientalis.  Setidaknya ada tiga fase penting dalam studi Alquran di kalangan para orientalis. Pertama adalah studi Alquran yang dirintis oleh Abraham Geiger (1810-1874) di Jerman pada abad ke-19. Untuk pertama kali, Geiger merintis studi Alquran dengan mencoba melihat Alquran sebagai teks yang tumbuh dalam dua tradisi agama semitik utama, yaitu Yahudi dan Kristen. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kedua adalah rintisan studi Alquran yang dikembangkan oleh seorang sarjana Alquran berkebangsaan Jerman, Theodor Noldeke (1836-1930). Noldeke menulis buku &lt;i&gt; Geschichte des Qorans  &lt;/i&gt;(Sejarah Alquran) yang terbit pada 1860. Bersama dengan Friedrich Zacharias Schwally, Gotthelf Bergstrasser, dan Otto Pretzl, Theodor Noldeke menulis buku &lt;i&gt;Geschichte des Qorans  &lt;/i&gt;ini. Buku yang menggunakan metodologi Alkitab (Bible) ini, mereka tulis selama 68 tahun sejak edisi pertama dan selama 40 tahun sejak diusulkannya edisi kedua. Dalam Karya tersebut, Noldeke meletakkan suatu fondasi penting dalam studi Alquran di Barat. Dia melihat Alquran sebagai teks yang tumbuh secara historis. Noldeke misalnya menawarkan penyusunan ulang kronologi surat-surat Alquran yang berbeda sama sekali dengan kronologi yang kita lihat dalam mushaf sekarang. Dalam opini standar umat Islam, susunan surat atau chapter Alquran adalah al-Fatihah, lalu al-Baqarah dan seterusnya hingga surat al-Nas. Dan kronologi penyusunan surat seperti yang kita lihat dan baca dalam mushaf sekarang ini, diyakini sebagai perkara tawqif atau hasil dari pen-dikte-an langsung dari Tuhan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ketiga adalah studi Alquran yang dirintis seorang sarjana Jepang, Toshihiko Izutsu (1914-1993). Izutsu merintis studi Alquran yang dianggap cukup &lt;i&gt;ground-breaking,  &lt;/i&gt;melakukan terobosan karena dia mendekati Alquran berdasarkan tema-tema yang merupakan gagasan pokok dalam Alquran. Dalam karyanya &lt;i&gt;Ethico-Religious Concepts in the Quran  &lt;/i&gt;(Montreal: McGill University Press, 1966. Edisi Bahasa Indonesia diterbitkan Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993), misalnya, Izutsu berbicara tentang struktur inti konsep kufr, iman, syirk, tentang baik dan buruk (al-husn dan al-qubh) dan pokok-pokok soal lain yang merupakan tema etik dalam Alquran. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nasaruddin Umar dan Mas Dawam menambahkan bahwa memang studi yang ilmiah terhadap Alquran sudah banyak contohnya dalam tradisi kajian Islam klasik sendiri. “Tidak perlu kita membuka kitab putih untuk dapat melakukan studi ilmiah terhadap Alquran. Dalam kitab kuning sendiri, studi ilmiah Alquran itu dapat kita temukan banyak contohnya, baik dalam tradisi Sunni maupun Syi’ah,” ujar Pak Nasar, Dirjen Bimas Islam dan Katib ‘Aam PBNU 2003-2008 ini. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-9046771756064444567?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/9046771756064444567/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=9046771756064444567' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/9046771756064444567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/9046771756064444567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/12/membaca-teks-alquran-secara-kasual.html' title='Membaca Teks Alquran secara Kasual'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5699253325575463045</id><published>2009-12-31T13:15:00.000+05:00</published><updated>2009-12-31T13:16:10.569+05:00</updated><title type='text'>Memahami Hadis Nabi Secara Rasional</title><content type='html'>&lt;h5 class="author"&gt;Oleh Wail al-Sawwah&lt;/h5&gt;    &lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;Akal yang sehat tentu tidak akan menerima sikap seperti itu terhadap perempuan. Seorang Nabi yang berwatak sebagai pendidik, arif, dan pemimpin umat, tidak mungkin memperlakukan perempuan seperti yang digambarkan di dalam hadis-hadis misoginis di atas. Hadis-hadis misoginis itu pun bertentangan dengan puluhan hadis lain yang menegaskan keharusan menghormati dan menghargai perempuan.  &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p&gt;Dalam suatu riwayat, Jabir ibn Abdullah menyampaikan bahwa Nabi Muhammad melihat seorang perempuan kemudian ia masuk rumah untuk menemui Zainab bint Jahsyn untuk menunaikan “hajat"-nya. Setelah usai, ia keluar menemui para sahabat sembari berkata, “Sungguh perempuan datang menyerupai setan. Barangsiapa merasakan sesuatu (hasrat seksual) karenanya, bersegeralah ke istrinya. Perilaku itu akan menghilangkan hasrat yang ada di dalam jiwa (dalam riwayat lain: akan menekan hasrat yang terpendam di dalam jiwa).” Hadis ini diriwayatkan Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Qathan, dan al-Albani. Semua ahli hadis ini memastikan bahwa hadis ini sahih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kita akan jadikan hadis ini sebagai obyek pembahasan untuk membuktikan bahwa ide berpedoman kepada hadis-hadis Nabi yang baru dikumpulkan dua ratus tahun setelah mangkatnya Nabi adalah keliru jika kita tidak mempertimbangkannya secara rasional dan logis. Rasionalitas dan logika akan membantu menentukan tingkat kesahihan suatu hadis. Prinsip-prinsip yang dipegang para perawi hadis, seperti ilmu jarh wa ta’dîl dan lain-lain, tidak sepenuhnya dapat dijadikan pedoman. Sebab, prinsip-prinsip ini tidak cukup mumpuni untuk membendung sampainya hadis-hadis sebagaimana disebutkan tadi kepada pembaca masa kini yang begitu saja meyakininya sahih dan dapat dipercaya.&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Cobalah kita bayangkan kejadian yang digambarkan hadis di atas sesuai dengan konteks ruang dan waktunya. Bayangkanlah Nabi dan para sahabat yang duduk dalam satu majelis, lalu lewatlah seorang perempuan. Nabi melihatnya dan berhasrat padanya (atau karenanya). Ia lalu minta izin kepada para sahabat untuk masuk rumah menemui Zainab bint Jahsyn. Ia lantas menunaikan “hajat"-nya kepada Zainab dan segera kembali ke para sahabat untuk meneruskan perbincangan. Ia lalu menjelaskan apa yang telah dilakukannya: “Perempuan datang menyerupai setan. Dalam kondisi seperti itu, sebaiknya seorang laki-laki segera menemui istrinya agar tidak termakan godaan setan.” &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mari kita analisa hadis di atas. Jika direka ulang, kita mendapat gambaran bahwa Nabi berkumpul dengan para sahabat dalam rangka berdiskusi tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan umat, agama, dan masyarakat. Dalam buku-buku sejarah kita tak pernah menemukan bahwa Nabi berkumpul dengan para sahabat hanya untuk bergurau menghabiskan waktu. Tiba-tiba seorang perempuan lewat, lalu Nabi segera meninggalkan perbincangan serius tentang berbagai masalah umat untuk menunaikan “hajat” kepada istrinya. Jelaslah bahwa perilaku ini tidak layak bagi seorang pemimpin seperti Nabi dan tidak pula sesuai dengan usianya ketika itu.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Semua riwayat yang menceritakan hadis ini memang tidak menjelaskan kondisi si perempuan yang lewat di hadapan Nabi dan para sahabat: Apakah ia muda atau tua; Apakah ia cantik atau tidak? Apakah ia berpakaian tertutup atau terbuka? Semua riwayat juga tidak menjelaskan alasan mengapa Nabi menoleh kepada perempuan itu, memperhatikannya, lalu meninggalkan forum sahabatnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Lepas dari pembicaraan penting antara Nabi dan para sahabat, siapa pun tidak pantas meninggalkan sebuah majelis sekadar untuk menunaikan “hajat” pada istrinya kemudian kembali lagi, seolah tak terjadi apa pun. Perilaku seperti ini tidak mungkin terjadi pada Nabi. Sikap ini mengandung penghinaan terhadap seorang tamu (jika ia tuan rumah), terhadap tuan rumah (jika ia seorang tamu), atau terhadap majelis manapun. Hal-hal seperti ini memang tidak dijelaskan di dalam hadis di atas. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Namun, Nabi masuk menemui Zainab, sesuai teks hadis, “kemudian menunaikan ‘hajat’ kepada Zainab dan segera keluar lagi menemui para sahabat...” Teks hadis ini, dengan berbagai riwayatnya, mengesankan bahwa Nabi menemui Zainab hanya dalam waktu yang singkat. Sebab ketika ia keluar, para sahabat masih duduk di tempat semula. Ini berarti Nabi datang tergesa-gesa kepada istrinya, kemudian menyetubuhinya, lalu mengalami orgasme dalam waktu singkat. Setelah itu, ia segera kembali lagi kepada para sahabat untuk meneruskan perbincangan. Sikap seperti ini bukanlah watak Nabi dan bukan pula watak laki-laki mana pun yang menghargai diri sendiri dan istrinya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebab Nabi pernah bersabda, “Janganlah seseorang menyetubuhi istrinya seperti hewan. Hendaklah ada rasûl di antara mereka.” Para sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud dengan rasûl itu?” Beliau menjawab: “Ciuman dan rayuan.” Dalam riwayat Anas ibn Malik, Nabi bersabda, “Ada tiga kelemahan pada seorang laki-laki...” Ia antara lain menyebutkan: “Seorang laki-laki mendekati istrinya kemudian menyetubuhinya tanpa cumbu rayu. Ia menyetubuhi istrinya dan mencapai orgasme sebelum sang istri mencapai orgasme.” &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Mungkinkah Nabi melarang sesuatu namun ia justru melakukannya? Tampaknya petunjuk Nabi dalam hal ini dapat kita lihat dalam penjelasan Imam Abu Hamid al-Ghazali: “Jika seseorang bersetubuh dengan istrinya, hendaklah ia memperlambat orgasmenya sehingga sang istri mencapai orgasme pula. Orgasme sang istri bisa jadi lebih lambat. Jika ia meninggalkan istrinya sebelum ia mencapai orgasme, dorongan syahwatnya tidak akan terpenuhi. Dengan demikian ia telah menyakiti sang istri. Perbedaan waktu datangnya orgasme ini membuat ketidaknyamanan ketika suami sudah orgasme lebih dulu. Orgasme secara berbarengangan lebih memberi kenikmatan bagi istri. Seorang suami tidak boleh bersikap egoistis. Bisa jadi istri merasa malu dalam hal ini. Maka, sang suami haruslah dapat memahaminya,” &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Inilah penjelasan yang sangat baik tentang pentingnya seorang suami tidak tergesa-gesa mencapai orgasme lalu meninggalkan tempat tidur sebelum sang istri mencapai orgasme pula. Jika etika demikian berlaku bagi laki-laki biasa, apakah mungkin Nabi memperbolehkan dirinya untuk cepat-cepat mencapai orgasme tanpa mempedulikan istrinya? &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Apa yang sedang dilakukan oleh Zainab ketika Nabi menemuinya? Apakah ia sedang sibuk dengan urusan rumah tangga atau sibuk dengan urusan agama? Dalam dua kondisi ini, apakah sang suami boleh datang kepadanya untuk mengajak berhubungan badan dan ia harus segera meninggalkan apa yang sedang ia kerjakan? Setelah beberapa saat, sang suami justru keluar menemui para sahabat. Apa yang Zainab lakukan kemudian? Apakah ia meneruskan kesibukannya dan seolah-olah tidak terjadi apa pun? Benar belaka, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari, Nabi pernah bersabda, “Jika seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur (untuk berhubungan badan), tapi sang istri menolak, maka para malaikat akan mengutuknya sampai pagi”. Tapi hadis ini secara implisit mengandung pengertian bahwa sang suami mengajak istrinya pada malam hari karena ada kalimat “sampai pagi”. Jika sang suami datang secara mendadak, langsung mengajak istrinya berhubungan badan, tapi sang istri menolak, apakah para malaikat tetap juga akan mengutuknya?! &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teks hadis kita menegaskan bahwa Nabi segera kembali menemui para sahabat. Apakah hal ini berhubungan dengan keinginan Nabi untuk segera menyelesaikan tema pembicaraan? Atau, ia ingin segera menjelaskan perilakunya yang sangat cepat itu kepada mereka? &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesuatu yang lebih penting dari itu semua adalah, dalam hadis di atas, Nabi tampak begitu lemah berhadapan dengan sesuatu yang datang dari luar dirinya (faktor eksternal), yaitu setan. Dalam hadis itu pun Nabi berkata, “Sungguh perempuan datang menyerupai setan. Barangsiapa merasakan sesuatu karenanya, hendaklah ia menemui (menyetubuhi) istrinya. Yang demikian itu akan meredam hasrat (seksual) yang ada dalam jiwanya.” Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Albani disebutkan, “Ketika perempuan datang, ia datang menyerupai setan. Jika kalian melihat perempuan dan terpesona, hendaklah kalian menemui istri karena pada istri kalian ada sesuatu yang ada pada perempuan itu.” &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Menyamakan perempuan dengan setan adalah pelecehan yang tidak mungkin dilakukan oleh Nabi. Menurut Alquran, beliau tak berbicara berdasarkan nafsu. Karena itu perlu dipahami bahwa menyamakan perempuan dengan setan adalah kasus yang umum pada agama-agama tauhid, baik Islam, Kristen, maupun Yahudi. Penyamaan ini kadangkala sangat tak masuk akal. Contohnya adalah hadis Nabi riwayat Muslim: “Waspadalah terhadap dunia. Waspadalah terhadap perempuan. Sungguh, kerusakan pertama yang terjadi pada Bani Israel adalah karena perempuan.” Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi juga menegaskan: “Aku tidak meninggalkan cobaan yang paling berbahaya bagi laki-laki melebihi perempuan.” &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Poin terakhir yang akan kita bahas adalah hadis al-Albani: “Ketika perempuan datang, ia datang menyerupai setan. Jika kalian melihat perempuan dan terpesona, hendaknya kalian menemui istri karena pada istri kalian ada sesuatu yang ada pada perempuan itu.” Hadis ini secara eksplisit mengandung unsur pelecehan kemanusiaan terhadap perempuan. Hadis ini memberikan pengertian bahwa jika seorang laki-laki tertarik (secara seksual) kepada seorang perempuan, hendaklah ia menemui istrinya. Karena, pada istrinya ada anggota tubuh yang sama dengan anggota tubuh yang diinginkan pada perempuan itu. Bukankah ini berarti menggeser status perempuan dari manusia istimewa menjadi laksana barang? Apakah perempuan hanya diinginkan karena tubuh (fisik)-nya? Apakah ucapan, interaksi, kelembutan, akal, dan jiwa perempuan tidak ada gunanya dalan hubungan seksual? &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Akal yang sehat tentu tidak akan menerima sikap seperti itu terhadap perempuan. Seorang Nabi yang berwatak sebagai pendidik, arif, dan pemimpin umat, tidak mungkin memperlakukan perempuan seperti yang digambarkan di dalam hadis-hadis misoginis di atas. Hadis-hadis misoginis itu pun bertentangan dengan puluhan hadis lain yang menegaskan keharusan menghormati dan menghargai perempuan. Pertanyaanya: apakah hadis-hadis misoginis itu sahih? Apakah Nabi melakukan itu semua kemudian mengucapkan hadis-hadis misoginis? Ada dua jawaban: “ya” atau “tidak”. Jawaban yang pertama berarti pelecehan terhadap sosok Nabi yang dicintai dan dimuliakan. Jawaban yang kedua adalah yang benar. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tampaknya kita harus berani mempertanyakan sikap para peneliti Muslim yang secara berlebihan mengaggap hadis sebagai sumber kebenaran sejarah. Kita harus berani memulai penelitian terhadap wacana kenabian sebagai sumber perdana yang lahir dalam konteks ruang dan waktu tertentu. Kita harus meletakkannya dalam kerangka analisis yang rasional dan logis. Kita harus pula mengembalikan wacana kenabian pada kondisi ruang dan waktunya. Kita tidak perlu harus secara membabi-buta menjadikannya sebagai kaidah bagi perilaku kita hari ini. Kita tidak perlu bercermin kepadanya secara serampangan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Andai Nabi Muhammad hari ini diutus kembali kepada kita sebagai masyarakat manusia, pasti ia akan menggunakan cara-cara yang rasional dalam memahami apa yang pernah ia ucapkan dulu. Dan sebetulnya, sebagian besar peninggalan sejarah yang kita miliki saat ini (turâts) masih dipenuh dengan nilai-nilai kemanusiaan dan moral yang luhur andai saja kita memperlakukannya secara rasional. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Taufik Damas, sumber: &lt;a href="http://www.alawan.org/"&gt;http://www.alawan.org&lt;/a&gt;)    &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;* Wail al-Sawwah adalah intelektual dan aktivis pembela HAM asal Suriah. &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5699253325575463045?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5699253325575463045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5699253325575463045' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5699253325575463045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5699253325575463045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/12/memahami-hadis-nabi-secara-rasional.html' title='Memahami Hadis Nabi Secara Rasional'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-4549927598391499192</id><published>2009-12-31T13:12:00.001+05:00</published><updated>2009-12-31T13:12:37.017+05:00</updated><title type='text'>Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah Pembentukan Kalender Islam</title><content type='html'>&lt;h1 class="title"&gt;&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/kelumit-sejarah-pembentukan-kalender-islam/" title="Kelumit Sejarah Pembentukan Kalender Islam"&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h5 class="author"&gt;Oleh Abd Moqsith Ghazali&lt;/h5&gt;    &lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;Hijrah adalah kelir tebal yang menandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah, kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tidur atau hanya ada dalam mitologi. Madinah kemudian menjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisa dijalankan dengan adil, kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbu ajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan. &lt;/p&gt; &lt;/div&gt;   &lt;p&gt;Setiap 1 Muharram umat Islam selalu memperingati tahun baru hijriyah. Yakni tahun baru dalam kalender Islam yang start penghitungannya didasarkan pada kepindahan (hijrah) Nabi dari Mekah ke Madinah. Sudah menjadi cerita lama bahwa penetapan tahun Islam ini baru terjadi pada zaman kekhalifahan Umar ibn Khattab. Dan Umar memang dikenal sebagai khalifah yang banyak melakukan langkah-langkah inovatif untuk kemajuan Islam terutama di bidang sosial-politik. Di antaranya, adalah penetapan &lt;i&gt;Baitul Mal &lt;/i&gt;(Pusat Keuangan Negara), pembentukan beberapa badan usaha milik negara (BUMN), pembuatan data kependudukan, penetapan remunerasi-gaji bagi para tentara perang, pemberian subsisi kepada kaum miskin hingga penyelesaian sengketa tanah-agraria di Yerussalem dengan ditandatanganinya Perjanjian Aelia (Mitsaq Ailiya). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sebelum ditetapkan, telah bermunculan gagasan tentang perlu dan tidaknya umat Islam memiliki penghitungan tahun sendiri. Sebagian Sahabat Nabi berpendirian tentang tak dibutuhkannya almanak tersendiri bagi umat Islam. Baik Alquran maupun Hadits tak pernah memerintahkan untuk membuat kalender khusus Islam. Dengan demikian, menurut mereka, umat Islam cukup mengikuti penghitungan tahun yang sudah ada dalam tradisi dan kebiasaan bangsa-bangsa dan komunitas lain. Ada yang berpendapat agar umat Islam mengikuti hitungan tahun orang-orang Persia atau bangsa Romawi. (Ibn Katsir, &lt;i&gt;al-Bidayah wa al-Nihayah, &lt;/i&gt;Juz III, hlm. 246). Dari sini kita tahu bahwa pada saat itu tak tabu sekiranya umat Islam hendak mengambil atau meminjam tradisi dan kebudayaan dari bangsa dan umat agama lain.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Sementara yang lain mengusulkan, umat Islam perlu memiliki kalender sendiri, tanpa bertaklid pada almanak bangsa dan umat agama lain. Pendapat ini kemudian disepakati. Hanya, umat Islam berselisih tentang titik tolak penetapan dimulainya tahun Islam itu. Ada yang berpendapat, tahun kelahiran Nabi Muhammad (milad atau maulid) bisa diambil sebagai batu pijak penghitungan tahun Islam, sebagaimana umat Kristiani menjadikan tahun kelahiran Yesus Kristus sebagai basis penghitungan. Ada juga yang interupsi supaya perhitungan itu mengacu pada tahun wafatnya Nabi Muhammad atau tahun pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau rasul. Yang lain berpendapat agar penghitungan itu mengacu pada peristiwa hijrah. Nabi sendiri pernah bersabda bahwa dirinya diberi tiga pilihan tempat hijrah oleh Allah SWT, yaitu: Madinah, Bahrain, dan Qinnasrin (sebuah kota di Syam). Dan Nabi lebih memilih Madinah (Yatsrib) ketimbang yang lain. (Ibn Katsir, al-Bidayah, Juz III, hlm. 212 &amp;amp; 246). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Bersama itu, masih juga terjadi silang sengkarut tentang bulan pertama dalam tahun Islam tersebut. Beberapa Sahabat Nabi berpendapat, bulan pertamanya adalah bulan Muharram. Sahabat lain mengusulkan agar bulan Ramadan dijadikan bulan pertama, karena bulan itu merupakan bulan utama (sayyid al-syuhur). Yang lain lagi mengusulkan, bulan Rabiul Awwal. Sebab, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibn Abbas, hijrah Nabi Muhammad sendiri terjadi pada hari Senin, 13 Rabiul Awwal tahun ke-13 dari kenabian Muhammad SAW. Pendapat ini juga dikemukakan Imam Malik sebagaimana riwayat al-Suhaili (Ibn Katsir, &lt;i&gt;al-Bidayah, &lt;/i&gt;Juz III, hlm. 220, 247). Argumen kelompok terakhir kalau disederhanakan kira-kira adalah: kalau kita sepakat bahwa acuan penghitungan tahun Islam adalah peristiwa hijrah, maka mestinya kita juga sepakat menetapkan Rabiul Awal sebagai bulan pertama dalam kalender itu. Sebab, pada bulan itulah hijrah Nabi berlangsung. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa hijrah umat Islam sendiri berlangsung tak sekaligus; bergelombang dan bertahap. Beberapa Sahabat Nabi bahkan ada yang sudah berangkat beberapa minggu bahkan satu hingga dua bulan sebelumnya. Sahabat Nabi yang pertama kali sampai ke Madinah adalah Abu Salmah ibn Abdul Asad ibn Hilal ibn Abdullah ibn Umar dari Bani Makhzum. Riwayat lain menyebut, yang pertama adalah Mush`ab ibn Umair, Ibnu Umi Maktum, baru Ammar dan Bilal. Beberapa hari dan minggu berikutnya disusul oleh Umar ibn Khattab beserta sanak saudara dan keluarganya seperti Zaid ibn Khattab. Selanjutnya, yang berhijrah adalah Thalhah ibn Ubaidillah, Shuhaib ibn Sinan. (Ibn Hisyam, &lt;i&gt;al-Sirah al-Nabawiyah, &lt;/i&gt;Juz II, hlm. 341-349). Nabi Muhammad dan Sahabat Abu Bakar termasuk yang terakhir berhijrah. Setelah melakukan perjalanan berliku selama 15 hari termasuk tinggal di Gua Tsaur selama 3 hari, mereka berdua akhirnya sampai di Madinah.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Perbedaan pendapat boleh terjadi, tapi Umar ibn Khattab sebagai kepala negara segera memveto bahwa tahun Islam dimulai dari momen hijrah dengan bulan Muharram sebagai bulan pertama. Kenapa bulan Muharram? Salah satunya, mungkin karena bulan itu adalah termasuk bulan diharamkannya peperangan (&lt;i&gt;anna Allah harrama al-qatla wa al-qital fiha&lt;/i&gt;). Itu adalah bulan perdamaian nan suci. (Al-Razi, &lt;i&gt;Mafatih al-Ghaib, &lt;/i&gt;Juz XV, hlm. 233). Kemungkinan lain, karena bulan Muharram adalah bulan pertama kalinya umat Islam hijrah. Tak ada alasan memadai dibalik penetapan bulan Muharram ini. Lalu, kenapa momen hijrah? Hijrah adalah kelir tebal yang menandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah, kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tidur atau hanya ada dalam mitologi. Madinah kemudian menjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisa dijalankan dengan adil, kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbu ajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan. &lt;/p&gt;  Tampaknya dengan sengaja Khalifah Umar ibn Khattab tak mendasarkan penghitungan kalender Islam pada tahun kelahiran, kematian, dan kenabian Muhammad melainkan pada momen hijrah yang menyertakan seluruh umat Islam dari Mekah ke Madinah. Momen hijrah diambil, tapi bulan hijrah Nabi yang diperkirakan Rabiul Awal tak otomatis dijadikan sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Ini terang berguna, agar umat Islam tak terjebak pada kultus yang berujung pada penuhanan dan penyembahan tubuh Muhammad SAW. Tubuh-jasad Muhammad SAW yang fana boleh dikuburkan, tapi roh ajaran kemanusiaannya saya kira harus tetap “baqa” sepanjang masa. Wallahu A’lam bi al-Shawab. []&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-4549927598391499192?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/4549927598391499192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=4549927598391499192' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4549927598391499192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4549927598391499192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/12/menyambut-tahun-baru-islam-1-muharram.html' title='Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah Pembentukan Kalender Islam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5784365080065559880</id><published>2009-12-31T09:15:00.001+05:00</published><updated>2009-12-31T09:15:48.565+05:00</updated><title type='text'>Kepergian Seorang Nahdliyin</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;   &lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh&lt;/strong&gt; Masdar F Mas'udi (Ketua PBNU)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalilahi Wainnailaihi Rojiun. Kabar itu sangat menyentak kita semua. Pesan berantai yang langsung menyebar ke segala penjuru menyebutkan, KH Abdurrahman Wahid, telah meninggal dunia, meninggalkan kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, kita kehilangan dengan tokoh yang mungkin tak tergantikan dari berbagai seginya. Abdurrahman Wahid atau sering kali disapa Gus Dur memiliki kelebihan dan keistimewaan, baik secara keilmuan, keulamaan, politik, gerakan kemanusiaannya, baik dalam negeri maupun di luar negeri antara sesama Islam atau umat agama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur terpilih sebagai kepala negara juga tak terduga dan membuat saya berpikir bahwa kira-kira 90 persen, pemilihan Gus Dur menjadi presiden adalah intervensi dari 'atas'. Bayangkan saja, waktu itu beliau punya partai yang hanya mempunyai 11 persen suara, tetapi tiba-tiba bisa terpilih menjadi presiden. Ini semua karena takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ulama, beliau tidak tergantikan karena beliau sangat lengkap, multidimensi yang beliau miliki dan kemampuannya jauh di atas rata-rata. Beliau juga orang yang mudah disalahpahami, karena banyak hal yang mungkin memang beliau pada satu pihak begitu terbuka, tetapi dalam hal tertentu banyak hal yang beliau ucapkan, tapi tidak bisa dipahami secara harfiyah. Itulah yang membuat begitu banyak orang salah paham, bahkan orang yang ada di dekatnya barangkali juga tidak bisa memahami sepenuhnya apa yang beliau katakan, beliau lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling penting soal demokrasi bagi negeri ini, beliau tokoh demokrasi, terutama ketika mendirikan Forum Demokrasi menjelang berakhirnya rezim Orde Baru. Dan, itulah yang membuat salah satu kekuatan yang mempercepat proses tumbangnya rezim otoriter kepada reformasi sekarang ini. Artinya, ada jejak dan jasa yang luar biasa dari beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, tidak ada orang yang berani berbeda dengan Pak Harto dengan segala kekuasaannya, tapi Gus Dur dengan keberaniannya hampir tidak ada yang ditakutinya menggalang kekuatan &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt; untuk mendorong dan mendesak akan perubahan, dan beliau berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dari segi pimpinan ulama dan pimpinan NU peran beliau sangat penting. Karena, pada 1984 ketika NU menegaskan kembali kepada jati dirinya mendasar sebagai organisasi sosial keagamaan beliaulah yang memegang kendalinya, memegang pimpinannya, dan bukan hanya diserahkan kepemimpinan untuk mengembalikan kepada khitahnya, tetapi juga untuk sejak langkah-langkah awal untuk menyiapkan reformasi di dalam tubuh NU sendiri bersama dengan beberapa orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga yang telah mengantarkan NU menjadi kekuatan  &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt; yang berskala nasional sebagai pengimbang kekuasaan yang waktu itu tak terimbangi oleh siapa pun. Dan, NU betul-betul dikenal, dihormati, direspek oleh banyak pihak, terutama, baik dari dalam maupun luar negeri dan sejak saat itu NU melejit dari sesuatu yang tidak pernah dibicarakan orang, tidak pernah dilirik orang, menjadi bahkan objek studi berbagai  &lt;em&gt;scolar&lt;/em&gt; baik dalam dan luar negeri pada masa kepemimpinan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, muncul begitu banyak kajian dan penerbitan buku dalam maupun luar negeri yang mengupas tentang peranan NU sebagai satu kekuatan Islam moderat, dan juga sebagai satu kekuatan  &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt; sebagai kekuatan untuk mendorong demokratisasi di tengah-tengah kehidupan bangsa yang ditekan terus-menerus secara ofensif oleh rezim Orde Baru waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tokoh Perdamaian&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tokoh perdamaian, almarhum mendapatkan penghargaan perdamaian Magsaysay. Dan, memang pada saat beliau menjadi presiden dan juga mengambil langkah politik yang sangat berani, yaitu mendesak supaya keputusan MPR No 25 tentang PKI juga tentang Kong Hu Cu diakui sebagai agama yang resmi diakui oleh negara sebagaimana agama-agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, selama ini agama Kong Hu Cu berada pada posisi  underdog karena dikaitkan dengan etnis tertentu dan juga ideologi tertentu. Tapi, kemudian dengan keputusan politik Gus Dur, Kong Hu Cu, sebagai kelompok minoritas keagamaan hidup sejajar dengan kelompok agama lain. Padahal, beliau dari pemimpin Islam yang pada umumnya agak curiga terhadap kelompok-kelompok yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tokoh Intelektual&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama, karena kemampuan keilmuan beliau, kemampuan analisis beliau yang sangat kritis, juga tentu saja karena karya-karya pemikirannya yang juga menggertak kebekuan dan mendorong perubahan. Saya kira itu yang menjadi pertanda kuat bahwa beliau memang seorang intelektual sejati. Beliau bukan hanya berpikir untuk mendeskripsikan kenyataan, tetapi sekaligus di dalam deskripsi keilmiahannya beliau menginspirasikan perubahan yang mendasar untuk kehidupan keagamaan dan keumatan serta kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir kita berhutang budi begitu besar kepada cita-cita beliau. Dan, itu adalah harusnya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan cita-cita terbaik dari beliau, baik dalam kehidupan keagamaan, khususnya warga NU dan umat Islam pada umumnya dan juga bangsa. Itu menjadi tanggung jawab nahdliyin ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, kita semua merasa berhutang budi kepada beliau, terutama nahdliyin. Nah, ini saya kira tantangan NU ke depan, amanat NU ke depan, apakah cita-cita beliau justru akan diwujudkan lebih dahulu oleh pihak lain atau kita. Dan, seharusnya kita, nahdliyin, yang menjadi pelopor untuk mewujudkan cita-cita beliau. Jika tidak, berarti kita sebenarnya kehilangan ketokohan beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunikasi yang beliau lakukan memang menerobos tradisi komunikasi para elite NU sebelumnya. Yang sudah mentradisi biasanya elite NU datang kalau diundang. Beliau sering kali datang ke pesantren, kiai-kiai, datang menemui umat di dalam berbagai acara yang terbatas maupun terbuka atas inisiatif sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saya kira ini yang harus digarisbawahi betul. Jadi, datang bukan sebagai undangan, sebagai orang yang dipanggil atau di- &lt;em&gt;tanggap&lt;/em&gt; (bahasa jawa), beliau memang memiliki dorongan dari dalam untuk silaturahim mendekatkan hati dan pikiran dengan umatnya, atas inisiatif dan kemauan kuat dari beliau sendiri. Termasuk, ketika beliau menjadi kepala negara. Tidak ada kepala negara yang begitu lebih banyak waktunya berada di luar istana.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5784365080065559880?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5784365080065559880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5784365080065559880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5784365080065559880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5784365080065559880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/12/kepergian-seorang-nahdliyin.html' title='Kepergian Seorang Nahdliyin'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-880794735191737694</id><published>2009-12-18T04:28:00.000+05:00</published><updated>2009-12-18T04:29:19.713+05:00</updated><title type='text'>'Cak Nur tak Mudah Dipahami'</title><content type='html'>&lt;div class="title"&gt;    &lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;/div&gt;            &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;div class="reporter"&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"&gt;&lt;/script&gt;      &lt;!-- AddThis Button END --&gt;                        &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;div class="image_detail"&gt;     &lt;img alt="'Cak Nur tak Mudah Dipahami'" style="width: 325px;" src="http://republika.co.id/images/news/2009/12/20091214151537.jpg" /&gt;&lt;span&gt;ISTIMEWA&lt;/span&gt;&lt;p&gt;Almarhum Dr. Nurcholish Madjid&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;          JAKARTA--Almarhum Nurcholish Madjid atau akrab disapa Cak Nur adalah salah satu dari sedikit intelektual publik Indonesia kontemporer yang dari sudut pemikiran dan praksis, sangat kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cak Nur memang berangkat sebagai aktivis dan pemikir Muslim. Tetapi dalam perjalanan karir intelektual dan sosialnya, Cak Nur tidak terkungkung dalam batas-batas keagamaan. Dia adalah seorang pemikir, aktivis, pemimpin dengan akseptabilitas sangat luas melampaui demarkasi keagamaan, sosial, politik dan seterusnya,'' tegas Azyumardi Azradalam Seminar bertajuk 'Islam dan Masyarakat: Dasar-dasar Pemikiran Politik Islam Indonesia Kontemporer di kampus UIN Jakarta, Senin (14/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui Azyumardi bahwa kompleksitas pemikiran dan praksis Cak Nur umumnya sering tidak dipahami baik oleh kalangan masyarakat, khususnya lingkungan Muslim tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Tidak jarang, ketidak atau kekurangpahaman tersebut karena sifat alamiah para intelektual seperti Cak Nur memang tidak mudah dipahami,'' kata Azyumardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi menurutnya, bila intelektual tersebut tidak mengurung dirinya dalam sekat-sekat sosio-intelektualisme sempit, tetapi sebaliknya mengungkapkan pemikiran, wacana dan gagasan ke depan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azyumardi menilai, pemikiran Cak Nur tentang 'sekularisasi yes, sekularisme no' pastilah merupakan salah satu dari kerangka pemikiran Cak Nur yang paling kontroversial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Yang sampai sekarangpun masih digugat kalangan yang 'keras' terhadap Cak Nur. Mereka, singkatnya, memandang pemikiran Cak Nur ini sangat berbahaya. Bukan hanya bagi Islam sebagai sebuah agama, namun juga mengancam masa depan Islam dan kaum Muslimin dalam politik kebangsaan-kenegaraan Indonesia,'' papar Azyumardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, pemikiran, wacana dan gagasan Cak Nur tentang 'Islam yes, partai Islam no', bisa juga dipastikan sangat kontroversial bagi sebagian kalangan Muslim. '&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Penolakan Cak Nur pada partai Islam tidak lain muncul dari keprihatinan intelektualnya pada perpecahan politik Islam pasca kemerdekaan yang menimbulkan berbagai dampak negatif dalam kehidupan sosial politik umat Islam," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada saat yang sama, masing-masing partai Islam tersebut mengklaim sebagai mewakili Islam. Padahal tidak lebih daripada mewakili partai masing-masing atau bahkan elit kepemimpinan partai Islam yang bersangkutan,'' tegasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menurut Dekan Fisip UIN, Bahtiar Effendy, Cak Nur dapat dianggap sebagai contoh //par excellence// pengguna ilmu-ilmu sosial dalam melihat berbagai peristiwa yang menyangkut posisi sosial keagamaan dan politik umat Islam di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bahtiar, ini dapat dilihat dari perjalanan awal intelektual Cak Nur. Seperti tulisan-tulisannya mengenai prinsip-prinsip Islamisme, modernisasi, rasionalisasi dan keharusan pembaharuan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan jelas pentingnya ilmu-ilmu sosial sebagai kerangka untuk memahami berbagai masalah sosial keagamaan dan politik Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Cak Nur menggunakan konsep 'desakralisasi' atau 'sekularisasi' untuk memudahkan kita memahami Islam dalam kerangka struktur sosial-budaya, ekonomi dan politik masyarakat Indonesia,'' kata Bahtiar.   osa/itz&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-880794735191737694?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/880794735191737694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=880794735191737694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/880794735191737694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/880794735191737694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/12/cak-nur-tak-mudah-dipahami.html' title='&apos;Cak Nur tak Mudah Dipahami&apos;'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6728703807409708874</id><published>2009-12-18T04:26:00.000+05:00</published><updated>2009-12-18T04:27:25.765+05:00</updated><title type='text'>Peradaban Islam Akan Bangkit</title><content type='html'>&lt;div class="title"&gt;    &lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;/div&gt;            &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;div class="reporter"&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"&gt;&lt;/script&gt;      &lt;!-- AddThis Button END --&gt;                        &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;div class="image_detail"&gt;     &lt;img alt="Peradaban Islam Akan Bangkit" style="width: 325px;" src="http://republika.co.id/images/news/2009/12/20091216135441.jpg" /&gt;&lt;span&gt;BLOGSPOT&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;p&gt;JAKARTA--Para ulama dan ormas Islam meyakini Peradaban Islam yang pernah ada dan pernah jaya itu akan bangkit kembali dimasa yang akan datang. Untuk membangkitkan hal tersebut diperlukan kesadaran dari berbagai pihak terutama umat Islam dan para ulama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita ketahui peradaban Islam itu pertama kali muncul saat jaman Nabi Muhammad SAW. Pertama kali muncul peradaban tersebut saat sang Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah saat itulah Islam mulai mengalami kejayaan. Saat itu muncul berbagai karya-karya, ide-ide dan konsep kenegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hal tersebut, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Prof Masykuri Abdillah, merupakan salah satu pimpinan ormas Islam yang meyakini peradaban Islam akan bangkit kembali. "Saya yakin akan bangkit kembali," katanya dalam seminar Membangun Peradaban Islam dan Dunia dengan Damai, di Jakarta Islamic Center, Jakarta, Rabu (16/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitnya kembali peradaban Islam tersebut, menurut Masykuri, tentu saja membutuhkan syarat-syarat yang harus dipenuhi. Hal yang paling urgen adalah kesadaran umat Islam terhadap ilmu. "Umat Islam harus tumbuh kesadarannya untuk meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologinya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, lanjut Masykuri, dengan meningkatnya ilmu pengetahuan tersebut tentu saja akan membangun perekonomian yang baik, sekaligus punya posisi politik yang kuat. "Selama ini kan kita kalah dengan peradaban Barat karena pendidikan kita kalah, ekonomi kalah, didominasi barat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masykuri mengakui untuk membangkitkan kembali peradaban tersebut, dibutuhkan waktu yang lama dan juga harus ada usaha untuk merebutnya kembali. "Yah harus ada kekuasaan ilmu. Kalau kita cepat sadar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan maka akan cepat kita mengembalikan peradaban tersebut," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan tersebut,imbuh Masykuri, lagi-lagi muncul dari kejayaan masa lalu. Dahulu saja peradaban Islam muncul karena ilmu, belum ada teknologi. Umat Islam juga harus tetap berusaha memberikan kontribusi bagi pembangunan peradban dunia yang adil dan damai, terutama melalui penguatan peran Organisasi Konferensi Islam (OKI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya umat Islam yang harus berjuang, kata Masykuri, ini juga harus didukung oleh tindakan para ulama. "Tentu saja ulama harus memberikan pencerahan, dakwah ulama harus memberikan support baik ilmu agama maupun ilmu umum. Ilmu pengetahuan umum didorong oleh ilmu pengetahuan agama, begitu juga sebaliknya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Islam yang akan bangkit kembali ini juga diyakini Masykuri bisa berdampingan dengan peradaban barat. Asalkan ada koestitensi berdasarkan mutual respect, mutual understanding dan mutual cooperation. "Ini juga ada persyaratannya, harus menempatkan orang lain sebagai teman. Ini agar Islam dianggap peradaban yang dihormati dan tidak dilecehkan, begitu pula sebaliknya," pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Islam Rusak Karena Ulama Rusak&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Intelektual Muslim, Adian Husaini juga menyatakan keyakinannya bahwa Peradaban Islam yang pernah ada dan pernah jaya itu akan bangkit kembali di masa yang akan datang. Namun, menurutnya kerusakan atau hancurnya Islam itu disebabkan oleh rusaknya para ulama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adian mengatakan Islam diakui oleh Barat bukan hanya sebagai agama, tapi juga sebagai peradaban. Peradaban Islam itu sendiri bukan hanya ada tapi juga pernah berjaya. Bahkan Islam pernah meraih prestasi tertinggi, yakni Piagam Madina. "Itu merupakan konstitusi negara tertulis pertama, konsesi pertama didunia tentang sistem kenegaraan," katanya dalam seminar tersebut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya, imbuh Adian, kebanggaan umat Islam terhadap peradaban Islam sendiri kini sudah hilang. Padahal Islam sudah berhasil membangun manusia-manusia yang luar biasa, pemimpin-pemimpin yang cerdas dan sholeh. "Memang peradaban Barat menang saat ini. Tapi karena kegagalan barat dalam mengatur manusia, maka peradaban Islam akan bangkit," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peradaban Islam yang pernah jaya itu rusak tak hanya karena kebanggaan masyarakatnya yang kurang, tapi juga karena ulamanya yang rusak. "Sumber kerusakan adalah ulama yang rusak. Kalau ingin mengembalikan peradaban Islam, kembalikan juga fungsi ulama," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, kata Adian, umat Islam juga bisa membangkitkan peradaban Islam dengan ilmu. Selama ini hambatannya adalah problem ilmu. "Kalau gagal conclusion of knowledgenya maka akan kacau," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, kata Adian, saat ini saja, pelajaran agama di tingkat SD, SMP, SMA, bahkan perguruan tinggi masih belum menyentuh peradaban Islam."Kelemahannya adalah pemahaman tentang peradaban islam hilang dan juga kebanggan terhadap peradaban Islam hilang," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membangkitkan kembali peradaban Islam, dibutuhkan kebakitan ilmu, kebangkitan ulama dan juga kebangkitan Islam. "Kalau tidak bangkit itu semua, maka tidak bisa bangkit peradaban Islam," ujarnya. she/taq&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6728703807409708874?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6728703807409708874/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6728703807409708874' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6728703807409708874'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6728703807409708874'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/12/peradaban-islam-akan-bangkit.html' title='Peradaban Islam Akan Bangkit'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-3778922546922272911</id><published>2009-09-19T17:34:00.000+07:00</published><updated>2009-09-19T17:35:53.262+07:00</updated><title type='text'>JK dan Gusti Allah "Ora Sare"</title><content type='html'>&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Oleh &lt;strong&gt;Andi Suruji&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tuhan tidak tidur. Bahkan, Dia tidak akan tidur. Dengan kemahakuasaan-Nya, Dia-lah yang mengatur dunia dan segala isinya, serta perputaran sistem tata kehidupan manusia. Karena ketidaktidurannya itulah Sang Khalik mengetahui pasti dan sangat detail apa saja yang telah dan akan terjadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini bukanlah cuplikan renungan puasa bulan Ramadhan. Bukan pula khotbah Idul Fitri. Ini hanya terinspirasi dari sebuah judul berita di harian ini tempo hari, ”JK: Gusti Allah ’Ora Sare’”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pernyataan ora sare (bahasa Jawa) Wakil Presiden itu menyentak. Selama ini, Jusuf Kalla (JK) tak pernah terdengar mengutip ungkapan Bugis walaupun ia seorang Bugis. Padahal, orang Bugis juga memiliki banyak ungkapan perumpamaan bernilai tinggi, sebagaimana bahasa Jawa, Melayu, Sunda, Batak, dan bahasa lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika JK mengungkapkan sesuatu dengan bahasa ”orang lain”, bukan berarti JK sudah kehilangan jati dirinya sebagai orang Bugis, ”manusia sabrang” istilah Syafii Maarif bagi JK. Jangan pula salah! Seberapa pun kadarnya, ”kejawaan” setidaknya ada juga dalam kehidupan JK. Dua menantunya orang Jawa. Istrinya adalah orang Minang. Tidak heran jika banyak orang mencap JK sebagai nasionalis tulen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Boleh jadi, ora sare-nya JK bermakna lain, untuk menegaskan apa yang ada di benaknya, yang tidak bisa tergambarkan dan dipahami kebanyakan orang jika diungkapkan dengan bahasa lain, seperti bahasa Indonesia, apalagi bahasa Bugis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Biarlah JK sendiri yang merasakan makna ungkapan Jawa itu dari lubuk hatinya yang paling dalam. Pembaca pun tak dilarang menafsirkan lebih jauh, lebih luas, dan lebih dalam makna di balik pernyataan JK tersebut. Apakah itu sekadar lucu-lucuan menjelang buka puasa, gurauan di antara pidato resmi, letupan kekecewaan, atau kekesalan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau pembaca tak keberatan, saya hanya coba menangkap yang dirasakan maupun yang disimpan rapat dalam hati JK sehingga lahir ucapan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama-tama, ungkapan itu diucapkan di hadapan tim sukses dan pendukungnya yang telah bekerja keras siang dan malam. Mereka memang sering tidak tidur, ora sare, untuk memenangkan pasangan JK-Wiranto dalam pemilu presiden dan wakil presiden pada 8 Juli 2009.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti ungkapannya, dan saya saksikan sendiri karena beberapa kali bertemu di rumah jabatan selama masa kampanye pilpres, JK pun kadang memang seperti ora sare, tidak tidur. Sampai larut malam, bahkan dini hari, JK belum tidur dan terus menerima kedatangan tamu yang mengalirkan pernyataan kelompoknya mendukung penuh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kadang hingga dini hari, JK belum juga istirahat karena masih harus rapat, menyusun strategi, dan menghitung kekurangan dan kekuatan secara cermat. Padahal, pagi buta ia dan timnya masih harus berangkat lagi ke penjuru Nusantara yang dicita- citakannya senantiasa menyatu dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tidak tercabik-cabik konflik akibat ketidakadilan. Harmonis dalam taraf kesejahteraan rakyatnya. Berdiri sama tegak dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Betapa lelah JK memperjuangkan misinya yang mulia dan terhormat itu. Bukan ambisi kekuasaannya, apalagi keserakahannya mengejar takhta dan harta. ”Eeh kalian harus tahu. Saya, walaupun tidak duduk di sini, di mana pun saya kelak, kalau bisa berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara ini, itu sudah sangat membahagiakan saya,” kata JK dalam suatu perbincangan di ruang kerjanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia sudah cukup kaya raya untuk hidup tenang pada masa tua. Selama 40 tahun lebih jadi pengusaha, sudah cukuplah uangnya untuk membiayai kegiatan apa saja yang hendak dilakukannya. ”Kita jalan-jalan saja, tanpa protokol, tanpa ajudan, dan pengawal serta pengamanan,” katanya kepada saya dalam suatu percakapan tengah malam di rumah jabatan ketika perhitungan perolehan suara JK dan rivalnya makin timpang. ”Baik, Pak. Nanti saya jadi ajudan Bapak,” kata saya, dan dia tertawa lebar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kubu JK-Wiranto bukan tak berduka. Mereka kalah telak. Sangat jauh melenceng dari kalkulasi semula. Tetapi JK tak larut dalam kesedihan berkepanjangan. Seorang putrinya menyatakan, ”Kami semua bersedih. Tetapi kami malu sama Bapak (JK) karena dia tidak pernah bersedih, selalu menampakkan ketegarannya menghadapi kenyataan ini.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kita semua sudah bekerja keras. Allah yang Mahatahu. Allah yang mengatur dan menentukan semua ini,” kata JK.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;JK memang ora sare. Tidurnya yang banyak justru ketika dalam penerbangan. Gusti Allah juga ora sare. Dia bersama JK, setiap saat, dalam penerbangan dan cuaca yang sangat buruk dan menakutkan sekalipun. Hasil kerja keras JK tidak sesuai harapannya. Dia terima semua itu sebagai takdir. Dia telah berjuang dan berupaya keras untuk menjemput takdirnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejauh yang teramati secara cermat, baru dalam pemilu kali ini terjadi semua ormas Islam bersatu padu mendukung satu orang, yakni JK. Namun, seperti dikatakan banyak orang, seolah ada pula tangan jahat turut campur sehingga hasilnya sangat mencengangkan. Ada yang mengatakan, perolehan suara JK-Wiranto tidak masuk akal. Ada pengkhianatan dan kecurangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, biarlah, Gusti Allah pasti ora sare.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita berharap, dengan segala pengalaman bisnisnya, memimpin Golkar dan menjadi wakil presiden yang dinamis, penuh terobosan, nyaris tak tidur untuk bekerja keras dan tulus, tetap ora sare mengoreksi hal-hal yang salah, curang, dan berbagai ketidakadilan lainnya di negeri ini.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-3778922546922272911?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/3778922546922272911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=3778922546922272911' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/3778922546922272911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/3778922546922272911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/jk-dan-gusti-allah-ora-sare.html' title='JK dan Gusti Allah &quot;Ora Sare&quot;'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6800569206627825180</id><published>2009-09-19T17:29:00.001+07:00</published><updated>2009-09-19T17:29:32.512+07:00</updated><title type='text'>Idul Fitri dan Asketisme Sosial</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Sabtu, 19 September 2009 | 02:51 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;Oleh &lt;strong&gt;HM Amin Abdullah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu hari besar Islam yang paling fenomenal &lt;line&gt;&lt;/line&gt;dan monumental adalah Idul Fitri. Secara asketis, Idul Fitri sering disebut sebagai &lt;line&gt;&lt;/line&gt;momen penyucian diri kembali pada sifat fitri setiap manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, perayaan yang bersifat masif, serentak, dan penuh sukacita itu justru telah menggeser Idul Fitri dari makna transendennya. Di sini, Idul Fitri tidak lagi bermakna perayaan kemenangan dari ritual olah batin dan fisik sebagai laku asketis selama sebulan penuh menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri telah masuk perangkap semiotika dalam berbagai dimensi kehidupan sosial dan kebudayaan kontemporer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Secara sosial, Idul Fitri merupakan saat paling ditunggu-tunggu setiap orang, bahkan oleh narapidana yang berharap mendapat remisi. Idul Fitri juga mampu menggerakkan arus &lt;line&gt;&lt;/line&gt;besar migrasi masyarakat &lt;line&gt;&lt;/line&gt;urban, bahkan perputaran keuangan saat mudik, berlangsung secara masif sebagai suatu ritual sosial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak hanya itu, secara subtil Idul Fitri mampu mendorong pejabat membuka hati dan pintu rumahnya untuk saling memberi maaf kepada sesama dan kaum papa, dan kini menjadi tren silaturahim massal. Sedangkan dalam kebudayaan kontemporer, Idul Fitri menjadi ajang munculnya berbagai &lt;line&gt;&lt;/line&gt;kebudayaan populer melalui penampakan tren busana yang selalu berganti setiap Lebaran atau hadirnya berbagai ragam musik dan jenis hiburan religius.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendek kata, Idul Fitri bukan saja sarat makna asketistik-spiritualistik yang bersifat transenden, tetapi benar-benar tumpah dalam bentangan luas fenomena sosial. Meski demikian, justru di sinilah letak paradoks makna Idul Fitri. Jika secara asketis Idul Fitri bermakna penyucian diri yang dirayakan setiap tahun, mengapa bangsa yang mayoritas berpenduduk Muslim &lt;line&gt;&lt;/line&gt;ini belum beranjak ke arah penyucian diri sebagai sebuah bangsa?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Nafsu libidinal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai bangsa yang religius secara jujur harus mengakui, segala dimensi kehidupan kita masih menunjukkan nafsu libidinal yang tinggi terhadap segala bentuk kebutuhan materiil dan imateriil. Dalam sektor politik misalnya, nafsu libidinal imateriil itu mewujud dalam praktik pencitraan atau pembentukan pesona tiada henti &lt;line&gt;&lt;/line&gt;sehingga yang tersaji hanya &lt;line&gt;&lt;/line&gt;kepalsuan-kepalsuan. Demikian juga dalam sektor sosial. Nafsu libidinal menampakkan bentuknya dalam konsumsi gengsi &lt;line&gt;&lt;/line&gt;dan corak mode tingkat tinggi sehingga mampu menstrukturisasi kelas masyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara dalam sektor &lt;line&gt;&lt;/line&gt;agama, nafsu libidinal justru gamblang terlihat dalam berbagai simulasi religius sehingga yang muncul adalah spiritualisme artifisial yang semu penuh kepura-puraan. Puncak nafsu &lt;line&gt;&lt;/line&gt;libidinal material secara nyata dapat dilihat dalam berbagai praktik korupsi yang belakangan kian merajalela menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nafsu libidinal seakan menyumbat saraf sensitivitas sosial kita. Kita tidak lagi menjadi peka terhadap penderitaan orang lain seperti fakir miskin, korban gempa, atau siapa pun yang kurang beruntung pada perayaan Idul Fitri tahun ini. Kepedulian terhadap sesama seakan selesai dan berhenti seiring ditunaikannya kewajiban membayar zakat fitrah pada malam Idul Fitri. Kesalehan individual yang dibentuk dalam Ramadhan tidak meluber dalam bentuk kesalehan sosial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Padahal, kesalehan individual seharusnya berdiri sebangun dengan kesalehan sosial. Ketimpangan itu dimungkinkan terjadi karena puasa yang dijalankan bersifat seremonial religius sebatas menahan haus dan lapar. Jika benar, mungkin tepat sinyalemen Nabi bahwa banyak orang berpuasa, tetapi tidak memperoleh apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, karena intisari dan hikmah &lt;line&gt;&lt;/line&gt;puasa belum menyentuh kesadaran paling dalam umat dan belum mampu membentuk &lt;line&gt;&lt;/line&gt;pribadi manusia beragama/beriman yang matang, utuh, &lt;line&gt;&lt;/line&gt;tangguh, yang dapat mempertautkan kesalehan individu, &lt;line&gt;&lt;/line&gt;kesalehan sosial, dan kesalehan lingkungan dalam kehidupan &lt;line&gt;&lt;/line&gt;luas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Ritus peralihan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Falsafah ibadah puasa menegaskan perlunya dilakukan ”turun mesin” kejiwaan selama sebulan dalam setiap tahun. ”Turun mesin” merupakan proses meneliti, memeriksa onderdil dan hal-hal yang rusak, serta memperbaiki total.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat turun mesin, tidak ada lagi yang perlu ditutup-tutupi. Semua harus transparan, akuntabel, rela diperiksa, dikoreksi, dan diperbaiki. Semua peralatan dibongkar, dicek, dan diperiksa satu per satu lalu dilakukan perbaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena itu, kegunaan praktis ibadah puasa adalah sebagai titik balik perubahan dan ritus peralihan. Berubah dan beralih dari satu keadaan ke keadaan lain yang lebih baik sehingga terbentuk kepribadian yang memiliki cara pandang yang inspiratif (membawa ide-ide segar), inovatif (mampu memperbaiki dan memperbarui), kreatif (mampu menciptakan pilihan baru), dan transformatif (dapat mengubah) dalam menjalani kehidupan sehari-hari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sinilah makna keberagamaan yang sehat mewujud karena memiliki kemampuan membawa perubahan hidup yang dinamis, menggugah, dan imperatif.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terbentuknya cara berpikir, mentalitas, cara pandang, pandangan dunia, dan etos keagamaan baru setelah mengalami turun mesin sebulan adalah bagian tak terpisahkan dan termasuk tujuan utama disyariatkan ibadah puasa. Laisa al-’id liman labisa al-jadid, wa lakinna al-’idu liman taqwa hu yazid (Hari raya Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang mengenakan baju baru, tetapi bagi orang-orang yang takwanya bertambah). Yakni bagi mereka yang mempunyai kemauan, semangat, dan etos untuk terus memperbaiki kehidupan pribadi, keluarga, dan sosial-kemasyarakatan, sosial-politik, berbangsa dan bernegara dengan landasan keagamaan yang otentik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nilai-nilai yang mendasar dan tujuan pokok ini sering tidak tampak di permukaan karena tertindih semangat dan sibuknya orang menyiapkan hal-hal terkait puasa berupa sahur dan berbuka pada bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dengan mengenal tujuan syar’iy ibadah puasa, umat Islam &lt;line&gt;&lt;/line&gt;selalu dapat memperbaiki &lt;line&gt;&lt;/line&gt;dan meningkatkan kualitas hidup keagamaan sehari-hari dalam masa sebelas bulan mendatang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;HM Amin Abdullah&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6800569206627825180?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6800569206627825180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6800569206627825180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6800569206627825180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6800569206627825180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/idul-fitri-dan-asketisme-sosial.html' title='Idul Fitri dan Asketisme Sosial'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6981236103052613205</id><published>2009-09-19T17:24:00.000+07:00</published><updated>2009-09-19T17:25:10.501+07:00</updated><title type='text'>Idul Fitri, Berpaling kepada Kaum Miskin</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Sabtu, 19 September 2009 | 02:33 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Oleh &lt;strong&gt;Paulinus Yan Olla&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan, Vatikan dalam tujuh butir pesan mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, Vatikan juga mengajak umat Islam dan Kristiani di seluruh dunia untuk berjuang mengatasi kemiskinan (Pontifical Council for Inter-religious Dialogue, Message for the End of Ramadan, 11 September 2009).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam rangka perayaan sebuah pesta, ajakan itu terasa janggal, tetapi ia menjadi rambu peringatan bagi umat beragama. Pesan tersiratnya, hari sepenting Idul Fitri hendaknya tidak disempitkan maknanya sebatas berbagai perayaan superfisial sehingga akan hilang pengaruhnya pada kehidupan ketika pesta berakhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tindakan membersihkan para pengemis dan menghukum mereka yang membantu orang miskin di jalan-jalan di kota Jakarta pada bulan Ramadhan, yang mendapat pemberitaan internasional, patut menjadi bahan permenungan dan evaluasi etis (The New York Times, 5/9). Di mana pun kaum miskin selalu menjadi gangguan. Kemiskinan menjadi gugatan bagi penguasa yang mengklaim kesuksesan program pemerintahannya. Ia mempertanyakan pula kedalaman solidaritas kaum humanis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Kemiskinan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi umat beragama, wajah orang miskin menantang dan mengundang jawaban iman. Kemiskinan sejatinya menampilkan tidak hanya soal sosial-politis atau sekadar masalah ketertiban umum, tetapi menyentuh martabat manusia yang ternoda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ia merendahkan martabatnya dan tidak jarang menjadi penyebab keterasingan, kemarahan, bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam,” lanjut pesan Ramadhan Vatikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika agama-agama dituduh menjadi sumber lahirnya kekerasan dan terorisme, ajakan untuk berpaling kepada kaum miskin menyodorkan babak baru relasi Kristen dan Islam ke tingkat yang lebih dalam (pesan no 7). Dialog kedua agama diarahkan dan ditingkatkan kualitasnya untuk menanggapi aneka masalah kemanusiaan (kemiskinan) yang paling mendesak dan kini membelenggu dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Arah ini sejalan pemikiran filsuf-pembaru Muslim, Muhammad Iqbal (1877-1938), yang yakin, Al Quran adalah kitab yang mengutamakan perbuatan daripada gagasan. Menurut dia, perbuatanlah yang membentuk esensi dan bobot manusia (Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam). Dalam kerangka pemikiran demikian, kualitas keimanan kaum beragama harus ditampakkan dan diuji dalam perbuatan yang memihak mereka yang miskin, terabaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemiskinan menjadi tantangan keagamaan karena perhatian terhadap kaum miskin ada pada jantung ajaran agama-agama. Perhatian, bela rasa, dan bantuan tanpa pamrih terhadap kaum miskin menjadi bukti hidup kasih Allah, sebab itulah yang menjadi kehendak-Nya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bila diyakini, bumi dan isinya untuk semua orang, maka di sana ada tuntutan etis, tidak seorang pun boleh dibiarkan tanpa bantuan dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup layak sebagai manusia. Oleh negara, kaum miskin hendaknya tidak hanya dilihat sebagai beban, tetapi sebagai sumber kekayaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengentasan orang miskin perlu menghindarkan berbagai kebijakan yang hanya menjadikan kaum miskin sebagai obyek. Begitupun makanan dan minuman jangan hanya dilihat sebagai kebutuhan dasar, tetapi terutama sebagai ”hak-hak dasar manusia” (Benediktus XVI, Lettera all’onorevole Silvio Berlusconi, in occasione del G-8, 1/7, 2009).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Indonesia, kemiskinan tahun 2009 berkisar 15,42 persen. Artinya, ada 34,96 juta orang Indonesia hidup melarat dan perlu pemberdayaan (Kompas, 6/4). Situasi ini harus diubah dengan memerhatikan suara-suara yang nyaring mengingatkan, menghadapi krisis ekonomi global diperlukan sistem ekonomi baru. Kebaruannya terletak dalam tuntutan agar ekonomi tidak dijalankan hanya berdasar hukum ekonomis. Krisis ekonomi global menunjukkan, ekonomi memerlukan prinsip-prinsip etis karena ia sendiri tidak mampu menjawab aneka masalah etis yang dimunculkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dialog keagamaan untuk mengentaskan orang miskin jelas sebuah agenda yang muncul dari keyakinan bahwa kemiskinan merupakan tantangan keagamaan dan etis. Tantangan untuk berpaling kepada kaum miskin pada hari Idul Fitri kiranya perlu membangkitkan kaum beragama tekad membebaskan kaum miskin dari perbudakan atas kemanusiaannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumbangan kaum beragama dalam mengatasi kemiskinan bersumber kekayaan nilai-nilai etis. Agama-agama diharapkan menjalin solidaritas global, misalnya dengan penerapan ”kode etik bersama” yang norma-normanya menghormati martabat manusia yang terluka oleh kemiskinan. Kaum beragama dipanggil merintis jalan etis agar tercipta kondisi sosial-kultural dan politis yang memungkinkan kaum miskin bertanggung jawab kepada diri sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jalan itu masih panjang karena di negeri ini masih diperlukan hukum yang prokeadilan, politisi yang tidak mudah tergiur korupsi, dan masih dinantikan pejabat-negarawan yang tidak mengkhianati kaum miskin karena putusan-putusannya berlandaskan nilai-nilai etis prorakyat. Selamat Idul Fitri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;Paulinus Yan Olla &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;MSF Rohaniwan; Lulusan Program Doktoral Universitas Pontificio Istituto di Spiritualità Teresianum, Roma; Bekerja dalam Dewan Kongregasi MSF di Roma, Italia&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6981236103052613205?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6981236103052613205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6981236103052613205' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6981236103052613205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6981236103052613205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/idul-fitri-berpaling-kepada-kaum-miskin.html' title='Idul Fitri, Berpaling kepada Kaum Miskin'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-283486196643299575</id><published>2009-09-13T07:59:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:59:24.449+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Ketika Dosen Syariah Merusak Syariah</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2007/07/ketika-dosen-syariah-merusak-syariah.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Ketika Dosen Syariah Merusak Syariah&lt;/a&gt;: "Ketika Dosen Syariah Merusak Syariah"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-283486196643299575?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2007/07/ketika-dosen-syariah-merusak-syariah.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Ketika Dosen Syariah Merusak Syariah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/283486196643299575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=283486196643299575' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/283486196643299575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/283486196643299575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-ketika-dosen.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Ketika Dosen Syariah Merusak Syariah'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-7568489924339166220</id><published>2009-09-13T07:57:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:57:15.956+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Negara Islam atau Negara Sekular ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2007/08/negara-islam-atau-negara-sekular.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Negara Islam atau Negara Sekular ?&lt;/a&gt;: "Negara Islam atau Negara Sekular ?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-7568489924339166220?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2007/08/negara-islam-atau-negara-sekular.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Negara Islam atau Negara Sekular ?'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/7568489924339166220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=7568489924339166220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7568489924339166220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7568489924339166220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-negara-islam.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Negara Islam atau Negara Sekular ?'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-3929621990292610794</id><published>2009-09-13T07:56:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:56:18.492+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Jangan Memfitnah Buya HAMKA</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2008/01/jangan-menfitnah-buya-hamka.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Jangan Memfitnah Buya HAMKA&lt;/a&gt;: "Jangan Memfitnah Buya HAMKA"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-3929621990292610794?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2008/01/jangan-menfitnah-buya-hamka.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Jangan Memfitnah Buya HAMKA'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/3929621990292610794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=3929621990292610794' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/3929621990292610794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/3929621990292610794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-jangan-memfitnah.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Jangan Memfitnah Buya HAMKA'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-285345358330255436</id><published>2009-09-13T07:54:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:54:51.329+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Seminar Tentang Islam Liberal di Malaysia</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2006/04/seminar-tentang-islam-liberal-di.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Seminar Tentang Islam Liberal di Malaysia&lt;/a&gt;: "Seminar Tentang Islam Liberal di Malaysia"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-285345358330255436?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2006/04/seminar-tentang-islam-liberal-di.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Seminar Tentang Islam Liberal di Malaysia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/285345358330255436/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=285345358330255436' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/285345358330255436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/285345358330255436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-seminar-tentang.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Seminar Tentang Islam Liberal di Malaysia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5914569557424717612</id><published>2009-09-13T07:53:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:53:33.864+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Ada Apa dengan Syafii Maarif ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2006/07/ada-apa-dengan-syafii-maarif.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Ada Apa dengan Syafii Maarif ?&lt;/a&gt;: "Ada Apa dengan Syafii Maarif ?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5914569557424717612?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2006/07/ada-apa-dengan-syafii-maarif.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Ada Apa dengan Syafii Maarif ?'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5914569557424717612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5914569557424717612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5914569557424717612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5914569557424717612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-ada-apa-dengan.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Ada Apa dengan Syafii Maarif ?'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1205334450594027251</id><published>2009-09-13T07:50:00.001+07:00</published><updated>2009-09-13T07:50:56.663+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Pornografi dan Liberalisme</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2006/07/pornografi-dan-liberalisme.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Pornografi dan Liberalisme&lt;/a&gt;: "Pornografi dan Liberalisme"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1205334450594027251?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2006/07/pornografi-dan-liberalisme.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Pornografi dan Liberalisme'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1205334450594027251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1205334450594027251' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1205334450594027251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1205334450594027251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-pornografi-dan.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Pornografi dan Liberalisme'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-8049728864467698426</id><published>2009-09-13T07:50:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:50:21.264+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Mendiskusikan Jilbab di Pusat Studi Al-Qur’an</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2006/09/mendiskusikan-jilbab-di-pusat-studi-al.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Mendiskusikan Jilbab di Pusat Studi Al-Qur’an&lt;/a&gt;: "Mendiskusikan Jilbab di Pusat Studi Al-Qur’an"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-8049728864467698426?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2006/09/mendiskusikan-jilbab-di-pusat-studi-al.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Mendiskusikan Jilbab di Pusat Studi Al-Qur’an'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/8049728864467698426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=8049728864467698426' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8049728864467698426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8049728864467698426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-mendiskusikan.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Mendiskusikan Jilbab di Pusat Studi Al-Qur’an'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-2308908743633877236</id><published>2009-09-13T07:48:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:48:43.175+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Rusak atau tidaknya Agama Islam, Lihatlah Ulamanya....</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2006/09/rusak-atau-tidaknya-agama-islam.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Rusak atau tidaknya Agama Islam, Lihatlah Ulamanya....&lt;/a&gt;: "Rusak atau tidaknya Agama Islam, Lihatlah Ulamanya...."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-2308908743633877236?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2006/09/rusak-atau-tidaknya-agama-islam.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Rusak atau tidaknya Agama Islam, Lihatlah Ulamanya....'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/2308908743633877236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=2308908743633877236' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2308908743633877236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2308908743633877236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-rusak-atau.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Rusak atau tidaknya Agama Islam, Lihatlah Ulamanya....'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-812482129173280771</id><published>2009-09-13T07:47:00.000+07:00</published><updated>2009-09-13T07:47:44.171+07:00</updated><title type='text'>Kolom Adian Husaini, M.A: Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat</title><content type='html'>&lt;a href="http://adianhusaini.blogspot.com/2006/09/mengajak-jalaluddin-rakhmat-bertobat.html"&gt;Kolom Adian Husaini, M.A: Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat&lt;/a&gt;: "Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-812482129173280771?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://adianhusaini.blogspot.com/2006/09/mengajak-jalaluddin-rakhmat-bertobat.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/812482129173280771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=812482129173280771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/812482129173280771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/812482129173280771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kolom-adian-husaini-ma-mengajak.html' title='Kolom Adian Husaini, M.A: Mengajak Jalaluddin Rakhmat Bertobat'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1009335706030946504</id><published>2009-09-12T15:31:00.000+07:00</published><updated>2009-09-12T15:31:09.068+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Islam (di) Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/11/0457379/islam.di.indonesia"&gt;KOMPAS cetak - Islam (di) Indonesia&lt;/a&gt;: "Islam (di) Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 11 September 2009 | 04:57 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masdar F Mas’udi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negeri ini, Islam sebagai agama dan Indonesia sebagai negara-bangsa ibarat jiwa dan raga. Keduanya membentuk satu entitas Islam Indonesia, bukan sekadar Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Muslim yang hidup di Nusantara ini pada dasarnya telah menjadi Muslim Indonesia, bukan sekadar pemeluk agama Islam yang menumpang hidup atau indekos di Indonesia."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1009335706030946504?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/11/0457379/islam.di.indonesia' title='KOMPAS cetak - Islam (di) Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1009335706030946504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1009335706030946504' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1009335706030946504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1009335706030946504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/09/kompas-cetak-islam-di-indonesia.html' title='KOMPAS cetak - Islam (di) Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6366176142110048167</id><published>2009-08-26T15:25:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T15:25:03.400+07:00</updated><title type='text'>Tempointeraktif.Com - Padri</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/caping//2009/08/24/mbm.20090824.CTP131207.id.html"&gt;Tempointeraktif.Com - Padri&lt;/a&gt;: "Padri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 24 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan puasa tahun 1818, Thomas Standford Raffles memasuki pedalaman Minangkabau. Ia ingin menemukan kerajaan Pagaruyung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut cerita, kerajaan ini tegak sebelum Islam datang, tapi sejak orang Portugis mendatanginya di tahun 1648 ia tak pernah lagi diketahui orang luar. Pagaruyung hidup bagaikan sebuah kerajaan dongeng, berlanjut sampai hari in"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6366176142110048167?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.tempointeraktif.com/hg/caping//2009/08/24/mbm.20090824.CTP131207.id.html' title='Tempointeraktif.Com - Padri'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6366176142110048167/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6366176142110048167' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6366176142110048167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6366176142110048167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/tempointeraktifcom-padri.html' title='Tempointeraktif.Com - Padri'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-8165457775407051721</id><published>2009-08-22T06:28:00.000+07:00</published><updated>2009-08-22T06:28:49.323+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Bulan Suci Bermakna Sosial</title><content type='html'>&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/22/0312551/bulan.suci.bermakna.sosial"&gt;KOMPAS cetak - Bulan Suci Bermakna Sosial&lt;/a&gt;: "RENUNGAN RAMADHAN&lt;br /&gt;Bulan Suci Bermakna Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 22 Agustus 2009 | 03:12 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moeslim Abdurrahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, menjelang puasa seseorang baru ingat akan dosa-dosanya. Buktinya, SMS beredar ke mana-mana, dari orang yang kita kenal dekat, tetapi banyak juga sahabat jauh, eh tiba-tiba kirim lewat SMS minta juga dimaafkan. Biarpun sesungguhnya, kalau mau jujur, kita juga tidak ingat lagi dosa yang mana dan salah yang mana yang perlu dihapus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak ada salahnya, memang. Toh, Ramadhan adalah bulan berkah dan penuh ampunan. Kapan lagi dosa dengan orang lain, akibat pergaulan, kalau bukan pada bulan suci ini saatnya untuk dibersihkan? Oleh karena itu, hampir menjadi persepsi umum bahwa bulan puasa bagi mereka yang menjalankannya diniati selain menjadi momentum untuk mengumpulkan pahala juga sebagai penyucian diri dan pertobatan dosa, baik dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-8165457775407051721?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/22/0312551/bulan.suci.bermakna.sosial' title='KOMPAS cetak - Bulan Suci Bermakna Sosial'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/8165457775407051721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=8165457775407051721' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8165457775407051721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8165457775407051721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/kompas-cetak-bulan-suci-bermakna-sosial.html' title='KOMPAS cetak - Bulan Suci Bermakna Sosial'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-8249008290222137789</id><published>2009-08-21T14:09:00.001+07:00</published><updated>2009-08-21T14:09:46.260+07:00</updated><title type='text'>Republika Online - Ramadhan Transformatif</title><content type='html'>&lt;a href="http://republika.co.id/koran/28/70486/Ramadhan_Transformatif"&gt;Republika Online - Ramadhan Transformatif&lt;/a&gt;: "Ramadhan Transformatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Azyumardi Azra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan kembali menjelang kita. Betapa bahagianya orang-orang beriman yang kembali bersua dengan Ramadhan. Berapa banyak sanak saudara, karib kerabat, dan handai tolan kita yang tidak berkesempatan lagi menjalani Ramadhan karena sudah dipanggil Yang Mahakuasa ke hadirat-Nya. Karena itu, berbahagialah mereka yang masih dapat kesempatan bertemu kembali dengan Ramadhan guna menjalankan ibadah puasa dan sekaligus meningkatkan amal ibadah lainnya untuk mencapai derajat takwa, yang merupakan tujuan ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Ramadhan, boleh jadi sekadar perjalanan sirkular waktu yang memang sebagai salah satu sunatullah yang selalu datang, pergi, dan datang kembali selama alam raya ini masih beredar. Dan karena itu, dalam perspektif ini, datangnya Ramadhan merupakan sebuah kerutinan perjalanan masa belaka; yang pada gilirannya juga menciptakan siklus kerutinan dalam kehidupan mereka yang berkewajiban menjalankan ibadah puasa. Pada tahap ini, rutinitas mengandung banyak jebakan dan dampak, yang boleh jadi membuat mereka yang berpuasa kehilangan greget dalam mengambil manfaat sebesar-besarnya dari ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas dalam hal apa pun, termasuk ibadah, khususnya ibadah puasa, bisa memunculkan dampak-dampak yang tidak diharapkan. Ibadah sangat boleh jadi bakal kehilangan kesyahduan, makna, dan fungsinya bagi si pelaku jika ia mengerjakannya sebagai seb"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-8249008290222137789?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://republika.co.id/koran/28/70486/Ramadhan_Transformatif' title='Republika Online - Ramadhan Transformatif'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/8249008290222137789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=8249008290222137789' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8249008290222137789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8249008290222137789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/republika-online-ramadhan-transformatif.html' title='Republika Online - Ramadhan Transformatif'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-2698967978161808802</id><published>2009-08-21T14:09:00.000+07:00</published><updated>2009-08-21T14:09:08.846+07:00</updated><title type='text'>Republika Online</title><content type='html'>&lt;a href="http://republika.co.id/koran/28"&gt;Republika Online&lt;/a&gt;: "Transformasi Budaya SBY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Zaim Uchrowi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacitan. Ini salah daerah yang sangat berkesan bagi saya. Bukan karena cerita kakak saat kecil tentang begitu sulit perjalanan menuju Pacitan. Tapi, saya beberapa kali datang ke kabupaten ini. Kedatangan untuk membangkitkan pemimpin perempuan di tingkat masyarakat. Saya sangat percaya, saat ini kontribusi laki-laki sudah relatif optimal dalam mewujudkan kemajuan Indonesia sekarang. Justru kontribusi perempuan yang masih jauh dari optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar Indonesia dapat berkembang lebih maju, kontribusi perempuan harus meningkat lagi. Para perempuan Indonesia, dalam bayangan saya, harus terus belajar untuk menjadi sosok seperti Siti Khadijah--istri Rasulullah SAW. Khadijah bukan perempuan lemah, penurut tanpa bersikap. Sebaliknya, beliau adalah pribadi sangat kuat hingga mampu menjadi pendukung dan mitra sejati Rasul pada masa-masa yang sangat sulit. Hal yang tak mungkin diperankan oleh perempuan lain. Meskipun Khadijah wafat lebih dulu, kontribusinya dalam mengubah peradaban umat manusia tak dapat diabaikan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-2698967978161808802?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://republika.co.id/koran/28' title='Republika Online'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/2698967978161808802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=2698967978161808802' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2698967978161808802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2698967978161808802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/republika-online.html' title='Republika Online'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-9137037239034454563</id><published>2009-08-21T14:08:00.000+07:00</published><updated>2009-08-21T14:08:16.628+07:00</updated><title type='text'>Republika Online - Puasa--Sebuah Jembatan Emas</title><content type='html'>&lt;a href="http://republika.co.id/koran/24/69933/Puasa_Sebuah_Jembatan_Emas"&gt;Republika Online - Puasa--Sebuah Jembatan Emas&lt;/a&gt;: "Puasa--Sebuah Jembatan Emas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusmayanto Kadiman&lt;br /&gt;(Menteri Negara Riset dan Teknologi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara saudara, apakah yang dinamakan merdeka?'' tanya Soekarno berapi-api di hadapan 30 orang lebih anggota Badan Pemeriksa Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Lalu, Soekarno menjawabnya sendiri. ''Tak lain tak bukan ialah suatu jembatan, satu jembatan emas--di seberangnya jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat--di seberang jembatan emas inilah, baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia merdeka yang gagah, kuat, sehat, kekal, dan abadi.'' Dalam salah satu khotbahnya, Rasulullah SAW yang diceritakan Salman Al-Farisi berkata, 'Dan, ia (Ramadhan) adalah bulan yang awalnya merupakan rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya sebagai pembebas dari api neraka.' (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cuplikan pidato yang membakar semangat dari presiden Soekarno dan hadis Rasulullah SAW yang menyejukkan di atas, marilah kita petik maknanya. Bukan hanya yang tersurat kita cermati, kita sibak yang tersurat untuk memahami apa yang tersirat. Kita kaitkan semangat yang dibakar presiden Soekarno dengan hikmah serta pahala yang akan kita raih dari ibadah suci di bulan Ramadhan ini."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-9137037239034454563?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://republika.co.id/koran/24/69933/Puasa_Sebuah_Jembatan_Emas' title='Republika Online - Puasa--Sebuah Jembatan Emas'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/9137037239034454563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=9137037239034454563' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/9137037239034454563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/9137037239034454563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/republika-online-puasa-sebuah-jembatan.html' title='Republika Online - Puasa--Sebuah Jembatan Emas'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-8488824720033590713</id><published>2009-08-21T14:07:00.000+07:00</published><updated>2009-08-21T14:07:40.546+07:00</updated><title type='text'>Republika Online - Manifesto Perdamaian Muhammad SAW</title><content type='html'>&lt;a href="http://republika.co.id/koran/24/70184/Manifesto_Perdamaian_Muhammad_SAW"&gt;Republika Online - Manifesto Perdamaian Muhammad SAW&lt;/a&gt;: "Manifesto Perdamaian Muhammad SAW&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr Aunur Rofiq&lt;br /&gt;(Dosen UIN Malang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks sosial, manusia diciptakan dengan membawa dua karakter kontradiktif. Pertama, sebagai pelaku gerakan perdamaian. Kedua, sebagai pelaku konflik dan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah peradaban dan agama, para nabi dan para pengikut mereka termasuk dalam kelompok pertama. Di sinilah Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW melakukan tugasnya sebagai juru damai dan pembawa rahmat.&lt;br /&gt;Kelompok kedua ditempati oleh Qabil, Firaun, Abu Jahal, dan para penerusnya. Adalah Qabil lambang individu atau masyarakat perusak, ganas, dan pelaku kekerasan. Dialah manusia pertama yang telah menumpahkan darah manusia, saudaranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firaun adalah simbol penguasa militer yang haus darah dan kekuasaan. Untuk melanggengkan kekuasaannya, dia akan melakukan segala cara, termasuk membunuh rakyat dan lawan politiknya. Dia memang memiliki kekuatan militer yang dahsyat pada zamannya."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-8488824720033590713?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://republika.co.id/koran/24/70184/Manifesto_Perdamaian_Muhammad_SAW' title='Republika Online - Manifesto Perdamaian Muhammad SAW'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/8488824720033590713/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=8488824720033590713' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8488824720033590713'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8488824720033590713'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/republika-online-manifesto-perdamaian.html' title='Republika Online - Manifesto Perdamaian Muhammad SAW'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-8048478928911271763</id><published>2009-08-17T13:34:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T13:34:19.754+07:00</updated><title type='text'>Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah. - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/partai-islam-antara-kepentingan-dan-dakwah/"&gt;Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah. - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Gagasan&lt;br /&gt;12/12/2003&lt;br /&gt;Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah.&lt;br /&gt;Oleh Soplo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama sering dimanfaatkan serta digunakan untuk mendapatkan kepentingan-kepentingan duniawi. Dengan menyitir ayat-ayat alquran mereka menggembar-gemborkan bahwa kita harus mewaspadai “sekularisme”. Tapi siapa yang sebenarnya sekularis?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-8048478928911271763?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/partai-islam-antara-kepentingan-dan-dakwah/' title='Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah. - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/8048478928911271763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=8048478928911271763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8048478928911271763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8048478928911271763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/partai-islam-antara-kepentingan-dan.html' title='Partai Islam, antara Kepentingan dan Dakwah. - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1422374476264213771</id><published>2009-08-17T13:27:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T13:27:31.259+07:00</updated><title type='text'>Gagasan - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/c/gagasan/"&gt;Gagasan - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Pengalaman Mengikuti Persidangan Rizieq Shihab&lt;br /&gt;Oleh Musdah Mulia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah studi menjelaskan bahwa corak keagamaan masyarakat dapat dipolakan ke dalam dua kategori: corak yang otoritarian dan humanistik. Agama yang humanistik memandang manusia dengan pandangan positif dan optimis, serta menjadikan manusia sebagai makhluk yang penting dan memiliki pilihan bebas. Dengan kemauan bebasnya, manusia dapat memilih agama yang diyakininya benar."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1422374476264213771?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/c/gagasan/' title='Gagasan - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1422374476264213771/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1422374476264213771' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1422374476264213771'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1422374476264213771'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/gagasan-jil-edisi-indonesia.html' title='Gagasan - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1945154431833659098</id><published>2009-08-17T13:26:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T13:26:39.769+07:00</updated><title type='text'>JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/P1060/"&gt;JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Wacana Islam Liberal di Timur Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tema ini menarik untuk diangkat adalah pertama karena selama ini publik Indonesia, dan saya kira secara umum masyarakat dunia, melihat wacana Timur Tengah selalu dari pemberitaan media. Dan sebagaimana kita tahu, media cendrung menampilkan hal-hal yang nyaris tidak adil terhadap kenyataan yang sesungguhnya berlangsung."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1945154431833659098?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/P1060/' title='JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1945154431833659098/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1945154431833659098' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1945154431833659098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1945154431833659098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/jil-edisi-indonesia.html' title='JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6897749794029503837</id><published>2009-08-17T09:18:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:18:54.831+07:00</updated><title type='text'>Kapan Muhammad SAW Lahir? - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/kapan-muhammad-saw-lahir/"&gt;Kapan Muhammad SAW Lahir? - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Kapan Muhammad SAW Lahir?&lt;br /&gt;Oleh Abd. Moqsith Ghazali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tinggi kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam, maka momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya yang tak tepermanai berupa isra’-mi`raj hingga migrasinya dari Mekah ke Madinah. Berbeda dengan kematian yang merupakan pertanda kesementaraan manusia dan juga keterbatasan seorang nabi, maka kelahiran Nabi Muhammad dianggap sebagai pertanda kehidupan baru, perubahan sosial."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6897749794029503837?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/kapan-muhammad-saw-lahir/' title='Kapan Muhammad SAW Lahir? - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6897749794029503837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6897749794029503837' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6897749794029503837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6897749794029503837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/kapan-muhammad-saw-lahir-jil-edisi.html' title='Kapan Muhammad SAW Lahir? - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1917189250002140944</id><published>2009-08-17T09:08:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:08:49.738+07:00</updated><title type='text'>Mendudukkan Pluralisme Agama - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/mendudukkan-pluralisme-agama/"&gt;Mendudukkan Pluralisme Agama - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Mendudukkan Pluralisme Agama&lt;br /&gt;Oleh Ahmad Syafii Maarif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akan lebih bijak lagi, jika penafsiran terhadap sumber-sumber itu saling berlawanan, solusinya mudah sekali, yaitu diadakan dialog yang serius dan jujur antara para pihak yang bersangkutan. Sikap menuduh dengan menggunakan kata-kata “sesat, agen zionis, agen Barat” bukanlah cara kaum yang beradab. Mari kita sama lepaskan prasangka lebih dulu, lalu kita adu argumen dengan menjadikan al-Qur’an sebagai rujukan utama dan pertama. Lalu kita gunakan sumber-sumber lain, baik yang ditulis oleh ulama klasik maupun yang kontemporer sebagai pelengkap rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Republika, 17 Maret 2009"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1917189250002140944?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/mendudukkan-pluralisme-agama/' title='Mendudukkan Pluralisme Agama - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1917189250002140944/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1917189250002140944' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1917189250002140944'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1917189250002140944'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/mendudukkan-pluralisme-agama-jil-edisi.html' title='Mendudukkan Pluralisme Agama - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-8401082570769505483</id><published>2009-08-17T09:07:00.001+07:00</published><updated>2009-08-17T09:07:49.047+07:00</updated><title type='text'>Asal Muasal Jagat Raya: - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/asal-muasal-jagat-rayacinta-ala-rumi-ataukah-evolusi-ala-hawking-darwin/"&gt;Asal Muasal Jagat Raya: - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Cinta ala Rumi atau Evolusi ala Hawking-Darwin?&lt;br /&gt;Oleh Malja Abror&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban model berseloroh seperti ini mengingatkan kita pada jawaban Santo Agustinus ketika ditanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum peristiwa Big Bang itu terjadi. Jawab Agustinus: Tuhan sibuk membangun neraka buat orang-orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-8401082570769505483?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/asal-muasal-jagat-rayacinta-ala-rumi-ataukah-evolusi-ala-hawking-darwin/' title='Asal Muasal Jagat Raya: - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/8401082570769505483/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=8401082570769505483' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8401082570769505483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8401082570769505483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/asal-muasal-jagat-raya-jil-edisi.html' title='Asal Muasal Jagat Raya: - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6968005416129305255</id><published>2009-08-17T09:07:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:07:16.626+07:00</updated><title type='text'>Merebut (Makna) Pancasila - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/merebut-makna-pancasila/"&gt;Merebut (Makna) Pancasila - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Catatan dari Kaki Gunung Slamet&lt;br /&gt;Oleh Trisno S. Sutanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya jaminan keberadaan kelompok-kelompok ini adalah Pancasila—walau rezim Soeharto telah menodainya. Karena pada rumusan Pancasila yang menghormati kebhinekaan, tetapi sekaligus menjaga persatuan, setiap kelompok diterima dan dihargai, tenggang rasa dicari, dan sikap moderasi diunggulkan. Soalnya adalah mencari celah yang melalui mana tuntutan mendasar itu dapat timbul ke permukaan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6968005416129305255?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/merebut-makna-pancasila/' title='Merebut (Makna) Pancasila - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6968005416129305255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6968005416129305255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6968005416129305255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6968005416129305255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/merebut-makna-pancasila-jil-edisi.html' title='Merebut (Makna) Pancasila - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5767686636269279362</id><published>2009-08-17T09:06:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:06:12.142+07:00</updated><title type='text'>Islam dan Pluralitas(isme) Agama - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/islam-dan-pluralitasisme-agama/"&gt;Islam dan Pluralitas(isme) Agama - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "15/06/2009&lt;br /&gt;Islam dan Pluralitas(isme) Agama&lt;br /&gt;Oleh Abd Moqsith Ghazali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5767686636269279362?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/islam-dan-pluralitasisme-agama/' title='Islam dan Pluralitas(isme) Agama - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5767686636269279362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5767686636269279362' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5767686636269279362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5767686636269279362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/islam-dan-pluralitasisme-agama-jil.html' title='Islam dan Pluralitas(isme) Agama - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-705645109813503165</id><published>2009-08-17T09:05:00.001+07:00</published><updated>2009-08-17T09:05:38.872+07:00</updated><title type='text'>Soekarno, Pelopor Islam Liberal - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/soekarno-pelopor-islam-liberal/"&gt;Soekarno, Pelopor Islam Liberal - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Soekarno, Pelopor Islam Liberal Reportase Diskusi “Islam Liberal dalam Ajaran Soekarno”&lt;br /&gt;Oleh Saidiman"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-705645109813503165?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/soekarno-pelopor-islam-liberal/' title='Soekarno, Pelopor Islam Liberal - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/705645109813503165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=705645109813503165' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/705645109813503165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/705645109813503165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/soekarno-pelopor-islam-liberal-jil.html' title='Soekarno, Pelopor Islam Liberal - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-4527277498417667160</id><published>2009-08-17T09:05:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:05:04.002+07:00</updated><title type='text'>Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/pilpres-otoritas-kiai-dan-rasionalitas-nahdhiyyin/"&gt;Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin&lt;br /&gt;Oleh Abd Moqsith Ghazali"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-4527277498417667160?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/pilpres-otoritas-kiai-dan-rasionalitas-nahdhiyyin/' title='Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/4527277498417667160/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=4527277498417667160' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4527277498417667160'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4527277498417667160'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/pilpres-otoritas-kiai-dan-rasionalitas_17.html' title='Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6985421457063184562</id><published>2009-08-17T09:04:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:04:06.017+07:00</updated><title type='text'>Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/pilpres-otoritas-kiai-dan-rasionalitas-nahdhiyyin/"&gt;Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6985421457063184562?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/pilpres-otoritas-kiai-dan-rasionalitas-nahdhiyyin/' title='Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6985421457063184562/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6985421457063184562' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6985421457063184562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6985421457063184562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/pilpres-otoritas-kiai-dan-rasionalitas.html' title='Pilpres, Otoritas Kiai, dan Rasionalitas Nahdhiyyin - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-4640641734985164398</id><published>2009-08-17T09:03:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:03:24.159+07:00</updated><title type='text'>Agama Lama dengan Baju Baru - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/agama-lama-dengan-baju-baru/"&gt;Agama Lama dengan Baju Baru - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Agama Lama dengan Baju Baru&lt;br /&gt;Oleh Saidiman"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-4640641734985164398?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/agama-lama-dengan-baju-baru/' title='Agama Lama dengan Baju Baru - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/4640641734985164398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=4640641734985164398' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4640641734985164398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4640641734985164398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/agama-lama-dengan-baju-baru-jil-edisi.html' title='Agama Lama dengan Baju Baru - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-7083781004741954736</id><published>2009-08-17T09:02:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:02:17.762+07:00</updated><title type='text'>Masyarakat Indonesia Anti-Kekerasan - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/masyarakat-indonesia-anti-kekerasan/"&gt;Masyarakat Indonesia Anti-Kekerasan - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Masyarakat Indonesia Anti-Kekerasan"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-7083781004741954736?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/masyarakat-indonesia-anti-kekerasan/' title='Masyarakat Indonesia Anti-Kekerasan - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/7083781004741954736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=7083781004741954736' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7083781004741954736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7083781004741954736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/masyarakat-indonesia-anti-kekerasan-jil.html' title='Masyarakat Indonesia Anti-Kekerasan - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5284470919917524636</id><published>2009-08-17T09:01:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T09:01:16.929+07:00</updated><title type='text'>Pesantren, Terorisme, dan Langkah Penyelamatan - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/pesantren-terorisme-dan-langkah-penyelamatan/"&gt;Pesantren, Terorisme, dan Langkah Penyelamatan - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Pesantren, Terorisme, dan Langkah Penyelamatan"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5284470919917524636?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/pesantren-terorisme-dan-langkah-penyelamatan/' title='Pesantren, Terorisme, dan Langkah Penyelamatan - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5284470919917524636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5284470919917524636' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5284470919917524636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5284470919917524636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/pesantren-terorisme-dan-langkah.html' title='Pesantren, Terorisme, dan Langkah Penyelamatan - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-683474216167690091</id><published>2009-08-17T08:59:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T08:59:42.493+07:00</updated><title type='text'>Terorisme dan Soal Ketidakadilan - JIL Edisi Indonesia</title><content type='html'>&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/terorisme-dan-soal-ketidakadilan/"&gt;Terorisme dan Soal Ketidakadilan - JIL Edisi Indonesia&lt;/a&gt;: "Terorisme dan Soal Ketidakadilan Catatan untuk Magda Safrina&lt;br /&gt;Oleh Ulil Abshar-Abdalla&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah sederhana saja: kekeliruan dalam menafsirkan doktrin agama, “the perversion of religious interpretation”. Mereka bukan pahlawan kaum miskin dan pejuang ketidakadilan. Dan sudah seharusnya kita tak usah menganggap mereka sebagai pahlawan, entah pahlawan dunia Islam apalagi kaum miskin yang menjadi korban ketidakadilan. Mereka adalah penjahat. Titik! Ayat-ayat Quran yang selama ini mereka pakai untuk menjustifikasi tindakan mereka tidak akan bisa menyelamatkan mereka dari kutukan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini adalah tanggapan untuk artikel teman saya, Magda Safrina, yang dimuat di The Jakarta Post, 8/8/09, dengan tajuk “The Jakarta Bombing: A lesson in equality”. Artikel itu ingin mengaitkan masalah terorisme dengan masalah ketidakadilan di Indonesia. Dalam pandangan Magda Safrina, terorisme adalah “bahasa” yang dipakai oleh orang-orang yang kecewa karena melihat ketidakadilan dan kesenjangan sosial di Indonesia agar suara mereka didengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian terakhir artikelnya, Magda menyimpulkan: “In conclusion, as long as social injustice still exists in Indonesia, I believe, those who are willing to sacrifice their lives by carrying bombs and other high explosive materials will always exist.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, analisis Magda"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-683474216167690091?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://islamlib.com/id/artikel/terorisme-dan-soal-ketidakadilan/' title='Terorisme dan Soal Ketidakadilan - JIL Edisi Indonesia'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/683474216167690091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=683474216167690091' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/683474216167690091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/683474216167690091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/terorisme-dan-soal-ketidakadilan-jil.html' title='Terorisme dan Soal Ketidakadilan - JIL Edisi Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-909668970750395019</id><published>2009-08-07T06:19:00.000+07:00</published><updated>2009-08-07T06:20:27.607+07:00</updated><title type='text'>STRATEGI DAKWAH: Sebuah Permenungan atas Konstruksi-Transformatif Nilai Islam</title><content type='html'>&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://lingkarfakih.blogspot.com/2007/11/strategi-dakwah-sebuah-permenungan-atas.html"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;oleh: A. Fakih Kurniawan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Sejak munculnya era televisi, acara-acara keagamaan di media elektronik juga ikut menyemarakkan acara dengan ragam wajah dan model yang variatif yang disajikkan oleh para pemeluknya. Tetapi idealisasi yang diharapkan dari agama-agama belum dapat dinikmati, apalagi dibanggakan sebagai pembawa rahmat dan pembangun peradaban besar. Inilah fenomena yang harus dicermati, dipelajari dan dipecahkan bersama oleh segenap pemeluk agama. Tugas besar orang-orang beragama adalah mendekatkan dan merekatkan kenyataan dengan nilai-nilai luhur yang dikandung oleh masing-masing ajaran agama. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Saat ini kita sedang berhadapan dan berada dalam arus globalisasi. Proses perubahan berlangsung begitu cepat dan jawaban selalu jauh tertinggal di belakang. Oleh karena itu, mau tidak mau peran-peran keagamaan perlu ditinjau ulang dan direvitalisasi. Sebab di tengah gempuran modernisasi dan globalisasi yang berlangsung sangat cepat dan sulit ditebak arahnya itu orang masih tetap percaya dan berharap pada agama (dalam segala bentuknya) untuk tampil menghadapi dan memecahkan masalah yang ditimbulkannya. Kalau saja dipersonifikasikan, sosok agama itu diharapkan tampil bagaikan "Superman" yang mempu membuat keajaiban untuk mencari penyelesaian seketika di luar hukum-hukum sosial. Salah satu media agama yang dapat menjembatani krisis tersebut adalah dakwah, tetapi perlu diperhatikan bahwa dakwah disini bukanlah dakwah dalam pengertian sempit (&lt;em&gt;da'wah bi al-lisan&lt;/em&gt;) tetapi juga menyangkut dakwah amal (&lt;em&gt;da'wah bi al-hal&lt;/em&gt;), dakwah seni, dakwah intelektual, dakwah budaya dan dakwah-dakwah lainnya yang bertujuan mengajak untuk hidup yang lebih baik aplikatif dan sesuai dengan ajaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah bukunya, Komaruddin Hidayat, menceritakan pengalaman hidupnya selama menjadi mahasiswa IAIN Jakarta. Salah satu hal yang diceritakannya adalah ketika ia menjadi penceramah, setiap kali ia menjadi penceramah ia mendapatkan honor berupa uang. "&lt;em&gt;…dari peristiwa ini saya berpikir, bahwa sesungguhnya masyarakat Jakarta memiliki perhatian yang besar pada syiar agama&lt;/em&gt;", kenangnya.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Satu hal yang patut dipotret dari pengalaman tersebut bahwa proses dakwah terus berjalan berkelindan mengikuti sebuah kebutuhan manusia akan kehausan nilai agama (jika tidak dikatakan moralitas dan spiritualitas!).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari kondisi seperti itulah maka dakwah bukanlah kegiatan yang ajek atau rigid dengan metode penyampaian doktriner an sich, tetapi ia merupakan kegiatan yang dinamis mengikuti kondisi dan realitas yang terus berubah namun tetap menjaga normatifitas pesan. Karena itulah wajar jika sekarang bertebaran para da'i bak jamur di musim hujan dengan "menawarkan" metode masing-masing secara unik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dakwah merupakan aktualisasi atau realisasi salah satu fungsi kodrati seorang muslim, yaitu fungsi kerisalahan berupa proses pengkondisian agar seseorang atau masyarakat mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup (&lt;em&gt;way of life&lt;/em&gt;).&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Dus, hakikat dakwah adalah suatu upaya untuk merubah suatu keadaan menjadi keadaan lain yang lebih baik menurut tolok ukur ajaran Islam sehingga seseorang atau masyarakat mengamalkan Islam sebagai ajaran dan pandangan hidup. Dengan kata lain tujuan dakwah, setidaknya bisa dikatakan, untuk mempertemukan kembali fitrah manusia dengan agama atau menyadarkan manusia supaya mengakui kebenaran Islam dan mengamalkan ajaran Islam sehingga benar-benar terwujud kesalehan hidup.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika dakwah dinilai sebagai media transformasi nilai serta ajaran Islam, maka sesungguhnya ia telah masuk dalam sebuah ranah khusus yaitu agama. Setiap agama memiliki nilai serta ajaran yang baik – setidaknya oleh para pengikutnya - dan memiliki kecenderungan mentransformasikan ajaran tersebut agar diikuti oleh orang lain, maka dapat ditebak bahwa akan ada sebuah pergulatan "penyeruan". Maka dakwah merupakan satu bagian yang pasti ada dalam kehidupan umat beragama.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn4" name="_ftnref4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Dalam tradisi Kristen "penyeruan" itu biasa disebut dengan missionary atau kristenisasi, sedangkan dalam Islam adalah dakwah. Dalam Islam, dakwah bukan hanya media yang bertujuan untuk memperbanyak pengikut, tetapi juga sejatinya merupakan kegiatan untuk memperbanyak orang yang sadar akan kebenaran Islam dan selanjutnya mengamalkan ajaran tersebut, karena itu dakwah harus dilandasi dengan cinta kasih&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn5" name="_ftnref5"&gt;[5]&lt;/a&gt; pada sesama manusia untuk menyelamatkan sesama manusia dari berbagai penderitaan, kesesatan dan keterbelakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Konstruksi Filosofis Dakwah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, gerakan dakwah Islam berporos pada &lt;em&gt;amar ma'ruf nahy munkar&lt;/em&gt;.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn6" name="_ftnref6"&gt;[6]&lt;/a&gt; Ma'ruf mampunyai pengertian segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah awt. sedangkan munkar ialah segala perbuatan yang menjauhkan diri dari pada-Nya. Pada dataran &lt;em&gt;amar ma'ruf&lt;/em&gt;, siapapun bisa melakukannya, pasalnya kalau hanya sekadar "menyuruh" kepada kebaikan itu mudah dan tidak ada resiko bagi di "penyuruh". Lain halnya dengan &lt;em&gt;nahy munkar&lt;/em&gt;, jelas mengandung konsekuensi logis dan beresiko bagi yang melakukannya. Karena "mencegah kemungkaran" itu melakukannya dengan tindakan konkret, nyata dan dilakukan atas dasar kesadaran tinggi dalam rangka menegakkan kebenaran. Oleh karena itu, ia harus berhadapan secara vis a vis dengan obyek yang melakukan tindak kemungkaran itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Inilah sesungguhnya cikal bakal perintah dakwah yang diwajibkan oleh Allah swt. pada setiap pribadi seorang muslim yang mengaku beriman. Oleh karena itu, peran para nabi dan rasul sesungguhnya diutus oleh Allah saw. untuk menyampaikan kebenaran firman-Nya melalui dakwah yang disampaikan dan sekaligus memberikan tuntutan kebaikan kepada manusia untuk selalu konsisten dan istiqamah dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah. Pun demikian, istilah dakwah sendiri jika tidak dilandasi dengan struktur fundamental yang jelas, pengertiannya akan menjadi semakin kabur karena selalu diberi pengertian dengan konotasi dan denotasi yang pasti baik dan positif. Padahal, perlu dijelaskan secara rinci mengenai apa makna literer dari dakwah itu. Kalau pengertian dakwah secara asal bahasanya itu "panggilan", lalu panggilan kemana? Atau untuk apa?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan rinci tersebut tetap diperlukan, karena kalau tidak, dakwah hanya akan menjadi prevellese bagi orang-orang tertentu, dan dengan gaya serta jabatan tertentu pula. Misalnya saja pelakunya dibungkus status quo dengan sebutan da'i atau muballigh yang seringkali oleh masyarakat awam atau pada umumnya menempatkannya pada maqam tertinggi, yakni sebagai acuan dalam berpikir dan bertindak, atau bahkan sampai di tingkat ma'sum yang &lt;em&gt;taken for granted&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pelembagaan (jika tidak dikatakan patronase) dakwah secara monopoli inilah yang mengakibatkan bergesernya kualitas rohaniah-intelektual ke status sosial dan simbol budaya semata. Di sinilah maka dakwah kemudian menjadi kering dan seringkali tidak sampai pada sasaran yang dimaksud.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn7" name="_ftnref7"&gt;[7]&lt;/a&gt; Karenanya wajar jika ada pertanyaaan, mengapa konsep dakwah Islam tidak begitu "menggigit" atau mengakar kuat sebagai basis metodologis dalam aplikasi terapannya?&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan tersebut seharusnya tidak perlu muncul manakala pembekalan dan penguatan secara konseptual–metodologis mendapat tempat layak dalam wilayah akademiknya. Artinya, dataran konseptual harus diberi prioritas utama sebelum aplikasi di lapangan itu diterapkan. Selanjutnya memberikan porsi akademik kepada pentingnya otonomi berpikir&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn8" name="_ftnref8"&gt;[8]&lt;/a&gt; manusia sebagai basis dan kemampuannya untuk menangkap realitas di sekelilingnya, sebagai wacana yang akan terus berkembang yang sifatnya paradigmatik dan akan diuji di wilayah publik. Hal ini perlu mendapat perhatian serius, karena bagaimanapun juga para da'i atau muballigh adalah orang yang secara langsung berhadapan dengan individu atau bahkan komunitas masyarakat banyak dan terpadu, dan oleh karenanya diperlukan bekal akademik sebagai basis intelektual agar mampu memprediksi dan sekaligus memahami realitas yang terus berkembang tanpa harus bersikap apologetik sebagaimana tradisi dakwah pada masa abad pertengahan. Dengan demikian, maka wacana konseptual sebagai basis metodologisnya tidak harus dipahami dan dipandang sinis sebagai entitas mengawang di atas tanpa kaki, tidak membumi.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn9" name="_ftnref9"&gt;[9]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, dakwah saat ini harus dilandasi oleh dasar filosofis-epistemologis yang kuat, jika tidak maka akan menyebabkan pemahaman dakwah (Islam) menjadi dangkal dan bahkan menyebabkan penganutnya terjebak ke dalam formalisme dan fanatisme sempit, sebaliknya, pemahaman dakwah yang dilandasi filosofis-epistemologis akan mengantarkan dakwah pada pemahaman yang bersifat esensial dan mendalam, sehingga terhindar dari konflik yang diakibatkan oleh banyak isme atau aliran yang berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Efektivitas Dakwah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi dakwah Islam dapat mempengaruhi cara berpikir, bersikap dan bertindak dalam kaitannya dengan kehidupan pribadi dan sosial. Dalam hal ini dakwah Islam akan senantiasa dihadapkan oleh kenyataan realitas sosial yang mengitarinya. Maka untuk menyikapi hal tersebut, dakwah Islam paling tidak diharapkan berperan dalam dua arah. Pertama, dapat memberikan out put terhadap mesyarakat dalam arti memberikan dasar filosofi, arah dan dorongan untuk membentuk realitas baru yang lebih baik. Kedua, dakwah Islam harus dapat mengubah visi kehidupan sosial dimana sosio kultural yang ada tidak hanya dipandang sebagai suatu kelaziman saja, tetapi juga dijadikan kondusif bagi terciptanya &lt;em&gt;baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur&lt;/em&gt;.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn10" name="_ftnref10"&gt;[10]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di atas telah dikemukakan bahwa kegiatan dakwah pada hakikatnya adalah kegiatan komunikasi yang spesifik atau khusus. Spesifik karena pesan-pesan yang disampaikan adalah mengenai ajaran Islam. efektivitas dakwah dapat dilihat dari apakah suatu proses komunikator (&lt;em&gt;da'i &lt;/em&gt;/ subyek dakwah) dapat sampai dan diterima komunikan (&lt;em&gt;mad'u&lt;/em&gt; / subyek dakwah), sehingga mengakibatkan perubahan perilaku komunikan. Perubahan perilaku tersebut meliputi aspek-aspek pengetahuan, sikap dan perbuatan komunikan yang mengarah atau mendekati tujuan yang ingin dicapai proses komunikasi tersebut. Dan dalam kaitan dakwah, maka efektivitas dakwah tercermin pada sejauh mana obyek dakwah (pada dataran individu) mangalami perubahan, dalam hal makin lengkap dan benarnya akidah, akhlak, ibadah dan mu'amalahnya. Sedangkan pada dataran masyarakat, efektivitas tersebut dapat tercermin pada iklim sosial yang makin memancarkan syi'ar Islam, dan makin mendekatnya norma sosial pada nilai-nilai Islam atau aturan hidup menurut Islam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, ada dua hal yang amat menentukan efektivitas proses komunikasi (dakwah), yaitu, a) apakah pesan yang disampaikan komunikator sampai (didengar, dilihat, dirasakan dan difahami) oleh komunikan, dan b) kalau memang sampai, apakah pesan tersebut "diterima" (disetujui dan disajikan dasar tindakan/perbuatan) sehingga menimbulkan perubahan pada diri komunikan.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn11" name="_ftnref11"&gt;[11]&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian ini dapat diketahui bahwa kondisi atau faktor yang mempengaruhi sampai dan diterimanya pesan oleh komunikan akan amat menentukan efektivitas komunikasi dakwah. Hal-hal yang menentukan sampai tidaknya pesan pada umumnya berkaitan dengan masalah strategi (model komunikasi atau dialog apa, metode yang digunakan, media yang dipakai dan sebagainya), sementara hal-hal yang menentukan diterima tidaknya pesan pada umumnya berkaitan dengan isi atau substansi pesan yang tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi objek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tawaran Strategi Dakwah&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Masalah strategi ditentukan oleh kondisi obyektif komunikan dan keadaan lingkungan pada saat proses komunikasi tersebut berlangsung. Dalam kegiatan dakwah, maka hal-hal yang mempengaruhi sampainya pesan dakwah ditentukan oleh kondisi obyektif obyek dakwah dan kondisi lingkungannya dengan demikian maka strategi dakwah yang tepat ditentukan oleh dua faktor tadi. Sekedar contoh: antara orang desa dan kota tentu berbeda metode penyampaian pesan yang dipakai. Demikian pula antara petani, pegawai, mahasiswa, sarjana, anak-anak, remaja, dewasa, orang tua, wanita, buruh, orang miskin dan orang kaya dan lain sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan masalah isi atau substansi pesan ditentukan oleh seberapa jauh relevansi atau kesesuaian isi pesan tersebut dengan kondisi subyektif komunikan, yaitu "&lt;em&gt;needs&lt;/em&gt;" (kebutuhan) atau permasalahan mereka. Dalam dakwah perlu diketahui kebutuhan apa yang mereka rasakan, dan seberapa jauh pesan dakwah dapat menyantuni kebutuhan dan permasalahan tersebut. Relevansi antara isi pesan dakwah dengan kebutuhan tersebut hendaknya diartikan sebagai ketersantunan yang proporsional, artinya pemecahan masalah atau pemenuhan kebutuhan yang tidak asal pemenuhan, tetapi yang dapat mengarahkan atau lebih mendekatkan obyek dakwah pada tujuan dakwah itu sendiri, dan bukan sebaliknya. Untuk itu maka pengolahan pesan dakwah dari sumbernya (al-Qur'an dan Sunnah Rasul) akan sangat menentukan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai apa yang dimaksud dengan relevansi tersebut, maka baiknya dikemukakan beberapa contoh. Bagi petani, bagaimana bertani yang baik sehingga hasil pertaniannya meningkat dan bagaimana peningkatan tersebut sekaligus merupakan bagian dari ibadahnya kepada Allah. Demikian pula bagi buruh, sehingga peningkatan mutu kerjanya sama dengan mutu ibadahnya. Hal ini akan mendorong mereka untuk lebih memahami bagaimana beribadah dengan baik akan membantu mereka untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik. Sudah barang tentu da'i yang bertugas di kalangan buruh atau petani atau lainnya haruslah mereka yang memiliki pengetahuan yang cukup mengenai dunia buruh dan tani.&lt;br /&gt;Dalam hal ini, khutbah atau tabligh perlu disesuaikan dnegan persoalan buruh dan petani. Di samping itu perlu dilakukan kegiatan yang lebih konkret seperti latihan keterampilan kerja, pemilihan bibit dan pupuk, sehingga mereka merasa diperhatikan. Tak lupa juga masalah bagaimana memasarkan hasil tani. Lapangan kerja apa saja yang sedang dibutuhkan dan dagang apa saja yangsedang laku dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa hal-hal yang menentukan model pendekatan dakwah dapat diperhatikan unsur-unsur berikut:&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn12" name="_ftnref12"&gt;[12]&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kondisi obyektif (ciri-ciri) obyek dakwah. &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kondisi subyektif (kebutuhan, persoalan yang mereka hadapi dan sebagainya)  &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Faktor lingkungan dakwah&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Untuk menapaki uraian tersebut, diajukan gagasan awal mengenai strategi dakwah, sebagai berikut:&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peninjauan kembali pendekatan dakwah dengan upaya sentral perencanaan dakwah yang lebih berorientasi pada pemecahan masalah (problem solving oriented)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pergeseran medan dakwah (model komunikasi dakwah) konvensional, yaitu tabligh dalam makna sempit menjadi dakwah yang 'multi dialog' (dialog amal, dialog seni, dialog intelektual, dialog budaya).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perimbangan antara dakwah bersekala massal menjadi dakwah personal atau dakwah kelompok yang lebih dialogis.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlunya perhatian dan pengembangan yang serius lembaga-lembaga dakwah, terutama majlis tabligh, pada fungsi-fungsi perencanaan dan pengelolaan.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlu dilakukan pengkajian yang mendalam mengenai (a) ciri-ciri dan permasalahan yang dihadapi objek dakwah (kondisi obyektif dan subyektif), serta (b) kondisi lingkungan, dalam rangka mengembangkan strategi dakwah yang tepat di masing-masing daerah dan kelompok umat tertentu. Untuk itu maka penelitian obyektif dan lingkungan dakwah merupakan langkah yang amat tepat.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlu dikembangkan mekanisme pengorganisasian yang lebih profesional, dengan pemilahan tudas yang jelas antar subyek dakwah (da'i, perencana dan pengelola kegiatan dakwah)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Perlunya pengembangan nilai-nilai saintifik Islam dan keilmuan yang interdisipliner atau pengembangan pendekatan objektivasi dan subjektivasi. Dengan pendekatan ini berarti dilakukan interpretasi dienul-Islam secara kreatif proporsional, dikaitkan dengan kehidupan manusia, alam dan sejarah.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Melakukan pendekatan positif konstruktif terhadap objek dakwah yang 'abangan', dengan menghilangkan 'jarak' psikologis maupun budaya yang ada.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mengembangkan sistem informasi yang mempu menjangkau umat secara luas dan menumbuhkan komunikasi yang efektif.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peran pembawa "kabar dari langit" agar dapat mengarifi realitas untuk mentransformasikan nilai, sehingga "dimensi langit suci" lebih dapat dibumikan untuk dipahami oleh manusia secara sadar dan bertaha, di samping melihat tipologi masyarakat yang dihadapinya.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penutup&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam uraian di atas, dapat kita awang-awang dalam pikiran kita bahwa kata "dakwah" mengacu pada transformasi nilai-nilai Islam yang dititik beratkan pada sebuah perjalanan "proses"nya. Dalam tahap berikutnya, dakwah memiliki perluasan makna yakni aktivitas yang berorientasi pada pengembangan masyarakat muslim, antara lain dalam bentuk pengembangan kesejahteraan sosial. Maka untuk sampai kepada tujuan kesejahteraan sosial, sejatinya metode dakwah konvensional harus berani "banting setir", artinya harus berani mengimbangi dakwah secara retorika (da'wah bi al-lisan) dengan dakwah perbuatan (&lt;em&gt;da'wah bi al-hal&lt;/em&gt;), mengimbangi dakwah yang monologis dengan dakwah dialogis, karena bagaimanapun, sejarah membuktikan bahwa dakwah yang dilakukan dengan perbuatan atau amal akan lebih efektif jika dibandingkan dengan hanya sebatas retorika-apologis.&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftn13" name="_ftnref13"&gt;[13]&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam perkembangan dakwah Islam selanjutnya semestinya tidak hanya dipahami sebagai transformasi nilai yang kadang terkesan sebagai pengandaian struktural atas-bawah (antara da'i dan mad'u) saja dalam penyampaiannya, tetapi pengandaian hubungan itu secara fungsional, artinya, lebih kepada model bottom up daripada top down. Karena itu, dalam hubungan fungsionalnya, ada semacam strategi pola dan gaya penyampaian secara dialektik. Di situlah sesungguhnya keunikan dakwah yang mempunyai pertautan erat dengan "strategi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber Bacaan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Asy'arie, Musa, Filsafat Islam: Sunnah Nabi dalam Berpikir, Yogyakarta: LESFI, 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dermawan, Andi (ed.), Metodologi Ilmu Dakwah. Yogyakarta: LESFI, 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakhry, Majid, The Genius of Arab Civilization, Canada: MIT. Press, 1983&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidayat, Komaruddin, Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi: Doktrin dan Peradaban di Panggung Sejarah. Jakarta: Paramadina, 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulkhan, Abdul Munir, Ideologisasi Gerakan Dakwah: Episod Kehidupan M. Natsir &amp;amp; Azhar Basyir. Yogyakarta: Sipress, 1996&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muriah, Siti, Metodologi Dakwah Kontemporer, Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shihab, M. Quraish, Dr., Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 2002&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;_____________________________&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt; Komaruddin Hidayat, Wahyu di Langit, Wahyu di Bumi: Doktrin dan Peradaban di Panggung Sejarah. (Jakarta: Paramadina, 2003). hlm. 203-204&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt; Abdul Munir Mulkhan , Ideologisasi Gerakan Dakwah: Episod Kehidupan M. Natsir &amp;amp; Azhar Basyir. (Yogyakarta: Sipress, 1996). hlm. 205&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt; H. Sukriyanto, "Filsafat Dakwah" dalam Andi Dermawan (ed.), Metodologi Ilmu Dakwah. (Yogyakarta: LESFI, 2002). hlm. 8&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref4" name="_ftn4"&gt;[4]&lt;/a&gt; Dr. M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. (Bandung: Mizan, 2002). hlm. 194&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref5" name="_ftn5"&gt;[5]&lt;/a&gt; lihat QS. Ali Imran (3): 159&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref6" name="_ftn6"&gt;[6]&lt;/a&gt; lihat QS. Ali Imran (3): 104 dan 110&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref7" name="_ftn7"&gt;[7]&lt;/a&gt;Andy Dermawan, "Landasan Epistemologis Ilmu Dakwah" dalam Andy Dermawan (ed.), Metodologi Ilmu Dakwah. (Yogyakarta: LESFI, 2002). hlm. 56&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref8" name="_ftn8"&gt;[8]&lt;/a&gt;Pada dasarnya hakikat berfikir itu adalah otonom. Artinya, kebebasan berpikir tidak sama dengan kebebasan berbuat, selain bebas dan radikal ia juga berada dalam dataran makna. Kebebasan berpikir itu : 1) tidak ada kekuasaan yang dapat menghalangi berpikir, 2) tidak ada kekuasaan yang bisa mengatur, 3) tidak ada yang haram untuk dipikirkan, 4) tidak ada sanksi moral, 5) sifatnya spiritual, 6) ruang lingkupnya dinamis, 7) bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Penjelasan lebih lanjut lihat Musa Asy'arie, Filsafat Islam: Sunnah Nabi dalam Berpikir, (Yogyakarta: LESFI, 1999), hlm. 1-3&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref9" name="_ftn9"&gt;[9]&lt;/a&gt; Secara konseptual, kajian kitab suci dan kenabian malahirkan ilmu agama, sedangkan kajian terhadap alam semesta melahirkan ilmu alam dan ilmu pasti termasuk di dalamnya ilmu humaniora dan kajian terhadap ayat-ayat Tuhan yang dilakukan pada tingktan makna, yang berusaha mencari hakikat dengan menggunakan nalar dan mata batinnya, melahirkan ilmu filsafat. Ilmu dipakai untuk memecahkan persoalan-persoalan teknis, filsafat memberikan landasan nilai-nilai dan wawasan yang menyeluruh, sedangkan agama mengantarkan kepada realitas pengalaman spiritual, memasuki dimensi ilahiyah. Para filosof muslim yang menggunakan filsafat adalah untuk mempelajari konsep-konsep al-Qur'an. lihat Majid Fakhry, The Genius of Arab Civilization, (Canada: MIT. Press, 1983), hlm. 58&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref10" name="_ftn10"&gt;[10]&lt;/a&gt; Siti Muriah, Metodologi Dakwah Kontemporer, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2000), hlm. 11-12&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref11" name="_ftn11"&gt;[11]&lt;/a&gt;Abdul Munir Mulkhan , Ideologisasi Gerakan Dakwah…hlm. 207&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref12" name="_ftn12"&gt;[12]&lt;/a&gt; Ibid…hlm. 208&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="" href="post-create.g?blogID=9155377640202721852#_ftnref13" name="_ftn13"&gt;[13]&lt;/a&gt;dalam perbendaharaan bahasa Arab kita sering dengar kata, " لسان الحال أفصح من لسان المقال"&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-909668970750395019?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/909668970750395019/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=909668970750395019' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/909668970750395019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/909668970750395019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/strategi-dakwah-sebuah-permenungan-atas.html' title='STRATEGI DAKWAH: Sebuah Permenungan atas Konstruksi-Transformatif Nilai Islam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-8601050357436019806</id><published>2009-08-04T13:47:00.000+07:00</published><updated>2009-08-04T13:48:27.687+07:00</updated><title type='text'>Provokasi Umat</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh: &lt;/strong&gt;Tifatul Sembiring&lt;br /&gt;(Presiden Partai Keadilan Sejahtera)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ledakan bom terjadi di Hotel Ritz Carlton dan JW Marriott, memecah ketenangan Jakarta di pagi Jum'at, 17 Juli itu. Darah pun kembali tumpah. Sembilan orang meninggal dunia dan sekitar 60-an orang luka-luka. &lt;em&gt;Astaghfirullah&lt;/em&gt; , provokasi apalagi ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ummati... ummati...&lt;/em&gt; , kata Rasulullah SAW dengan suaranya yang lirih, saat-saat maut akan menjemput, beliau masih saja mengingat umatnya. Mungkin, ada hal-hal tertentu yang sedang beliau bincangkan dengan Jibril atau ada  &lt;em&gt;nubuwwah&lt;/em&gt; yang sedang diperlihatkan Allah SWT hingga beliau sangat mengkhawatirkan keadaan masa depan umat Islam. Itulah ucapan beliau menjelang detik-detik wafatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Nabi SAW juga pernah memberikan wasiat panjang. Di kala  &lt;em&gt;hajjataul wada&lt;/em&gt; , beliau berpesan agar umat Islam berpegang erat kepada dua pedoman, yaitu Alquran dan sunah. Dan, agar menjaga tali persaudaraan sesama kaum Muslim. Atau, barangkali beliau terkenang kembali kepada peristiwa perang Uhud, kekalahan yang memilukan, di mana 70 orang pasukan kaum Muslim mati syahid. Termasuk, paman beliau yang sangat beliau cintai, yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa ini direkam dalam surah Ali Imran ayat 153, di mana Allah SWT menegaskan pelajaran berharga, apa yang terjadi dan apa akibatnya manakala kaum Muslim berselisih dan bertengkar. Kemenangan yang telah diraih pada tahap pertama justru berbalik menjadi kekalahan. Ini disebabkan pasukan pemanah yang ditugaskan oleh Nabi SAW untuk tetap berada di Jabal Rumah (bukit Panah) malah berselisih paham. Sebagian besar malah turun dari atas bukit itu akibat dipancing tentara Quraisy dengan menebarkan barang-barang berharga di tengah jalan. Akibatnya, pasukan kaum Muslim kehilangan kunci pertahanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah wafat, apa yang beliau khawatirkan ternyata menjadi kenyataan. Munculnya hal-hal, seperti nabi palsu Musailamah al-Kadzab juga terjadi harbu riddah, ialah memerangi orang-orang murtad yang menolak membayar zakat. Bahkan, peristiwa lebih parah terjadi di masa Ali bin Abi Thalib, yaitu perang dengan Mu'awiyyah yang dikenal dengan perang Siffin di mana 80.000 Muslim menjadi korban. Ini adalah kejadian paling gelap dalam sejarah Islam karena perang saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita tarik garis melewati ruang dan waktu, tentu kita bisa mengambil pelajaran bagaimana provokasi-provokasi itu bisa masuk ke tengah-tengah umat meskipun sudah diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dalam kasus Irak, misalnya, bagaimana Syiah menyerang Sunni dan Sunni menyerang Syiah. Ribuan korban telah berjatuhan. Berkali-kali mereka melakukan hal demikian, padahal musuh mereka adalah sang penjajah Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terjadi pada kasus Palestina. Fatah menyerang Hamas dan Hamas menyerang Fatah, padahal musuh mereka adalah zionis Israel. Ini tidak terlepas dari provokasi para penjajah Yahudi atau Amerika. Demikian pula yang dialami kaum Muslim Uighur di Xinjiang. Mereka layak dibela karena mereka diperlakukan secara diskriminatif, yang sejarahnya dulu dianeksasi dari Turkistan (1955). Pemerintah Cina juga mengecap Muslim Uighur sebagai Wahabi, persis seperti istilah yang sering diungkapkan oleh Badan Intelijen Amerika atau yang disebut George Bush dalam pidato-pidatonya. Jadi, manakala umat Islam lemah hingga imunitasnya menurun; para provokator akan segera masuk dan menyelinap ke tengah-tengah umat. Padahal, jelas Allah SWT mengingatkan,  &lt;em&gt;In jaa akum fasiqun binabain fatabayyanuu&lt;/em&gt; (Jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, cek dan riceklah oleh kalian). (QS 49: 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelemahan ini muncul karena kita tidak memiliki sistem informasi yang memadai, membuat seseorang mudah menimpakan tuduhan kepada saudaranya secara serampangan. Kisah sebab turunnya ayat di atas adalah ketika beberapa sahabat diutus Rasulullah SAW untuk menarik zakat dari sebuah negeri. Menjelang perbatasan negeri tersebut, tiba-tiba ada sepasukan berkuda yang mendatangi mereka. Karena salah paham, para sahabat ini berbalik ke arah Madinah karena menyangka akan diserang. Lalu, mereka melaporkan peristiwa ini kepada Rasulullah SAW. Sehingga, beliau pun merasa prihatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak lama kemudian, datanglah utusan dari negeri tersebut. Utusan ini menjelaskan bahwa pasukan mereka justru ingin menyambut kedatangan para sahabat dan bukannya hendak menyerang. Lalu, turunlah ayat tentang  &lt;em&gt;tabayyun&lt;/em&gt; (cek dan ricek) tadi. Oleh sebab itu, ketika kita menerima berita, hendaklah mengecek terlebih dahulu berita tersebut sehingga umat tidak terprovokasi.  Di negeri tercinta ini, Pemilu 2009 telah berlangsung dengan lancar. Dalam pilpres, seluruh calon adalah Muslim, tentunya dengan kualitas masing-masing. Berbagai kekuatan politik merapat membentuk koalisi-koalisi dan ini sah-sah saja secara perundang-undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang memprihatinkan kita adalah sekelompok orang yang mengaku ulama, berpenampilan ulama, dan aktif memprovokasi umat. Bukannya menenteramkan malah  &lt;em&gt;ngipasi&lt;/em&gt; . Dalam hati saya, '' &lt;em&gt;Mbah&lt;/em&gt; Yai, kalau memang tidak tahan atau bernafsu sekali berpolitik, sebaiknya bikin partai saja, lebih  &lt;em&gt;fair kan&lt;/em&gt; ? Daripada seperti main karambol dan umat pun kurang terurus.'' Walhasil, fatwa-fatwa mereka pun ternyata tidak diikuti oleh pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ahli zikir saya ingatkan agar tidak usah bergabung dengan urusan pilpres ini, " &lt;em&gt;Akhi&lt;/em&gt; , pilpres ini hanya tiga bulan, zikir antum masih panjang."Jawabannya simpel, ''Siap,  &lt;em&gt;Bang&lt;/em&gt; . Insya Allah, saya netral.'' Alhamdulillah.  Kita juga menyaksikan bagaimana fitnah-fitnah banyak bertebaran di media. Informasi-informasi yang menyesatkan dan mengeruhkan suasana disebar melalui SMS. Ini bukanlah bentuk upaya-upaya konstruktif dan mencerdaskan umat. Hal ini tentu amat kita sayangkan. Berapa banyak sumber daya bangsa yang akhirnya terbelanjakan sia-sia karena efek provokasi tersebut. Penulis termasuk yang mengalami hal destruktif di atas ketika sebuah media menyajikan secara tidak utuh suatu wawancara sehingga pembaca bisa sampai pada kesimpulan yang  &lt;em&gt;misinterpretasi&lt;/em&gt; .  Apalagi, dibumbui dan di-SMS ke mana-mana sehingga penulis dianggap telah melecehkan jilbab.  &lt;em&gt;Astaghfirullah&lt;/em&gt; !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian terakhir, kita dikejutkan oleh peristiwa tragis bom di kawasan Kuningan Jakarta. Sebentar lagi, dapat kita duga akan ada yang menuding bahwa kelompok Islam-lah yang melakukan pengeboman tersebut. Demikianlah adanya bila kita terus sibuk bertengkar sesama umat. Musuh-musuh bangsa justru memanfaatkan kelengahan dan kelemahan tersebut untuk memperkeruh suasana sehingga membawa dampak yang merugikan bagi bangsa dan negara. Inilah provokasi baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah sebuah realitas bahwa akhir-akhir ini negara-negara lain memiliki pertumbuhan ekonomi yang negatif, sementara Indonesia sebaliknya, bergerak naik, sehingga investasi mengalir deras ke Indonesia. Sebagai sebuah kemungkinan modus, boleh saja dipertimbangkan dugaan adanya keinginan kelompok tertentu untuk memurukkan citra Indonesia dan mendiskreditkan pemerintah. Buktinya, para turis, investor, dan orang yang akan bertandang ke Indonesia mulai berhitung. Bahkan, rencana MU untuk laga tanding di Indonesia langsung dibatalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita menuduh siapa-siapa, sebelum para pengamat memberikan analisisnya,  &lt;em&gt;please&lt;/em&gt; , jangan provokasi lagi umat ini. Pandangan Islam tentang terorisme jelas,  &lt;em&gt;waman yaqtul mu'minan muta'amidan fajazaa uhu jahannam khalidan fiiha&lt;/em&gt; (Dan, siapa yang membunuh satu orang beriman dengan sengaja, baginya neraka jahanam dan kekal di dalamnya). (QS 4: 93).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu, sekali lagi, janganlah kita menjadi provokator umat ini. Marilah kita saling mengingatkan  &lt;em&gt;tawashau bil haq tawashau bishshobr&lt;/em&gt; , untuk tidak terprovokasi. Bila ada berita-berita yang tidak jelas, seyogianya kita mengecek dan ricek kebenarannya. Terkait validitas informasi, sahabat saja ada yang sampai disebut sebagai fasik oleh Allah SWT ketika tidak memerhatikan kebenaran berita.  &lt;em&gt;Wallahua'lam bishawwab&lt;/em&gt; .&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-8601050357436019806?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/8601050357436019806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=8601050357436019806' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8601050357436019806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/8601050357436019806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/provokasi-umat.html' title='Provokasi Umat'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-7983856808456949746</id><published>2009-08-04T13:42:00.000+07:00</published><updated>2009-08-04T13:43:25.317+07:00</updated><title type='text'>(Bukan) Kegamangan Politik Islam</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Oleh:&lt;/strong&gt; Dr Ali Masykur Musa&lt;br /&gt;(Anggota F-PKB DPR RI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegamangan kekuasaan menggelayuti dua ormas besar Islam: Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Arus itu lamat-lamat menyeruak ke publik seiring berakhirnya &lt;em&gt;moment&lt;/em&gt; pilpres. Kemenangan SBY-Boediono sementara berdasarkan rapat pleno KPU pada 25 Juli 2009 serta kekalahan JK-Wiranto dan Mega-Prabowo menjadi pemantik utamanya. Hal itu terkait sinyalemen afiliasi politik Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin dan vulgaritas dukungan politik Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada pasangan capres nomor urut tiga, JK-Wiranto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NU dan Muhammadiyah adalah representasi komunalitas umat Islam di Indonesia. Keduanya secara sosiologis merupakan pewaris arus besar Islam Indonesia. Secara  &lt;em&gt;jam'iah&lt;/em&gt; (organisatoris), keduanya mempunyai basis struktural mengakar kuat dari pusat hingga pedesaan (ranting). Secara  &lt;em&gt;jama'ah&lt;/em&gt; (warga), keduanya adalah basis Islam terbesar, yang jika diakumulasi akan mencapai kisaran 90 hingga 100 juta warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lebih besar pasak daripada tiang. Besarnya dukungan politik ternyata tak sebesar harapan terhadap puluhan juta suara itu. Dukungan politik elite pimpinan ormas besar Islam tak kunjung mendongkrak suara pasangan JK-Wiranto, sebaliknya berada di urutan terbawah. Fakta itu kini melahirkan apa yang saya sebut sebagai 'kegamangan kekuasaan'. Ia muncul sebagai bentuk kekhawatiran psikologis rapuhnya bangunan kultural Islam karena aspek delegitimasi umat Islam kepada elitenya, baik dalam konteks struktural (elite organisasi) maupun secara kultural (kiai dan tokoh berpengaruh lain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Menyikapi kegamangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari operasional kekuasaan praksis, kegamangan menjadi sebuah kewajaran. Meski tak langsung, selama ini NU dan Muhammadiyah diberi bagian turut serta melakukan penataan birokrasi. Salah satu kader mereka acap kali diminta menjadi bagian penting struktur negara. Dengan preseden kurang baik ini, bisa mungkin 'jatah kekuasaan' tak lagi diberikan kepada mereka, melainkan kepada pihak lain. Dalam konteks ini, terjadi semacam pergulatan politik kultural dalam tubuh ormas-ormas Islam sendiri pada perebutan kekuasan. Secara kebetulan, saat ini NU-Muhammadiyah berada pada keberpihakan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditinjau dari domain kultural dan basis ideologisnya, kegamangan psikologis itu tak harus didramatisasi sebagai sebuah tragedi kekuasaan. Di satu sisi, kekalahan pilihan politik itu tidak sampai berefek terlalu parah. Sebab, ijtihad politik semacam itu tidak menjadikan ormas Islam ditinggal oleh warganya. Bagaimanapun warga NU dan Muhammadiyah masih membutuhkan bimbingan, tausiyah, dan pemberdayaan sosial dan keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks nilai ideologis, pandangan politik NU dan Muhammadiyah sesungguhnya serupa meski tak sepenuhnya sama. Di NU, terdapat 'Khittah 1926' dan di Muhammadiyah ada 'Matan Muhammadiyah' sebagai basis nilai organisatoris. Baik khittah maupun matan sepaham untuk mengambil jarak dengan kekuasaan politik praktis sebagai garis pembeda antara gerakan kultural (keagamaan, pendidikan, kesehatan, dan lainnya) dengan gerakan politik kekuasaan. Meski demikian, politik sebagai satu dari sekian variabel pemberdayaan masyarakat harus disikapi secara arif.  &lt;em&gt;Nah&lt;/em&gt; , kearifan itulah yang kini mesti dipraktikkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, fakta politik pilpres mestinya menjadi referensi bahwa umat Islam saat ini berhak mempunyai preverensi pilihan berbeda dengan para tokohnya. Kesadaran atas hak memilih ini mesti disambut baik sebagai bagian dari tren positif demokrasi bangsa ini. Bahwa, rakyat sudah kian dewasa untuk berpikir sendiri dan memilih siapa pun calon yang mereka anggap baik. Pada saat yang sama, fakta ini menyiratkan dua pesan sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, rekonsolidasi atas-bawah. Meski tak verbal, tertanam kesadaran di hampir semua ormas Islam untuk mengambil peran lebih besar dalam konteks kekuasaan politik praktis. Salah satu motivasinya adalah sinergi langsung dengan kekuasaan birokrasi akan mampu memajukan umat Islam secara lebih optimal. Kesadaran itu sesungguhnya menjadi sesuatu yang  &lt;em&gt;latent&lt;/em&gt; .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, jika tidak dikontrol dengan baik, ia akan berubah menjadi syahwat kekuasaan yang tanpa malu-malu dapat menabrak batas nilai etika dan moral. Agar tidak menjadi gerakan 'memalukan', diupayakan memahami terlebih dahulu arah preverensi umat Islam atas pemimpin bangsa ke depan. Caranya, melakukan komunikasi intensif antara elite umat dan warga lapis bawah. Karena itu, mesti dipikirkan sejauh mana efektivitas pola rekonsolidasi umat agar tidak terjadi jurang pemisah atas-bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, rekonstruksi nilai dan pola gerakan. Di antara  &lt;em&gt;natijah&lt;/em&gt; penting usai pilpres adalah dikembalikannya ormas Islam kepada gerakan kultural. Baik NU maupun Muhammadiyah secepatnya meluruskan kembali orientasi perjuangan kulturalnya. Salah satu bentuk percepatannya adalah dengan membangun SDM kader yang akan didistribusikan ke semua bidang kehidupan, baik muamalah (sosial),  &lt;em&gt;ahwal asy syahsiyah&lt;/em&gt; (personalitas), maupun  &lt;em&gt;assiyasah&lt;/em&gt; (politik). Selama ini, belum ada optimalisasi pengkaderan hingga dalam level multidisipliner. Untuk memunculkan tokoh bangsa berkualitas 5-10 tahun ke depan, harus dipersiapkan sejak saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Optimisme&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Elite umat Islam pada umumnya mesti menyikapi kemenangan politik pasangan SBY-Boediono sebagai keniscayaan demokrasi. Adapun kelemahan penyelenggara (KPU) tetap dikoreksi dan diproses sebagaimana mestinya di jalur hukum, mengajukan sengketa pilpres ke MK, misalnya. Sebagaimana keyakinan bersama bahwa ketiga pasangan capres adalah tokoh bangsa. Mereka semua mempunyai konsepsi konstruktif demi pemberdayaan bangsa Indonesia kearah cita-citanya. Karena itu, saya tetap yakin siapa pun pasangan pemenangnya akan tetap menempatkan ormas Islam dan umat Islam secara umum sesuai dengan porsi dan tugasnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY sebagai representasi kalangan nasionalis-religius menjadi capres terpopuler di kalangan rakyat ditinjau dari berbagai segi strategi politik. Sebaliknya,  &lt;em&gt;chemistry&lt;/em&gt; religiositas JK belum mampu mengakomodasi gerbong 'Islam politik' dengan terpecahnya suara umat Islam dalam fragmentasi kewajaran politik. Karakter pemimpin berkarakter nasionalis-religius seperti SBY memang menjadi tren saat ini. Tetapi, tren itu akan berubah lima tahun mendatang, seiring absennya SBY dalam kontestasi pilpres karena terhalang konstitusi (tidak dapat dipilih untuk ketiga kalinya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kemungkinan munculnya tokoh dengan tingkat religiositas mendalam berwawasan nasionalis (religius-nasionalis) akan muncul pada periode 2014 mendatang. Di sinilah kesempatan kader-kader NU-Muhammadiyah tampil sebagai calon pemimpin. dengan basis massa kuat, tokoh dari ormas Islam mempunyai kohesivitas tinggi yang mudah didorong sebagai ikon pemimpin bangsa. Karena itu, tak ada alasan bersikap pesimis saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru pengalaman politik ini berguna sebagai ruang kontemplasi dan pembenahan diri untuk mengerahkan segenap kemampuan peningkatan SDM mumpuni. Di titik ini, rasanya tidak berlebihan jika kader NU atau Muhammadiyah akan menjadi pemimpin bangsa pada 2014 mendatang. Jika  &lt;em&gt;branded&lt;/em&gt; SBY-Boediono adalah nasionalis-religius, ke depan rasanya akan bergeser ke  &lt;em&gt;branded&lt;/em&gt; religius-nasionalis. Maka, mulai saat ini, tak ada alasan kegamangan bagi masa depan politik Islam selama tetap menjunjung tinggi pluralitas. Semoga!&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; (-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-7983856808456949746?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/7983856808456949746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=7983856808456949746' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7983856808456949746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7983856808456949746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/bukan-kegamangan-politik-islam.html' title='(Bukan) Kegamangan Politik Islam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1024395075195859561</id><published>2009-08-04T13:41:00.000+07:00</published><updated>2009-08-04T13:42:20.776+07:00</updated><title type='text'>Darul Islam, Wahabi, Lalu Apa Lagi?</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Herry Nurdi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(penulis, wartawan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan pascaperistiwa 11 September 2001, majalah &lt;em&gt;Time&lt;/em&gt; menurunkan laporan utama tentang jaringan Alqaidah dengan judul &lt;em&gt;Inside Al Qaeda Bin Laden's Web of Terror&lt;/em&gt;. Majalah ini, mendaftar Indonesia sebagai salah satu lokasi jaringan ini berada. Dua organisasi Islam dimasukkan namanya sebagai kepanjangan tangan Alqaidah di Indonesia. Kedua organisasi tersebut adalah Laskar Jihad dan Front Pembela Islam (FPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua organisasi ini dikaitkan karena beberapa aktivitasnya. FPI ditandai dengan kegiatannya melakukan &lt;em&gt;sweeping&lt;/em&gt; pada warga negara asing, terutama warga Amerika di Jakarta. Sedangkan, Laskar Jihad dikaitkan karena aktivitas gerakannya yang dipimpin oleh Ja'far Umar Thalib ini, dalam Jihad Ambon. Apalagi, diketahui bahwa Ja'far Umar Thalib adalah salah satu alumnus Afghanistan, orang-orang Indonesia yang pernah turut berperang di Afghanistan melawan Uni Soviet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, peta ini tak bertahan lama. Baik FPI dan Laskar Jihad memang tak memiliki hubungan dalam &lt;em&gt;network&lt;/em&gt; Alqaidah. Peta baru digelar, dengan mengaitkan gerakan Islam tua di Indonesia, seperti Darul Islam, sebagai akar terorisme di negeri Khatulistiwa. Laporan pertama kali yang menyebut nama organisasi Darul Islam adalah Dr Zachary Abuza, dari Departemen Political Science dan Hubungan Internasional, Simmons College. Laporan yang disusun oleh Zhachary Abuza beredar pada 6 Agustus 2002. Dan setelah itu, banyak nama lain yang bermunculan. Sebut saja, Rohan Gunaratna dengan &lt;em&gt;Inside al Qaeda Global Network of Terror&lt;/em&gt;. Kemudian ada &lt;em&gt;The Seed of Terror&lt;/em&gt; yang disusun oleh Maria A Ressa, kepala biro CNN di Jakarta. Dan yang terakhir muncul, dan sangat kuat merangkai keterkaitan Darul Islam sebagai akar terorisme di Indonesia adalah buku berjudul &lt;em&gt;The Second Front&lt;/em&gt; yang ditulis oleh Ken Conboy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ken Conboy menulis &lt;em&gt;The Second Front&lt;/em&gt; yang ia beri subjudul &lt;em&gt;Inside Asia's Most Dangerous Teroris Network&lt;/em&gt;. Dan di buku ini, Ken Conboy memereteli dan menyusun logika tentang keterlibatan Darul Islam dalam proses kelahiran Jemaah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, setelah halaman 116, dalam bukunya Ken Conboy menyusun foto-foto tokoh yang seolah hendak bercerita secara kronologis. Paling atas ada Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo, lalu turun sedikit ada Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir. Lalu ada gambar peta lokasi Abdul Rasul Sayyaf di perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Bahkan di halaman berikutnya, secara provokatif disusun di halaman yang sama foto Abdul Rahim Ayyub yang disebut-sebut pimpinan Mantiqi IV di wilayah Australia sedang duduk bareng dengan Abu Bakar Ba'asyir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, tampaknya nama yang paling populer dalam urusan laporan jaringan terorisme ini tak ada yang mengalahkan nama Sidney Jones, koordinator Internasional Crisis Group. Sidney Jones begitu gencar mengatakan Darul Islam (DI) yang menjadi mata rantai paling besar gerakan terorisme di Indonesia. Dalam wawancaranya dengan &lt;em&gt;Tempo&lt;/em&gt;, Sidney menerangkan bahwa muncul jaringan bermacam-macam dari DI. Mulai dari Jemaah Islamiyah (Jl), Laskar Jundullah di Makassar, dan Mujahidin Kayamanya. Bahkan KW 9 yang dipimpin oleh Abu Totok alias Panji Gumilang yang juga Pimpinan Al Zaytun, telah disebut oleh Sidney Jones.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyebut nama Darul Islam, bukan sembarangan dampaknya. Sebab, seperti pukat harimau, jika Darul Islam disebut, nyaris semua gerakan Islam bisa terjaring dan kena sasaran. Karena, tidak berlebihan jika disebut Darul Islam adalah akar dari seluruh gerakan Islam di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Darul Islam telah disebut, semua organisasi Islam di Indonesia bisa jadi terkena. Salah satu contohnya adalah ketika dalam laporannya, ICG menyebut nama Abu Jihad. Abu Jihad ini adalah anggota DI generasi Daud Bereueh. Sedangkan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba'asyir dianggap tokoh DI di Jawa Tengah. Darul Islam tidak ada hubungannya dengan Jemaah Islamiyah. DI ada di masa lalu. Sama sekali tak ada hubungannya dengan Jl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, muncul penamaan baru: Wahabi. Tak hanya Wahabi, tapi juga Ikhwanul Muslimin telah disebut-sebut. Konon keduanya, Wahabi dan Ikhwanul Muslimin telah 'melangsungkan' perkawinan silang yang melahirkan anak-anak dengan ideologi sekeras batu dan perilaku gerakan yang militan.&lt;br /&gt;Wahabi sebenarnya bukan istilah baku dalam sumber-sumber rujukan Islam. Wahabi adalah penyebutan sebuah gerakan yang didirikan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at Tamimi al Najdi (1115-1206 H atau 1703-1791 M). Tokoh ini lahir di Uyainah, belajar Islam dari sumber terpercaya, hafal Alquran pada usia 10 tahun dan dapat bermazhab Hambali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zamannya, beliau berhadapan dengan masyarakat yang mengalami kemunduran dan kerancuan akidah Islam. Kehidupan umat Islam nyaris dibelenggu dengan warna dan aroma syirik serta takhayul. Kuburan disembah dan dijadikan tempat berdoa. Kemusyrikan menjadi gejala. Bahkan, dukun serta peramal memainkan peranan penting di tengah kehidupan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan dakwah untuk membersihkan akidah dan memurnikan tauhid. Beliau mengajak umat membersihkan kesadaran dan memperbaiki akidahnya. Dan untuk itu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menulis sebuah risalah pendek yang berjudul &lt;em&gt;Kitabut Tauhid&lt;/em&gt; yang hingga kini masih menjadi rujukan para ulama dalam masalah akidah. Gerakan penyadaran ini lalu berkembang menjadi sebuah kesadaran massal, tidak saja di tempatnya dicetuskan, tapi meluas hampir ke seluruh jazirah Arab, bahkan keluar sampai ke tanah-tanah seberang, termasuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum, gerakan ini memiliki beberapa tokoh ulama yang dijadikan rujukan, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyah, juga Ibnul Qayyim al Jauzi. Dan kelak, gerakan ini menjadi semacam pemantik kebangkitan gerakan-gerakan Islam yang lebih modern dan dianggap sebagai gerakan yang memiliki pengaruh luas di dalam dunia Islam, seperti ide Pan-Islamisme yang dicetuskan oleh Jamaluddin al Afghani, dan juga pemikiran yang dibawa oleh Syaikh Muhammad Abduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara logika, dengan sangat sederhana hal ini bisa dicerna. Mengapa gerakan pemurnian akidah yang diserukan dan diperjuangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini berkembang menjadi ide dan pemikiran yang membahayakan kolonialisme? Sebab, akidah yang murni mendorong manusia untuk melepaskan diri dari menjadi hamba manusia lainnya, dan menjadi hamba Allah SWT semata. Gerakan ini, secara jangka panjang telah mengilhami usaha dan perjuangan kemerdekaan yang sedang membelenggu dunia Islam pada masa-masa itu. Dan tentu saja, gerakan ini telah dipandang sebagai ancaman tersendiri bagi kekuatan-kekuatan kolonial.&lt;br /&gt;Hassan al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin sendiri, bisa dibilang sebagai salah satu anak cucu ideologis dari pemikiran tokoh-tokoh, seperti Syaikh Jamaluddin al Afghani dan juga Syaikh Muhammad Abduh. Maka secara ideologis, di sinilah letak pertemuan antara Wahabi dan Ikhwanul Muslimin yang hari ini disebut-sebut telah memberikan sumbangan besar pada perilaku terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu motif yang bisa dilacak dengan menyebut Wahabi dan Ikhwanul Muslimin sebagai akar ideologis dari masalah teror ini tidak lain untuk memperlebar pukat harimau untuk seluruh gerakan Islam. Maka kelak, bukan hanya gerakan-gerakan yang sudah familier disebut sebagai &lt;em&gt;networking&lt;/em&gt; teroris seperti Jemaah Islamiyah. Tapi, bisa jadi tuduhan akan diperlebar pada elemen-elemen tertentu dari gerakan-gerakan seperti Muhammadiyah, al Irsyad, Persis, bahkan juga Nahdlatul Ulama, bahkan yang lebih bersifat trans-nasional, seperti Hizbut Tahrir dan Jamaah Tabligh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, gerakan-gerakan seperti Muhammadiyah, memiliki unsur ajaran 'Wahabi' yang dibawa oleh KH Ahmad Dahlan saat meluruskan umat Islam dari penyimpangan TBC (Tachayul, Bid'ah, dan Churafat, ejaan lama). Ditambah lagi dengan penyebutan Ikhwanul Muslimin, maka nama partai politik seperti Partai Keadilan Sejahtera di Indonesia, atau PAS di Malaysia, juga menjadi sasaran dari perluasan incaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan mudah, gerakan-gerakan perlawanan seperti Patani United Liberation Organization (PULO) dan Barisan Revolusi Nasional (BRN) yang ada di Thailand Selatan, yang bergerak karena perlawanan akibat ketidakadilan Pemerintahan Thailand, mendapatkan stigma gerakan teroris karena mendapatkan ide tarbiyah dari gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Apalagi gerakan perlawanan seperti Moro Islamic Liberation Front (MILF) yang mendiang pemimpin besarnya, Ustadz Salamat Hashim, adalah seorang Azhari atau lulusan Universitas Al Azhar, Mesir. Dengan sangat mudah gerakan perlawanan dikelompokkan sebagai teroris, apalagi secara tradisional Amerika memang memiliki hubungan erat dengan kepentingan Filipina. Padahal, secara kontekstual gerakan-gerakan seperti yang disebut terakhir ini lahir akibat dari penindasan dan ketidakadilan yang terjadi di negara-negara seperti Thailand dan Filipina.&lt;/p&gt; (-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1024395075195859561?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1024395075195859561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1024395075195859561' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1024395075195859561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1024395075195859561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/08/darul-islam-wahabi-lalu-apa-lagi.html' title='Darul Islam, Wahabi, Lalu Apa Lagi?'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1682067399073576346</id><published>2009-07-24T20:31:00.000+07:00</published><updated>2009-07-24T20:32:59.633+07:00</updated><title type='text'>Wahai Teroris, Apakah Kamu Beragama?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh:&lt;strong&gt; Asro Kamal Rokan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didik Achmad Taufik terbaring tidak berdaya. Hidupnya sederhana. Gajinya sebagai supervisi satpam Hotel JW Marriott habis untuk membiayai kehidupan istri dan dua anaknya--Rafi Ansyah (7) dan Keisya Nailah (1,3)--yang masih kecil. Kini, wajah, bawah telinga, kaki, dan tangan lelaki itu terluka. Bom laknat pada Jumat (17/7) pagi itu membuat keluarga sederhana itu menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bom JW Marriott dan Ritz Carlon di Mega Kuningan, Jakarta Selatan, menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya. Para teroris--perencana, pelaku, pemberi dana, dan bahkan mereka yang mengetahui, namun melindungi--tentu menikmati hasil kekejian mereka, seperti drakula yang puas setelah mengisap darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat pula ini: Chusnul Chotimah, 42 tahun, korban Bom Bali I Oktober 2002 lalu. Bom laknat itu membakar 60 persen tubuhnya. Kaki kirinya kini lumpuh. Warga Jln Hang Tuah Gang II Nomor 85, Sidoarjo, Jatim, itu menderita trauma dan cacat permanen. Setiap tiga bulan dia harus membayar Rp 900 ribu untuk pengobatan. Chusnul menderita selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para teroris, kami berkata kepadamu: Perbuatan biadabmu telah menyebabkan anak-anak kehilangan ayahnya, kehilangan kasih sayang selamanya. Orang-orang tidak berdosa--bahkan di antara mereka mungkin saja saudaramu--bersimbah darah, cacat selamanya, dan lumpuh. Padahal, mereka tidak bersalah apa pun padamu, bahkan tidak pernah menjentikkan jari padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para teroris, kami berkata padamu: Apakah kamu beragama? Apa pun agamamu membunuh pasti dilarang. Apalagi dalam agama Islam yang memuliakan kasih sayang dan mencintai sesama manusia. Seandainya perang sekalipun, diwajibkan melindungi perempuan, anak-anak, hewan, tumbuhan, dan bahkan mengobati musuhmu yang cedera dan tidak berdaya, seperti  Salahuddin Al Ayyubi yang mengobati musuh utamanya, Richard I Lion Heart of England.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kau mengaku beragama Islam, agama damai ini mengajarkanmu bahwa apabila kau membunuh suatu jiwa yang tidak bersalah, itu sama artimya kau telah membunuh manusia seluruhnya. Bahkan, Rasulullah berkata, "Masuk neraka seseorang yang dengan sengaja tidak memberi makan kucingnya hingga kucing itu mati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para teroris, kami berkata padamu: Kau tentulah orang-orang dungu dan sakit jiwa. Kau melawan musuhmu dengan cara membunuh orang lain, yang mungkin saudaramu sendiri, yang tidak punya sangkut paut dengan musuhmu. Dan, kau tentu tahu musuh-musuhmu tidak terpengaruh apa pun atas bom yang kau ledakkan. Tidakkah ini pekerjaan orang-orang dungu dan sakit jiwa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai para teroris, kami berkata padamu: Kau telah menjadikan rakyat bangsa ini menjadi musuhmu, padahal kami tidak pernah menyakitimu. Di mana hatimu, jiwamu, menjadikan rakyat bangsa ini menderita karena kebiadabanmu, nafsu jahatmu, kepengecutanmu. Bagaimana bisa hatimu tenang, tidurmu nyenyak--dan bahkan kau berdoa untuk keselamatan diri dan keluargamu--sementara darah tergenang, kepala dan badannya terlepas karena kebiadabanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau teroris, kami berkata padamu: Apabila ibu, anak, istri, dan keluargamu terbunuh, bagaimana perasaanmu? Jika kau manusia dan memiliki hati, pasti kau marah dan bahkan mungkin menjadi gila. Dapatkah kau mengatakan orang-orang yang kau cintai itu tewas sebagai bagian dari perjuangan, sementara mereka tidak ada hubungan apa pun dengan rencanamu. Mereka tidak berdosa, namun tewas berlumur darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkata padamu: Demi ibumu--yang melahirkan, menyusui, berdoa agar kau menjadi anak yang baik dan berbakti--berhentilah membunuh, menyebar teror. Jangan biarkan darah mengalir, seperti darah yang mengalir dari rahim ibumu dengan kesakitan ketika melahirkanmu. Menyerahlah dan bertobatlah. Ibumu yang telah wafat atau masih hidup pasti bangga punya anak yang pandai minta maaf, pandai mengasihi sesamanya, bukan orang-orang bengis dan dungu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkata padamu dengan sungguh-sungguh: Berhentilah membunuh. Ketika kau membunuh orang-orang tidak bersalah padamu, sama saja kau membunuh seluruh manusia, termasuk ibumu dan keluargamu. Bagaimana kau bisa mendapatkan surga jika kau dengan sengaja dan sangat biadab membunuh saudara-saudaramu?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1682067399073576346?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1682067399073576346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1682067399073576346' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1682067399073576346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1682067399073576346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/07/wahai-teroris-apakah-kamu-beragama.html' title='Wahai Teroris, Apakah Kamu Beragama?'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5002603089679186749</id><published>2009-07-24T20:28:00.000+07:00</published><updated>2009-07-24T20:29:21.998+07:00</updated><title type='text'>Terorisme</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh:&lt;strong&gt; Azyumardi Azra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta pada 17 Juli lalu menyentakkan kesadaran kita bahwa terorisme masih ada di sekitar kita. Selama empat tahun, setelah bom bunuh diri terjadi di Bali pada 2005, negeri kita terhindar dari kenestapaan akibat aksi terorisme pengeboman bunuh diri. Meski dalam kurun waktu itu aparat kepolisian telah membongkar berbagai jaringan kelompok teror di Semarang, Palembang, dan Cilacap belum lama ini, ternyata sel-sel terorisme masih aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan pengeboman di negeri kita sudah cukup panjang. Bermula, khususnya dengan ledakan bom di depan kediaman Dubes Filipina (1 Agustus 2000); Bursa Saham Jakarta (13 September 2000); serangkaian pengeboman menjelang Hari Natal (Desember 2000); bom Bali I (12 Oktober 2002); ledakan di restoran McDonald, Makassar (5 Desember 2002); bom di depan Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta (5 Agustus 2004); bom di kafe karaoke di Poso (10 Januari 2004); bom di depan Kedutaan Besar Australia (9 September 2004); bom di Pasar Tentena (28 Mei 2005); dan bom bunuh diri Bali II (2 Oktober 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan pengeboman menunjukkan, modus aksi terorisme mengalami pergeseran dan peningkatan sehingga kian sulit terdeteksi intelijen dan aparat keamanan lainnya. Jika pada beberapa kasus bom bunuh diri pelaku memakai mobil atau datang dari luar lokasi pengeboman dengan menggendong bomnya, kini dalam kasus terakhir di Marriott dan Ritz Carlton dilakukan dari dalam hotel itu sendiri. Jika sebelumnya bom yang sudah siap meledak dirakit di luar, kini justru dibuat di dalam hotel itu sendiri. Ini sebuah modus baru yang belum terantisipasi sekuritas hotel ataupun aparat kepolisian dan bukan tidak mungkin muncul pula modus-modus baru usai Marriot dan Ritz Carlton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sel-sel teroris yang 'tersisa' kian mempercanggih modus dan metode terornya, tetapi pengamanan untuk mengantisipasi dan mencegah terorisme hampir tidak berubah sejak pengamanan ketat diberlakukan dalam beberapa tahun terakhir ini di hotel-hotel, mal-mal, gedung publik, dan tempat strategis lainnya. Pemeriksaan nyaris telah menjadi kerutinan belaka. Kita semua bisa menyaksikan dan mengalami rutinitas pemeriksaan seperti itu sehingga patut dipertanyakan efektivitasnya. Aparat pengamanan pun tidak bisa terlalu berani melakukan pemeriksaan menyeluruh karena ada resistensi dari yang diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, pemberantasan terorisme memerlukan kerja sama semua pihak, bukan hanya aparat keamanan. Menghadapi terorisme tidak bisa dengan saling mencurigai, apalagi dengan memercayai 'teori konspirasi' bahwa ada pihak tertentu yang merekayasa aksi-aksi teror untuk kepentingan tertentu. Mencurigai pihak tertentu tanpa ada bukti yang dapat diuji dan dipertanggungjawabkan hanyalah berujung pada friksi dan konflik politik dan sosial. Jika ini terjadi, para teroris berhasil mencapai salah satu tujuannya, yaitu konflik di antara berbagai pihak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkat masyarakat akar rumput, peran dalam pencegahan terorisme juga tidak kalah penting. Jika kepemimpinan kelompok teroris sering dikatakan telah tercerai-berai, bisa dipastikan masih terdapat sel-sel yang sangat boleh jadi terus berkecambah. Kecambah tersebut boleh jadi menjadi kian canggih dan radikal. Karena sudah mengetahui cara kerja aparat kepolisian, mereka dapat mengadopsi cara-cara dan modus-modus baru. Dan, sel-sel dan kecambah-kecambah baru kelompok teroris ini juga kelihatannya kian sulit dideteksi. Karena, sangat boleh jadi mereka adalah orang-orang baru yang belum terdapat dalam daftar kepolisian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertumbuhan sel dan kecambah itu tampaknya hanya mungkin terjadi karena adanya orang-orang dalam masyarakat yang tidak mau peduli atau bahkan dalam satu dan lain hal melindungi para teroris tersebut. Bahkan, ada kalangan masyarakat yang mengambil mereka sebagai menantu dan sebagainya. Tidak heran kalau kemudian mereka sangat sulit ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sekali lagi, kerja sama seluruh lapisan masyarakat, pemerintah, aparat keamanan, ormas, dan kepemimpinan sosial sangat mutlak dalam pemberantasan terorisme. Terorisme atas alasan apa pun tidak bisa dibenarkan dan terorisme adalah salah satu bentuk paling telanjang dari kejahatan terhadap kemanusiaan. Bersama-sama bahu-membahu memberantas terorisme merupakan usaha mulia untuk melindungi kemanusiaan.&lt;/p&gt; (-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5002603089679186749?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5002603089679186749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5002603089679186749' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5002603089679186749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5002603089679186749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/07/terorisme.html' title='Terorisme'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-7814463215088331700</id><published>2009-07-24T20:26:00.000+07:00</published><updated>2009-07-24T20:27:02.652+07:00</updated><title type='text'>Bom dan Isu Terorisme</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh Ismatillah A Nu'ad&lt;br /&gt;(Peneliti PSIK Universitas Paramadina, Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teror bom kembali mengguncang Jakarta Jumat kemarin. Tak tanggung-tanggung, tiga  tempat menjadi sasarannya, antara lain, Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton Kuningan serta di wilayah Muara Angke, yang merupakan tempat sentral bagi operasional PLN dan Pertamina. Puluhan korban jiwa pun tak bisa dielakkan lagi, baik warga negara Indonesia maupun ekspatriat yang tengah berada di hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diduga adanya analisis bahwa itu merupakan tindakan terorisme yang dilakukan oleh pihak tertentu dalam rangka ingin memperkeruh keadaan, baik pascapemilu maupun yang mencoba ingin memunculkan kembali stigma terorisme yang berdalih keagamaan. Meskipun oleh beberapa pihak menyebut kecenderungan kedua lebih kuat, terkait isu-isu bernuansa keagamaan yang dewasa ini mencuat kembali kepermukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mungkin masih ingat, teror serupa pernah terjadi di Kuningan Jakarta pada tahun 2003 dan 2004, yakni di Hotel JW Marriot dan Kedutaan Besar Australia. Peristiwa saat itu menambah deretan kelam teror bom di Indonesia pascaperistiwa bom Bali 1 dan 2 tahun 2002. Terorisme yang dibalut dengan wajah keagamaan-Islam saat itu sangat populer pascaperistiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat. Para pengamat Barat menyebutnya sebagai kebangkitan gerakan fundamentalis Islam, yang mencoba melakukan perlawanan pada Barat sebagai pihak yang mengecewakan. Apalagi, saat itu AS masih dikendalikan Bush yang tergolong orang yang memiliki overdosis keagamaan dan ambisius melakukan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah teror bom Kuningan dan Muara Angke merupakan kelanjutan gerakan fundamentalis yang belum padam? Mengingat jejak-jejak terorisme di Indonesia masih ada, misalnya yang terakhir, kasus penangkapan di Palembang pada awal medio 2009. Di satu sisi, agenda itu memang belum selesai, seperti ingin melakukan perlawanan setidaknya terhadap sektor-sektor yang diindikasi milik Barat. Meskipun di sisi lain hal itu perlu penelusuran lagi. Jeffrey K Hadden dalam &lt;em&gt;Prophetic Religion and Politic&lt;/em&gt; (1986) pernah menanyakan perihal kaum fundamentalis yang tidak menciptakan peradabannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum fundamentalis mengalami kebangkrutan di mata orang Barat karena memusuhinya tanpa dibarengi dengan alasan yang kuat dan kompetisi yang  &lt;em&gt;fair&lt;/em&gt; . Dan, mereka juga mengalami kebangkrutan di mata Muslim lain yang moderat dan kritis, atau kaum Muslim yang selama ini tak memaknai Barat sebagai musuh, akan tetapi sebagai partner dialog yang saling mengisi satu dengan lainnya. Mayoritas Muslim bahkan tak setuju atau mengecam tindakan-tindakan ekstremisme, radikalisme, dan terorisme yang dilakukan kaum fundamentalis dalam menghadapi Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tak memiliki pijakan, 'tradisi' yang selama ini dilakukan dalam aktivitas kaum fundamentalis justru tak disukai, bahkan dibenci oleh Muslim sebagai komunitas umat dalam arti universal. Fundamentalisme di dunia Islam justru adalah kelompok minoritas,  &lt;em&gt;subaltern&lt;/em&gt; , dan merupakan kelompok periferi yang tak secara terang-terangan melakukan aktivitasnya, di dalam komunitas Muslim itu sendiri secara keseluruhan. Islam yang ditarik kaum fundamentalis ke dalam pengertian ekstremisme, radikalisme, terorisme jelas tak memiliki pijakan yang kuat dari sumber-sumber suci ajaran Islam. Mengartikan 'melakukan aksi terorisme terhadap Barat' berarti Jihad, misalnya, jelas suatu kesimpulan yang tak bisa dipertanggungjawabkan karena hal itu justru bertentangan dengan ajaran Islam yang mencintai persahabatan, perdamaian, dan jalan dialog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, secara tegas dikatakan Majid Khadduri, jika mengartikan jihad sebagai perang melawan musuh, itu pun ketika kondisi sudah tak memungkinkan untuk melakukan jalan damai, dalam kondisi terdesak, di mana musuh memang akan memerangi kaum Muslim maka kita wajib membela jiwa kita. Secara ekstensif Khadduri menegaskan, meskipun jihad adalah suatu tindakan kekerasan, akan tetapi dalam Islam, jihad sendiri memiliki aturan-aturan yang harus diperhatikan, seperti tak membunuh musuh yang sudah benar-benar menyerah, tak menganiaya orang cacat, melindungi anak-anak dan kaum perempuan, tak boleh merusak makhluk hidup, seperti pepohonan dan lain-lain. Selanjutnya, menurut Khadduri, jika jihad telah selesai dan perdamaian tercapai, hukum berlaku bagi seluruh kaum Muslim termasuk ketika ia berada di luar wilayah Islam. Demikian pula, kaum non-Muslim harus mematuhi aturan yang telah ditetapkan dalam wilayah Islam, jika ia sedang berada di wilayah tersebut. Seandainya terjadi perselisihan, Islam mengutamakan jalan damai, dan Islam dapat menempatkan hak-hak kaum non-Muslim itu. (Majid Khadduri,  &lt;em&gt;War and Peace in the Law of Islam&lt;/em&gt; , 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum fundamentalis di situ mengalami kebangkrutan, tak hanya karena aktivitasnya yang ekstrem, radikal, dan aksi-aksi teror yang ternyata tak dimufakati oleh komunitas Muslim secara menyeluruh. Tetapi, kaum fundamentalis yang selama ini mengaktualisasi dalam aktivitas politik yang direpresentasi kelompok politik Islam, juga mengalami kebangkrutan di dunia Islam. Karena ketika mereka sudah memperoleh kursi kekuasaan-politik, yang terjadi adalah konflik kepentingan ( &lt;em&gt;vested interest&lt;/em&gt; ), berebut kekuasaan, dan justru mengabaikan pesan-pesan substansial Islam yang mengajarkan keadilan dan kemaslahatan. Kelompok politik Islam terlena dengan glamouritas politik dan ingar bingar kekuasaan yang empuk, sementara janji-janji yang semula ditawarkan terlupakan begitu saja ketika sudah bergumul dengan arus politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga suatu kecenderungan ketika kelompok politik Islam sudah mendapat simpati massa Muslim, lalu berkuasa dalam panggung politik-kekuasaan karena mendapat suara mayoritas, yang terjadi adalah suatu ketimpangan dan ambiguitas perihal siapakah yang sesungguhnya yang memegang kekuasaan itu? Di situ, kelompok politik Islam memegang otoritas keduniawian atas nama Tuhan. Segala tindakan politik dinisbatkan atas nama Tuhan. Sehingga, terjadi wilayah abu-abu mana sebetulnya kepentingan manusia dan mana yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan dalam pesan-pesan suci-Nya. Sebab, kerapkali terjadi praktik-praktik otoritarianisme dalam negara-negara Islam dengan mengatasnamakan kedaulatan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khaled Abou al-Fadl dalam bukunya  &lt;em&gt;And God Knows the Soldiers&lt;/em&gt; (2001) mengkritik model-model berkuasa, seperti kelompok politik Islam yang selalu menggunakan dalih-dalih kedaulatan Tuhan, padahal demi kepentingan politik. Menurut Prof Khaled, kesewenang-wenangan (otoritarianisme) yang mewujud dengan mengangkangi teks-teks suci Islam adalah bagian dari kecenderungan puritan dan despotik, yang sudah mewabah di era Islam modern. Inilah sebentuk model kepahlawanan agama yang justru mengancam dan menyapu-bersih kekayaan dan keragaman khazanah warisan peradaban Islam. Dengan mengklaim 'bala tentara Tuhan', kaum fundamentalis yang menggawangi kekuatan politik Islam itu tak segan-segan memberangus pemikiran kritis dan mengosongkan Islam dari ajaran-ajaran moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya Islam yang diwakili oleh komunitas umat yang justru menjadi mayoritas, baik mereka yang moderat, yang kritis yang selama ini memperjuangkan demokrasi, HAM dan  &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt; , dan Muslim tradisional, mempromosikan secara global bahwa Islam adalah suatu ajaran yang  &lt;em&gt;rahmatan lil alamin&lt;/em&gt; , cinta damai dan persahabatan, cinta keadilan dan kemaslahatan. Dan, sebaliknya menegaskan bahwa praktik-praktik kekerasan dalam ekstremisme, radikalisme, terorisme, dan fundamentalisme bukanlah mewakili Islam itu sendiri, melainkan mewakili kelompok politiknya masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-7814463215088331700?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/7814463215088331700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=7814463215088331700' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7814463215088331700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7814463215088331700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/07/bom-dan-isu-terorisme.html' title='Bom dan Isu Terorisme'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5107539885759822544</id><published>2009-07-24T20:23:00.000+07:00</published><updated>2009-07-24T20:24:45.280+07:00</updated><title type='text'>Perilaku Keberagaman di Indonesia</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;       &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;Oleh M Ridwan Lubis&lt;br /&gt;(Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada dua prestasi yang akan diperoleh manusia manakala mereka memiliki etos keberagamaan. Pertama, agama melahirkan etos kerja yang dinamis, kreatif, dan inovatif. Berbeda halnya dengan pandangan pesimisme tentang keberagamaan. Beragama menjadikan diri mereka meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik Allah, dan sepenuhnya dianugerahkan kepada manusia untuk mengelolanya, agar menjadikan kehidupan mereka menjadi lebih baik. Perilaku malas dan menjadi manusia yang menggantungkan nasibnya pada orang lain adalah bukan bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, ketentuan tentang nasib dan takdir Allah diyakini adalah merupakan ilmu Allah, yang tidak bisa diukur oleh manusia. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk pasrah saja karena telah ada takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir Allah tidak akan diketahui oleh manusia sebelum ketentuan Allah itu telah terjadi. Pemahaman tentang takdir yang demikianlah yang telah menjadi faktor utama umat Islam pada masa kejayaan Islam, telah berhasil membangun kehidupan yang disebut dengan peradaban Islam. Umat yang memiliki etos kerja yang demikian pada masa lalu meyakini dengan jelas bahwa berkarya untuk kepentingan umat manusia adalah ibadah. Dalam kaitan itulah, umat Islam pada masa lalu menghasilkan berbagai hasil penemuan ilmiah yang sampai sekarang masih terus dikenang oleh dunia sains, sebagaimana dengan laporan suplemen surat kabar &lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt; yang diberi judul  &lt;em&gt;Islamic Digest&lt;/em&gt; . Oleh karena itu, tidak benar pandangan kaum orientalis yang memiliki pandangan skeptis terhadap Islam dengan mengatakan, kepercayaan terhadap Islam menjadi sumber kemunduran umat Islam karena sejarah telah membuktikan ketika umat Islam berpegang kepada ajarannya, mereka berhasil menorehkan peradaban yang belum ada taranya sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keberagamaan yang benar akan mendorong umat Islam membangun semangat  &lt;em&gt;ukhuwah islamiyah&lt;/em&gt; di kalangan internal Muslim, solidaritas  &lt;em&gt;ukhuwah wathoniah&lt;/em&gt; di kalangan saudara sebangsa, dan solidaritas  &lt;em&gt;ukhuwah basyariyah&lt;/em&gt; dalam pergaulan antarbangsa di dunia. Solidaritas persaudaraan sesama Muslim menjadi begitu penting, disebabkan Islam telah terfragmentasi ke dalam berbagai mazhab, baik dalam ilmu kalam, fikih, dan tasawuf. Dan, untuk kasus Indonesia sekalipun umat Islam rata-rata beraliran Sunni, akan tetapi memiliki komunitas yang berbeda, seperti pengelompokan yang dilakukan kalangan sosiolog, yaitu muslim tradisional dan modernis, dan sebutan yang lebih khusus di Sumatra, yaitu kaum tua dan kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik temu di dalam Islam sangat banyak, akibat dari adanya kesepakatan tentang garis-garis pokok yang bersifat absolut dan universal, yang menjadi acuan keislaman. Kerangka acuan pokok yang telah menjadi kesepakatan umat Islam, antara lain rukun iman, rukun Islam, kesatuan kiblat, Alquran Al Karim, Hadis Shahih, halal dan haram, persaudaraan sesama Muslim. Fragmentasi Islam ke dalam berbagai aliran, bahkan organisasi tentunya tidak bisa dihalangi. Oleh karena itu, bagian dari kebebasan manusia mengekspresikan hasil pemahaman, penghayatan, dan pengamalannya terhadap ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta teoretis menunjukkan bahwa prestasi peradaban itu dihasilkan umat Islam, bukan tidak melalui perjuangan. Masyarakat arab sebelumnya adalah masyarakat yang miskin peradaban, bahkan mereka tidak mengenal sistem pemerintahan kecuali kepemimpinan yang dikendalikan oleh kepala-kepala suku. Rasulullah yang memperkenalkan kepada mereka sistem pemerintahan, yang merupakan cikal bakal bentuk negara konfederasi. Eksistensi kepala kabilah tetap dipelihara, namun Rasulullah membentuk sistem kepemimpinan puncak yang mengatasi seluruh kepala kabilah. Itulah embrio negara kebangsaan modern yang diperkenalkan Nabi Muhammad ribuan tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berubahnya Semenanjung Arabia menjadi pusaran dari masyarakat kosmopolitan sebagai konsekuensi Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam, tiba-tiba mereka dihadapkan kepada tantangan besar untuk melebarkan sayap Islam keluar dari Semenanjung Arabia. Tantangan ini dapat mereka selesaikan dengan dilandasi oleh keteguhan sikap, untuk menyiarkan Islam. Dari sudut pandangan sederhana kecil, kemungkinan Islam dapat menyebar ketiga benua yang dikenal waktu itu: Asia, Afrika, dan sebagian Eropa dalam rentang waktu yang belum mencapai satu abad. Tentulah ada faktor lain,  &lt;em&gt;kenapa&lt;/em&gt; Islam dapat tersebar dalam waktu yang amat singkat dibandingkan agama alain yang sudah ratusan, bahkan ribuan tahun tidak terlalu jauh bergerak dari negeri asal usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, penyiaran Islam tidak didasari oleh motivasi yang berwawasan keduniaan untuk mencari materi, akan tetapi oleh karena tekad mencari keridhaan Allah. Hal ini tentunya merupakan bukti kebenaran janji Allah bahwa ''Hai orang-orang yang beriman jikalau kamu menolong (agama) Allah, pastilah Allah akan menolong kamu dan menetapkan pendirian kamu.'' (QS Muhammad [47]). Posisi Mekkah sebagai titik sumbu yang menghubungkan arus perdagangan komoditas antara timur dan barat, menjadi keunggulan dalam membantu kemudahan membangun komunikasi tentang datangnya agama baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Islam dengan ide-ide baru, membentuk opini tentang kedatangan agama baru sebagai kekuatan pembebas yang dirindukan manusia. Sebab, terlalu manusia menderita perilaku eksploitatif yang dilakukan para penguasa feodal, yang mengatasnamakan agama. Kedua, agama baru, yaitu Islam tidak sebagaimana agama-agama sebelumnya yang kehilangan elemen vitalnya, akibat ditundukkan kepada kepentingan manusia. Islam datang dengan membawa pesan sosial, yaitu kekuatan pembebasan yang memerdekakan manusia dari perbuatan eksploitatif, dengan mengatasnamakan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, semestinya ajaran agama adalah berperan menolong manusia dari berbagai perilaku sosial yang eksploitatif itu. Sikap eksploitatif itu, antara lain, ditunjukkan kalangan pemuka agama yang menjadikan agama sebagai alat untuk merampas hak dan kemerdekaan orang lain ( &lt;em&gt;religio feodalism&lt;/em&gt; ). Atas dasar itu, Islam datang dengan membawa wajah baru agama yang membebaskan manusia dari perilaku perbudakan, diskriminasi manusia karena perbedaan jenis kelamin, ras, maupun kelas-kelas sosial lainnya. Akibatnya, manusia di seputar Semenanjung Arabia berlomba-loma menerima agama baru, yang membebaskan mereka dari cengkeraman kelaliman penguasa Persia dan Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Islam tidak hanya datang dengan modal ajaran dalam bentuk pengayaan kerohanian ( &lt;em&gt;spritual enrichment&lt;/em&gt; ), tetapi kehadirannya membawa model baru agama, yaitu mengintegrasikan antara nilai agama dan kehidupan demikian juga mengakomodasi berbagai perilaku dan tradisi sosial, sebagai bagian dari sarana penyiaran Islam. Tentunya masyarakat yang dihargai tradisinya atas nama Islam, dengan sendirinya akan menimbulkan sikap yang responsif terhadap agama baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama yang baru bukan saja menawarkan ajaran yang sama sekali baru dibanding dengan agama-agama sebelumnya, melainkan yang lebih penting lagi bahwa agama yang datang belakang tidak dipahami sebagai pendatang, namun dipahami masyarakat sebagai milik mereka yang hilang, sebagaimana dinyatakan Rasul dalam sebuah hadisnya, ilmu itu adalah barang hilang dari orang beriman. Oleh karena itu, sama sekali mereka tidak mengalami ketegangan psikologis dengan menerima agama yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Islam datang tidak hanya membawa pesan-pesan moral, tetapi juga konsep nyata tentang rekonstruksi kehidupan yang ideal dan mensinergikan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi. Coba bandingkan dengan ajaran sebelumnya bahwa kehidupan duniawi dipahami sebagai perilaku kotor, yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan manusia. Pandangan yang memisahkan antara dunia akhirat, di samping terdapat kesulitan juga bertentangan dengan kenyataan bahwa manusia masih berada di alam dunia. Islam datang dengan memperkenalkan konsep baru bahwa dunia adalah jembatan menuju ke alam akhirat, yang kemudian ditegaskan oleh Alquran: ''Dan carilah pada apa yang telah dinugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.'' (QS Al Qasas [28]: 77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, seorang Muslim dalam melakukan penyiaran Islam memulai dengan pendekatan Alquran, yaitu membangun kesadaran pada manusia tentang arah kehidupan yang benar dengan jalan membangun dialog, untuk memacu potensi rasionalitas manusia dalam menerima sebuah kebenaran. Karena, kekuatan sebuah ajaran terletak pada penggunaan potensi akal dengan sempurna. Sehingga, ajaran yang datang diendapkan oleh akal dan diterima sebagai fakta kebenaran. Kebenaran yang dibangun di atas rasionalitas, memiliki kekuatan internal yang sukar untuk berubah, sekalipun ada ancaman dan kesulitan fisik yang dihadapi. Hal ini tergambar pada kesungguhan mereka pada masa kejayaan Islam, kesungguhan mereka untuk mencari kebenaran sebuah informasi sekalipun berjalan selama berbulan-bulan. Karena, seorang Muslim tentulah menyadari bahwa di balik sebuah kesulitan, Allah telah menjanjikan akan datangnya kemudahan yang tidak terkira-kira (QS Al Syarh [94]:5-6). Dengan melalui pendekatan yang dialogis itu, diimbangi dengan pola penyampaian ajaran secara berangsur-angsur ( &lt;em&gt;al tadrij fi al dakwah&lt;/em&gt; ), memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengendapkan ingatan terhadap ajaran yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, tentunya cepatnya penyebaran Islam sampai ke Nusantara, yang menjadi faktor dominan adalah kemampuan para mubalig, menjadikan diri mereka sebagai masyarakat model yang Islami dalam mengimplementasikan nilai-nilai keislaman. Sehingga, masyarakat melihat bahwa apa yang mereka sampaikan sudah terlebih dahulu mereka laksanakan, dalam kehidupan pribadi maupun keluarganya. Sekarang ini, perkembangan Islam mengalami perlambatan, bahkan umat Islam seakan memilih posisi defensif terhadap isu-isu global maupun berbagai kesalahpahaman orang lain terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak terlepas dari kekurangberhasilan perilaku sebagian umat yang menyatakan diri sebagai Muslim, namun belum terpancar keluhuran nilai-nilai Islam kepribadiannya. Dari yang semula umat Islam sebagai produsen ilmu pengetahuan, berubah menjadi konsumen sains. Sikap proaktif terhadap perubahan kemudian menjadi reaktif terhadap hal-hal yang baru. Hal ini semua berpangkal dari adanya semacam kegamangan umat Islam menangkap Islam pada pemikiran yang rasional-substantif. Sehingga, terkadang rekan sendiri justru yang dijadikan sebagai saingan karena perbedaan simbol. Hal ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi umat Islam, kebetulan sekarang bertepatan dengan suasana peringatan Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW dan sekaligus menjelang bulan Ramadhan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5107539885759822544?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5107539885759822544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5107539885759822544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5107539885759822544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5107539885759822544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/07/perilaku-keberagaman-di-indonesia_24.html' title='Perilaku Keberagaman di Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6610791004237147186</id><published>2009-07-19T07:17:00.000+07:00</published><updated>2009-07-19T07:18:33.216+07:00</updated><title type='text'>Perilaku Keberagaman di Indonesia</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh M Ridwan Lubis&lt;br /&gt;(Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada dua prestasi yang akan diperoleh manusia manakala mereka memiliki etos keberagamaan. Pertama, agama melahirkan etos kerja yang dinamis, kreatif, dan inovatif. Berbeda halnya dengan pandangan pesimisme tentang keberagamaan. Beragama menjadikan diri mereka meyakini bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik Allah, dan sepenuhnya dianugerahkan kepada manusia untuk mengelolanya, agar menjadikan kehidupan mereka menjadi lebih baik. Perilaku malas dan menjadi manusia yang menggantungkan nasibnya pada orang lain adalah bukan bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu, ketentuan tentang nasib dan takdir Allah diyakini adalah merupakan ilmu Allah, yang tidak bisa diukur oleh manusia. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk pasrah saja karena telah ada takdir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir Allah tidak akan diketahui oleh manusia sebelum ketentuan Allah itu telah terjadi. Pemahaman tentang takdir yang demikianlah yang telah menjadi faktor utama umat Islam pada masa kejayaan Islam, telah berhasil membangun kehidupan yang disebut dengan peradaban Islam. Umat yang memiliki etos kerja yang demikian pada masa lalu meyakini dengan jelas bahwa berkarya untuk kepentingan umat manusia adalah ibadah. Dalam kaitan itulah, umat Islam pada masa lalu menghasilkan berbagai hasil penemuan ilmiah yang sampai sekarang masih terus dikenang oleh dunia sains, sebagaimana dengan laporan suplemen surat kabar &lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt; yang diberi judul  &lt;em&gt;Islamic Digest&lt;/em&gt; . Oleh karena itu, tidak benar pandangan kaum orientalis yang memiliki pandangan skeptis terhadap Islam dengan mengatakan, kepercayaan terhadap Islam menjadi sumber kemunduran umat Islam karena sejarah telah membuktikan ketika umat Islam berpegang kepada ajarannya, mereka berhasil menorehkan peradaban yang belum ada taranya sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keberagamaan yang benar akan mendorong umat Islam membangun semangat  &lt;em&gt;ukhuwah islamiyah&lt;/em&gt; di kalangan internal Muslim, solidaritas  &lt;em&gt;ukhuwah wathoniah&lt;/em&gt; di kalangan saudara sebangsa, dan solidaritas  &lt;em&gt;ukhuwah basyariyah&lt;/em&gt; dalam pergaulan antarbangsa di dunia. Solidaritas persaudaraan sesama Muslim menjadi begitu penting, disebabkan Islam telah terfragmentasi ke dalam berbagai mazhab, baik dalam ilmu kalam, fikih, dan tasawuf. Dan, untuk kasus Indonesia sekalipun umat Islam rata-rata beraliran Sunni, akan tetapi memiliki komunitas yang berbeda, seperti pengelompokan yang dilakukan kalangan sosiolog, yaitu muslim tradisional dan modernis, dan sebutan yang lebih khusus di Sumatra, yaitu kaum tua dan kaum muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik temu di dalam Islam sangat banyak, akibat dari adanya kesepakatan tentang garis-garis pokok yang bersifat absolut dan universal, yang menjadi acuan keislaman. Kerangka acuan pokok yang telah menjadi kesepakatan umat Islam, antara lain rukun iman, rukun Islam, kesatuan kiblat, Alquran Al Karim, Hadis Shahih, halal dan haram, persaudaraan sesama Muslim. Fragmentasi Islam ke dalam berbagai aliran, bahkan organisasi tentunya tidak bisa dihalangi. Oleh karena itu, bagian dari kebebasan manusia mengekspresikan hasil pemahaman, penghayatan, dan pengamalannya terhadap ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta teoretis menunjukkan bahwa prestasi peradaban itu dihasilkan umat Islam, bukan tidak melalui perjuangan. Masyarakat arab sebelumnya adalah masyarakat yang miskin peradaban, bahkan mereka tidak mengenal sistem pemerintahan kecuali kepemimpinan yang dikendalikan oleh kepala-kepala suku. Rasulullah yang memperkenalkan kepada mereka sistem pemerintahan, yang merupakan cikal bakal bentuk negara konfederasi. Eksistensi kepala kabilah tetap dipelihara, namun Rasulullah membentuk sistem kepemimpinan puncak yang mengatasi seluruh kepala kabilah. Itulah embrio negara kebangsaan modern yang diperkenalkan Nabi Muhammad ribuan tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berubahnya Semenanjung Arabia menjadi pusaran dari masyarakat kosmopolitan sebagai konsekuensi Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam, tiba-tiba mereka dihadapkan kepada tantangan besar untuk melebarkan sayap Islam keluar dari Semenanjung Arabia. Tantangan ini dapat mereka selesaikan dengan dilandasi oleh keteguhan sikap, untuk menyiarkan Islam. Dari sudut pandangan sederhana kecil, kemungkinan Islam dapat menyebar ketiga benua yang dikenal waktu itu: Asia, Afrika, dan sebagian Eropa dalam rentang waktu yang belum mencapai satu abad. Tentulah ada faktor lain,  &lt;em&gt;kenapa&lt;/em&gt; Islam dapat tersebar dalam waktu yang amat singkat dibandingkan agama alain yang sudah ratusan, bahkan ribuan tahun tidak terlalu jauh bergerak dari negeri asal usulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, penyiaran Islam tidak didasari oleh motivasi yang berwawasan keduniaan untuk mencari materi, akan tetapi oleh karena tekad mencari keridhaan Allah. Hal ini tentunya merupakan bukti kebenaran janji Allah bahwa ''Hai orang-orang yang beriman jikalau kamu menolong (agama) Allah, pastilah Allah akan menolong kamu dan menetapkan pendirian kamu.'' (QS Muhammad [47]). Posisi Mekkah sebagai titik sumbu yang menghubungkan arus perdagangan komoditas antara timur dan barat, menjadi keunggulan dalam membantu kemudahan membangun komunikasi tentang datangnya agama baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Islam dengan ide-ide baru, membentuk opini tentang kedatangan agama baru sebagai kekuatan pembebas yang dirindukan manusia. Sebab, terlalu manusia menderita perilaku eksploitatif yang dilakukan para penguasa feodal, yang mengatasnamakan agama. Kedua, agama baru, yaitu Islam tidak sebagaimana agama-agama sebelumnya yang kehilangan elemen vitalnya, akibat ditundukkan kepada kepentingan manusia. Islam datang dengan membawa pesan sosial, yaitu kekuatan pembebasan yang memerdekakan manusia dari perbuatan eksploitatif, dengan mengatasnamakan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, semestinya ajaran agama adalah berperan menolong manusia dari berbagai perilaku sosial yang eksploitatif itu. Sikap eksploitatif itu, antara lain, ditunjukkan kalangan pemuka agama yang menjadikan agama sebagai alat untuk merampas hak dan kemerdekaan orang lain ( &lt;em&gt;religio feodalism&lt;/em&gt; ). Atas dasar itu, Islam datang dengan membawa wajah baru agama yang membebaskan manusia dari perilaku perbudakan, diskriminasi manusia karena perbedaan jenis kelamin, ras, maupun kelas-kelas sosial lainnya. Akibatnya, manusia di seputar Semenanjung Arabia berlomba-loma menerima agama baru, yang membebaskan mereka dari cengkeraman kelaliman penguasa Persia dan Romawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Islam tidak hanya datang dengan modal ajaran dalam bentuk pengayaan kerohanian ( &lt;em&gt;spritual enrichment&lt;/em&gt; ), tetapi kehadirannya membawa model baru agama, yaitu mengintegrasikan antara nilai agama dan kehidupan demikian juga mengakomodasi berbagai perilaku dan tradisi sosial, sebagai bagian dari sarana penyiaran Islam. Tentunya masyarakat yang dihargai tradisinya atas nama Islam, dengan sendirinya akan menimbulkan sikap yang responsif terhadap agama baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama yang baru bukan saja menawarkan ajaran yang sama sekali baru dibanding dengan agama-agama sebelumnya, melainkan yang lebih penting lagi bahwa agama yang datang belakang tidak dipahami sebagai pendatang, namun dipahami masyarakat sebagai milik mereka yang hilang, sebagaimana dinyatakan Rasul dalam sebuah hadisnya, ilmu itu adalah barang hilang dari orang beriman. Oleh karena itu, sama sekali mereka tidak mengalami ketegangan psikologis dengan menerima agama yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, Islam datang tidak hanya membawa pesan-pesan moral, tetapi juga konsep nyata tentang rekonstruksi kehidupan yang ideal dan mensinergikan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi. Coba bandingkan dengan ajaran sebelumnya bahwa kehidupan duniawi dipahami sebagai perilaku kotor, yang harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan manusia. Pandangan yang memisahkan antara dunia akhirat, di samping terdapat kesulitan juga bertentangan dengan kenyataan bahwa manusia masih berada di alam dunia. Islam datang dengan memperkenalkan konsep baru bahwa dunia adalah jembatan menuju ke alam akhirat, yang kemudian ditegaskan oleh Alquran: ''Dan carilah pada apa yang telah dinugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain), sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.'' (QS Al Qasas [28]: 77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, seorang Muslim dalam melakukan penyiaran Islam memulai dengan pendekatan Alquran, yaitu membangun kesadaran pada manusia tentang arah kehidupan yang benar dengan jalan membangun dialog, untuk memacu potensi rasionalitas manusia dalam menerima sebuah kebenaran. Karena, kekuatan sebuah ajaran terletak pada penggunaan potensi akal dengan sempurna. Sehingga, ajaran yang datang diendapkan oleh akal dan diterima sebagai fakta kebenaran. Kebenaran yang dibangun di atas rasionalitas, memiliki kekuatan internal yang sukar untuk berubah, sekalipun ada ancaman dan kesulitan fisik yang dihadapi. Hal ini tergambar pada kesungguhan mereka pada masa kejayaan Islam, kesungguhan mereka untuk mencari kebenaran sebuah informasi sekalipun berjalan selama berbulan-bulan. Karena, seorang Muslim tentulah menyadari bahwa di balik sebuah kesulitan, Allah telah menjanjikan akan datangnya kemudahan yang tidak terkira-kira (QS Al Syarh [94]:5-6). Dengan melalui pendekatan yang dialogis itu, diimbangi dengan pola penyampaian ajaran secara berangsur-angsur ( &lt;em&gt;al tadrij fi al dakwah&lt;/em&gt; ), memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengendapkan ingatan terhadap ajaran yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, tentunya cepatnya penyebaran Islam sampai ke Nusantara, yang menjadi faktor dominan adalah kemampuan para mubalig, menjadikan diri mereka sebagai masyarakat model yang Islami dalam mengimplementasikan nilai-nilai keislaman. Sehingga, masyarakat melihat bahwa apa yang mereka sampaikan sudah terlebih dahulu mereka laksanakan, dalam kehidupan pribadi maupun keluarganya. Sekarang ini, perkembangan Islam mengalami perlambatan, bahkan umat Islam seakan memilih posisi defensif terhadap isu-isu global maupun berbagai kesalahpahaman orang lain terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak terlepas dari kekurangberhasilan perilaku sebagian umat yang menyatakan diri sebagai Muslim, namun belum terpancar keluhuran nilai-nilai Islam kepribadiannya. Dari yang semula umat Islam sebagai produsen ilmu pengetahuan, berubah menjadi konsumen sains. Sikap proaktif terhadap perubahan kemudian menjadi reaktif terhadap hal-hal yang baru. Hal ini semua berpangkal dari adanya semacam kegamangan umat Islam menangkap Islam pada pemikiran yang rasional-substantif. Sehingga, terkadang rekan sendiri justru yang dijadikan sebagai saingan karena perbedaan simbol. Hal ini hendaknya menjadi bahan renungan bagi umat Islam, kebetulan sekarang bertepatan dengan suasana peringatan Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW dan sekaligus menjelang bulan Ramadhan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6610791004237147186?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6610791004237147186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6610791004237147186' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6610791004237147186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6610791004237147186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/07/perilaku-keberagaman-di-indonesia.html' title='Perilaku Keberagaman di Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-7945335011132649048</id><published>2009-06-25T10:50:00.001+07:00</published><updated>2009-06-25T10:50:52.123+07:00</updated><title type='text'>Moskow</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;Oleh &lt;strong&gt;Azyumardi Azra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moskow hari-hari ini dan agaknya juga ke depan adalah sebuah kontras dan ironi sejarah. Ibukota Rusia ini, sekarang hampir tidak lagi menyisakan banyak pertanda sebagai kota yang pernah menjadi pusat dunia sosialis-komunis, yang mampu menyaingi blok kapitalis di bawah pimpinan Amerika Serikat; inilah realitas Perang Dingin yang sebenarnya tak bisa terhapus begitu saja dalam buku-buku sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis. Kini Moskow tidak ubah seperti kota-kota kapitalis, di manapun di bagian dunia lain. Moskow adalah lanskap perkotaan yang hiruk pikuk, penuh kemacetan di jalanan, lalu lintas yang semrawut saling serobot di antara mobil-mobil. Dalam hal lalu lintas, Moskow tidak lebih baik daripada Jakarta kecuali tidak ada motor yang meliuk-liuk di jalanan, seperti lazim di Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Saya tanya kepada beberapa orang Rusia, kenapa lalu lintas di Moskow begitu semrawut. Mereka jawab, karena umumnya mereka baru pertama kali punya mobil; dan karena itu ada kecenderungan mau pamer (show off) dan mau menang sendiri di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan Moskow dipenuhi banyak mobil impor baru-baru dan mewah, buatan Jerman, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan. Mobil "Lada" mobil buatan Soviet atau Rusia sendiri, dengan bentuknya yang "primitif" sulit terlihat di jalanan, tersingkir dalam persaingan &lt;em&gt;survival of the fittests&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu memperlihatkan Moskow hari ini sebagai "kota kapitalis"; kota dengan biaya hidup sangat mahal. Dan tidak kurang simboliknya, berbagai restoran waralaba, dan mal-mal yang menjual barang-barang branded yang mencirikan dunia kapitalis secara mencolok hadir di Moskow, bahkan di depan Kremlin tempat mayat Stalin yang diawetkan tersimpan; tokoh yang pernah menjadi salah satu simbol kedigjayaan Uni Soviet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moskow, inilah kota yang pada masa Perang Dunia II dan Perang Dingin merupakan pusat dari dua poros dunia; satunya lagi adalah Washington DC. Dari sinilah Blok Timur, Dunia sosialis-komunis dikendalikan dalam persaingan dan pertarungan menghadapi Blok Barat di bawah pimpinan AS. Dua blok kekuatan adikuasa, yang berebutan pengaruh di berbagai wilayah dunia, yang untungnya tidak sampai menjerumuskan dunia ke dalam perang nuklir yang memusnahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi banyak kalangan dunia luar termasuk saya tentang Moskow masih banyak diwarnai fenomena Perang Dingin tersebut. Dalam persepsi ini, Moskow adalah sebuah kota yang "angker", kaku dan "dingin", yang kurang bersahabat. Ketika orang mendengar nama Kremlin atau Lapangan Merah (Red Square), dalam bayangannya, kedua tempat ini tak lain adalah simbol otorianisme rejim-rejim komunis Uni Soviet yang pernah begitu dominan dalam sejarah moderen negara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra seperti itu tetap bertahan, meski Soviet telah runtuh di tengah gegap gempita reformasi yang dikenal dengan istilah perestroika dan glasnost yang diperkenalkan Presiden Mikhail Gorbachev sepanjang masa pemerintahannya (1985-1991). Reformasi ini tidak hanya membawa keterbukaan negeri "beruang es", yang juga sekaligus membuat bubarnya Uni Soviet pada 25 Desember 1991 sesuatu yang tidak pernah terbayangkan. Presiden Boris Yeltsin yang menggantikan Gorbachev tidak mampu membendung arus sejarah; akhirnya pada 1 Februari 1992 Yeltsin menandatangani Deklarasi Rusia-AS tentang berakhirnya Perang Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang pertama kali ke Moskow atas undangan Dutabesar RI Hamid Awaluddin dan Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Deplu RI pada awal Juni 2009 lalu untuk serangkaian konperensi dan ceramah, saya terkaget-kaget menemukan Moskow yang lain dengan bayangan saya selama ini. Moskow begitu cepat dan radikal berubah, meski sisa-sisa mentalitas masa lalu tetap bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contohnya adalah sikap kaku petugas imigrasi yang sentralistik. Satu pagi, ketika mau check in di Bandara menuju St Petersburg, petugas imigrasi menolak karena saya sudah lebih tiga hari di Rusia dan sesuai ketentuan harus sudah ada bukti "wajib lapor". Tapi, saya memang tidak melapor, karena menginap di Wisma Duta, KBRI London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sang petugas ngotot dan meminta ikut bersamanya ke kantor petugas lain, yang lokasinya cukup jauh. Hal yang mirip juga terjadi ketika check-in mau kembali ke Moskow. Kita seolah dipimpong dari satu ke meja, sebelum masalah bisa diselesaikan sebuah sentralisme yang kaku dan menyiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah Moskow. Di tengah dunia yang uni-polar seusai runtuhnya Uni Soviet khususnya pada masa Pasca 11 September 2001, banyak masyarakat dunia berharap agar Rusia dapat kembali muncul sebagai kekuatan pengimbang. Tetapi harapan ini nampaknya masih sulit terwujud, karena Rusia kini masih berjuang mengatasi berbagai masalah domestik yang membuatnya harus lebih fokus ke dalam daripada ke luar.&lt;/p&gt; (-)     &lt;br /&gt;&lt;a href="http://republika.co.id/halaman/174"&gt;Index Koran&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-7945335011132649048?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/7945335011132649048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=7945335011132649048' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7945335011132649048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/7945335011132649048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/06/moskow.html' title='Moskow'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-9115581426908689123</id><published>2009-06-25T09:49:00.000+07:00</published><updated>2009-06-25T09:51:01.164+07:00</updated><title type='text'>Syekh Al-Azhar: Burqa Tidak Wajib</title><content type='html'>&lt;div class="reporter"&gt;&lt;div class="box_share"&gt;&lt;br /&gt;                     &lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;      &lt;script type="text/javascript"&gt;var addthis_pub="republikaonline";&lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"&gt;&lt;/script&gt;      &lt;!-- AddThis Button END --&gt;           &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;div class="image_detail"&gt;     &lt;img alt="Syekh Al-Azhar: Burqa Tidak Wajib" style="width: 325px;" src="http://republika.co.id/images/news/2009/06/20090624165753.jpg" /&gt;   &lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class="detail_news_high"&gt;     &lt;p&gt;KAIRO--Pernyataan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, soal pelarangan burqa menuai pro dan kontra. Para pemimpin Muslim di Inggris yang tergabung dalam Muslim Council of Britain (MCB), mengingatkan bahwa ucapan Sarkozy soal pelarangan burqa berisiko memicu permusuhan terhadap Islam. Sementara sebagian ulama justru menganggap kebijakan Sarkozy tersebut sebagai kewajaran dan itu merupakan haknya sebagai kepala negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burqa merupakan pakain wanita yang terdiri dari gaun panjang yang membalut seluruh tubuh dan menutup seluruh wajah seorang wanita Muslim yang mengenakannya. Dari 5 juta Muslim yang ada di Perancis, sekitar 100 ribu perempuan Muslim mengenakan burqa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Burqa tak bisa diterima di Perancis karena tak sesuai dengan nilai-nilai Perancis." Demikian penegasan yang dilontarkan Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, kepada para anggota parlemen di Versailes, Senin (22/6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''Di negara ini, kita tak bisa menerima perempuan terpenjara di balik sebuah layar, tersisih dari semua kehidupan sosial, dan tercerabut semua identitasnya. Burqa bukanlah simbol religius tapi penindasan,'' lanjut Sarkozy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut MCB, yang memayungi 500 lembaga Islam di Inggris, pernyataan Sarkozy bahwa burqa merupakan bentuk penindasan terhadap perempuan merupakan pernyataan ofensif. Lembaga ini juga berharap Sarkozy berhenti menjalankan politik yang memecah Muslim di Perancis.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan MCB, Grand Syekh Al-Azhar, Muhammad Sayyid Thanthawi, pemegang pucuk pimpinan tertinggi lembaga keislaman Al-Azhar Mesir justru mengatakan bahwa apa yang dikatakan Sarkozy merupakan haknya sebagai pemimpin sebuah negara, dan tidak ada hubungannya dengan orang-orang di luar negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu adalah kebijakan dan urusan dalam negeri orang lain, dalam hal ini adalah Perancis. Dalam keadaan darurat dan tertentu, seorang Muslim dan Muslimah yang hidup di negeri Barat, misalnya, bolehlah bagi mereka untuk mengikuti undang-undang yang berlaku di negeri tersebut," demikian ungkap Thanthawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Muslimah yang memakai cadar di Perancis termasuk ke dalam kaidah tersebut. Mereka pun diperbolehkan untuk melepas cadarnya untuk mentaati undang-undang negara orang lain yang mereka tinggali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan oleh Thanthawi, cadar dan burqa tidaklah termasuk ke dalam bab wajib bagi Muslimah. Hukum cadar dan burqa lebih kepada mubah. Jika mereka hendak mengenakan, maka kenakanlah, dan jika tidak, maka tak ada masalah. Hal ini berbeda dengan jilbab, yang hukumnya wajib bagi para Muslimah dan tidak boleh dilepas karena alasan apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Thanthawi juga disepakati oleh Kementrian Wakaf Mesir, yang menetapkan pelarangan memakai cadar bagi para pegawai di lembaga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syekh Al-Azhar juga menekankan bahwa umat Islam yang berada di Perancis rata-rata merupakan pendatang (kebanyakan dari Arab dan Turki) di negeri tersebut, jadi mereka adalah tamu di sana. Sebagai tamu sudah selayaknya mengindahkan aturan-aturan yang dimiliki tuan rumah. Berbeda jika mereka hidup di Arab, di negeri dan rumah asal mereka sendiri. Sarkozy sendiri tidak masalah dengan pemakaian jilbab, ia bahkan membolehkan pihak Muslimah untuk mengenakannya.taq&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-9115581426908689123?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/9115581426908689123/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=9115581426908689123' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/9115581426908689123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/9115581426908689123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/06/syekh-al-azhar-burqa-tidak-wajib.html' title='Syekh Al-Azhar: Burqa Tidak Wajib'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-331697687895664579</id><published>2009-06-17T18:27:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T18:28:04.985+07:00</updated><title type='text'>Islam: Politik dan Kultural</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;Oleh &lt;strong&gt;Azyumardi Azra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerosotan perolehan suara parpol-parpol berasaskan Islam pada Pemilu Legislatif 9 April lalu menjadi bahan diskusi yang hangat, baik di kalangan elite kepemimpinan Islam maupun para pengamat dalam dan luar negeri. Bagi mereka, realitas itu masih sulit dipahami; karena bertolak belakang dengan gejala meningkatnya kehidupan keislaman di negeri ini. Parpol-parpol Islam ternyata gagal melakukan kapitalisasi peningkatan keislaman itu ke dalam kancah politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusi tentang realitas politik yang tidak menggembirakan itu mengundang pembicaraan kembali tentang apa yang disebut sebagai 'Islam politik' pada satu pihak dan 'Islam kultural' pada pihak lain. Pembedaan kedua kelompok ini tentu saja tidaklah kedap air; bahkan keduanya dapat dikatakan saling melengkapi dalam usaha memajukan agenda-agenda keislaman dan keumatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah; sepanjang perkembangan politik demokrasi pasca-Soeharto yang telah berlangsung satu dasawarsa dengan tiga pemilu, Islam politik yang diwakili parpol-parpol Islam terus gagal meraup suara secara signifikan. Akibatnya, parpol-parpol Islam ini hanya dapat menjadi bagian dari koalisi yang dipimpin parpol-parpol lain yang tidak berbasiskan Islam--sebaliknya berdasarkan Pancasila; mereka tidak menjadi lokomotif koalisi-koalisi politik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pihak lain, ormas-ormas Islam politik yang bukan merupakan parpol, tetapi juga memiliki agenda politik, tidak kelihatan kiprahnya dalam bulan-bulan politik 2009 ini. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), misalnya, yang mengusung perjuangan penciptaan kembali kekhalifahan (khilafah) dan penegakan syariah Islam, khususnya &lt;em&gt;hudud&lt;/em&gt;, secara jelas absen dalam aktivisme dan isu politik. Tidak begitu jelas alasan terjadinya gejala semacam ini pada HTI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah realitas dan gejala kegagalan Islam politik itu, orang kembali ingat pada Islam kultural, yang biasanya diwakili ormas-ormas keagamaan Islam, seperti Muhammadiyah, NU, al-Washliyah, Perti, Persis, Mathlaul Anwar, Nahdlatul Wathan, Darud-Dakwah wal-Irsyad, al-Khairat, dan Hidayatullah. Semua ormas ini, sejak berdirinya menetapkan diri sebagai jam'iyyah dakwah, pendidikan dan pelayanan sosial. Memang dalam periode tertentu, khususnya di masa Orde Lama, sebagian ormas Islam ini pernah terlibat langsung dalam politik kepartaian, tetapi dalam waktu tidak terlalu lama, mereka kembali kepada &lt;em&gt;khittah&lt;/em&gt;-nya sebagai ormas keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada awal-awal masa pasca-Soeharto sampai Pemilu 2004, beberapa ormas Islam ini terseret ke dalam politik kepartaian. Ormas-ormas Islam ini menjadi basis bagi parpol-parpol Islam tertentu; dan bahkan kepemimpinan puncaknya terlibat dalam politik praktis, menjadi cawapres misalnya. Namun, mereka juga gagal dalam kancah politik pilpres tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya semua perkembangan seperti inilah yang membuat ormas-ormas Islam secara sengaja atau tidak, tanpa deklarasi, kembali ke &lt;em&gt;khittah&lt;/em&gt; semula yang bergerak terutama dalam dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Pada saat yang sama, ormas-ormas Islam ini juga meneguhkan kembali perannya sebagai organisasi masyarakat madani (&lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt;) yang independen dari negara (dan juga politik kekuasaan), membiayai dan mengatur diri sendiri ciri-ciri pokok bagi kelompok dan organisasi apa pun untuk dapat disebut sebagai &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt;. Sebagai masyarakat madani, ormas-ormas nonpolitik ini memainkan peran penting sebagai penengah dan jembatan di antara masyarakat pada satu pihak dengan negara pada pihak lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kembalinya ormas-ormas ini ke &lt;em&gt;khittah&lt;/em&gt;-nya aslinya, mereka bisa lebih berkonsentrasi pada bidang-bidang yang selama ini disebut sebagai Islam kultural--pembinaan umat dalam bidang dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, ekonomi, dan banyak lagi. Memang, bergerak dalam bidang-bidang ini tidaklah menarik liputan media massa; ini adalah pekerjaan pengabdian yang lebih berdasarkan keikhlasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari perkembangan ini adalah bahwa sejak usainya riuh rendah Pemilu 2004 dan kini gegap gempita dan ketegangan Pemilu 2009, keterlibatan ormas-ormas Islam ini beserta tokoh-tokohnya dapat dikatakan minimal. Kini, tidak ada pimpinan dan tokoh nasional, tokoh ormas-ormas Islam, yang menjadi capres atau setidaknya cawapres seperti kita lihat pada Pemilu 2004. Dengan begitu, ormas-ormas Islam dapat melakukan 'penjarakan politik' (&lt;em&gt;political disengagement&lt;/em&gt;) dengan kekuatan-kekuatan politik kepartaian dan kekuasaan yang manipulatif dan abusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, perkembangan ormas-ormas dan masyarakat madani Islam ini merupakan 'berkah terselubung' bagi dinamika gerakan Islam lebih lanjut di negara ini. Banyak kalangan di kawasan Dunia Muslim lain melihat ini sebagai sebuah tradisi yang unik bagi Islam Indonesia. Dan, menurut mereka, inilah sebuah distingsi dan kekayaan Islam Indonesia yang tidak bisa ditemukan di tempat mana pun di Dunia Islam lainnya.&lt;/p&gt; (-)     &lt;br /&gt;&lt;a href="http://republika.co.id/halaman/174"&gt;Index Koran&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-331697687895664579?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/331697687895664579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=331697687895664579' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/331697687895664579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/331697687895664579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/06/islam-politik-dan-kultural.html' title='Islam: Politik dan Kultural'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5321317920433542357</id><published>2009-06-17T18:04:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T18:05:17.488+07:00</updated><title type='text'>Syekh Al-Azhar Tak Setujui Syiah di Mesir</title><content type='html'>&lt;div class="title"&gt;    &lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;/div&gt;            &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;div class="reporter"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="box_share"&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"&gt;&lt;/script&gt;      &lt;!-- AddThis Button END --&gt;           &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;div class="image_detail"&gt;     &lt;img alt="Syekh Al-Azhar Tak Setujui Syiah di Mesir" style="width: 325px;" src="http://republika.co.id/images/news/2009/06/20090617170651.jpg" /&gt;   &lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class="detail_news_high"&gt;     &lt;p&gt;KAIRO--Imam Besar Al-Azhar, Muhammad Sayyid Thanthawi, menegaskan di Mesir tidak akan menyediakan tempat untuk Syiah. Ia juga mengatakan, pihaknya akan senantiasa bekerja keras untuk membentengi umat Muslim Mesir dari upaya penyebaran madzhab Syiah di negaranya, dan dengan cara yang santun tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada tempat untuk madzhab Syiah di Mesir, karena negara ini adalah negara 'Sunni'. Kami juga tidak akan menerima dan berpangku tangan dari upaya penyebaran madzhab tersebut di negeri kami," demikian dikatakan Thanthawi di hadapan para rombongan mahasiswa dari Saudi Arabia pada Selasa (16/6), kemarin, sebagaimana dikutip harian &lt;em&gt;Al-Arabiyyah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Thanthawi juga menegaskan bahwa Al-Azhar adalah lembaga keislaman yang menebarkan dakwah Islam dengan prinsip-prinsip yang moderat, toleran, dan akomodatif, serta menolak segala bentuk ekstrimisme dan konservatisme Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Al-Azhar jauh dari model Islam yang fanatis, apalagi fanatik buta," katanya. Meski mayoritas Muslim Mesir adalah penganut ordo Sunni, namun sejumlah kecil penganut Syiah dapat ditemukan di Mesir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, jika merujuk pada sejarah masa lalu,  Mesir pernah menjadi pusat Syiah dalam dunia Islam. Dinasti Fathimiyah yang berkuasa di Mesir pada abad ke-9 hingga ke-10 adalah dinasti yang menjadikan Syiah sebagai madzhab resmi negara. Al-Azhar sendiri semula didirikan oleh para ilmuwan Fathimiyyah yang menganut Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak masa dinasti Shalahuddin yang menggantikan dinasti Fathimiyyah, madzhab resmi negara diganti menjadi Sunni, dan berlangsung hingga sekarang.taq/arb/hid&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5321317920433542357?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5321317920433542357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5321317920433542357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5321317920433542357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5321317920433542357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/06/syekh-al-azhar-tak-setujui-syiah-di.html' title='Syekh Al-Azhar Tak Setujui Syiah di Mesir'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-4848470812113930812</id><published>2009-05-31T19:32:00.000+07:00</published><updated>2009-05-31T19:40:51.609+07:00</updated><title type='text'>Buku IlusiNegara Islam</title><content type='html'>&lt;table align="center" bgcolor="#ffffff" border="0" cellpadding="10" cellspacing="0" width="780"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr valign="top"&gt;&lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Preface/Prolog:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/preface-prolog.pdf" target="_blank"&gt;MASA DEPAN ISLAM DI INDONESIA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;    &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Pengantar Editor:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/pengantar-editor.pdf" target="_blank"&gt;MUSUH DALAM SELIMUT&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KH. Abdurrahman Wahid&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Bab I:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/bab-1.pdf" target="_blank"&gt;Studi Ge­rakan Islam Transnasional dan Kaki Tangannya di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Bab II:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/bab-2.pdf" target="_blank"&gt;Infiltrasi Ideologi Wahabi-Ikhwanul Muslimin di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Bab III:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/bab-3.pdf" target="_blank"&gt;Ideolo­gi dan Agenda Ge­rakan Garis Keras di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Bab IV:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/bab-4.pdf" target="_blank"&gt;Infiltrasi Agen-agen Garis Keras terhadap Islam Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Bab V:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/bab-5.pdf" target="_blank"&gt;Kesimpulan dan Rekomendasi&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Epilog:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/epilog.pdf" target="_blank"&gt;BELAJAR TANPA AKHIR&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;KH. A. Mustofa Bisri&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Lampiran 1:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/lampiran-1.pdf" target="_blank"&gt;Surat Keputusan Pimpinan Pusat (SKPP)    Muhammadiyah No. 149/KEP/I.0/B/2006, untuk membersihkan Muhammadiyah dari Partai Ke­adilan    Se­jahte­ra (PKS)&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Lampiran 2:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/lampiran-2.pdf" target="_blank"&gt;Dokumen Penolakan Pengurus Besar Nahdlatul  Ulama (PBNU) terhadap Ideolo­gi dan Ge­rakan Ekstremis Transnasio­nal&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;      &lt;tr valign="top"&gt;   &lt;td width="128"&gt;&lt;b&gt;Daftar Bibliografi:&lt;/b&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a href="http://www.bhinnekatunggalika.org/downloads/daftar-bibliografi.pdf" target="_blank"&gt;Daftar Bibliografi&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-4848470812113930812?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/4848470812113930812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=4848470812113930812' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4848470812113930812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4848470812113930812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/buku-ilusinegara-islam.html' title='Buku IlusiNegara Islam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6142522821289356975</id><published>2009-05-31T19:26:00.000+07:00</published><updated>2009-05-31T19:27:33.749+07:00</updated><title type='text'>Bumi antara Bencana dan Kemakmuran</title><content type='html'>&lt;h1&gt; &lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Prof Dr Sukendar Asikin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Guru Besar Geologi ITB)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori tektonik lempeng merupakan suatu teori baru yang sangat berkembang. Dalam teori ini, kulit bumi digambarkan terdiri atas kepingan-kepingan atau 'lempeng-lempeng' batuan atau litosfir, yang dapat bergerak satu terhadap lainnya dengan arah dan kecepatan yang berubah-ubah sepanjang zaman Astenosfir (&lt;em&gt;upper mantle&lt;/em&gt;) yang bersifat semiplastis menghasilkan sel-sel arus konveksi yang dapat menggerakkan lempeng-lempeng kulit bumi yang terdiri atas batuan yang bersifat kaku. Sel-sel arus konveksi itulah yang merupakan mesin yang menciptakan sejumlah energi yang terkumpul dalam kulit bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi akan terkumpul di tempat-tempat yang menyebabkan dua lempeng kulit bumi selalu bertemu atau berbenturan. Akibat dari benturan tersebut, batuan akan mengalami tegangan dari waktu ke waktu serta mengalami gesekan satu dengan lainnya yang mengakibatkan sebagian dari batuan itu akan leleh, lebur, dan membentuk massa yang leleh pijar yang disebut magma. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya yang membangun energi dalam kulit bumi dinamakan gaya tektonik. Energi yang terkumpul dalam kulit bumi (batuan) itu sewaktu-waktu dapat terlepas. Karena, batuan yang menahannya sudah tidak mampu dan berwujud sebagai letusan gunung api akibat energi yang terkumpul dalam magma  mendesak ke atas dan menyembur keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepasnya energi yang umumnya terjadi secara tiba-tiba juga dapat  disebabkan patahnya batuan (kulit bumi) akibat sudah tidak mampu lagi menahan tegangan. Patahnya batuan yang disertai dengan pergeseran akan disertai dengan munculnya gempa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya tektonik yang bekerja dalam kulit bumi juga bertanggung jawab terhadap pembentukan cekungan-cekungan pengendapan akibat lenturnya kulit bumi. Kemudian, itu akan diisi dengan endapan-endapan sedimen yang dalam waktu lama akan menghimpun lapisan-lapisan batuan yang sangat tebal. Cekungan-cekungan seperti itu dikenal sebagai tempat-tempat terbentuknya sumber daya alam hidrokarbon  (minyak dan gas bumi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan Pulau Jawa dalam tatanan tektonik yang berada di bagian tepi zona pertemuan antara dua lempeng litosfir, yaitu lempeng India-Auatralia yang bergeser ke utara dan lempeng Sunda di utaranya, menghasilan zona yang terdiri atas gunung api aktif dan sejumlah patahan, baik yang aktif maupun yang berpotensi aktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dapat dipastikan bahwa cekungan tersebut secara tektonis berada di suatu zona yang masih tektonik aktif yang dicirikan oleh lokasinya yang berada di belakang deretan gunung api yang masih aktif (Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Lawu, Gunung Wilis, dan sebagai).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu tektonik, fenomena-fenomena alam yang berwujud sebagai gempa bumi, vulkanisme, atau meningkatnya kegiatan gunung api ditafsirkan sebagai respons dari gerak-gerak lempeng kulit bumi. Lempeng-Lempeng kulit bumi dimotori oleh sel-sel arus konveksi dalam astenisfir yang bergerak terus dengan kecepatan yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lempeng India-Australia terlihat bergeser ke utara, kemudian berbenturan dan menyusup di bawah Asia Tenggara. Zona di tempat-tempat di mana dua lempeng saling bertemu dan berbenturan akan merupakan tempat-tempat terjadinya pelenturan (deformasi) kulit bumi yang disertai oleh penghimpunan energi yang sewaktu-waktu dapat dilepas sebagai gempa bumi, vulkanisme, pembentukan cekungan, dan pegunungan. Cekungan yang berada di belakang jalur gunung api akan terus menurun selama gerak tektonik benturan terjadi. Kemudian, itu akan diisi oleh sedimen-sedimen yang berasal dari pengikisan pegunungan yang terus terangkat serta produk gunung api yang aktif yang secara berkala memuntahkan bahannya dan diangkut oleh sungai-sungai yang bermuara di-cekungan. Pengisian cekungan yang berlangsung cepat itu akan menambah tekanan pada cekungan yang berakibat ikut mendorong turunnya cekungan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengisian cekungan yang cepat serta tekanan gaya tektonik mendorong lapisan batuan yang tebal yang bersifat lentur, seperti lempung, untuk naik ke atas melalui celah-celah dalam batuan yang berupa patahan-patahan. Fenomena seperti itu disebut gejala diapir. Apabila diapir-diapir seperti itu berhasil mencapai permukaan bumi, gejalanya dinamakan ekstrusi lumpur atau &lt;em&gt;mud extrusion&lt;/em&gt;. Jika sifatnya yang agak kental sehingga membentuk kerucut seperti gunung api, itu dinamakan gunung (api) lumpur atau &lt;em&gt;mudvolcano&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Jawa yang merupakan bagian dari zona (jalur) deformasi akibat pertemuan antara dua lempeng kulit bumi (litosfir), yaitu lempeng India-Australia yang bergeser ke utara dengan kecepatan 6.5 cm per tahun dengan lempeng Asia Tenggara (atau lempeng Sunda), akan mengalami tekanan gaya tektonik yang menyebabkan terkumpulnya sejumlah energi yang sewaktu-waktu dapat terbebas dalam bentuk gempa bumi, letusan, atau meningkatnya kegiatan gunung api serta pelenturan isi cekungan sehingga terlipat atau terpatahkan. Dalam kondisi tertentu, itu dapat memeras dan mendorong lapisan yang bersifat lentur ke atas permukaan dan membentuk aliran (ekstrusi) lumpur atau gunung lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Mei 2006, kita dikejutkan oleh terjadinya gempa bumi yang melanda Kota Yogyakarta. Padahal, sebelumnya, pada 2004 dan 2005, terjadi gempa bumi di Aceh dan Pulau Nias yang menimbulkan bencana tsunami yang menelan korban jiwa yang besar. Gempa bumi yang memorak-porandakan Kota Yogyakarta juga diikuti oleh menyembur dan mengalirnya lumpur di Sidoarjo di lokasi beberapa ratus meter dari lokasi pengeboran sumur Banjar Panji-1. Pada bulan itu, juga dilaporkan terjadinya peningkatan kegiatan Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Semeru di Jawa Timur. Bencana alam geologi dalam rentang waktu dua tahun tersebut (dalam  hitungan waktu geologi adalah dianggap bersamaan) terjadi dalam zona pertemuan antara lempeng India-Australia dan lempeng Sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya intensitas tektonik pada waktu itu telah menimbulkan bencana geologi gempa bumi, kegiatan gunung api, dan deformasi dalam cekungan pengendapan yang terletak di belakang busur gunung api. Untuk jenis cekungan yang mempunyai kondisi struktur dan proses sedimentasi yang khusus, itu dapat menimbulkan terjadinya bencana keluarnya lumpur diaper atau gunung lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi yang resah memang merupakan sumber bencana. Namun, di balik itu, keluarnya bahan-bahan dari dalam perut bumi telah membuat wilayah di sekitarnya menjadi subur. Di bidang keilmuan (kebumian), para ilmuwan dapat mengetahui misteri apa yang ada dalam bumi serta bagaimana menghindari terjadinya bencana. Para peneliti juga mampu mengetahui bahan-bahan berasal dari dalam bumi yang dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarnya aliran lumpur di Sidoarjo yang telah berlangsung tiga tahun merupakan bencana alam geologi yang harus diterima dan diprediksi masih akan terus berlangsung. Dengan jumlah material yang demikian besarnya, mungkinkah di masa yang akan datang dapat memberikan manfaat bagi umat manusia. Ini merupakan tantangan bagi para peneliti untuk memulai meneliti manfaat dari bahan yang keluar dari perut bumi ini.&lt;/p&gt; (-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6142522821289356975?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6142522821289356975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6142522821289356975' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6142522821289356975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6142522821289356975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/bumi-antara-bencana-dan-kemakmuran.html' title='Bumi antara Bencana dan Kemakmuran'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-4134373831930352683</id><published>2009-05-31T19:25:00.001+07:00</published><updated>2009-05-31T19:25:56.343+07:00</updated><title type='text'>Fikih dan Tuntutan Zaman</title><content type='html'>&lt;h1&gt; &lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Danang Kuncoro Wicaksono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Suriah 2008-2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, Fikih Islam selalu mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya dari beberapa kalangan. Ia sering dijadikan objek yang seolah-olah 'diperkosa' sedemikian rupa demi memuaskan nafsu dan kepentingan kelompok tertentu. Ada yang ingin merombaknya secara total, bahkan menghapusnya sama sekali karena dianggap tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman. Kalangan ini biasanya merasa minder dan rendah diri dengan agamanya sendiri sehingga merasa malu menyandang predikat Muslim, karena telah tersilaukan oleh peradaban Barat yang menurutnya lebih layak menjawab tuntutan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang ingin mempersempit koridor syariat yang sebenarnya sangat luas, sehingga menciptakan &lt;em&gt;image&lt;/em&gt; bahwa Islam adalah ajaran yang sempit, kaku, jumud, dan tidak dinamis. Kalangan ini biasanya terlalu bersemangat dalam beragama namun tidak memiliki bekal ilmu yang cukup, sehingga seringkali berijtihad dan beristinbath tanpa kaidah. Atau, memiliki pengetahuan yang cukup tapi tidak memiliki metode yang tepat dalam menyampaikannya sehingga alih-alih memberikan pencerahan justru menimbulkan kesalahpahaman. Atau, bisa juga disebabkan oleh fanatisme kelompok, mazhab, atau ulama tertentu sehingga mengabaikan pendapat ulama lain. Ada yang terlalu tekstual dalam menafsirkan teks-teks yang ada sehingga menimbulkan asumsi bangkitnya kembali mazhab Zhahiriyah Modern. Namun, ada pula yang terlalu kontekstual sehingga menabrak batas-batas yang telah ditetapkan oleh para ulama, sehingga keblinger dan kebablasan. Lalu, bagaimana kita menyikapi semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikih sebagai suatu komponen terpenting dalam syariat Islam merupakan sekumpulan intisari hukum-hukum syariat yang bersifat praktis, yang telah diekstrak oleh para ulama mujtahidin dari sumber-sumbernya yang terperinci. Sejak dahulu para ulama sangat intensif memperhatikan permasalahan-permasalahan yang muncul di zaman mereka lalu mencari hukum yang sesuai dengan Alquran dan sunah, tentunya dengan kaidah-kaidah baku yang telah ditetapkan dalam ilmu ushul fikih, kemudian menulisnya dalam kitab-kitab mereka. Berbagai aktivitas ijtihad pun marak berlangsung dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sehingga, tak mengherankan jika pada era kodifikasi kitab-kitab fikih, banyak terjadi silang pendapat di antara ulama. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Dr Musthafa Sa'id Al-Khin dalam kitabnya, &lt;em&gt;Atsarul Ikhtilaf fi Al-Qawa'id Al-Ushuliyah&lt;/em&gt;, yaitu perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam tataran kaidah &lt;em&gt;ushuliyah&lt;/em&gt; yang kemudian berimplikasi munculnya perbedaan dalam penggunaan dalil-dalil yang dijadikan sebagai sandaran dalam beristinbath. Dari situlah akhirnya timbul perbedaan para ulama dalam memutuskan hukum fikih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, sudah terlalu banyak kitab fikih yang ditulis oleh para ulama dan dikaji secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Berbagai madrasah &lt;em&gt;fiqhiyah&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;ushuliyah&lt;/em&gt; pun akhirnya banyak bermunculan. Fatwa-fatwa terkait dengan persoalan-persoalan kontemporer yang belum pernah terjadi di zaman dahulu seperti hukum &lt;em&gt;cloning&lt;/em&gt; manusia, &lt;em&gt;credit card&lt;/em&gt;, dan semisalnya pun telah banyak ditulis oleh para ulama di zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya, fikih selalu menjadi pembahasan yang selalu hangat dan tak pernah basi. Setiap muncul permasalahan baru, selalu muncul pula para ulama yang berjuang dan berusaha keras untuk mencarikan hukum sehingga menjadikan Islam sebagai sebuah undang-undang yang selalu &lt;em&gt;up to date&lt;/em&gt;. Perbedaan yang terjadi di antara para ulama merupakan hal yang wajar selama hukum-hukum yang dihasilkan berdasarkan pada dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadikan para pengikut ulama tertentu saling menghujat satu sama lain. Justru sebaliknya, adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama seharusnya dapat membuktikan betapa Islam sangat kaya dengan pilihan solusi yang ditawarkan dan perbedaan yang terjadi merupakan manifestasi rahmat bagi seluruh umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tuduhan beberapa kalangan yang mengatakan bahwa fikih Islam belum bisa menjawab persoalan umat merupakan tuduhan yang sangat tidak berdasar. Realita yang ada justru menunjukkan sebaliknya. Munculnya cabang-cabang Syariah dalam bank-bank konvensional di beberapa negara Eropa menunjukkan bahwa Islam merupakan solusi yang jitu bagi krisis yang tengah melanda umat manusia. Begitu juga undang-undang &lt;em&gt;Ahwal Syakhsiyah&lt;/em&gt; yang mendapat pujian para ahli perundang-undangan dunia seperti Gustave Lebon, membuktikan bahwa Islam adalah aturan yang tepat dan sesuai dengan fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi Qodhoya Fiqhiyah Muashiroh (Contemporary Islamic Issues) pun kini telah menjadi mata kuliah tetap (&lt;em&gt;muqorror&lt;/em&gt;) yang diajarkan di universitas-universitas Islam di Timur Tengah. Para ulama kontemporer seperti Dr M Sa'id Ramadhan Buthi, Dr Yusuf Qaradhawi, Dr Wahbah Zuhaili, dan lain-lain merupakan para ulama garda terdepan yang tak pernah lelah menjawab persoalan-persoalan umat yang muncul belakangan ini. Mereka adalah orang-orang yang paling berjasa di zaman ini dalam rangka menjaga orisinalitas dan relevansi Islam di setiap zaman. Ulama-ulama seperti merekalah yang akan mempertahankan kemurnian Islam ini dari segala macam bentuk penyelewengan, dan akan senantiasa ada di setiap zaman. Bahkan, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setiap seratus tahun sekali akan muncul para ulama yang memurnikan (tajdid) ajaran Islam. Semua ini menunjukkan bahwa aktivitas ekstraksi hukum (&lt;em&gt;istinbath al-ahkam&lt;/em&gt;) dari sumber-sumbernya yang masih asli terkait dengan permasalahan-permasalahan baru yang muncul di setiap masa masih dan akan terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita semua, 'Siapakah yang akan meneruskan perjuangan para ulama itu di masa mendatang? Siapakah yang akan memberikan fatwa-fatwa bagi umat terkait dengan persoalan yang muncul di masa yang akan datang?' Siapa lagi jika bukan kita sebagai generasi penerus yang saat ini sedang berguru kepada mereka yang akan meneruskan perjuangan mereka di masa depan ketika mereka telah tiada. Mereka takkan lama lagi akan pergi meninggalkan kita semua di dunia ini. Akankah kita terus berangan-angan sambil berkata, ''Andaikan Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad masih hidup di zaman ini, tentu mereka akan menjawab semua persoalan umat yang semakin kompleks di zaman ini.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, angan-angan saja tidak akan mendatangkan solusi tanpa dibarengi dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh dalam rangka menggali kekayaan khazanah Islam yang masih terpendam di dalam lautan kitab dan pemikiran para ulama yang saat ini masih hidup. Oleh karena itu, tidak ada jalan lagi bagi kita selain menimba dan terus menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari para ulama yang masih hidup di zaman ini sebagai bekal kita untuk menghadapi masa depan yang permasalahannya semakin kompleks dan membutuhkan ulama-ulama brilian seperti mereka untuk mampu menyelesaikan problematika yang muncul. Andaikan boleh berangan-angan seperti di atas, mengapa tidak sekaligus berangan-angan, ''Seandainya Rasulullah masih hidup di zaman ini?'' Wallahu 'alam bis shawab.&lt;/p&gt; (-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-4134373831930352683?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/4134373831930352683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=4134373831930352683' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4134373831930352683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/4134373831930352683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/fikih-dan-tuntutan-zaman_31.html' title='Fikih dan Tuntutan Zaman'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-1519508040141045602</id><published>2009-05-31T19:24:00.001+07:00</published><updated>2009-05-31T19:24:52.645+07:00</updated><title type='text'>Facebook vs Fatwa Haram</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Zainal Alimuslim Hidayat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Analis di Fakultas Ilmu Komputer UI)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Facebook&lt;/em&gt; akhirnya menuai kontroversi. Situs yang sangat digemari terutama oleh kalangan muda ini difatwakan haram. Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri (FMPP) se-Jawa Timur mengharamkan penggunaan jejaring sosial seperti &lt;em&gt;friendster&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; yang berlebihan (&lt;em&gt;Republika Online&lt;/em&gt;, 23/5). Fatwa ini cukup mengentak di kalangan &lt;em&gt;facebookers&lt;/em&gt; Tetapi, bisa jadi fatwa haram ini tidak akan banyak pengaruhnya. Seperti dalam kasus golput, di mana justru semakin membengkak jumlahnya meski sudah difatwakan haram. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah pengguna &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; saat ini sudah sangat menggurita. Lebih dari 225 juta orang menjadi warga setia &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; hingga Mei 2009. Pertumbuhan tersebut, terutama ditopang pesatnya pengguna dari luar Amerika Serikat. Di Chili dan Turki, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; bahkan dilaporkan sangat digdaya. Sebanyak 76 persen dan 66 persen pengguna internet di kedua negara adalah warga ''republik &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt;''. Bagaimana di negara kita? Sebanyak 17,78 persen (2,3 juta) dari total pengguna internet juga tergila-gila dengan situs ciptaan Mark Zuckerberg itu. Padahal, awal tahun ini pengguna &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; baru sekitar 1 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; terutama karena kemampuannya yang memungkinkan orang untuk saling berkomunikasi, mencari dan berbagi informasi, secara efisien. Dalam ideal Mark Zuckerberg, sang penemu &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt;, situs rekaannya tersebut merupakan sebuah peranti sosial (&lt;em&gt;social utility&lt;/em&gt;). Situs ini menjadi tempat favorit untuk bernostalgia dengan teman lama, tetapi juga ampuh untuk membangun jaringan pertemanan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt;, seorang pengguna memiliki 'kedaulatan' dengan siapa saja mereka berteman dan siapa boleh mengakses informasi tentang dirinya. &lt;em&gt;Facebook&lt;/em&gt; sangat digilai karena menjadi ajang narsis yang nyaris sempurna. Jutaan foto diunggah ke situs ini setiap hariya. Selain itu, faktor lain yang penting dicatat, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; digemari karena situs ini relatif nyaman, sehat, dan mudah digunakan (&lt;em&gt;user friendly&lt;/em&gt;). Situs ini galak terhadap pornografi dan tidak terlampau eksesif menampilkan iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menilik sejarahnya, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; dikembangkan oleh sejumlah mahasiswa Universitas Harvard dan awalnya hanya menerima keanggotaan dari kalangan pelajar dan mahasiswa di AS. Dalam tempo singkat &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; sukses ''merevolusi'' kehidupan kampus. &lt;em&gt;Facebook&lt;/em&gt;, pesta, dan cinta; Tiga kata yang kemudian tak bisa dipisahkan. Lewat fitur grup, mahasiswa saling mengundang (&lt;em&gt;invite&lt;/em&gt;) menghadiri pesta yang tentu saja lengkap dengan minuman keras. &lt;em&gt;The Crimson&lt;/em&gt;, koran di Harvard, banyak melaporkan, polisi dibuat sibuk dengan membanjirnya acara pesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan situs sejenisnya, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; juga memiliki fitur yang memungkinkan seorang pengguna ''mengobral'' status cinta mereka ke teman-teman di dalam jaringannya. Ajakan kencan (seks) yang agresif kerap dikeluhkan dan menjadi alasan mengapa sebagian mahasiswa membenci &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, setelah &lt;em&gt;go international&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; dibuat sedemikian rupa agar membuat semua orang merasa nyaman berlama-lama di dalamnya. Dengan fitur-fitur yang terus disempurnakan, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; memang akan semakin memikat banyak orang, termasuk generasi tua. Apalagi, fitur tersebut sebagiannya menjadi substitusi perangkat &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; lain seperti &lt;em&gt;e-mail&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;blog&lt;/em&gt;, album foto, dan &lt;em&gt;chatting room&lt;/em&gt;. Dan, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; sangat agresif dalam menambah fitur baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecanduan &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; dan situs sejenis memang menyisakan sejumlah persoalan. Pada individu, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; bisa menimbulkan kecanduan pada penggunanya. Di kalangan pelajar, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; diduga telah mengalahkan waktu untuk belajar. Studi yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Ohio menyimpulkan, pelajar yang mengunjungi &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; secara rutin lebih buruk hasil tesnya di sekolah (&lt;em&gt;Cnet.com&lt;/em&gt;, 12/4/2009). Entah karena alasan seperti ini, Universitas Indonesia sejak pertengahan Mei 2009 mulai membatasi akses mahasiswa, dan &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; hanya bisa diakses selepas jam 4 sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Facebook&lt;/em&gt; juga sering didakwa berperan menurunkan produktivitas. Sebuah kalkulasi meyebutkan, dengan rata-rata seorang pekerja 'nongkrong' di &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; selama satu jam sehari, Australia kehilangan 5 miliar dolar AS pada 2007. Atas dasar ini, banyak kantor ramai-ramai menutup akses ke situs tersebut pada jam efektif kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apakah karena dampak seperti tadi &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; lantas diharamkan? Studi lebih baru justru menyimpulkan sebaliknya. Dr Brent Coker dari Universitas Meulbourne, menemukan bahwa pekerja yang berselancar di internet untuk sekadar rekreasi pada jam kantor (&lt;em&gt;Workplace Internet Leisure Browsing&lt;/em&gt;) lebih produktif ketimbang yang tidak melakukannya. Tak heran, jika banyak pihak di negeri ini keberatan terhadap fatwa haram dengan alasan &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; masih lebih banyak manfaat daripada mudaratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tantangan beragama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tumbuhnya generasi digital merupakan tantangan besar bagi institusi agama. Selama ini, siaran televisi dan menjamurnya pusat belanja (mal) sudah cukup membuat agama 'tersisih'. Menonton dan berbelanja bahkan sudah seperti ritual; lebih khusyuk dilakukan serta punya alokasi waktu khusus yang lebih panjang ketimbang ibadah. Kini, dengan kecenderungan makin murahnya koneksi internet dan beragamnya perangkat untuk mengaksesnya, kompetisi antara agama vs teknologi menjadi semakin keras. Nasib agama pun bisa jadi akan kian tersisih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt;, akrab dengan situs tersebut berarti sangat menyita waktu (&lt;em&gt;time consuming&lt;/em&gt;). Bagi banyak remaja, berlebihan menggunakan &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; potensial mengabaikan tugas belajar mereka, termasuk kewajiban mendalami agama. Namun, dari sisi pengaruh buruk, dampak televisi masih jauh lebih kuat. Di &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; kendali ada pada pengguna, sementara televisi menjejali penonton dengan tayangan yang sering kali tidak mendidik dan tidak sesuai dengan usianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi tugas pokok ulama membimbing umatnya--terlebih generasi muda--ke jalan yang benar. Konon, fatwa haram muncul karena semakin banyaknya santri yang 'tersihir' canggihnya situs jejaring sosial di internet. Tentu saja, sesuatu perilaku yang berlebihan dan melalaikan, tidak selaras dengan ajaran agama. Dalam konteks seperti ini, fatwa dan respons para kiai dapat dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, setidaknya terdapat dua hal yang lebih mendesak dilakukan ketimbang pendekatan fatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, perlunya menanamkan kesadaran berteknologi yang sehat pada generasi yang tumbuh di era digital. Sering kali akar persolaannya bukan pada teknologi, tetapi lebih pada persoalan manajerial (&lt;em&gt;managerial problem&lt;/em&gt;). Yaitu, rendahnya kemampuan membagi waktu dan membuat skala prioritas. Oleh karena itu, kampanye internet sehat perlu diintensifkan, termasuk harus pula menyentuh kalangan pesantren dan disisipkan dalam kurikulum sekolah-sekolah agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, harus dihindari kesan seolah-olah agama memusuhi teknologi. Sebaliknya, agama harus diarahkan untuk mendorong rasa ingin tahu (&lt;em&gt;curiousity&lt;/em&gt;) dan menumbuhkan kreativitas generasi muda. Penting digarisbawahi, &lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; adalah produk teknologi hasil kreasi remaja usia 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, saat ini umat Islam perlu lebih banyak memproduksi teknologi ketimbang menghasilkan fatwa. Teknologi yang tumbuh dari dalam tentu akan lebih memahami dan berkesesuaian dengan budaya dan keyakinan sebagai Muslim. Inilah tantangan sesungguhnya di era digital.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-1519508040141045602?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/1519508040141045602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=1519508040141045602' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1519508040141045602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/1519508040141045602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/facebook-vs-fatwa-haram.html' title='Facebook vs Fatwa Haram'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-5210561554826483024</id><published>2009-05-31T19:23:00.001+07:00</published><updated>2009-05-31T19:23:49.827+07:00</updated><title type='text'>Gerakan Transnasional dan Tanggung Jawabnya</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Zainal Abidin Bagir &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Pengajar Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Pascasarjana UGM)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi penerbitan buku &lt;em&gt;Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia&lt;/em&gt; beserta protes sebagian peneliti yang pernah terlibat di dalamnya (&lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt;, 26 Mei 1009) memang cukup runyam. Kerunyaman menjadi makin rumit karena ada yang memanfaatkan buku ini untuk menunjukkan bahaya 'Islam garis keras' di Indonesia, sementara yang lain memanfaatkan protes sebagian peneliti itu untuk menyerang kredibilitas kelompok yang disimplifikasi sebagai 'Muslim liberal'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau mau sedikit berterus terang, mungkin kerunyaman ini bisa mulai diurai dan kontroversi ini memberikan banyak pelajaran penting. Setidaknya, kita bisa melihat dua hal yang terpisah, namun juga bisa terkait di sini: mengenai gerakan transnasional yang menjadi isu utama buku ini dan kualitas penelitian yang dikeluhkan para peneliti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;em&gt;Ilusi Negara Islam&lt;/em&gt;, sifat transnasional dengan tepat dilekatkan pada beberapa organisasi Islam yang disebut sebagai gerakan garis keras. Kritiknya tentu adalah pada 'garis keras'-nya. Sifat transnasional dilekatkan pada gerakan tersebut untuk menunjukkan bahwa ini adalah isu besar dan serius. Bahkan, karena melibatkan dana asing, besar kemungkinan agendanya adalah agenda asing yang tak relevan dengan lokalitas Indonesia dan dianggap mengancam Indonesia. Menarik bahwa Hizbut Tahrir Indonesia, yang menjadi salah satu tertuduh utama di buku itu, tidak menampik tuduhan transnasional itu. Bahkan, mereka meneguhkannya: bukahkah watak Islam sendiri adalah transnasional? Jadi, apa yang salah? Beberapa peneliti yang merasa namanya dicatut untuk kepentingan buku ini sesugguhnya juga secara implisit menisbahkan ke-transnasional-an upaya melawan gerakan Islam garis keras itu. Mereka menyebut campur tangan terlalu jauh pihak LibForAll dari Amerika Serikat yang mendanai penelitian dan penerbitan buku ini sebagai salah satu sumber pelanggaran etis pencatutan nama mereka. Ini terlepas dari penegasan mereka tentang kekhawatiran yang sama pada tumbuh berkembangnya kelompok-kelompok garis keras itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era globalisasi ini, ke-transnasional-an tak bisa dihindari. Dan, sebetulnya, sama sekali tak punya konotasi negatif, justru sebagian besar positif. Semua gerakan demokratisasi ataupun anti-demokrasi, gerakan lingkungan dan gerakan perempuan, gerakan fundamentalis ataupun pluralis yang ada dalam Islam, agama-agama lain, atau yang tak membawa label agama makin kuat dan bersaing melampaui batas-batas negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide Khilafah atau Kristen Pantekosta dan hak asasi manusia atau kesetaraan gender terlalu besar untuk bisa dibatasi oleh batas-batas negara. Gerakan transnasional pun, jika berhasil, dampaknya bisa sangat signifikan. Keberhasilan gerakan kemerdekaan Timor Timur, misalnya, bukan hanya merupakan hasil tekanan negara-negara besar, tapi juga gerakan masyarakat sipil transnasional yang menjadikan isu lokal itu terlihat dalam dunia internasional. Karena dampak ide atau gerakan dalam suatu komunitas bisa mengenai komunitas lain, itu sah saja jika orang atau kelompok asing punya kepedulian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kebebasan yang muncul mengikuti Reformasi 1998, ladang Indonesia pun menjadi makin subur dan menyatu dengan dunia internasional sehingga menjadi lahan persaingan beragam kelompok itu. Jika transnasionalitas tak terelakkan, lalu apa persoalannya? Ini menjadi persoalan jika pohon dari luar hendak ditanam di lahan sendiri secara paksa. Ide bisa datang dari mana saja. Penting diakui bahwa tanah kita bukanlah tanah ideal yang tak bisa diperkaya lagi. Namun, memang tak selalu jelas perubahan mana yang akan membawa perbaikan atau justru merusak identitas (baik itu identitas 'Islam Indonesia, Islam yang murni/sebenarnya', maupun yang lain). Identitas pun sebetulnya sifatnya cair, tak statis, serta bisa bahkan selalu berubah kandungannya demi pencapaian apa yang dianggap ideal. Yang lalu menjadi persoalan tampaknya adalah autentisitas dan integritas. Di sini, isunya bisa terkait dengan persoalan sumber dana. Dana asing menjadi buruk jika itu mengorbankan autentisitas dan integritas. Secara lebih konkret, persoalannya adalah akuntabilitas. Untuk sebuah penelitian, seperti buku &lt;em&gt;Ilusi Negara Islam&lt;/em&gt; (yang sesungguhnya cukup serius karena berasal dari penelitian dua tahun), akuntabilitas salah satunya terletak pada pertanggungjawaban akademik, pertanggungjawaban atas klaim-klaim yang dibuat, atau pengakuan karya seperti yang disinggung para pemrotes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penelitian menjadi jalan untuk advokasi (sekali lagi, baik itu untuk suatu Islam moderat, penerapan syariah, maupun kesetaraan gender), advokasi yang bertanggung jawab adalah yang berdasar pada pengetahuan terbaik yang kita miliki. Sementara itu, kebenaran mungkin tak tercapai oleh manusia, dugaan atau prasangka justru bisa menyesatkan lebih jauh dari pencapaian pengetahuan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, hal ini terlalu dasar untuk diungkapkan. Tapi, tak ada salahnya mengingat bahwa pengetahuan kita tak menjamin 'saya sudah tahu apa yang baik untuk masyarakat' meskipun pengetahuan itu bersumber dari pengalaman lapangan puluhan tahun atau dari kitab yang diwahyukan. Selalu ada penafsiran, lalu penafsiran atas pengalaman empiris ataupun atas wahyu selalu tak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah soal pencarian pengetahuan terbaik, akuntabilitas juga menyangkut pertanyaan lain: kepada siapakah pengembangan suatu gagasan dipertanggungjawabkan? Pertanggungjawaban utama setiap (gagasan untuk) gerakan sosial selayaknyalah kepada masyarakatnya sendiri, bukan kelompok atau organisasi lain, termasuk penyandang dana. Sekali lagi, mungkin ini hal yang klise atau terlalu remeh untuk dikatakan, tapi selalu penting diulang untuk menginterogasi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, kiranya sah-sah saja kelompok 'Muslim liberal', garis keras, HTI, Ahmadiyah, aktivis lingkungan, aktivis HAM, atau gerakan perempuan menjadi suatu gerakan transnasional dan menerima (atau memberikan) dana dari barat, timur, utara, atau selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah akuntabilitas yang menjadi salah satu isyarat untuk autentisitas dan integritas. Jika kelompok-kelompok itu sungguh serius dengan apa yang diperjuangkannya, autentisitas dan integritas adalah urusan yang sangat penting. Kiranya, perlu kita akui bahwa setiap kelompok dalam ruang publik punya agenda dan kepentingannya sendiri. Akan lebih baik jika semua pelakunya bersaing secara &lt;em&gt;fair&lt;/em&gt;, berlomba-lomba untuk kebaikan, bukan saling menjatuhkan. Ruang publik bebas Indonesia masa ini ada karena pengorbanan yang mahal sehingga perlu sungguh-sungguh dijaga. Termasuk, tugas penjagaan adalah menghindari insinuasi demi delegitimasi. Karena, ini hanya akan mencemari udara kebebasan yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah perbedaan adalah sumber rahmat yang dapat saling memperkaya? Tugas utama menjaga ruang kebebasan itu memungkinan munculnya perbedaan garis keras, liberal, moderat, atau apa pun ada pada semua yang hidup di dalamnya, yang menghirup udara kebebasan itu. Fatwa, selebaran, atau hasil penelitian semuanya punya tanggung jawab yang sama.&lt;/p&gt; (-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-5210561554826483024?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/5210561554826483024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=5210561554826483024' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5210561554826483024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/5210561554826483024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/gerakan-transnasional-dan-tanggung.html' title='Gerakan Transnasional dan Tanggung Jawabnya'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6977838066653553254</id><published>2009-05-29T08:42:00.000+07:00</published><updated>2009-05-29T08:43:59.200+07:00</updated><title type='text'>Lagi, Soal Islam dan Demokrasi</title><content type='html'>&lt;p&gt;Oleh: &lt;strong&gt;Azyumardi Azra&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Pemilu Pilpres 8 Juli 2009, cukup banyak organisasi massa Islam yang menyelenggarakan berbagai pertemuan, rapat kerja, dan semacamnya. Sebagiannya melaksanakan acara-acara tersebut karena memang sudah menjadi jadwal sejak semula. Tetapi, mungkin ada juga yang diselenggarakan dalam rangka menyongsong atau menyikapi pilpres. Meski ormas-ormas seyogianya tidak terlibat politik praktis, pada kenyataannya para anggota ormas mengharapkan semacam 'arahan' dari organisasi mereka. Meski, keputusan tentang siapa pasangan capres-cawapres yang bakal mereka contreng akhirnya tergantung pada diri masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, saya beruntung mendapat undangan untuk menyampaikan makalah pada Sidang Dewan Tafkir Persis (Persatuan Islam), pekan lalu. Topik yang dibicarakan menyangkut hubungan Islam dengan demokrasi: mengapa umat Islam Indonesia dapat menerima demokrasi, kemudian tak kurang pentingnya tentang efektivitas sistem politik demokrasi dalam memajukan umat, bangsa, dan negara secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema tentang Islam dan demokrasi jelas bukan hal baru. Bahkan, itu selalu dibicarakan, baik pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Seperti pernyataan seorang peserta Sidang Dewan Tafkir, pembicaraan tentang ini mengisyaratkan seolah-olah tidak ada kesesuaian antara Islam dan demokrasi. Karena itu, terjadi stigmatisasi di kalangan masyarakat internasional bahwa Islam tidak kompatibel dengan demokrasi, khususnya menyangkut hal 'kedaulatan rakyat' dalam demokrasi dengan apa yang sering disebut sebagai 'kedaulatan Tuhan' (&lt;em&gt;hakimiyyah Allah&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa tidak ada rumusan perinci tentang sistem politik yang dapat diterapkan umat Islam dalam Alquran telah menjadi semacam kesepakatan &lt;em&gt;jumhur&lt;/em&gt; (mayoritas) ulama fikih &lt;em&gt;siyasah&lt;/em&gt; (politik). Sebaliknya, terdapat beberapa prinsip pokok dalam Alquran yang dapat menjadi landasan bagi penerimaan demokrasi dalam Islam, misalnya syura (musyawarah, baik melalui representasi pada lembaga legislatif maupun eksekutif atau secara langsung); &lt;em&gt;almusawa&lt;/em&gt; (kesetaraan); &lt;em&gt;al-'adalah&lt;/em&gt; (keadilan); akuntabilitas publik (&lt;em&gt;ra'iyah&lt;/em&gt;); dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar prinsip-prinsip ini, penerimaan demokrasi melalui kerangka fikih &lt;em&gt;siyasah&lt;/em&gt; di atas tidak dilihat mengurangi 'kedaulatan Tuhan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedaulatan Allah terhadap makhluknya merupakan sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan lagi. Allah tetap Mahakuasa &lt;i&gt;vis-à-vis&lt;i&gt; makhluknya meski ada 'kedaulatan rakyat' yang diwujudkan melalui sistem politik demokrasi. Karena itu, kedua bentuk kedaulatan--yang sebenarnya tidak sebanding--tak perlu dipertentangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar kerangka itulah, para pemimpin umat Muslim umumnya dapat menerima demokrasi, khususnya di Indonesia, sejak negara ini memaklumkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Memang, dalam perjalanannya, terdapat pemikiran dan gerakan--termasuk bersenjata--yang ingin mengganti demokrasi dan bahkan Pancasila dengan teokrasi Islam, tetapi mengalami kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya pula, demokrasi di Indonesia sejak dulu sampai sekarang ini pada praktiknya tidak selalu dapat menjadi sistem politik yang efektif. Karena itu, seperti dikemukakan seorang peserta perempuan dalam Sidang Dewan Tafkir Persis, demokrasi kita belum bisa mengharapkan hasil konkret demokrasi, misalnya untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya, sering terlihat demokrasi berubah menjadi &lt;em&gt;democrazy&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bersyukur, gejala &lt;em&gt;democrazy&lt;/em&gt; itu tidak terjadi dalam skala yang mencemaskan pada masa prapileg dan pascapileg yang lalu meski banyak komplain, laporan, dan gugatan melalui Mahkamah Konstitusi karena DPT yang kacau, politik uang, penghilangan dan pengelembungan suara, dan seterusnya. Pilpres mendatang menjadi ujian, apakah pemilu dapat berjalan lebih baik sehingga bangsa dan negara ini terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan.&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, ormas-ormas--khususnya yang berbasiskan keagamaan--dapat memainkan peran penting dalam mengawal penerapan demokrasi lebih baik. Salah satunya adalah memberikan sosialisasi kepada para anggotanya tentang perlu kepatuhan pada hukum dan keadaban publik dalam demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi tidak bisa berjalan baik tanpa penghormatan dan kepatuhan kepada tatanan hukum--hal itu tentu saja juga sangat diajarkan Islam. Demokrasi juga dapat menjadi kacau balau tanpa keadaban publik (&lt;em&gt;public civility&lt;/em&gt;), yaitu sikap dan perilaku yang berlandaskan adab, akhlak, etika, dan moralitas. Politik dan demokrasi tanpa keadaban publik seperti itu dapat berujung pada kekacauan. Dan, ormas-ormas Islam dengan pengaruh dan daya tekannya yang kuat dapat kian memperkuat perannya dalam bidang-bidang ini.&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ralat Resonansi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam resonansi Rabu (27/5), yang ditulis Asro Kamal Rokan, ada naskah yang tak termuat sehingga mengaburkan isi dari tulisan itu. Berikut kutipan naskah yang tidak termuat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tulisannya di &lt;em&gt;The International Herald Tribune&lt;/em&gt;, 10 Februari 2006, SBY menilai karikatur itu dapat dianggap sebagai serangan langsung pada umat Islam. Ini juga berakibat buruk bagi demokrasi. Pesan yang disampaikan karikatur itu kepada komunitas Islam menjadi membingungkan: demokrasi menyebabkan pelecehan terhadap Islam.&lt;br /&gt;Syekh Yusuf Al Qardhawi beralasan berharap pada Indonesia. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar jika demokrasi ini berjalan baik, kesejahteraan rakyat meningkat--peran Indonesia semakin penting dan bahkan model tentang Islam yang indah: &lt;em&gt;rahmatan lil alamin&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;Dan, siang itu di Hotel Mount Nelson, Cape Town, Afrika Selatan, 16 Maret 2006 lalu, dalam diskusi terbatas tentang dunia Islam, Presiden SBY berkeyakinan Indonesia dapat memainkan peran aktif memperkuat hubungan Barat dan dunia Islam, untuk dunia yang damai, dunia yang lebih indah, tanpa kecurigaan.&lt;br /&gt;Siang itu, setelah berziarah di makam Syekh Yusuf, pahlawan nasional asal Makkasar, cuaca di Cape Town cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Redaksi mohon maaf atas kekeliruan ini. wasalam&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;i&gt;&lt;i&gt; (-)      &lt;/i&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6977838066653553254?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6977838066653553254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6977838066653553254' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6977838066653553254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6977838066653553254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/lagi-soal-islam-dan-demokrasi.html' title='Lagi, Soal Islam dan Demokrasi'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-2777510490211356177</id><published>2009-05-29T08:30:00.000+07:00</published><updated>2009-05-29T08:31:33.095+07:00</updated><title type='text'>Fikih dan Tuntutan Zaman</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Danang Kuncoro Wicaksono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Wakil Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Suriah 2008-2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa ini, Fikih Islam selalu mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya dari beberapa kalangan. Ia sering dijadikan objek yang seolah-olah 'diperkosa' sedemikian rupa demi memuaskan nafsu dan kepentingan kelompok tertentu. Ada yang ingin merombaknya secara total, bahkan menghapusnya sama sekali karena dianggap tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman. Kalangan ini biasanya merasa minder dan rendah diri dengan agamanya sendiri sehingga merasa malu menyandang predikat Muslim, karena telah tersilaukan oleh peradaban Barat yang menurutnya lebih layak menjawab tuntutan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang ingin mempersempit koridor syariat yang sebenarnya sangat luas, sehingga menciptakan &lt;em&gt;image&lt;/em&gt; bahwa Islam adalah ajaran yang sempit, kaku, jumud, dan tidak dinamis. Kalangan ini biasanya terlalu bersemangat dalam beragama namun tidak memiliki bekal ilmu yang cukup, sehingga seringkali berijtihad dan beristinbath tanpa kaidah. Atau, memiliki pengetahuan yang cukup tapi tidak memiliki metode yang tepat dalam menyampaikannya sehingga alih-alih memberikan pencerahan justru menimbulkan kesalahpahaman. Atau, bisa juga disebabkan oleh fanatisme kelompok, mazhab, atau ulama tertentu sehingga mengabaikan pendapat ulama lain. Ada yang terlalu tekstual dalam menafsirkan teks-teks yang ada sehingga menimbulkan asumsi bangkitnya kembali mazhab Zhahiriyah Modern. Namun, ada pula yang terlalu kontekstual sehingga menabrak batas-batas yang telah ditetapkan oleh para ulama, sehingga keblinger dan kebablasan. Lalu, bagaimana kita menyikapi semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fikih sebagai suatu komponen terpenting dalam syariat Islam merupakan sekumpulan intisari hukum-hukum syariat yang bersifat praktis, yang telah diekstrak oleh para ulama mujtahidin dari sumber-sumbernya yang terperinci. Sejak dahulu para ulama sangat intensif memperhatikan permasalahan-permasalahan yang muncul di zaman mereka lalu mencari hukum yang sesuai dengan Alquran dan sunah, tentunya dengan kaidah-kaidah baku yang telah ditetapkan dalam ilmu ushul fikih, kemudian menulisnya dalam kitab-kitab mereka. Berbagai aktivitas ijtihad pun marak berlangsung dalam rangka mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Sehingga, tak mengherankan jika pada era kodifikasi kitab-kitab fikih, banyak terjadi silang pendapat di antara ulama. Hal itu disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Dr Musthafa Sa'id Al-Khin dalam kitabnya, &lt;em&gt;Atsarul Ikhtilaf fi Al-Qawa'id Al-Ushuliyah&lt;/em&gt;, yaitu perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam tataran kaidah &lt;em&gt;ushuliyah&lt;/em&gt; yang kemudian berimplikasi munculnya perbedaan dalam penggunaan dalil-dalil yang dijadikan sebagai sandaran dalam beristinbath. Dari situlah akhirnya timbul perbedaan para ulama dalam memutuskan hukum fikih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini, sudah terlalu banyak kitab fikih yang ditulis oleh para ulama dan dikaji secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Berbagai madrasah &lt;em&gt;fiqhiyah&lt;/em&gt; maupun &lt;em&gt;ushuliyah&lt;/em&gt; pun akhirnya banyak bermunculan. Fatwa-fatwa terkait dengan persoalan-persoalan kontemporer yang belum pernah terjadi di zaman dahulu seperti hukum &lt;em&gt;cloning&lt;/em&gt; manusia, &lt;em&gt;credit card&lt;/em&gt;, dan semisalnya pun telah banyak ditulis oleh para ulama di zaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah seterusnya, fikih selalu menjadi pembahasan yang selalu hangat dan tak pernah basi. Setiap muncul permasalahan baru, selalu muncul pula para ulama yang berjuang dan berusaha keras untuk mencarikan hukum sehingga menjadikan Islam sebagai sebuah undang-undang yang selalu &lt;em&gt;up to date&lt;/em&gt;. Perbedaan yang terjadi di antara para ulama merupakan hal yang wajar selama hukum-hukum yang dihasilkan berdasarkan pada dalil-dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadikan para pengikut ulama tertentu saling menghujat satu sama lain. Justru sebaliknya, adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama seharusnya dapat membuktikan betapa Islam sangat kaya dengan pilihan solusi yang ditawarkan dan perbedaan yang terjadi merupakan manifestasi rahmat bagi seluruh umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tuduhan beberapa kalangan yang mengatakan bahwa fikih Islam belum bisa menjawab persoalan umat merupakan tuduhan yang sangat tidak berdasar. Realita yang ada justru menunjukkan sebaliknya. Munculnya cabang-cabang Syariah dalam bank-bank konvensional di beberapa negara Eropa menunjukkan bahwa Islam merupakan solusi yang jitu bagi krisis yang tengah melanda umat manusia. Begitu juga undang-undang &lt;em&gt;Ahwal Syakhsiyah&lt;/em&gt; yang mendapat pujian para ahli perundang-undangan dunia seperti Gustave Lebon, membuktikan bahwa Islam adalah aturan yang tepat dan sesuai dengan fitrah manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Materi Qodhoya Fiqhiyah Muashiroh (Contemporary Islamic Issues) pun kini telah menjadi mata kuliah tetap (&lt;em&gt;muqorror&lt;/em&gt;) yang diajarkan di universitas-universitas Islam di Timur Tengah. Para ulama kontemporer seperti Dr M Sa'id Ramadhan Buthi, Dr Yusuf Qaradhawi, Dr Wahbah Zuhaili, dan lain-lain merupakan para ulama garda terdepan yang tak pernah lelah menjawab persoalan-persoalan umat yang muncul belakangan ini. Mereka adalah orang-orang yang paling berjasa di zaman ini dalam rangka menjaga orisinalitas dan relevansi Islam di setiap zaman. Ulama-ulama seperti merekalah yang akan mempertahankan kemurnian Islam ini dari segala macam bentuk penyelewengan, dan akan senantiasa ada di setiap zaman. Bahkan, dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setiap seratus tahun sekali akan muncul para ulama yang memurnikan (tajdid) ajaran Islam. Semua ini menunjukkan bahwa aktivitas ekstraksi hukum (&lt;em&gt;istinbath al-ahkam&lt;/em&gt;) dari sumber-sumbernya yang masih asli terkait dengan permasalahan-permasalahan baru yang muncul di setiap masa masih dan akan terus berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita semua, 'Siapakah yang akan meneruskan perjuangan para ulama itu di masa mendatang? Siapakah yang akan memberikan fatwa-fatwa bagi umat terkait dengan persoalan yang muncul di masa yang akan datang?' Siapa lagi jika bukan kita sebagai generasi penerus yang saat ini sedang berguru kepada mereka yang akan meneruskan perjuangan mereka di masa depan ketika mereka telah tiada. Mereka takkan lama lagi akan pergi meninggalkan kita semua di dunia ini. Akankah kita terus berangan-angan sambil berkata, ''Andaikan Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad masih hidup di zaman ini, tentu mereka akan menjawab semua persoalan umat yang semakin kompleks di zaman ini.''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, angan-angan saja tidak akan mendatangkan solusi tanpa dibarengi dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh dalam rangka menggali kekayaan khazanah Islam yang masih terpendam di dalam lautan kitab dan pemikiran para ulama yang saat ini masih hidup. Oleh karena itu, tidak ada jalan lagi bagi kita selain menimba dan terus menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari para ulama yang masih hidup di zaman ini sebagai bekal kita untuk menghadapi masa depan yang permasalahannya semakin kompleks dan membutuhkan ulama-ulama brilian seperti mereka untuk mampu menyelesaikan problematika yang muncul. Andaikan boleh berangan-angan seperti di atas, mengapa tidak sekaligus berangan-angan, ''Seandainya Rasulullah masih hidup di zaman ini?'' Wallahu 'alam bis shawab.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-2777510490211356177?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/2777510490211356177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=2777510490211356177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2777510490211356177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/2777510490211356177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/fikih-dan-tuntutan-zaman.html' title='Fikih dan Tuntutan Zaman'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-319657724133555241</id><published>2009-05-12T16:41:00.000+07:00</published><updated>2009-05-12T16:42:49.693+07:00</updated><title type='text'>Islam dan Pengembangan SDA Untuk Kesejahteraan Bangsa</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;div&gt;Catatan Seorang Santri Sebagai Kado Untuk WOC-CTI Summit di Manado&lt;/div&gt;      &lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;div class="reporter"&gt;         &lt;div class="byreporter"&gt;      By H. Hasminto Yusuf, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="box_share"&gt;&lt;br /&gt;                     &lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;      &lt;script type="text/javascript"&gt;var addthis_pub="republikaonline";&lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"&gt;&lt;/script&gt;      &lt;!-- AddThis Button END --&gt;           &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;div class="image_detail"&gt;     &lt;img alt="Islam dan Pengembangan SDA Untuk Kesejahteraan Bangsa" style="width: 325px;" src="http://republika.co.id/images/news/2009/05/20090512134143.jpg" /&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;p&gt;Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki sumberdaya alam (SDA) yang diperbaharui maupun tidak diperbaharui melimpah. Sumberdaya alam yang dapat diperbaharui seperti hutan, ikan, tanaman perkebunan dan seterusnya. Sementara, sumberdaya yang tidak dapat diperbaharui berupa mineral, barang tambang (batubara dan emas), minyak dan gas. Sayangnya, SDA tersebut tidak mampu memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Apakah ada kekeliruan dalam pengelolaannya sehingga saat ini hampir semua sumberdaya tersebut dikelola dan dikendalikan asing? Hampir setiap hari di media massa koran maupun televisi kita kerap mendengar berita illegal logging, illegal fishing maupun illegal mining. Kita sebagai pemilik sah sumberdaya itu hanya menjadi ”penonton” di rumah sendiri. Kita pun lupa bahwa sekitar 90 % penduduk negeri ini beragama Islam yang praktis tidak mendapatkan apapun dari praktek pengelolaan SDA semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perspektif Konvensional&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang memiliki kekayaan SDA melimpah secara teoritis harus berkorelasi positif dengan kesejahteraan masyarakat. Semakin melimpah SDA, akan semakin makmur bagi penduduknya. Faktanya, data Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (KPDT) menyebutkan bahwa 69.957 desa di Indonesia (PODES, 2006) sekitar 45,2 % termasuk kategori desa tertinggal. Dari jumlah penduduk miskin yang mencapai 42,4 juta (BPS, 2006) sekitar 68,4 % berada di pedesaan. Mengapa kondisi asimetris bisa terjadi padahal kita memiliki SDA yang melimpah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kepustakaan ekonomi sumberdaya ”konvensional” dinyatakan bahwa kepemilikan (property right) atas SDA dikelompokkan (Tietenberg, 1992); (i) kepemilikan pribadi (private property right); (ii) kepemilikan bersama (common property right), dan (iii) kepemilikan negara (state property right). Hampir 90 % pengelolaan SDA di Indonesia masuk kategori kepemilikan pribadi yang dalam hal ini direpresentasikan perusahaan multinasional (multinational corporation). Saat ini tidak ada lagi aturan yang membatasi mana barang publik (publik goods), mana milik pribadi dan mana yang diatur negara. Dalam bidang pertambangan minyak dan Gas pemiliknya Exxon Mobile, Shell, dan Total E &amp;amp; P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, dalam bidang pertambangan mineral (tembaga, emas dan batubara) pemiliknya Freepot, Newmont, Kalimantan Prima Coal (KPC). Dalam bidang perkebunan perusahaan-perusahaan Malaysia menguasai 90 % perkebunan Sawit di Sumatera dan Kalimantan. Sumberdaya air yang menjadi barang publik pengelolaannya pun sekarang dilakukan perusahaan-perusahaan asing yang awalnya berkedok proyek Water Resources Sector Adjustement Loan (Watsal) dari Bank Dunia. Bukan hanya itu, operasi penangkapan ikan di perairan Indonesia banyak dilakukan kapal asing bertonase besar. Parahnya lagi pemerintah justru membuat peraturan perundangan yang menjustifikasi pihak-pihak asing dalam menguasai SDA seperti UU MIGAS, UU Sumberdaya Air, UU Penanaman Modal Asing, UU Perikanan, UU Perkebunan, dan UU Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dst. Kondisi ini sebenarnya kontradiktif dengan UUD 1945 pasal 33 dimana ”bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya ”dikuasai” oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Semangat konstitusi jelas membenarkan adanya kepemilikan negara yang menyangkut hajat hidup orang banyak seperti sumberdaya air, tanah, minyak dan gas, mineral serta lautan dan biotanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Perspektif Islam&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai agama ”wahyu” juga mengatur tentang kepemilikan dan pengelolaan SDA. Jenis kepemilikan atas SDA terdiri dari (i) kepemilikan individu (&lt;em&gt;mikl fardhiyah&lt;/em&gt;); (ii) kepemilikan umum (&lt;em&gt;milk ’ammah&lt;/em&gt;) dan, kepemilikan negara (&lt;em&gt;milk daullah&lt;/em&gt;) (Solihin, 2007). Terminologi konsep kepemilikan dalam Islam ini memang tidak berbeda dengan konsep ekonomi sumberdaya konvensional. Akan tetapi, secara substansi dan implementasi konsep kepemilikan (&lt;em&gt;property right&lt;/em&gt;) menurut ajaran Islam berbeda signifikan. Islam mengakui kepemilikan individu/swasta akan tetapi tidak boleh memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfataannya pun hanya diperbolehkan pada batas tertentu agar tidak menimbulkan kerusakan atas SDA (Ar Rum : 41). Berkebalikan dengan konsep ekonomi liberal yang bukan sekadar menguasai, akan tetapi boleh mengeksplotasi tanpa batas bahkan memperjualbelikan dengan pihak lain dengan mengabaikan negara pemiliknya. Islam juga mengakui kepemilikan umum/bersama seperti barang tambang, tanah, sumber air (sungai, mata air), lautan dan biotanya (An Nahl, : 14) dan seterusnya yang juga ada batasan dalam pemanfaatannya. Islam mencontohkan bagaimana Nabi Saleh AS melakukan ”reforma agraria” atas tanah, padang-padang rumput, dan sumber air (oase) yang saat itu hanya dikuasai oleh sembilan keluarga dari kaum Tsamud yang mewarisi kebudayaan kaum Ad (suku pengembala) (Al Ar’af : 73). Reforma agraria tersebut mengakibatkan sumberdaya tersebut berubah kepemilikan dari individu (keluarga) menjadi milik bersama (common property right) (Zia Ul Haq, 1987).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Peran Negara&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Jika kita transformasikan nilai ajaran Islam dalam konteks kekinian, peran negara yang pemimpinnya sebagai pengemban amanah rakyat harus mampu mengelola/mengendalikan dan memanfaatkan SDA demi mensejahterakan rakyatnya. Dalam perspektif ini substansi pasal 33 UUD 1945 jelas sejalan dengan konsep kepemilikan dalam Islam. Akan tetapi, mengapa Negara sebagai intitusi tertinggi yang berperan dalam mengelola/mengendalikan dan memanfaatkan SDA justru ”mengabaikan” dengan amanat konstitusi? Parahnya, lagi negara justru memproduksi peraturan-perundangan yang jelas-jelas bertentangan dengan UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu mengkaitkan dulu dengan ajaran Islam yang notabene dianut 90 % penduduk negara ini. Konstitusi yang jelas–jelas menentang penguasaan asing, kepemilikan individu yang tak terbatas (baca : UU Penanaman Modal) atas barang publik (&lt;em&gt;public goods&lt;/em&gt;) yang menyangkut hajat hidup orang banyak justru diperbolehkan. Apakah hal ini merupakan bentuk baru dari kegagalan pemerintah (&lt;em&gt;government failure&lt;/em&gt;) dalam mengelola SDA? Atau, memang kita sudah terjebak dalam arus neo-liberalisme yang ”memaksa” negara mengorbankan rakyatnya demi kepentingan sekelompok elita dan pihak asing yang menguasai aset ekonomi global?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dengan Al Qur’an dan Al Hadist sebagai pedoman pokoknya tidak sekadar memuat teks-teks normatif saja. Melainkan, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu mentransformasikannya model pengelolaan SDA sekalipun tidak disebutkan bersumber dari keduanya. Ada beberapa yang dapat disebutkan di Indonesia antara lain (i) Model kelembagaan Panglima Laot yang mengatur perikanan laut di Aceh menurut sejarahnya bersumber dari filosofih ajaran Islam pada masa Kesultanan Aceh Darussalam (Saharuddin, 2006); (ii) Sama halnya dengan kelembagaan ”Sasi” yang mengatur penangkapan sumberdaya ikan secara komunal (Ikan Lompa dan Lola) juga dibangun atas nilai-nilai ajaran Islam di Maluku sejak dulu sampai kini; (iii) Penutupan perairan semacam situ yang kenal sebagai ”Lebaklebung” di Minangkabau juga bernapaskan ajaran Islam (Beckmann et all, 2001), dan (iv) Di wilayah Kesultanan Buton yang pada masanya sudah menerapkan syariat Islam dalam mengatur sistem penguasaan tanah, penangkapan ikan di laut, dan hukum tawan karang bagi kapal asing yang terdampar di perairan Buton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model-model pengelolaan SDA tersebut yang kerap disebut kearifan lokal yang sejatinya mengandung mentranformasikan dan mengaktualisasikan nilai-nilai ajaran Islam yang hakiki karena (i) dalam mengelola SDA ada aturan pengelolaan dan pemanfaatan (ii) adanya pengakuan kepemilikan inividu maupun publik/umum, tetapi pemanfaataannya terbatas karena harus ada jaminan keberlanjutan pada masa datang (sustainability), dan (iii) negara yang waktu itu direpresentasikan sebagai ”kesultanan” maupun ”kerajaan” bukan pemilik SDA, melainkan berperan mengatur dan mengendalikan pemanfaatannya sehingga memakmurkan rakyatnya. Awal tergerusnya nilai-nilai Islam transformatif ini akibat kolonialisme dengan idiologi kapitalisme/lebralisme-nya dengan semboyan gold, gospel dan glory. Sementara di masa kini, penjajahannya bersifat ekonomi (utang luar negeri dan liberalisasi perdagangan) tetap dengan idiologi kapitalisme/neo-liberalismenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia harus mulai membangun paradigma-paradigma transformatif berbasiskan agama khususnya Islam dalam mengelola SDA agar pemanfaatannya berkelanjutan. Tanpa itu, eksploitasi atas SDA oleh pihak asing maupun para kapitalis akan semakin merajalela. Rakyat akhirnya menjadi korban dengan dalih pembangunan (developmentalisme). Akhirul Kalam, Selamat atas terselenggaranya WOC-CTI Summit di Manado. Wallahu alam bisawab/taq&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-319657724133555241?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/319657724133555241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=319657724133555241' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/319657724133555241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/319657724133555241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/05/islam-dan-pengembangan-sda-untuk.html' title='Islam dan Pengembangan SDA Untuk Kesejahteraan Bangsa'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-6790274768754140965</id><published>2009-04-11T15:08:00.001+07:00</published><updated>2009-04-11T15:08:57.279+07:00</updated><title type='text'>NU, Ru’yah, dan Reformasi Penanggalan</title><content type='html'>&lt;h1 class="title"&gt;&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/nu-ruyah-dan-reformasi-penanggalan/" title="NU, Ru’yah, dan Reformasi Penanggalan"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h5 class="author"&gt;Oleh Ulil Abshar-Abdalla&lt;/h5&gt; &lt;div class="article_content"&gt;   &lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;Padangan-pandangan dalam mazhab fikih yang hampir sebagian besar mengukuhkan metode ru’yah itu hanyalah kelanjutan saja dari tradisi dalam masyarakat Arab pada zaman itu. Sebagaimana kita tahu, hampir semua mazhab Islam lahir dalam konteks di mana tradisi ru’yah memang lazim&lt;br /&gt;berlaku. Dengan kata lain, metode ini bukan sesuatu yang tidak bisa ditinjau ulang. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p&gt;NU selama ini dikenal sebagai ormas Islam yang berpegang pada metode &lt;i&gt;ru’yah&lt;/i&gt; dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadan. Sementara Muhammadiyah dikenal mengikuti metode hisab. Fenomena ini agak janggal, sebab, secara logis, mestinya Muhammadiyah mengikuti metode &lt;i&gt;ru’yah, &lt;/i&gt;karena itulah yang jelas-jelas sesuai dengan makna literal sebuah hadis yang terkenal, “shuumuu li ru’yatihi, wa afthiruu li ru’yatihi, fi in ghumma ‘alaikum fa-akmilu ‘l-’iddata tsalaatsiina”. Bukankah selama ini Muhammadiyah dikenal sebagai ormas yang mengumandangkan ide kembali kepada Qur’an dan Sunnah? Metode &lt;i&gt;ru’yah,&lt;/i&gt; sebaliknya, justru diikuti oleh NU yang selama ini lebih dikenal mengikuti fikih mazhab, ketimbang kembali langsung kepada sunnah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Tetapi, sikap NU dalam mengikuti &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;ini juga tak lepas dari semacam kontradiksi, atau tepatnya inkonsistensi. Penentuan awal bulan dengan ru’yah hanya diikuti oleh NU dalam kasus awal dan akhir Ramadan, tetapi tidak dalam bulan-bulan lain sepanjang tahun. Di PBNU sendiri ada lajnah falakiyyah yang salah satu tugasnya adalah membuat penanggalan atau kalender seluruh bulan dalam setahun, tentu dengan metode hisab. Dengan kata lain, dalam kasus bulan Ramadan, NU memakai metode &lt;i&gt;ru’yah, &lt;/i&gt;sementara untuk bulan-bulan yang lain, memakai metode hisab. Ini yang saya sebut sebagai sikap yang inkonsisten. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Selain berpatokan pada fikih mazhab, argumen NU untuk memakai metode &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;jelas adalah berpegangan pada hadis terkenal di atas. Secara harafiah, hadis di atas memang hanya berbicara tentang bulan Ramadan. Tetapi apakah &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;atau melihat bulan hanya dipakai oleh Nabi dalam kasus awal Ramadan saja? Jelas jawabannya tidak. Pada masa Nabi belum ada ilmu falak untuk menentukan penanggalan dengan hisab. Dengan kata lain, metode penanggalan dalam masa Nabi adalah &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;dan ini berlaku sepanjang tahun. Setiap menjelang akhir bulan, para sahabat selalu mengintip bulan di cakrawala. Jika mereka melihat bulan, maka tahulah mereka bahwa bulan baru telah tiba. Jika tidak, mereka menyempurknakan hitungan bulan menjadi tiga puluh hari. Itulah adat yang berlaku di masyarakat Arab dan kemudian dieskplisitkan oleh Nabi melalui statemen di atas. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi, satu hal mestilah ditambahkan di sini sebagai semacam warning. Sebagaimana sudah saya sebut, metode ru’yah adalah tradisi yang berlaku dalam masyarakat Arab pada zaman itu, dan bukan sesuatu yang bersifat khas Islam. Dengan memakai &lt;i&gt;ru’yah, &lt;/i&gt;Nabi hanya melanjutkan tradisi yang sudah ada. Kalender Hijriyah yang berdasarkan sistem lunar atau rembulan, bukan solar atau matahari seperti dalam sistem Gregorian, adalah tradisi masyarakat Arab. Sistem lunar ini juga diikuti dalam sistem penanggalan Yahudi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kembali kepada soal NU dan &lt;i&gt;ru’yah: &lt;/i&gt;mestinya, jika NU mengikuti sunnah yang diajarkan Nabi secara kurang lebih konsisten, maka sistem penanggalan harus memakai &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;untuk bulan-bulan sepanjang tahun, bukan hanya untuk bulan Ramadan sahaja. Kenapa NU hanya memakai &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;untuk bulan Ramadan saja, dan tidak bulan-bulan lain, tidak pernah jelas alasannya. Saya sendiri tak pernah mendengar argumennya secara langsung dari para pakar falak dalam NU. Informasi mengenai ini juga tidak saya temukan dalam sebuah risalah pendek tentang ru’yah yang ditulis oleh Allah Yarham Kiai Rodli Soleh, salah satu pemikir falak dalam &lt;i&gt;Lajnah Falakiyyah &lt;/i&gt;NU dulu. [Mohon dikoreksi, jika saya keliru]. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya menduga, alasannya adalah berkaitan dengan kepraktisan saja. Tentu sangat mahal dan tidak praktis jika metode &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;dipakai sepanjang tahun. Karena penentuan awal Ramadan berkaitan dengan soal ibadah puasa, maka metode &lt;i&gt;ru’yah &lt;/i&gt;ditempuh untuk tujuan ihtiyath, atau hati-hati, sebuah konsep yang sangat luas dikenal dalam lingkungan mazhab Syafi’i. Sementara metode hisab dipakai untuk bulan-bulan lain sebab di sana tidak ada peristiwa ritual atau peribadatan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang kurang jelas bagi saya adalah bulan Dzul Hijjah atau Bulan Besar dalam istilah santri Jawa: apakah penentuan bulan itu memakai ru’yah atau tidak, sebab jelas dalam bulan itu ada peristiwa penting, yakni wuquf di Arafah dan Idul Adha, dua ritual yang sangat penting dalam Islam karena berkaitan dengan rukun atau pilar Islam yang kelima. Setahu saya, NU sendiri jarang--untuk tak mengatakan tak pernah--menempuh ru’yah untuk penentuan awal bulan Dzul Hijjah. Dalam hal ini, alasannya juga kurang jelas, kenapa demikian. Dugaan saya, mungkin karena even haji tidak berlangsung di Indonesia, maka tugas ru’yah kurang urgen dilakukan di negeri ini. Mungkin ru’yah dipandang sebagai tugas pemerintah Saudi ketimbang ormas-ormas atau pemerintah Islam di negeri lain. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada tahun-tahun awal berdirinya NU hingga beberapa dekade setelah itu, masalah ru’yah dan hisab memang menjadi bagian dari semacam politik identitas dan karena itu juga merupakan semacam titik selisih antara NU dan Muhammadiyah. Masalah ini menjadi bagian dari sejumlah masalah lain yang dipertengkarkan antara kedua ormas itu selama bertahun-tahun, antara lain soal ziarah kubur, talqin, tahlil, qunut, dll. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah berlalu sekian generasi, saya melihat telah terjadi pergeseran sosial dan generasional yang cukup penting. Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah sudah tidak tajam lagi, dan mood di lingkungan aktivis kedua ormas itu justru menunjukkan keinginan untuk saling mendekat dan membangun hubungan yang harmonis. Corak berpikir yang dominan di dalam dua ormas itu dalam memandang masalah-masalah keagamaan, kemasyarakatan dan kenegaraan juga sama sekali tak menunjukkan perbedaan yang tajam. Dengan kata lain, garis demarkasi antara dua ormas itu tidak lagi setajam pada masa-masa lampau. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan melihat perkembangan ini, saya memandang bahwa di lingkungan NU perlu ada upaya untuk meninjau masalah ru’yah. Dalam pandangan saya, metode ru’yah sudah sama sekali tak relevan dipakai saat ini, dengan pertimbangan- pertimbangan sebagai berikut: &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Pertama, &lt;/i&gt;metode ini sama sekali tak berkaitan dengan sesuatu yang sifatnya “Islami”, meskipun metode itu diperintahkan secara eksplisit dalam sebuah hadis. Sebagaimana saya katakan di atas, tradisi ru’yah hanyalah tradisi yang berlaku di masyarakat Arab pada zaman itu. Karena itu, metode ini tak usah disucikan sebagai semacam doktrin keagamaan. Akan lebih proporsional jika ru’yah dipandang sebagai salah satu perkembangan dalam teknik penanggalan yang berlaku dalam sejarah penanggalan umat manusia. Karena ini hanyalah menyangkut soal teknik, maka ru’yah juga sebaiknya dipandang sebagai metode yang relevan dalam batas-batas waktu tertentu. Karena teknik penanggalan berkembang terus, maka ada baiknya jika metode baru dipertimbangkan, apalagi jika metode baru itu lebih baik dan bermanfaat, sesuai dengan prinsip yang berlaku di kalangan NU, “al-muhaafadzah ‘ala ‘l-qadiim al-shaalih wa ‘l-akhdzu bi ‘l-jadiid al-ashlah”. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;metode ru’yah memang dimantapkan sebagai metode standar dalam lingkungan mazhab Syafi’i, dan juga sebagian besar mazhab-mazhab lain. Dalam lingkungan mazhab Syafi’i, metode ru’yah dipandang sebagai satu-satunya cara yang bisa dipakai sebagai dasar penentuan tangggal oleh pemerintah Islam, sementara hisab hanya boleh diikuti oleh haasib atau pakar hisab secara pribadi, dan tidak boleh dikampanyekan kepada masyarakat. Inilah yang terjadi dulu pada Kiai Turaihan Kudus, salah satu ulama falak penting di lingkungan NU. Kiai Turaihan seringkali berlebaran tidak bersamaan dengan masyarakat NU lain, karena berpegangan “ijtihad hisab” yang ia percayai. Ulama-ulama NU yang lain dapat menolerir sikap Kiai Turaihan itu dengan berpegangan pada konsep fikih Syafi’i tersebut di mana haasib diberikan kelonggaran untuk mengikuti hisab yang ia percayai. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi, dalam pandangan saya, pendapat dalam mazhab bukan sesuatu yang suci. Padangan-pandangan dalam mazhab fikih yang hampir sebagian besar mengukuhkan metode ru’yah itu hanyalah kelanjutan saja dari tradisi dalam masyarakat Arab pada zaman itu. Sebagaimana kita tahu, hampir semua mazhab Islam lahir dalam konteks di mana tradisi ru’yah memang lazim&lt;br /&gt;berlaku. Dengan kata lain, metode ini bukan sesuatu yang tidak bisa ditinjau ulang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Ketiga, &lt;/i&gt;metode ru’yah sangat rentan terhadap kemungkinan perpecahan dalam tubuh umat Islam, meskipun metode hisab juga mengandung kemungkinan yang sama. Tetapi kemungkinan perpecahan itu lebih kuat ada pada metode ru’yah. Karakter metode ru’yah adalah kemendadakan. Kemungkinan ru’yah hanya berlangsung beberapa saat saja di akhir bulan. Waktu untuk memverifikasi ru’yah juga berlangsung dengan singkat, sebab keputusan untuk mulainya tanggal baru harus segera diambil pada hari yang sama. Jika terjadi ru’yah yang berbeda-beda di sejumlah tempat dalam negara yang sama, waktu yang dibutuhkan untuk menilai hasil ru’yah itu juga tidak cukup lama. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bayangkanlah situasi berikut ini: Pada tanggal 29 Sya’ban, tim A, B dan C dikirim ke sejumlah tempat dan ditugasi untuk melakukan ru’yah. Meskipun tidak sering, tetapi kemungkinan adanya perbedaan hasil ru’yah tetap ada. Tim A melihat bulan, sementara tim B dan C tidak melihatnya. Hasil itu akan dibawa ke pusat untuk didiskusikan. Tetapi, waktu diskusi jelas tidak cukup lama, sebab keputusan harus diambil malam itu juga. Di sinilah kemungkinan lain bisa terjadi: sekelompok masyarakat yang mendengar bahwa tim A telah melihat bulan di sebuah tempat, boleh jadi mengikuti hasil ru’yah tim itu, walaupun keputusan di pusat tidak memakai hasil ru’yah tim tersebut. Yang terjadi akhirnya adalah perbedaan awal bulan Ramadan atau Syawwal. Kejadian ini berlangsung berkali-kali sepanjang pengetahuan saya. Waktu kecil dulu, tidak satu kali saya mendengar bahwa ru’yah sudah terjadi di Cakung, atau Aceh, atau Madura, sehingga sebagian masyarakat di daerah bersangkutan sudah berlebaran, sementara di tempat saya, Pati, lebaran belum terjadi. Peristiwa ini bahkan masih saja terjadi tahun lalu, di mana PWNU Jawa Timur berlebaran secara berbeda dengan keputusan resmi PBNU yang dikukuhkan oleh Depag RI. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemungkinan perselisihan ini lebih bisa dieliminir dalam kasus hisab, sebab hasil hisab sudah bisa didiskusikan jauh-jauh hari, bahkan sejak awal tahun, dan keputusan pun bisa diambil sejak awal, sehingga prediksi awal dan akhir Ramadan sudah bisa dilakukan sejak awal. Karakter kehidupan modern adalah adanya prediktabilitas untuk tujuan kepraktisan. Metode hisab lebih bisa menjamin prinsip prediktabilitas ini ketimbang ru’yah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;dalam konteks masyarakat Amerika, bahkan masalah ru’yah atau dikenal di lingkungan masyarakat Muslim Amerika sebagai “moon sighting”, bisa menimbulkan masalah yang agak serius. Masyarakat Muslim di Amerika berjuang untuk menjadikan Idul Fitri sebagai hari libur nasional, atau sekurang-kurangnya menjadi hari libur di negara bagian di mana koloni masyarakat Islam cukup besar, seperti misalnya negara bagian Michigan. Tetapi upaya ini menghadapi sejumlah kendala, antara lain tidak adanya kepastian tanggal awal bulan Syawwal karena menunggu adanya bulan. Hari libur nasional di Amerika harus ditetapkan minimal setengah tahun sebelum kalender tahun baru dimulai, demi keperluan penanggalan di lingkungan kantor-kantor pemerintah, sekolah dan institusi pendidian, dan, tentu, bisnis. Jika tidak ada kepastian kapan Idul Fitri berlangsung, jelas hal ini akan menyulitkan pihak pemerintah untuk menyusun kalender kegiatan tahunan yang jelas membutuhkan semacam kepastian dan prediktibilitas, dua hal yang tak bisa diberikan oleh metode ru’yah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Kelima, &lt;/i&gt;Idul Fitri, dalam pandangan saya, adalah ritual keagamaan yang lebih mempunyai dimensi sosial dan karnaval, karena melibatkan perayaan sosial yang dalam konteks masyarakat Indonesia mempunyai makna yang sangat penting, bukan saja secara keagamaan, tetapi lebih-lebih lagi secara kebudayaan dan kemasyarakatan. Oleh karena itu, keseragaman tanggal dalam merayakan event sosial itu sangatlah penting. Perbedaan tanggal Idul Fitri, walau bisa ditolerir oleh sebagian masyarakat Islam, jelas menimbulkan rasa saling curiga, kadang terpendam, kadang meledak keluar menjadi perselisihan publik yang mengganggu karnaval sosial dan kegembiraan masyarakat. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hal ini, saya rasa, kita tak bisa atau kurang relevan memakai argumen pluralisme, yakni pluralisme lebaran, dalam pengertian perbedaan tanggal Idul Fitri. Meskipun, tentu, saya tetap bisa menghargai pihak-pihak yang memakai argumen itu. Alasan-alasan yang saya kemukakan di atas jauh lebih kuat, dalam pandangan saya, ketimbang alasan pluralisme. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan pertimbangan- pertimbangan ini, saya hendak mengatakan bahwa saatnya NU menempuh suatu reformasi penanggalan dengan mengadopsi metode hisab secara konsisten, atau metode penanggalan modern lain yang lebih bisa menjamin asas kepastian dan prediktibilitas, dua hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat modern. Toh, metode hisab tersebut sudah dipakai selama bertahun-tahun dalam menentukan awal bulan-bulan lain di luar Ramadan sepanjang tahun.[] &lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-6790274768754140965?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/6790274768754140965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=6790274768754140965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6790274768754140965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/6790274768754140965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/04/nu-ruyah-dan-reformasi-penanggalan.html' title='NU, Ru’yah, dan Reformasi Penanggalan'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-174605441416614229</id><published>2009-04-11T15:06:00.000+07:00</published><updated>2009-04-11T15:07:09.372+07:00</updated><title type='text'>Komen Doktrin</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;/em&gt;       &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;Semoga kita tidak terjebak dalam kemusyrikan yang khafiy dengan mengatakan bahwa Tuhan kita berbeda dengan Tuhan mereka. Pernyataan ini sebenarnya mencerminkan tauhid yang kurang benar, karena tauhid yang benar adalah keyakinan yang berhak untuk disembah hanyalah satu Tuhan, walau dengan nama dan sifat-Nya yang berbeda-beda sesuai dengan pemikiran pemujanya. &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by Alfatih   on  03/30  at  10:32 AM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;    &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;salam sejahtera.. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; maaf kalo koment sy singkat, sy tipe orang yg pasif.. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; kalo yg sy tangkap dari artikel mas ulil adalah : &lt;/p&gt; &lt;p&gt;agama islam tidak berhak untuk menghapus agama2 sebelum islam, begitupun sebaliknya. sy setuju dengan ini karena kepercayaan itu tidak bisa dipaksakan. kepercayaan itu kan soal hati. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; orang kristen, menganggap agamanya benar itu sah sah saja.. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; orang muslim, menganggap agamanya benar itu sah sah saja.. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; yg menurut sya ngga boleh adalah menganggap agama kita lebih mulia dari agama yg lain. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; semua agama itu BENAR menurut PENGANUT AGAMA ITU SENDIRI. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; terima kasih,, &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by hilmiy   on  02/13  at  10:31 PM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;    &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;Sebenarnya tidak ada agama yang arogan tetapi semua agama membawa keselamatan dan berserah diri kepada Tuhan. Hanya manusia lah yang menyimpulkan dari hasil pemikirannya bahwa ada agama yang paling benar dan tidak benar. Orang bebas berfikir untuk menentukan agamanya yang paling benar dan sempurna. Sebagai contoh :&lt;br /&gt;1. Aku beragama Islam karena aku berfikir bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Mereka yang tidak mau masuk agama Islam ya tidak apa-apa.Tidak ada paksaan dalam beragama.&lt;br /&gt;2. Kalau agama Islam itu benar tentunya nabi yang membawakan atau menyiarkan agama Islam itu ya juga pasti benar dan tidak salah.&lt;br /&gt;3. Firman yang disampaikan oleh Nabi itu pasti juga benar. Masalahnya ada di interpretasi masing-masing orang yang mungkin berbeda. Saya yakin Al Qur’an benar 100 % tetapi terjemahan dan tafsirnya mungkin masih 70 %.&lt;br /&gt;4. Kalau aku berfikir bahwa Islam adalah benar tentu agama sebelumnya dan agama lainnya ku anggap tidak benar. Kalau agama sebelumnya yang paling benar tentu aku akan mengikuti agama sebelumnya.Tapi setelah melalui pemikiran yang jernih, aku tetap mengatakan Islam adalah agama yang benar menurutku.&lt;br /&gt;5. Tuhan berfirman “.... pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu..”.(QS 5:3) Ini berarti agama Islam sudah sempurna dan tentunya tidak ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad. Aku yakin karena telah melewati pemikiran yang cukup menurut pendapatku.&lt;br /&gt;Jadi yang penting adalah jangan menyampaikan kebenaran menurut kita itu dengan cara-cara yang tidak baik. Semua agama kan menyeru supaya kita berbuat baik. Kalau orang itu tidak baik bukan agamanya yang tidak baik tetapi orang itu sendiri yang tidak baik.&lt;br /&gt;Salam &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by &lt;a href="http://hidup-sesudah-mati.blogspot.com/"&gt;mr.dayson&lt;/a&gt;   on  01/12  at  11:50 AM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;    &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;asslamualaikum. . &lt;/p&gt; &lt;p&gt; mas ulil,yth. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; kalaulah mas ulil membuat artikel spt itu. .saya setuju 100% . . &lt;/p&gt; &lt;p&gt; tapi kalau bgtu apakah surga dan neraka benar-benar ada? &lt;/p&gt; &lt;p&gt;karena 2 hal itu merupakan hal yg irasional. .bhkan apakah benar ada kehidupan setelah mati ?karena semua itu tidak bisa dibuktikan dgn penelitian (ijtihad) &lt;/p&gt; &lt;p&gt; kalau begitu bagaimana donk mas ulil. .sebenarnya apa tujuan kita?mohon dibalas. &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by fachmiazhar   on  11/14  at  05:06 AM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;    &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;kak uli yang… &lt;/p&gt; &lt;p&gt;maaf, tapi jika anda tidak meyakini bahwa islam adalah agama yang paling benar, kenapa anda tidak multi agama (puny banyak agama) agar anda dapat merangkum semua kebenarannya? bukankah tulisan anda bertolak belakang dengan sikap anda? &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-174605441416614229?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/174605441416614229/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=174605441416614229' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/174605441416614229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/174605441416614229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/04/komen-doktrin.html' title='Komen Doktrin'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-678304277912439381</id><published>2009-04-11T15:05:00.001+07:00</published><updated>2009-04-11T15:05:43.493+07:00</updated><title type='text'>Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam</title><content type='html'>&lt;h1 class="title"&gt;&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/doktrin-doktrin-yang-kurang-perlu-dalam-islam/" title="Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;h5 class="author"&gt;Oleh Ulil Abshar-Abdalla&lt;/h5&gt; &lt;div class="article_content"&gt;   &lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika &lt;i&gt;tawadlu’ &lt;/i&gt;itu. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;   &lt;p&gt;Banyak hal dalam agama yang jika dibuang sebetulnya tidak mengganggu sedikitpun watak dasar agama itu. Oleh para pemeluk agama, banyak ditambahkan hal baru terhadap esensi agama itu, sekedar untuk menjaga aura agama itu agar tampak “angker” dan menakutkan di mata pemeluknya. Saya akan mengambil contoh Islam. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Satu, &lt;/i&gt;doktrin bahwa Nabi tidak bisa berbuat salah. Menurut saya, doktrin ini sama sekali tak berkaitan dengan inti dan esensi agama Islam, dan karena itu kurang perlu. Jika doktrin ini dihilangkan, Islam tidak menjadi kurang nilainya sebagai sebuah agama. Mengatakan bahwa manusia, apapun namanya (entah Nabi, Rasul, Imam [dalam Syiah], Paus [dalam Katolik]) sebagai “infallible”, tidak bisa berbuat salah, jelas tak masuk akal. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Dua, &lt;/i&gt;doktrin bahwa sumber hukum hanya terbatas pada empat: Quran, hadis, ijma’, dan qiyas. Doktrin ini menjadi “hallmark” dari sekte Ahlussunnah waljamaah di mana-mana, sepanjang sejarah. Doktrin ini sebetulnya kurang perlu dan menjadi alat ortodoksi Islam untuk mempertahankan status &lt;i&gt;quo&lt;/i&gt;. Sumber hukum jelas tidak bisa dibatasi dalam empat sumber itu. Islam tidak berkurang nilainya sebagai agama jika doktrin ini dihilangkan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Tiga, &lt;/i&gt;doktrin bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi akhir zaman. Doktrin ini jelas “janggal” dan sama sekali menggelikan. Setiap agama, dengan caranya masing-masing, memandang dirinya sebagai “pamungkas”, dan nabi atau rasulnya sebagai pamungkas pula. Doktrin ini sama sekali kurang perlu. Apakah yang ditakutkan oleh umat Islam jika setelah Nabi Muhammad ada nabi atau rasul lagi?&lt;br /&gt;  &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Empat, &lt;/i&gt;doktrin bahwa sebuah agama mengoreksi atau bahkan menghapuskan agama sebelumnya. Ini adalah yang disebut sebagai doktrin supersesionisme. Doktrin ini tertanam kuat dalam psike dan “mindset” umat Islam. Doktrin ini tak lain adalah cerminan “keangkuhan” sebuah agama. Kehadiran agama tidak terlalu penting dipandang sebagai “negasi” atas agama lain. Agama-agama saling melengkapi satu terhadap yang lain. Kristen bisa belajar dari Islam, Islam bisa belajar dari Yahudi, Yahudi bisa belajar dari tradisi-tradisi timur, dan begitulah seterusnya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Lima, &lt;/i&gt;doktrin bahwa kesalehan ritual lebih unggul ketimbang kesalehan sosial. Orang yang beribadah dengan rajin kerap dipandang lebih “Muslim” ketimbang mereka yang bekerja untuk kemanusiaan, hanya karena mereka tidak beribadah secara rutin. Agama bisa ditempuh dengan banyak cara, antara lain melalui pengabdian kepada kemanusiaan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Enam, &lt;/i&gt;doktrin bahwa mereka yang tidak mengikuti jalan Islam atau agama orang berangkutan adalah “kafir”. Ini mekanisme yang nyaris standar dalam semua agama. Semua agama cenderung memandang bahwa mereka yang ada di luar “lingkaran penyelamatan” adalah domba-domba sesat. Doktrin ini, sekali lagi, cerminan dari arogansi sebuah agama tertentu. Sudah jelas bahwa jalan keselamatan adalah banyak sekali. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Tujuh, &lt;/i&gt;berkaitan dengan doktrin sebelumya, ada doktrin lain yang biasanya bekerja dalam lingkaran internal masing-masing agama. Dalam Islam, ada doktrin tentang “sekte yang diselamatkan”, &lt;i&gt;al-firqah al-najiyah. &lt;/i&gt;Kelompok yang menyebut dirinya &lt;i&gt;ahlussunnah wal-jamaah &lt;/i&gt;memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masuk sorga, sementara kelompok lain sesat. Begitu juga kelompok Syiah memandang dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang selamat, selebihnya sesat. Doktrin ini diteruskan oleh MUI dalam bentuk lain melalui fatwa penyesatan. Mendaku bahwa yang selamat hanya lingkaran tertentu adalah sebentuk arogansi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Delapan, &lt;/i&gt;doktrin bahwa jika Kitab Suci mengatakan A, maka seluruh usaha rasional harus berhenti. Kitab Suci adalah firman Tuhan, dan firman Tuhan tak mungkin salah. Oleh karena itu, jika Tuhan sudah mengeluarkan sebuah “dekrit”, maka seluruh perbincangan harus berhenti. Doktrin ini tercermin dalam sebuah “legal maxim” atau kaidah hukum dalam teori hukum Islam yang berbunyi, “la ijtihada fi mahal al-nass”, tidak ada “independent reasoning” dalam hal-hal di mana teks Kitab Suci sudah mempunyai kata putus. Dengan kata lain, ijtihad harus dihentikan jika Kitab Suci sudah memutuskan sesuatu. Dalam diskursus filsafat modern di Amerika, hal ini disebut sebagai “discussion stopper”, agama sebagai penghenti diskusi. Sudah jelas Kitab Suci terkait dengan konteks sejarah tertentu, dan banyak hal yang dikatakan Kitab Suci sudah tak relevan lagi karena konteks-nya berbeda. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Sembilan, &lt;/i&gt;doktrin bahwa hukum hanya bisa dibuat oleh “syari’” atau legislator. Yang disebut legislator dalam konteks Islam adalah Tuhan, kemudian secara derivatif juga Nabi Muhammad. Para ulama atau fukaha datang belakangan sebagai penafsir atas hukum itu, dan pelan-pelan juga menempati kedudukan sebagai “pembuat hukum” atau legislator hukum agama. Doktrin ini sangat kuat tertanam dalam Islam. Doktrin ini juga kuat tertanam dalam agama Yahudi. Deklarasi Qur’an sudah sangat jelas dan sangat “kategorikal” , bahwa Adam dan seluruh keturunannya adalah “khalifah” di muka bumi. “Kekhilafahan” di sini, dalam tafsiran saya, mencakup pula kompetensi untuk menciptakan hukum yang mengatur ketertiban di muka bumi ini. Seluruh individu, dalam pandangan Islam yang saya pahami, adalah obyek dan subyek hukum sekaligus. Dengan kata lain, hukum bukan hanya diciptakan oleh Tuhan, tetapi juga oleh manusia.&lt;br /&gt;Manusia secara generis adalah syari’, bukan saja Nabi atau ulama/fukaha.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini paralel dengan konsep “kewarganegaraan modern” di mana konsep “warga negara” mencakup secara intrinsik kemampun untuk membuat dan men-&lt;i&gt;generate &lt;/i&gt;sebuah hukum. Jika ada kelebihan pada ahli hukum atau fukaha yang membuat mereka menjadi spesial kedudukannya adalah karena mereka mempunyai “training” untuk merumuskan sebuah hukum dalam prosedur yang standar. Tetapi sumber hukum bukan saja hanya ada pada Kutab Suci, sabda-sabda Nabi, atau pendapat ulama, tetapi juga manusia secara keseluruhan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Sepuluh, &lt;/i&gt;doktrin bahwa Kitab Suci bersifat seluruhnya supra-historis, karena ia adalah firman Tuhan. Karena Tuhan bersifat supra-sejarah, maka firmanNya pun bersifat supra sejarah pula. Karena itu, Kitab Suci juga supra sejarah. Kebenaran Kitab Suci tak terikat dengan ruang dan waktu. Pandangan ini lagi-lagi adalah pandangan yang “angkuh”. Akan lebih proporsional jika kita mengatakan bahwa ada hal-hal yang supra-sejarah dalam Kitab Suci, tetapi juga ada hal-hal lain yang cukup banyak yang terikat dengan sejarah. Bagian Kitab Suci yang “lengket sejarah” ini bisa tidak relevan sama sekali jika keadaan berubah. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Sebelas, &lt;/i&gt;doktrin bahwa Islam bisa menjawab semua masalah. Doktrin ini jelas hanya retorika belaka. Sebab pada kenyataannya tidak demikian. Solusi agama atau Islam, jika pun ada, juga tidak mesti sukses dan berhasil. Sebagaimana solusi-solusi sekuler, solusi Islam juga bisa gagal, seperti terbukti dalam banyak kasus. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya masih memiliki daftar yang panjang. Tetapi, itulah hal-hal pokok yang ingin saya kemukakan di sini. Saya hanya ingin menganjurkan suatu corak keberagamaan yang rendah hati, yang tidak arogan dengan mengemukakan kleim-kleim yang berlebihan tentang agama. Jika Islam menganjurkan etika “tawadlu’”, atau rendah hati, maka etika itu pertama-tama harus diterapkan pada Islam sendiri. Mengaku bahwa agama yang paling benar adalah Islam jelas menyalahi etika &lt;i&gt;tawadlu’ &lt;/i&gt;itu. Mendaku bahwa setelah Nabi Muhammad tidak ada nabi atau rasul lagi adalah berlawanan dengan etika &lt;i&gt;tawadlu’. &lt;/i&gt;Mendaku bahwa Islam menghapuskan agama sebelumnya sama sekali tak mencerminkan sikap &lt;i&gt;tawadlu’. &lt;/i&gt;[] &lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-678304277912439381?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/678304277912439381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=678304277912439381' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/678304277912439381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/678304277912439381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/04/doktrin-doktrin-yang-kurang-perlu-dalam.html' title='Doktrin-Doktrin Yang Kurang Perlu dalam Islam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-3534794981428415296</id><published>2009-04-11T15:03:00.001+07:00</published><updated>2009-04-11T15:03:56.617+07:00</updated><title type='text'>Komen Ibnu Khaldun</title><content type='html'>&lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;Setahu saya, satu-satunya terjemahan ke bahasa Indonesia yang paling lengkap atas Muqaddimah karya Ibn Khaldun ini hanya dilakukan oleh saudara Ahmadi Thoha (nama sebetulnya Ahmadie Thaha). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Saya pernah mendengar cerita darinya bagaimana susahnya dia menerjemahkan buku klasik ini selama bertahun-tahun sejak dia di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan hingga pengembaraannya di Yogya. Jadi, saya agak heran kalau dikatakan terjemahannya disebut terjemahan “komersial”, apalagi buku seperti ini agak susah juga dijualnya. Dan saya tahu dari dia bahwa karya terjemahannya tidaklah “dijual” kepada penerbit, melainkan dia menerima royalti dari hasil penjualan bukunya yang dijual sangat murah bila dibanding ketebalannya. Karena itu, tolonglah Mas Ulil sedikit agak memberi simpati kepada usaha-usaha penerjemahan seperti ini. Jangan malah dikatakan “komersial” segala, yang kedengarannya seperti sinistis dan negatif begitu.&lt;br /&gt;----- &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by ahmad gabink   on  01/30  at  12:02 AM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;    &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;subsistensi masyarakat ternyata telah di kaji oleh Ibnu Khaldun beberapa abad yang lalu. kajian tentang subsistensi ini masih sangat jarang di lakukan di Indonesia khususnya dan di masyarakat Islam pada umumnya. subsistensi, dalam kajian ekonomi, sangat berkaitan dengan pola-pola kehidupan masyarakat, termasuk dalam pola beragama, nilai-nilai, tingkat kepatuhan, tingkat perkembangan dan lain sebagainya,.. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;para ahli sekarang membedakan tingkat subsistensi menjadi dua yaitu masyarakat subsisten dan masyarakat modern. masyarakat subsisten lebih memiliki kecenderungan dan orientasi kehidupan pada gawang subsistensinya. sedangkan pada masyarakat modern dapat dikatakan telah menyelesaikan problem tantangan pemenuhan subsistensi mereka sehingga lebih mengarah ke arah perkembangan lain seperti misalnya investasi dan menabung. pada masyarakat subsisten sendiri sering dibedakan menjadi beberapa kelas, yaitu masyarakat berburu dan meramu, masyarakat berladang, dan masyarakat agraris susbsisten, masing-masing memiliki kecenderungan dalam pola subsistensi mereka. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;sebagai ilustrasi masyarakat subsisten adalah pada cerita berikut ini: sebuah perusahan multinasional di Papua, menghadapi masalah yang sangat mendalam dalam kaitannya dengan karyawan yang diambil oleh masyarakat sekitar. hal tersebut dikarenakan setelah menerima gaji yang relatif besar setelah bekerja selama satu bulan, dan penghasilan selama satu bulan tersebut diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan selama enam bulan, maka karyawan tersebut selama enam bulan berikutnya tidak mau lagi bekerja karena sudah memiliki uang yang cukup untuk hidup selama enam bulan ke depan,… &lt;/p&gt; &lt;p&gt;ilustrasi tersebut merupakan gambaran yang ekstrim dalam kultur masyarakat subsisten, meskipun kecenderungan tersebut seringkali masih dilakukan oleh masyarakat modern pada saat sekarang dengan bentuk yang berbeda. sebagian besar masyarakat Islam pada saat sekarang masih terlelap dalam budaya-budaya subsisten, meskipun dengan derajat yang berbeda-beda. oleh karena itu, pengentasan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah seringkali tidak berhasil, karena sebetulnya tidak menyentuh akar-akat budaya subsistensi,..pemberian tambahan modal, atau modal usaha hanya dibelanjakan untuk pemenuhan kebutuhan subsistensi bukannya untuk memeperkuat struktur penopang subsistensi sehingga dapat meloncat dari himpitan subsistensi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;oleh karena itu pada saat sekarang masih sangat relevan ketika mengkaji kembali tentang aplikasi-aplikasi ajaran agama dalam dimensi pemahaman subsistensi. hal tersebut misalnya dalam zakat, hutang piutang, kredit dsb,..semoga tulisan kami bermanfaat, Amiin &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by fashihullisan   on  01/23  at  01:02 AM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;    &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;Saya sangat apresiatif sekali dengan Muqoddimah nya Ibnu Khaldun, dan saya sependapat dengan Sdr. Muqoffa bahwa karya ini memang begitu dahsyat bahkan begitu dahsyatnya buku beliau itu nyaris saya jadikan satu-satunya referensi saya tentang materi sosiologi dan antropologi peradaban manusia.  Tak pelak lagi karya beliau ini merupakan satu-satunya buku yang menghadirkan pencerahan, ketika pada masanya perkembangan pemikiran islam mandeg, ketika para intelektual pada masa itu hanya sibuk dengan tradisi men-syarah-kan dan memberi “hasyiah"(komentar) pada kitab2 fiqih ulama - ulama dulu tanpa mampu untuk membuat kitab-kitab yang menyegarkan. Ibnu Khaldun datang dengan Mukaddimahnya dan saya kira usaha beliau ini bukan hanya melebihi ulama pada masanya juga ulama - ulama sebelumnya. Sehingga bisa saya sejajarkan usaha kreatif beliau ini dengan Imam Syafi’i untuk bidang Fiqih, Imam Al-Ghazali untuk bidang penyatuan antara fiqih dg Tasawuf dan Imam Bukhari untuk bidang penelitian hadits. &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by Iki Susnengtiko   on  01/20  at  10:01 PM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;    &lt;div class="comment"&gt;   &lt;p&gt;Mas Ulil, trima kasih. Ini artikal sampean yang paling saya suka. Menjelaskan warna sejarah yang positif untuk bekal kita bersama. Pemaknaan yang luar biasa ibn Khladun tentang kepemimpinan dari quraish sangat saya sepakati. yakni bahwa , bukan semata- mata Quraish yang menyebabkan seseorang menjadi pemimpin, tetapi kualitas semacam Quraish lah yang menghantarkannya layak jadi pemimpin. Universalitas pemikiran ini yang antara lain membawa kita pada kesimpulan, bahwa selamanya tafsir terhadap ajaran agama adalah hal yang niscaya. wasalam &lt;/p&gt;    &lt;div class="posted"&gt;Posted by Yusuf Suharto   on  01/18  at  09:02 PM&lt;/div&gt;    &lt;/div&gt;&lt;!-- .comment --&gt;       &lt;p&gt;saya juga pengemar berat Ibnu Khaldun,akan tetapi Ibnu Khaldun ada teori yang salah dalam urutan pembagian musim di Belahan bumi, sehingga dihubungkan dengan warna kulit dan jenis makanan. Ibnu khaldun mendidik kita terutama Muslim untuk memahami bahwa peradaban bisa dibangun dengan memanfaatkan peradaban yang telah ada. Kita bisa memanfaatkan demokrasi untuk memajukan peradaban Islam misalnya, Bagaimana Islam maju di Persia karena peradaban Persia sudah maju dahulu. Akan tetapi pencarian konsep kepemimpinan yang sangat bagus yang mempunyai jiwa badawiyah(Baduwi) dengan ciri,tegas, jujur, kepahlawanan, ekspansif, konsisten memang manjadi masalah sendiri apabila mengikuti kompas yang ditunjukkan oleh Ibnu Khaldun. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mas Ulil, Ibnu Khaldun sesungguhnya ingin memberi semacam blue print cara mengembalikan kejayaan Islam bagi generasi Islam selanjutnya, karena Ibnu Khaldun sudah tahu proses kemunduran peradaban pun memakan waktu yang lama. Saya lebih tertarik dengan konsep kepemimpinan yang badawiyah yang meng_"Quraisy"- yang akan menggerakkan peradaban Islam kembali selain konsep “ kemampuan pertukangan , kedokteran dan bidang yang menurut Ibnu Khaldun sangatlah penting”. Saya akui saya belum pernah membaca buku karangan sarjana Muslim sedahsyat ini setelah Ihya’ ‘ulumuddin-nya Al Ghozali. Ibnu Khaldun adalah manusia jenius yang meninggalkan pemikiran yang brilian bagi Pelajar Muslim bahkan mungkin 2000 tahun ke depan. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8677006834783032891-3534794981428415296?l=isber2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://isber2009.blogspot.com/feeds/3534794981428415296/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=8677006834783032891&amp;postID=3534794981428415296' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/3534794981428415296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8677006834783032891/posts/default/3534794981428415296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://isber2009.blogspot.com/2009/04/komen-ibnu-khaldun.html' title='Komen Ibnu Khaldun'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8677006834783032891.post-3930722624197890413</id><published>2009-04-11T14:55:00.000+07:00</published><updated>2009-04-11T15:02:18.935+07:00</updated><title type='text'>Ibn Khaldun dan Sejumlah Observasinya</title><content type='html'>&lt;h1 class="title"&gt;&lt;a href="http://islamlib.com/id/artikel/ibn-khaldun-dan-sejumlah-observasinya/" title="Ibn Khaldun dan Sejumlah Observasinya"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h1&gt; 	&lt;h5 class="author"&gt;Oleh Ulil Abshar-Abdalla&lt;/h5&gt;	&lt;div class="article_content"&gt; 		&lt;div class="summary"&gt;&lt;p&gt;Tetapi, satu hal yang ingin saya sebut adalah bahwa peradaban Islam pada saat keemasannya tidaklah seperti dibayangkan oleh kaum Islamis “modern” atau pengusung ide khilafah, yakni peradaban yang seluruhnya bertumpu pada syariat Islam, fikih, dan aturan agama yang ketat. &lt;/p&gt;&lt;/div&gt; 		&lt;p&gt;Karya Ibn Khaldun (w. 1406 M) yang sudah “kanonik”, &lt;i&gt;Mukaddimah&lt;/i&gt;, memuat banyak observasi yang masih terasa segar dan relevan hingga saat ini.  &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya tak habis-habisnya mengagumi karya satu ini; karya yang nyaris mengagetkan bisa muncul dari kalangan sarjana Islam pada era tatkala peradaban Islam sedang pelan-pelan mengalami kemunduran di segala bidang, terutama di bidang pemikiran. Yang lebih mengagetkan lagi, karya ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari kalangan Islam sendiri yang lebih banyak “terpukau” oleh kajian fikih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Terus terang, yang membuat nama Ibn Khaldun bersinar terang kembali, antara lain, adalah para orientalis di Barat yang bekerja dengan gigih untuk membongkar “lumbung” intelektual Islam yang kaya sekali ini, tetapi tak seluruhnya disadari oleh kalangan Islam. Franz Rosenthal adalah orientalis pertama yang membuat perhatian terhadap sarjana Islam yang hidup di abad ke-14 ini lewat terjemahannya atas &lt;i&gt;Mukaddimah&lt;/i&gt;, sehingga Ibnu Khaldun bangkit kembali. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Rintisan Rosenthal diteruskan oleh sarjana Muslim asal Irak yang lama mengajar di Universitas Chicago, kemudian diteruskan di Universitas Harvard, Prof. Muhsin Mahdi, melalui kajiannya atas filsafat sejarah Ibn Khaldun. Prof. Mahdi baru meninggal bulan Juli, 2007 dalam usia 81. Minat Prof. Mahdi atas pemikiran Ibn Khaldun, antara lain, diilhami oleh gurunya di Universitas Chicago, Leo Strauss, seorang filsuf dan sarjana besar Yahudi asal Jerman yang juga dikenal karena penelitiannya atas al-Farabi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terjemahan “akademis” atas karya ini belum pernah sekalipun dikerjakan di Indonesia. Yang kita punya adalah terjemahan “komersial” (kalau boleh memakai istilah ini) yang dibuat Ahmadi Taha pada pertengahan 80-an dan diterbitkan oleh Pustaka Firdaus, Jakarta. Usaha Ahmadi Taha, bagaimanapun, layak kita hargai di tengah kelangkaan sarjana Muslim Indonesia yang bersedia “belepotan” untuk menerjemahkan karya-karya kanon Islam ke dalam bahasa Indonesia, terutama karya yang tak ada sangkut-pautnya dengan kajian fikih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; &lt;i&gt;Mukaddimah&lt;/i&gt; karya Ibn Khaldun memuat banyak sekali observasi atas “masyarakat manusia” yang, menurut saya, masih terus layak dibaca dan dikaji hingga sekarang. Buku ini adalah salah satu hasil “jenius” dalam sejarah Islam yang sangat mengagumkan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sangat disayangkan bahwa karya besar ini sama sekali tak memperoleh perhatian di kalangan pesantren. Kajian Islam di pesantren atau umumnya lembaga-lemabaga pendidikan Islam yang cenderung berpusat pada “ilmu-ilmu ortodoks” (fikih, hadis, tafsir) layak diperluas dengan melibatkan karya-karya “non-ortodoks” seperti karya Ibn Khaldun ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Membaca buku ini, menurut saya, sangat nikmat dan lezat bukan sekedar karena di sana kita bisa menjumpai analisis Ibn Khaldun yang tajam terhadap sejumlah gejala sosial pada zamannya, tetapi terlebih lagi karena mutu bahasanya yang sangat baik dan cemerlang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Karena urusan penulisan paper kelas, saya dipaksa membaca kembali &lt;i&gt;Mukaddimah&lt;/i&gt; karya Ibn Khaldun. Saya terpukau dengan sejumlah observasi cemerlang yang saya temukan dalam buku ini. Dalam tulisan ini, saya ingin membagi apa yang saya baca dengan teman-teman yang kebetulan memiliki minat terhadap pemikiran Islam klasik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salah satu observasi Ibn Khaldun yang menarik adalah mengenai hubungan antara “ulama” dan “politik”. Kata ulama di sini sebaiknya tak usah dikaitkan dengan istilah “ulama” dalam, misalnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebab yang dimaksud Ibn Khaldun dengan istilah ini jauh lebih luas. Dalam pemakaian modern, istilah ulama sebagaimana kita jumpai dalam karya Ibn Khaldun, terutama dalam bab yang saya bahas ini, paralel dengan isitlah “intelektual”, “cendekiawan”, atau “philosophe” sebagaimana dipakai di dalam tradisi Prancis. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik adalah judul bab yang membahas mengenai masalah ini, “Fasal ke-34, perihal bahwa ulama, di antara manusia yang lain, adalah mereka yang paling jauh dari politik dengan seluruh cabang-cabangnya” (&lt;i&gt;Fi anna al-ulama’ min bain al-basyar ab’ad ‘an al-siyasah wa madhahibiha&lt;/i&gt;). (&lt;i&gt;Mukaddimah&lt;/i&gt;, cetakan Kairo, tanpa tahun, hal. 542). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Menurut Ibn Khaldun, ulama (baca: intelektual, cendekiawan) cenderung jauh, atau menjauhi politik karena watak mereka yang lebih cenderung tenggelam atau menenggelamkan diri dalam dunia ide, dan refleksi intelektual (&lt;i&gt;mu’tadun al-nazar al-fikri wa al-ghaus ‘ala al-ma’ani&lt;/i&gt;). Mereka cenderung melakukan abstraksi, dalam pengertian mencari pola-pola umum dari data-data empirik yang terserak. Minat mereka bukan pada fakta-fakta empirik yang bersifat sporadis dan carut marut, tetapi mencari pola-pola umum, atau apa yang disebut oleh Ibn Khaldun sebagai ”&lt;i&gt;umur kulliyyah ‘ammah&lt;/i&gt;”. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Kerja ulama, dalam pandangan Ibn Khaldun, adalah persis seperti yang ia kerjakan sendiri, yakni melihat sejarah sebagai suatu arena tempat bekerjanya pola-pola besar. Bagi seorang sejarawan, suatu data sejarah kecil di sebuah tempat dan berkenaan dengan masyarakat tertentu, tidaklah terlalu menarik. Sebab, yang penting bagi dia adalah sebuah pola atau hukum yang bersifat umum. Dengan kata lain, abstraksi pemikiran adalah watak yang melekat pada kerja seorang ulama. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sementara itu, politik, menurut Ibn Khaldun, menuntut sesuatu yang lain. Seorang yang bekerja di sektor politik harus membaca dengan jeli setiap gejala secara spesifik. Seorang “politisi” (istilah ini saya pakai untuk menerjemahkan istilah Ibn Khaldun, “shahib al-siyasah"), “dituntut untuk memperhatikan segala sesuatu yang berkembang di dalam dunia empirik berikut segala hal yang menjadi akibatnya (&lt;i&gt;mura’at ma fi al-kharij wa ma yalhaquha min al-ahwal wa yatba’uha&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang menarik adalah bahwa dalam pandangan Ibn Khaldun, setiap peristiwa dalam dunia politik adalah unik, dan karena itu menuntut perlakuan yang khusus. Oleh karena itu, “qiyas” atau “analogi fikih”, cenderung kurang tepat dipakai dalam menangani perkara-perkara politik. Seorang ulama/intelektual yang biasa bekerja dengan “qiyas”, pola-pola umum, teori, biasanya cenderung gagal dalam sektor politik, karena mereka mengira bahwa suatu pola bisa diterapkan di mana-mana. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Selain “qiyas”, Ibn Khaldun juga memakai istilah “muhakah” (harafiah: meniru) yang dalam pemakaian modern bisa kita terjemahkan sebagai “ekstrapolasi”, atau memproyeksikan suatu hukum yang berlaku pada suatu kasus ke kasus-kasus lain. Kerja intelektual para ulama biasanya bertumpu pada “qiyas” dan “muhakah”. Politik tidak bisa diperlakukan dengan cara demikian. Saya kutip kalimat Ibn Khaldun yang menarik: &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Suatu keadaan yang berkaitan dengan peradaban tertentu tak bisa dianalogikan dengan keadaan (peradaban) lain, sebab, meskipun boleh jadi mengandung kesamaan dalam satu hal, dua keadaan itu juga mengandung perbedaan dalam segi-segi yang lain. Itulah sebabnya, seorang ulama yang biasa melakukan generalisasi atas suatu hukum dan menganalogikan suatu gejala dengan gejala yang lain, saat mereka menganalisa politik, cenderung menumpahkan gejala-gejala politik itu ke dalam bejana teoritik (&lt;i&gt;qalab andzarihim&lt;/i&gt;) dan sejumlah deduksi mereka yang lain. Karena itu, mereka seringkali melakukan kesalahan.” (hal. 542, baris 14-17). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Yang mengejutkan adalah pengamatan Ibn Khaldun berikut ini. Orang-orang awam yang tak terbiasa dengan “qiyas”, “muhakah”, abstraksi, teori-teori besar memiliki kemungkinan besar untuk sukses dalam politik justru karena mereka bisa memberi perhatian yang cukup pada setiap gejala, dan memperlakukannya sebagai sesuatu yang “einmalig” atau unik. Mereka, orang-orang awam itu, lebih mudah terhindar dari kecenderungan “meng-qiyas-kan” satu gejala dengan gejala yang lain. Sikap “intelektual” kaum awam, kata Ibn Khaldun, adalah seperti seorang perenang di samudra yang selalu awas dan menjaga diri terus dekat dengan pantai, dan tidak keasyikan “lepas” ke tengah lautan sehingga akhirnya tenggelam. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Analisis Ibn Khaldun ini sangat cemerlang karena menangkap perbedaan yang mendasar antara dunia “intelektual” dan dunia “politik”. Pembaca modern akan dengan mudah diingatkan melalui analisis dari abad ke-14 ini kepada analisa serupa dari Julien Benda. Meskipun Ibn Khaldun sama sekali tidak mengatakan bahwa seorang ulama/intelektual yang masuk ke dunia politik sedang melakukan “la trahison des clercs” atau pengkhianatan kaum “klerk” alias ulama. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengamatan Ibn Khaldun ini juga menarik karena sama sekali meninggalkan tradisi al-Farabi yang justru melihat politik sebagai wiayah kerja “raja-filosof” seperti dalam kerangka pemikiran Plato. Wawasan Ibn Khaldun jelas lebih empirik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam fasal ke-17, Ibn Khaldun mengulas suatu gejala menarik yang muncul dalam setiap peradaban yang telah mencapai suatu taraf kematangan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebagaimana kita tahu, Ibn Khaldun memakai istilah “‘umran” yang dalam kesarjanaan modern diterjemahkan sebagai “peradaban”. Saya lebih cenderung mengartikan istilah ini sebagai “urbanisme” atau gejala meng-kota. Sebab, apa yang disebut sebagai ‘umran oleh Ibn Khaldun selalu dikaitkan dengan fenomena kota (&lt;i&gt;al-hadhar&lt;/i&gt;) sebagai lawan dari gejala masyarakat badui yang cenderung nomaden. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Judul fasal ini adalah, “Perihal bahwa profesi-profesi akan mengalami penyempurnaan seturut dengan kian sempurna dan menyebarnya gejala urbanisme” (hal. 400-401). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam bagian ini, Ibn Khaldun mengemukakan suatu observasi yang menarik yang paralel dengan teori sosiologi modern mengenai “pembagian kerja” dan diferensiasi sosial. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ia mengatakan bahwa masyarakat yang belum mencapai suatu kematangan dalam urbanisme di mana kota-kotanya belum berkembang (&lt;i&gt;tatamaddan al-madinah&lt;/i&gt;) cenderung untuk memusatkan diri pada usaha untuk mencukupi kebutuhan subsisten, yaitu mengusahakan bahan pangan pokok (&lt;i&gt;al-aqwat&lt;/i&gt;). Setelah tahap ini terlampaui, dan kota-kota mereka kian maju, serta sejumlah bidang pekerjaan (&lt;i&gt;al-a’mal&lt;/i&gt;) mulai muncul, maka pelan-pelan mereka akan mulai memanfaatkan surplus kekayaan yang ada (&lt;i&gt;al-zai’d&lt;/i&gt;) untuk hal-hal yang bersifat kemewahan hidup, “luxuries” (&lt;i&gt;al-kamalat min al-ma’ash&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada dua aspek yang inheren pada manusia yang menyebabkan terjadinya gejala seperti ini. Pertama, aspek yang menyebabkan manusia berbeda dengan binatang, yaitu intelektualitas (&lt;i&gt;fikr&lt;/i&gt;), dan aspek kehewanan serta nutritif (&lt;i&gt;al-hayawaniyyah wa al-ghidza’iyyah&lt;/i&gt;). Kebutuhan manusia untuk memenuhi tuntutan aspek yang kedua ini biasanya lebih mendesak, dan karena itu harus didahulukan, ketimbang tuntutan aspek yang pertama. Makin berkembang dan canggih perkembangan ‘umran atau urbanisme suatu masyarakat, makin pesat pula perkembangan bidang-bidang profesi dalam masyarakat bersangkutan. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik, Ibn Khaldun memakai istilah “al-shana’i’”, bentuk plural dari “shani’ah” yang dalam tulisan ini saya terjemahkan sebagai “profesi”. Mungkin terjemahan ini kurang terlalu tepat. Istilah yang mungkin mendekati adalah “craft” atau kerajinan tangan. Jika industrialisasi sudah muncul dalam peradaban Islam saat itu, tentu istilah itu akan tepat kita terjemahkan sebagai “teknologi”. Selain istilah ini, Ibn Khaldun juga memakai istilah lain yang sudah lazim dipakai pada saat itu, yakni “al-’ulum” atau ilmu. Penggunanaan dua istilah ini secara serentak menandakan bahwa Ibn Khaldun sadar mengenai dua aspek dalam ilmu, yakni aspek teoritik dan terapan. Ilmu murni mungkin paralel dengan istilah “al-’ulum”, sementara ilmu terapan adalah sepadan dengan istilah “al-shana’i’”. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu urbanisme yang matang dan berkembang maju, menurut Ibn Khaldun, akan dibarengi oleh perumitan dan pencanggihan di bidang “al-’ulum” dan “al-shana’i’”. Begitu pula saat ‘umran atau urbanisme merosot, kemajuan dalam bidang ilmu dan kerajinan juga akan mengalami kemerosotan pula. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pengamatan Ibn Khaldun ini jelas bukan berasal dari fantasi yang berasal dari “awan”, tetapi berdasarkan pengamatan langsung dia pada “up” dan “down” dari peradaban Islam sendiri. Berdiri pada abad ke-14, Ibn Khaldun memiliki keuntungan dan kemewahan untuk bisa melihat, menganalisis dan menjelaskan jatuh-bangunnya peradaban Islam, dalam cara serupa yang belakangan, dalam era modern, dilakukan oleh sejarawan-sejarawan besar seperti Arnold Toynbee atau, yang lebih populer, Will Durant. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik adalah bahwa Ibn Khaldun tidak semata-mata mengembalikan proses jatuh-bangunnya peradaban Islam ini kepada “kehendak Tuhan”, tetapi, dengan teliti dan cermat, dia mencoba mencari proses sosial-historis yang bekerja dalam masyarakat. Ia melihat bahwa perkembangan peradaban tunduk pada suatu hukum atau pola tertentu. Pola ini bekerja pada masyarakat manapun, baik Muslim atau non-Muslim. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Marilah kita ikuti sejumlah detil-detil pengamatan Ibn Khaldun yang mencerminkan sejumlah perkembangan yang ada pada abad ke-14 Masehi. Sementara itu, kita perlu mengetahui, walau secara selintas, semacam “state of the art” dari peradaban Islam pada saat Ibn Khaldun hidup. Sebagaimana kita tahu, Ibn Khaldun hidup dalam rentangan antara 1332 M hingga 1406. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada saat itu, sekurang-kurangnya ada dua dinasti besar Islam. Pertama adalah dinasti Mamluk di Mesir yang berkuasa antara 1250-1517. Kedua adalah dinasti Usmaniyah yang melanjutkan dinasti Abbasiyah yang runtuh pada 1258. Pada saat Ibn Khaldun hidup, riak-riak pencerahan mulai muncul di Eropa, terutama di Italia. Ibn Khaldun juga hidup tidak lama sebelum pecahnya reformasi dalam agama Kristen. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Contoh urbanisme yang maju pesat yang disebut oleh Ibn Khaldun dalam bukunya ini adalah apa yang ia lihat di Kairo, Mesir, ibu kota dari dinasti Mamluk. Ia menyebut sejumlah profesi yang ada pada saat itu, misalnya “jazzar”, yakni profesi penyembelihan hewan, “dabbagh”, yakni penyamakan atau pengolahan kulit, “kharraz”, yakni semacam usaha pengolahan kulit untuk menjadi bahan pakaian, “sha’igh”, yakni “jewellery” atau pengolahan emas menjadi bahan-bahan perhiasan, “dahhan”, pembuatan parfum, “shaffar”, yakni&lt;br /&gt;pengolahan kuningan, “al-hammami”, yakni usaha mandi uap (semacam industri spa yang sekarang menjamur di Jakarta itu), “al-tabbakh”, yakni usaha restoran, “shamma’”, yakni kerajinan lilin, “al-harras”, usaha yang berkaitan dengan pembuatan permen dan kue. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibn Khaldun juga menyebut jenis-jenis usaha lain yang menarik, misalnya, jika memakai bahasa sekarang, kursus musik, tari dan memainkan alat-alat perkusi (&lt;i&gt;mu’allim al-ghina’ wa al-raqs wa qar’ al-thubul ‘ala al-tauqi’&lt;/i&gt;). Istilah “qar’ al-thubul ‘ala al-tauqi’” layak mendapat perhatian khusus di sini. Secara harafiah, istilah itu berarti menabuh perkusi sesuai dengan nada nota atau nada musik tertentu. Ini, antara lain, memperlihatkan bahwa ketrampilan memainkan alat musik dengan memakai nota tertentu merupakan bidang yang digemari masyarakat pada saat itu sehingga muncul profesi khusus untuk mengajarkannya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bidang pekerjaan lain yang disebut Ibn Khaldun dan penting peranannya dalam reproduksi intelektual Islam pada saat itu adalah “al-warraqun”, yakni profesi penulisan manuskrip buku. Pada saat itu, penggunaan kertas sudah mulai dikenal luas dalam peradaban Islam, sehingga memudahkan penyebaran karya-karya para sarjana Islam. Peran penting dalam penyebaran ini dimainkan oleh seorang “warraq” yang melakukan penyalinan naskah secara manual. Pekerjaan “warraq” bukan sekedar menyalin naskah (&lt;i&gt;intisakh&lt;/i&gt;), tetapi juga “editing” (&lt;i&gt;tashih&lt;/i&gt;) dan penjilidan (&lt;i&gt;tajlid&lt;/i&gt;). Dengan kata lain, profesi “warraq” adalah apa yang sekarang berkembang menjadi “publishing house” atau penerbitan. “Warraq” pada zaman Ibn Khaldun adalah semacam Mizan atau Gramedia pada masa kita saat ini. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibn Khaldun menyebut perkembangan bidang-bidang ini sebagai cerminan dari apa yang ia sebut sebagai “al-taraf fi al-madinah” atau kemewahan urban. Dia juga mengemukakan suatu pengamatan yang menarik bahwa dalam segi-segi tertentu, kemewahan ini juga kadang-kadang bergerak secara ekstrim. Ibn Khaldun menyebut sejumlah contoh, misalnya: profesi melatih burung dan keledai, sulap, dan berjalan serta menari di atas seutas tali. Deskripsi Ibn Khaldun yang jeli ini langsung membuat saya berkesimpulan bahwa pada saat itu pertunjukan sirkus sudah mulai berkembang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada penutup pengamatannya, Ibn Khaldun mengatakan bahwa “kemewahan urban” ini hanya ada di Kairo yang sangat maju saat itu, tetapi tak berkembang di Maghrib atau Tunisia/Maroko, tempat di mana dia tinggal saat itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa yang bisa kita simpulkan dari pengamatan Ibn Khaldun ini? Tentu ada sejumlah hal menarik yang bisa kita simpulkan dari pengamatan ini. Tetapi, satu hal yang ingin saya sebut adalah bahwa peradaban Islam pada saat keemasannya tidaklah seperti dibayangkan oleh kaum Islamis “modern” atau pengusung ide khilafah, yakni peradaban yang seluruhnya bertumpu pada syariat Islam, fikih, dan aturan agama yang ketat. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Era keemasan peradaban Islam itu juga mengenal sirkus! &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Bangsa-bangsa taklukan (&lt;i&gt; al-maghlub&lt;/i&gt;) biasanya akan meniru kebudayaan dan adat kebiasaan bangsa-bangsa lain yang menaklukkan mereka (&lt;i&gt;al-ghalib&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini adalah adalah salah satu “hukum sosial” yang dirumuskan dengan sangat menarik oleh Ibn Khaldun dalam karyanya, “Muqaddimah”. Ia mengutarakan observasi ini dalam bab kedua, fasal ke-23. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Judul fasal itu adalah: “Perihal bahwa mereka yang kalah selalu “tergila-gila” untuk meniru mereka yang menang menyangkut ciri-ciri fisik, pakaian, mazhab pemikiran, segala bentuk kebiasaan dan adat mereka” (&lt;i&gt;fi anna al-maghluba mula’ abadan bi al-iqtida’ bi al-ghalibi fi shi’arihi wa ziyyihi wa nihlatihi&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Marilah kita ikuti bagaimana Ibn Khaldun memberikan penjelasan atas fenomena ini. Jiwa (al-nafs) bangsa-bangsa yang ditaklukkan biasanya cenderung memandang bahwa bangsa-bangsa yang menaklukkan mereka memiliki kesempurnaan yang sifatnya “alamiah”. Ketundukan mereka pada bangsa yang menang sama sekali tak dipandang sebagai sesuatu yang timbul karena adanya “penaklukan alamiah” (&lt;i&gt;ghalbun thabi’iyyun&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dengan kata lain, bangsa yang kalah meniru bangsa yang menang bukan karena adanya “paksaan”, tetapi karena adanya keyakinan pada bangsa yang kalah tersebut bahwa bangsa yang menang, secara “natural”, lebih unggul ketimbang mereka. Jika boleh memakai istilah yang sangat terkenal dari Gramsci, bangsa yang kalah meniru bangsa yang menang karena adanya semacam “persetujuan” atau “consent”. Gramsci menyebutnya sebagai “hegemoni”. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anggapan pada pihak bangsa yang kalah tentang keunggulan “alamiah” bangsa yang menang oleh Ibn Khaldun disebut sebagai “mughalathah” atau anggapan yang keliru. Saya kira, di sini Ibn Khaldun melihat dengan cermat bagaimana proses penundukan atas bangsa-bangsa berlangsung. Pada tingkat pertama, penundukan itu berlangsung pada level “fisik” yang biasanya melibatkan kekekerasan, entah melalui perang atau agresi. Setelah penundukan lewat sarana kekerasan fisik ini tercapai (oleh Ibn Khaldun disebut sebagai “ghalbun thabi’iyyun"), muncullah penundukan pada level mental. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sinilah, bangsa-bangsa yang ditundukkan memiliki anggapan bahwa bangsa yang menang memiliki “keunggulan” secara alamiah atas mereka. Ibn Khaldun memandang bahwa hal semacam ini tidak benar, sebab ketundukan mental hanya merupakan selubung untuk ketundukan pada level fisik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Peniruan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa yang kalah ini berlangsung pada pelbagai aspek, mulai dari pakaian (&lt;i&gt;malbas&lt;/i&gt;), kendaraan (&lt;i&gt;markab&lt;/i&gt;), senjata (&lt;i&gt;silah&lt;/i&gt;), dsb. Ibn Khaldun memberikan contoh atas keadaan yang terjadi di Spanyol. Bangsa Galisia yang beragama Kristen dan tinggal di kawasan barat laut semenanjung Iberia (Spanyol) cenderung meniru adat kebiasaan bangsa Muslim di Andalusia yang saat itu menjadi bangsa yang unggul atau menang. Dalam teks Ibn Khaldun, istilah yang dipakai untuk menyebut bangsa Galisia adalah “al-Jalaliqah”. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Orang-orang Galisia meniru bangsa Muslim dalam banyak hal, mulai dari mode pakaian, pembuatan lukisan mural (&lt;i&gt;rasm al-tamatsil fi al-judran&lt;/i&gt;), hingga lukisan biasa yang dipajang di rumah, begitu rupa sehingga siapapun yang melihat keadaan itu akan tahu bahwa mereka “ditaklukkan” (secara mental) oleh bangsa Muslim. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibn Khaldun menyebut suatu peribahasa yang dikenal luas dalam masyarakat saat itu, “al-’ammah ‘ala din al-malik”, orang-orang awam biasanya mengikuti “din” atau kebiasaan para raja-raja yang menundukkan mereka. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik adalah bahwa Ibn Khaldun melakukan observasi ini dengan “dingin” tanpa memberikan suatu penilaian yang sifatnya normatif. Saya membaca observasi Ibn Khaldun ini sebagai semacam “hukum sosial” yang bisa berlaku kepada siapa saja, baik bangsa Muslim atau non-Muslim. Jika yang unggul adalah umat Islam, maka umat lain akan cenderung meniru mereka. Begitu pula sebaliknya, saat bangsa di luar Islam unggul, tak pelak bangsa-bangsa Muslim akan meniru mereka pula. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang patut mendapat perhatian kita dalam observasi Ibn Khaldun ini adalah bahwa ketundukan bangsa yang kalah mula-mula terjadi karena “kekerasan” fisik yang dipakai oleh bangsa yang menang. Tanpa kekerasan ini, maka ketundukan mental atau “hegemoni” tak akan berlangsung. Seperti Machiavelli, Ibn Khaldun melihat “kekuasaan fisik” sebagai fakta sosial yang harus dilihat dan dianalisis dengan dingin. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa implikasi dari observasi Ibn Khaldun ini? Saya menangkap suatu implikasi yang sama sekali mengagetkan dari observasi ini. Yakni, jika bangsa Galisia atau bangsa non-Muslim lain meniru kebiasaan orang Islam yang kebetulan menjadi bangsa pemenang saat itu, maka hal itu bukanlah karena mereka melihat adanya keunggulan pada Islam sebagai suatu agama, tetapi karena pertama-tama bangsa Muslim memakai kekerasan fisik untuk menundukkan mereka. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangan lupa hukum yang diperkenalkan oleh Ibn Khaldun: ketundukan mental dimungkinkan karena adanya kekerasan fisik atau “ghalbun thabi’iyyun”. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ibn Khaldun bukan saja seorang sejarawan yang bekerja dengan konsep dan kategori besar, tetapi juga sangat “rajin” melihat hal-hal yang sangat kecil. Pada Ibn Khaldun kita melihat kombinasi yang menarik antara studi sejarah dan sosiologi, suatu pendekatan yang, kita tahu semua, pernah dikembangkan dengan amat baik di Indonesia oleh alm. Prof. Sartono Kartodirdjo, sejarawan terkenal dari UGM. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Dalam bab kelima, fasal ke-22, Ibn Khaldun mengemukakan suatu obeservasi yang menarik berkenaan dengan perkembangan profesi (&lt;i&gt;shina’ah&lt;/i&gt;) yang ada pada zamannya. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Judul fasal itu adalah “Perihal bahwa seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang tertentu, amat jarang bahwa orang yang sama akan memiliki kecakapan dalam tingkat yang sama di bidang yang lain” (&lt;i&gt;fi man hashalat lahu malakah fi shina’ah fa qalla an yujida ba’du fi malakah ukhra&lt;/i&gt;). &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Pengamatan Ibn Khaldun ini didasarkan pada suatu teori pengetahuan tertentu, atau tepatnya teori mengenai proses kejiwaan. Menurut dia, makin seseorang mendekati keadaan “alamiah”, yakni keadaan ketika seseorang belum mengalami proses belajar untuk memperoleh kecakapan tertentu, maka makin mudahlah ia untuk mempelajari kecakapan tersebut. Sebaliknya, jika ia telah mempelajari suatu kecakapan tertentu, maka ia akan sulit untuk mempelajari kecakapan lain dalam derajat kecanggihan yang sama. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kecapakan, dalam pandangan Ibn Khaldun, adalah semacam “warna”. Jika jiwa manusia boleh kita analogikan dengan sebuah kanvas, maka jiwa tersebut tak bisa menerima sejumlah warna secara serentak. Kalaupun ada sejumlah warna dituangkan di sana, maka salah satu akan tampak menonjol, sementara yang lain hanyalah menjadi semacam latar belakang. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Observasi Ibn Khaldun ini, jelas, bukan ia peroleh dari “meditasi” di perpustakaan, tetapi berdasarkan apa yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks sejumlah kota besar yang berkembang pada zamannya di mana “’umran” atau urbanisme mencapai tahap yang sangat canggih. &lt;/p&gt; &lt;p&gt; Ibn Khaldun memberikan contoh: jika seseorang mencapai suatu keunggulan dalam bidang kecakapan jahir-menjahit (&lt;i&gt;khayyath/khiyathah&lt;/i&gt;), begitu rupa sehingga kecakapan itu meresap dengan mendalam dalam dirinya (&lt;i&gt;rasakhat fi nafsihi&lt;/i&gt;), maka ia amat sulit sulit untuk bisa unggul dalam, misalnya, bidang pertukangan kayu atau bangunan (&lt;i&gt;nijarah/bina’&lt;/i&gt;). Kecuali jika dia belum begitu menguasai dengan benar kecakapan menjahir, maka ia bisa belajar kecakapan pertukangan dengan mudah. Tetapi, begitu satu kecakapan telah meresap dengan
